Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 22 Berhentilah sampai di sini 3


__ADS_3

Semua persiapan untuk grand opening perusahaan safir sudah selesain. Alech melihat wajah Belle yang muram beberapa hari ini menunjukkan bahwa Belle butuh udara segar.


"Sayang, ayo ikut aku." Alech mengajak Belle pergi ke suatu tempat.


Belle yang sedang asik membaca majalah mengangkat satu alisnya karena bingung.


"Kemana? Ada yang belum selesai untuk persiapan?"


"Ummm ... Nanti kau juga akan tahu." Alech enggan untuk memberitahu Belle kemana ia akan pergi.


Bulan ini memasuki akhir musim semi, di mana udara kota London sangat sejuk dan sangat segar. Waktu untuk menikmati udara musim semi seharian akan terasa sangat panjang. Alech berniat mengajak Belle untuk menghabiskan waktu dan menikmati akhir musim semi.


Alech mengendarai mobil Bugatti Divo miliknya menuju ke arah barat kota London. Terlihat jalanan yang ramai namun tidak terlalu padat. Banyak terlihat orang pejalan kaki, menikmati udara musim semi yang sejuk. Belle terlihat malas untuk banyak bicara, dia hanya diam dan mengamati jalanan.


Dengan sangat pengertian, Alech tidak banyak bicara dan bertanya. Tangan kanan Alech menyalakan lagu untuk memecahkan keheningan. Lagu Love song yang dinyanyikan oleh Adele, lagu yang cocok untuk menemani perjalanan selama dua jam lebih ke kota Bristol.


"Sayang ... aku suka lagu ini, ini mewakili perasaanmu padaku kan?" Belle menatap Alech.


"Umm ... mungkin." Alech mengangkat bahunya.


"Hahaha ... Kau tidak bisa membohongiku."


"Baiklah. Ini memang lagu yang pas untuk kita."


"Ayo kita dengarkan satu lagu ini sampai kita tiba di tujuan. Oya kemana kau akan menculikku?"


"Tidak ada penculik yang memberitahu korbannya kemana dia akan diculik."


"Dasar penculik kejam!" Belle mencubit lengan Alech.


Suasana hati Belle sudah mulai membaik, dia bernyanyi lagu love song dengan suara yang merdu.


"Woah! Suaramu merdu sekali mirip dengan Adele. Sungguh aku tidak sedang memujimu." Alech terkejut bahwa pacarnya memiliki suara yang merdu.


"Aku hanya menunjukkan kemampuanku yang satu ini hanya di depan ayah, ibu dan kamu."


"Hahaha ... Ternyata pacarku multifunction." Alech tertawa terbahak-bahak.


"Multitalent!" Belle kesal, ia memukul pundak Alech.


Mereka sudah sampai di kota Bristol, tempat yang sejuk, kota di dekat pelabuhan Avon ini memiliki beberapa tempat yang sangat nyaman untuk menghabiskan waktu musim semi.


Alech mengajak Belle ke Queen Square

__ADS_1


Queen Square adalah ruang hijau populer yang terletak di jantung kota. The Square memiliki tempat peristirahatan yang menenangkan jauh dari keramaian pusat kota sambil tetap mempertahankan keunikan yang khas dari kota Bristol. Taman ini adalah tempat yang tepat untuk duduk dan bersantai di hari yang cerah, dan juga secara kebetulan sedang diadakan teater terbuka dan konser untuk publik.


Belle sangat senang melihat teater yang menceritakan sejarah Inggris dan Bristol. Alech menyodorkan sekaleng bir yang ia bawa di dalam mobilnya.


"Ayo ... Kita lanjutkan ke tujuan lainnya." Alech menggandeng tangan Belle.


"Kemana lagi kau akan membawaku? Aku rela diculik berhari-hari kalau begini."


"Ummm ... Tapi sepertinya aku bisa ditembak mati oleh tuan Jakob setelah menculikmu berhari-hari."


"Hahaha ..." Belle tertawa keras, tidak bisa membayangkan wajah ayahnya jika ia menghilang.


Alech membawa Belle ke Leigh woods. Dimana bunga bluebell tumbuh hanya sekali diakhir musim semi. Bluebell adalah jenis tanaman bunga yang langka dan tidak mudah ditemukan di Inggris.



Belle tidak bisa menyimpan rasa bahagianya ketika sampai di Leigh woods. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon serta bunga Bluebell yang sangat indah.


Alech tersenyum puas melihat Belle tersenyum bahagia. Ia mengikuti Belle dengan langkah yang lamban, mengamati Belle yang menari, berputar menikmati aroma hutan dan udara yang sejuk. Ini adalah pemandangan yang sangat langka. Bunga bluebell dan tingkah Belle yang seperti anak kecil.


Ketika Alech sedang fokus melihat tingkah Belle, tiba-tiba anak buah Alech memberikan tanda mereka harus masuk ke dalam hutan. Tapi Alech melonggarkan sedikit waktu lebih lama untuk Belle.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan matahari masih terang. Biasanya matahari terbenam pukul delapan malam di musim semi. Masih ada waktu tiga jam untuk mereka berada di dalam hutan.


"Kemana lagi kita? Aku masih ingin berada di sini."


"Tentu saja kita masih di dalam hutan, kita hanya pindah tempat."


Belle menggandeng tangan Alech dan mengikutinya. Belle agak ketakutan karena mereka jalan menuju ke dalam hutan. Namun Belle percaya bahwa Alech tidak akan melakukan apapun yang berbahaya kepadanya.


Sayup-sayup Belle melihat ada sebuah cottage kecil yang terbuat dari kayu, bernuansa vintage dan cottage itu dikelilingi oleh bunga bluebell kesukaan Belle. Belle tercengang melihat semua yang ada di depan matanya.


"Sayang, kemarilah, aku sudah sangat lapar." Alech sudah berada di depan cottage, mulai membakar daging.


"Kapan kamu merencanakan ini semua?"


"Emmm ... sebulan yang lalu mungkin." Alech menjawab dengan santai.


Belle terharu dengan sikap Alech yang selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan penuh perhatian.


"Kamu bisa menikmati pemandangan di sekeliling rumah, sementara aku akan menyiapkan makanan untuk kita."


Belle mencium pipi Alech dengan singkat. "Terimakasih sayang."

__ADS_1


Belle memetik setangkai bunga bluebell dan ia simpan di dalam buku yang ia bawa.



Makanan sudah siap dan mereka makan dengan lahap. Sambil membicarakan langkah selanjutnya, tiba-tiba tuan Jakob mengirimkan kode bahaya ke ponsel Alech.


Belle melihat wajah Alech yang berubah menjadi tidak tenang.


"Ada apa sayang?" Belle berusaha tetap tenang.


"Tuan Jakob memberikan kode bahaya." Jawab Alech dengan singkat.


"Ayo kita kembali ke London."


Mereka kembali ke kota London. Alech mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan mobil Bugatti miliknya. Hanya butuh satu jam mereka tiba di rumah Belle. Belle berlari panik mencari ayahnya.


"Dimana ayah?" Belle bertanya kepada pengawal ayahnya.


"Beliau ada di ruang kerja, nona."


Belle masuk ke ruang kerja. Melihat ayahnya yang sedang memijat kepalanya, membuat Belle tambah khawatir.


"Ayah ada apa?"


"Ah kalian sudah sampai. Duduklah."


"Tuan Jakob ..." Alech menatap mata tuan Jakob.


"Dengar ini baik-baik." Tuan Jakob mengulurkan ponselnya kepada Alech.


Alech dan Belle mendengarkan dengan cermat. Mereka terkejut setelah mendengar rekaman itu.


"Sial. Ini akan jadi masalah yang rumit." Alech mengepalkan tangannya.


"Jadi mereka mau melawan kita dengan cara seperti itu?" Kata Belle dengan jijik.


"Kita tidak memiliki waktu untuk bersantai dan memadu kasih. Ayo kita selesaikan sampai ke tikus tua itu." Tuan Jakob menggoda Alech dan Belle.


Wajah mereka merah karena malu.


"Ayo kita bersiap menyusun rencana." Alech sangat bersemangat untuk menuntaskan tantangan ini.


Belle mengangguk setuju dengan kata-kata Alech.

__ADS_1


__ADS_2