Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 33


__ADS_3

APARTMENT ALECH.


Brak!


"Shei, aku sudah pernah bilang, hubungan kita tidak bisa kembali lagi seperti dulu. Kesalahanmu tidak bisa dimaafkan!" Alech memukul meja, ia sudah jengah dengan mantan pacarnya itu.


"Alech, kejadian waktu itu adalah salah paham. Aku tidak punya perasaan apapun dengan David. Aku tidur dengannya karena mabuk." Shei terus menjelaskan kejadian dimana Alech melihat Shei sedang bercinta dengan David.


"Lalu apa ini?" Alech melempar ke meja beberapa lembar foto. "Foto ini diambil saat kita masih bersama," Lanjutnya.


Shei terpekik, ia menutup mulutnya karena kaget. Foto dirinya dengan tiga orang laki-laki yang sedang mencumbui badannya.


Alech menatap jijik kepada Shei. "Silahkan keluar dari sini. Aku benar-benar muak melihatmu."


Wajah Shei merah padam, malu dan kesal yang ia rasakan. "Kau seperti ini karena Isabella itu kan? Kau mencari kesalahanku karena kamu ingin kembali dengannya dan menyingkirkan aku dari hidupmu, kan?" ucap Shei setengah berteriak.


Alech semakin geram mendengar Shei menyebutkan nama Isabella. "Aku sudah berbaik hati kepadamu, dan tetap menghargaimu, tapi ternyata kau lebih suka merendahkan dirimu seperti ini. Aku benar-benar menyesal datang menemuimu waktu itu. Aku peringatkan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!"


Shei pergi dengan amarah yang membakar hatinya. Di balik pintu apartmen Alech, ia berdiri menatap pintu. " Lihat saja, aku akan membuatmu menderita," gumamnya.


***


Sudah seminggu ini mobil van berwarna hitam mengikuti Belle. Ia merasakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Dengan cekatan Belle mengarahkan arlojinya ke arah mobil van itu. Belle tersenyum sinis setelah tahu siapa yang berusaha ingin mencelakai dirinya. Ia tahu bahwa ini akan terjadi cepat atau lambat.


Belle mengambil ponselnya dan menelpon Isaac.


"Halo kak, jika sesuatu terjadi padaku, tolong amankan wanita itu. Semua data sudah aku kirim kepadamu." Belle terdengar sangat tenang.


"Dimana kau sekarang?" Suara Isaac sedikit panik.


"Kau bisa melacak lewat arloji. Aku menunggu anak buahmu menjemputku, kak." Belle mutup telponnya. Ia menggiring mobil van itu menuju pembuangan mobil di pinggiran kota London.



Ia berhenti tepat di tengah mobil bekas yang sedikit terhalangi oleh rumput. Sesuai dugaan Belle, ada enam orang berpakaian hitam turun dari mobil van dan menggedor mobil Belle dengan brutal.


Belle menarik nafas dalam-dalam sebelum melakukan olahraga sorenya. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, dua orang penculik terpental tidak jauh dari mobil. Dengan cepat ia mengeluarkan belati dan pistol milik Jakob yang ia ambil dari ruang senjata.


"Penculik yang tidak membawa senjata. Lucu sekali." Belle bergumam dalam hati, hanya senyuman mengejek yang ia sunggingkan.


Enam orang itu mundur menghindari Belle. Tapi Belle sudah jengah. Secara brutal Belle menembak kaki ke enam orang itu dengan gerakan yang sangat cepat.

__ADS_1


Penculik itu mencoba berdiri dan menangkap Belle, dengan sengaja Belle naik ke atap mobil miliknya. Senyuman sinis Belle tiba-tiba menghiasi bibirnya yang menawan. Ia lompat dari atap mobil dan berguling menjauh.


Dan Booom!! mobil Belle beserta enam orang penculik itu meledak. Sebelumnya Belle sudah memasangkan bom bersekala rendah untuk menghancurkan mobilnya dengan radius aman 800 meter dari lokasi.


"Ah sial seharusnya aku memakai radius 500 meter saja." Belle bergumam ketika melihat kakinya yang terkena ledakan saat ia menjauh dari mobilnya.


Tidak lama kemudian Isaac beserta anak buahnya menjemput Belle. Dua orang berlari ke arah Belle, mereka adalah anak buah Isaac. Mereka memapah Belle berjalan menuju mobil.


"Bell ... " Suara Isaac tercekat melihat kondisi Belle.


"Aku baik-baik saja kak." Belle berusaha tenang dan menahan sakit di kakinya.


"Bereskan mereka sampai bersih." Isaac memerintahkan anak buahnya untuk memastikan tidak ada yang hidup dari ke enam penculik itu.


"Kak ... Sekarang kaki kita sama-sama luka." Senyuman polos Belle membuat Isaac merasa bersalah.


"Maaf ... Maafkan aku, seharusnya aku datang lebih cepat. Maaf aku terlambat." Mata hazel Isaac mengembun.


"Kak, sudahlah ini keputusanku, tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya sekaligus. Aku sudah lelah untuk membunuhnya satu persatu." Senyuman Belle memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.


Isaac hanya terdiam menatap kaki adiknya itu. "Ayo kita ke rumah sakit."


Isaac dengan pengertian menyodorkan sebungkus rokok ke arah Belle.


***


Belle dan Isaac menuju ke ruang bawah tanah di dekat hutan tidak jauh dari tempat pembuangan mobil.


Belle melihat mobil Alech yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.


"Aku bekerjasama dengan Alech, karena wanita itu adalah wanitanya." Tanpa menunggu Belle bertanya, Isaac menjelaskannya sendiri.


Anak buah Isaac memapah Belle masuk ke ruang bawah tanah. Hawa panas dan kurangnya oksigen membuat Belle merasa sedikit sesak.


" Kau baik-baik saja?" tanya anak buah Isaac.


"Aku sedikit sesak. Tapi aku masih bisa menahannya."


Anak buah Isaac tiba-tiba berhenti dan mengeluarkan tabung oksigen mini yang bertuliskan Master ac dari kantung jaketnya. "Pakai ini, ini tabung oksigen buatan bos."


Belle tersenyum menerima tabung oksigen mini itu, dan memasangkan di hidungnya. "Terimakasih."

__ADS_1


Pintu kayu yang terbuka menampakkan sosok wanita yang bernama Shei itu duduk terikat dengan rambut yang kusut.


Alech berbalik dan menemukan Belle di ambang pintu, matanya menelusuri Belle dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seketika wajah Alech terlihat sangat menyeramkan, ia menatap Shei penuh dengan amarah.


Wajah Belle terlihat tenang, tatapannya dingin membuat Shei merinding. Rasa takut yang tiba-tiba menjalar keseluruh tubuh Shei.


"Lucu sekali. Orang yang berniat menculik malah diculik. Sekarang ayo bicara sesama wanita sebelum kau mati di tangan Master Ac." Belle duduk di depan Shei.


"Alech, tolong aku." Shei menatap Alech penuh harapan.


Alech berpaling meninggalkan dua wanita itu untuk bicara.


"Dasar laki-laki breng sek! Bahkan kau tidak punya rasa kasihan sebagai manusia." Shei berteriak putus asa setelah melihat punggung Alech mulai menghilang dari pandangan.


Tawa Belle pecah mendengar perkataan Shei kepada Alech. "Hahahaha ... Kau tidak tahu, kalau kekasihmu itu memang tidak punya belaskasihan kepada orang yang bodoh sepertimu?"


"Apa yang kau mau dari aku!" Shei membentak Belle karena gugup.


"Pertama aku ingin tahu alasanmu untuk menculikku." Belle melipat kedua tangannya ke depan dadanya.


"Aku ingin membuat Alech menderita. Jika aku tidak bisa memilikinya maka tidak ada seorang pun yang bisa bersamanya." Shei menjawab penuh dengan bangga.


"Jadi hanya ini alasanmu?" Belle mengerutkan keningnya.


"Ya hanya itu," jawab Shei singkat.


"Baik. Aku paham, dan aku punya keinginan terakhir, yaitu melenyapkanmu dari dunia ini." Tatapan Belle yang dingin tanpa berkedip membuat tubuh Shei terpaku mendengar kata-kata Belle, ia merasakan kesemutan di sekujur tubuhnya.


"Ayo kita keluar, terlalu bau bubuk mesiu di sini." Belle bangkit dari duduknya, dibantu oleh anak buah Isaac.


Belle keluar dari ruang bawah tanah dengan terengah-engah. Badannya mulai menggigil karena lukanya, kesadarannya sedikit terganggu. Alech dengan sigap memapah Belle dan mengantarnya ke mobil Isaac.


Mereka segera pergi dari tempat itu. Suara ledakan terdengar samar di telinga Belle.


"Jangan tertidur, Bell ... tolong tetap buka matamu." Isaac mulai panik.


Alech menyuntikkan sesuatu ke lengan Belle. "Ini akan membuat dia tetap sadar tapi efeknya tidak akan bertahan lama, kita harus sampai di rumah sakit secepat mungkin."


Belle menggengam tangan Alech dan tersenyum. "Laki-laki sialan." Suara Belle terdengar sangat lemah.


"Kau boleh memakiku nanti ketika kau sudah punya tenaga." Alech mengarahkan kepala Belle untuk bersandar di dadanya yang bidang. Ia mengusap lembut wajah Belle, menyibakkan rambut Belle yang mulai menutup wajahnya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2