
Belle menunggu Alech di sebrang jalan perusahaan safir. Ia menatap lampu di deretan gedung-gedung perkantoran. Tanpa ia sadari, Alech sudah berada di dalam mobil.
"Sayang ... Ayo kita pulang." Alech menggenggam tangan Belle.
"Astaga! Kapan kau masuk?" Belle terkejut.
"Hahaha ... Saat kau sedang fokus menatap lampu-lampu itu."
"Sudah selesai?" Belle menanyakan misi yang Alech jalankan.
Alech mengangguk. "Kita tinggal tunggu waktu saja." Alech mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.
"Kau membunuhnya?" Tanya Belle penasaran.
"Mungkin..." Alech menjawab dengan acuh.
Belle terdiam, suasana di dalam mobil menjadi canggung. Sesampainya mereka di depan rumah Belle, Alech menahan Belle agar tidak turun dari mobil.
"Apa kau menyesal memiliki kekasih seorang pembunuh?" Alech mencoba menanyakan isi pikirannya selama ini.
"Tidak. Mereka pantas mendapatkannya. Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu." Belle mencium bibir Alech singkat.
Tuan Jakob sudah menunggu di depan pintu dan melihat adegan yang membuatnya sedikit pusing.
Belle keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah yang diikuti oleh Alech.
" Isabella ... Putriku, kau agresif seperti ibumu. Hahaha ...." Tuan Jakob berbalik dan masuk ke dalam rumah.
"Sial! Ayah tidak berhenti untuk menggodaku." Belle mengutuk dirinya sendiri.
Belle masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Alech dan tuan Jakob masih berada di ruang bawah tanah.
~ Perusahaan Safir ~
__ADS_1
Belle bersiap untuk acara grand opening perusahaan safir. Kali ini Belle menggunakan gaun berwarna biru hasil karyanya sendiri. Gaun yang sederhana namun menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Semua tamu undangan wanita tertarik dan ingin memilikinya, mereka menanyakan apakah Belle berniat untuk menjual gaun itu.
Sedangkan Belle mengenakan kalung dengan design yang sederhana. Kalung ini adalah kalung asli yang imitasinya pernah di curi oleh Hera.
"Sayang ... Aku dan Luna yang seharusnya menjadi pusat perhatian, kenapa malah pacarku yang menjadi pusat perhatian?" Alech cemberut karena iri.
"Hahaha ... Anggap saja aku adalah patung pameran, kau tidak perlu cemas. Semoga rasa iri yang kau punya tidak berujung seperi tikus malang milik tuan Jhon."
Alech menggandeng tangan Belle untuk ikut naik ke atas podium. Ia memperkenalkan Belle sebagai partner bisnis utama untuk design perhiasan, dan perusahaan safir lah yang akan membuatnya.
Semua orang penasaran dengan kotak kaca yang masih tertutup oleh kain hitam, kotak kaca berjajar rapi berada di sepanjang karpet menuju podium. Setelah Alech meresmikan perusahaan safir, semua pegawai safir membuka kain hitam itu. Semua mata teralihkan, menatap perhiasan di dalam kotak kaca tersebut.
Tamu undangan terkejut melihat perhiasan yang benar-benar indah, karena sangat indah dan menawan mereka tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
Tuan Jakob tersenyum puas, ia melihat ekspresi kagum semua orang dari tempat yang jauh. Ia masih sembunyi di balik ruang kaca, menunggu kedatangan Jhon.
Tuan Jhon datang sedikit terlambat, ia langsung berbaur dengan tamu yang lain. Matanya terbelalak melihat semua perhiasan yang sedang dipamerkan adalah hasil design milik Valerie. Valerie yang merupakan cinta pertamanya itu selalu membuat Jhon kagum.
Dari kejauhan tuan Jakob melihat ekspresi wajah Jhon dengan jijik. Seolah dia sangat bangga melihat semua itu adalah karya Valerie.
Ketika Jhon sudah puas melihat-lihat, Jakob keluar dari persembunyiannya, ia berjalan menuju tempat dimana Jhon yang sedang menikmati jamuan.
" Sudah lama aku menantikan hari ini, hari dimana aku bisa bertatap muka denganmu, Jhon." Jakob mengambil gelas yang berisikan wine.
Jhon kaget mendengar suara Jakob. Dia tidak berharap bertemu dengan Jakob secepat ini.
"Ja Jakob ... Ka kau ..." Jhon tergagap.
"Jangan pasang ekspresi seperti itu, aku bukan hantu, aku hanya ingin menyapa teman satu universitas istriku, Valerie." Jakob berbicara dengan santai.
"Ba bagaimana kabarmu?" Jhon mencoba untuk bersikap biasa, namun tubuhnya merespon lain.
"Ummm ... Duniaku hampa setelah kehilangan Valerie, entah dia sudah tiada atau seseorang telah menculiknya." Jakob terus berusaha untuk menggiring Jhon dalam topik itu.
"Ya aku paham rasanya kehilanga, aku sudah mengalaminya berpuluh-puluh tahun."
__ADS_1
Jakob paham maksud dari perkataan Jhon. Ia tersenyum jijik mendengarnya.
"Kau tahu? Aku masih hidup dan bertahan sampai detik ini hanya untuk mencari orang yang membunuh istriku. Aku tidak akan melepaskannya sehelai ramputpun." Nada bicara Jakob terdengar dangat dingin dan mengancam.
Jhon merasa sesak di dalam dadanya. Sejujurnya ia takut dengan Jakob, tapi dia selalu berlindung di belakang ayahnya.
" Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisimu." Jhon menjawab tanpa berfikir.
"Jika itu terjadi kepadamu, apa yang kau lakukan kepada orang yang membunuh istrimu?
" Umm ... A aku akan membunuhnya dan menghabisi seluruh keluarganya tanpa tersisa." Jawaban Jhon memberikan dua poin penting untuk tuan Jakob.
" Baiklah Jhon, nikmatilah jamuan malam ini, aku akan kembali ke putriku, Isabella anakku dan Valerie" Jakob mencoba memberikan provokasi kepada Jhon.
Dan benar, Jhon sangat marah karena ia mendengar kata-kata "Anakku dan Valerie." Ia hendak pergi meninggalkan acara, namun Alech mendatangi Jhon untuk menahannya.
Di sisi lain, anak buah Jakob dan Alech yang berada di Amerika sedang bergerak. Mereka memasang beberapa bom buatan Alech di kediaman Joseph, ayah Jhon.
Karena keamanan rumah itu sangat ketat, Jakob, Belle dan Alech menghabiskan waktu lima hari untuk melumpuhkan pengamanan rumah Joseph.
"Semua sudah selesai bos." Kata salah satu anak buah Jakob di telepon.
"Pergilah ke Rusia, temuilah Isaac disana." Jakob menutup telponnya. Ia melirik ke arah Belle dan mengangguk.
Belle berjalan mendatangi Alech dan Jhon yang sedang berbincang.
"Tuan Jhon bagaimana kabar anda? Lama tidak bertemu." Belle menyodorkan segelas sampanye ke arah Jhon.
"Ah Belle ... Ya beginilah, semua menjadi kacau. Maafkan anakku, anakku sudah banyak berbuat salah denganmu."
"Tidak apa-apa, justru aku kasihan kepada Hera, di umurnya yang sangat muda, dia harus mengalami hal yang sangat berat untuknya." Mata Belle berkaca-kaca seolah ia ikut merasakan penderitaan Hera.
"Terimakasih atas perhatianmu." Jhon menepuk pundak Belle dengan lembut, seperti sentuhan ayah kepada putrinya.
Alech menatap Belle, seolah dia mengatakan. "Acting mu sangat keren." Belle hampir saja tertawa, tapi dia harus menjaga ekspresi wajahnya dengan baik.
"Tapi saya tidak bisa memaafkan orang yang sudah memisahkan aku dan ibuku." Belle tersenyum serta menepuk pundak tuan Jhon dan pergi tanpa menunggu jawaban dari tuan Jhon.
__ADS_1
Tuan Jhon mematung, dia terkejut dengan apa yang Belle katakan. Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak menunggu waktu lama tuan Jhon pergi dari tempat acara.