
CENTRAL SAINT MARTIN UNIVERSITY
Undangan dari universitas terus berdatangan. Kali ini Belle menjadi mentor rancangan busana untuk mahasiswa, terlebih lagi jika ada yang akan mengikuti lomba fashion.
Pekerjaan yang tidak sulit dan menyenangkan. Ia mengisi kelas mentoring hanya dua jam di sore hari. Satu kelas hanya ada dua puluh mahasiswa. Fasilitas classroom yang sangat memadahi, salah satunya mesin jahit, dan manekin, berjajar rapi di dalam ruangan kelas.
Emma, mentor partner Belle yang ditugaskan mengajari para mahasiswa untuk mengaplikasikan manik-manik, terlihat sangant fokus. Suasana kelas yang serius tidak menyadari bahwa Belle sudah duduk di ujung kelas dekat pintu masuk.
"Sampai di sini dulu, besok akan aku jelaskan teknik selanjutnya." Emma mengakhiri sesi mengajarnya.
Para mahasiswa masih sibuk membahas apa yang Emma ajarkan.
"Hai Bell, giliranmu." Emma berjalan ke arah Belle sambil menepuk pundaknya, ia keluar dari kelas
Belle tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya. "Hai Emma. Thanks."
Para mahasiswa antusias setiap kali Belle mengajar. Mungkin karena mereka tahu bahwa fashion adalah passion mereka, mimpi mereka. Belle sangat senang melihat kemauan belajar mahasiswa yang sungguh-sungguh.
Waktu berjalan sangat cepat. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Belle mengakhiri sesi mengajarnya dengan enggan.
"Baik, waktunya sudah habis dan kita akan melanjutkan besok," ucap Belle
"Miss ... Bolehkah kami meminta alamat email? Untuk berdiskusi di luar jam mengajar?" tanya salah satu mahasiswanya.
"Sure. Anytime, kalau kalian ingin berdiskusi untuk masalah fashion bisa hubungi aku." Belle menuliskan email di secarik kertas dan memberikan ke salah satu mahasiswanya.
"Thank you miss," ucap para mahasiswa serempak.
Belle keluar dari classroom dengan langkah tergesa-gesa. Billy sudah menunggu di tempat parkir.
Ia membuka pintu mobil dan melihat Billy yang sedang bernyanyi riang, nampaknya dia cukup sabar menunggu Belle.
" Let's go!" seru Belle.
.
.
.
__ADS_1
LE QUECUM BAR
Belle melambaikan tangan ke arah Amelia yang sedang berdiri di balik meja bar. "Hai Amelia."
Senyum khas Amelia terbit ketika melihat Belle yang baru saja datang. "Belle!"
Billy dan Belle duduk di tempat yang sama ketika Belle datang sebelumnya. Meja nomor 19.
Amelia mendekat ke meja Belle dengan membawa menu yang ia tenteng di tangannya. "Kau datang bersama temanmu?"
"Amelia ini sahabatku Billy, dan Bill ini bartender andalan di sini." Belle memperkenalkan mereka sekaligus.
"Nice to meet you, Bill." Amelia melemparkan senyum ke arah Billy.
"Oh yep, nice to meet you too, Amelia." Billy terlihat sangat ramah kepada Amelia tidak seperti biasanya.
Belle membuka-buka menu, namun tidak ada yang menarik. "Bolehkah aku pesan yang sama seperti kemarin?"
"Oh tentu akan aku siapkan." Amelia terlihat senang dan puas bahwa Belle menyukai cocktail yang ia racik. Belle melirik ke arah Billy. "Kau mau pesan apa Bill?" Pandangan Amelia beralih ke Billy.
Billy berfikir sejenak sebelum memesan. "Sepertinya ini terlihat segar . Cocktail Ara dan Sage." Ia menunjuk buku menu untuk memastikan kepada Amelia.
Amelia mengangguk paham. "Ok sudah diputuskan. Mohon tunggu sebentar ya." ia kembali ke meja bar dan dengan lihai membuat cocktail pesanan Belle dan Billy.
"Hai Pill, kau tidak naik ke atas stage?" tanya Belle.
Pill duduk di tengah Belle dan Billy. "Aku sudah menghabiskan lima lagu, dan waktunya untuk istirahat."
"Oh ya ini Billy sahabatku." Belle menoleh ke arah Billy, ia terlihat berbinar melihat wajah Pill yang tampan dengan jambang tipis.
"Ah i see ... Hai Bill. Aku Pill. Nice to meet you." Pill mengulurkan lengannya untuk berjabat tangan dengan Billy.
Dengan sigap Billy menerima tangan Pill. "Nice to meet you too."
Melihat tingkah Billy, Belle hanya menahan tawanya. "Dasar genit," ucapnya dalam hati.
Amelia datang membawa nampan yang berisikan cocktail pesanan mereka bertiga. Ia meletakkannya di atas meja. "Silahkan, semoga hari kalian menyenangkan. Aku belum bisa berbincang dengan kalian, pengunjung semakin ramai." Ia melirik ke penjuru ruangan.
Belle yang sedang meminum cocktail hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Take your time Am," kata Pill dengan senyum khasnya.
__ADS_1
"Selamat bekerja, Amelia." Billy mengedipkan satu matanya.
Wajah Amelia memerah karena Billy. Ia pergi dengan tergesa-gesa karena gugup. Jantung Amelia seperti genderang yang sedang dipukul, berdegup sangat kencang.
Billy yang melihat, tertawa geli. Ia memukul lengan Billy. " Dasar sialan! Dia gadis lugu, jangan kau permainkan dia."
Pill yang tidak paham akan pembicaraan Belle dan Billy hanya mengangkat satu alisnya.
"Bell, mau naik ke atas stage?" Pill menawarkan Belle untuk bernyanyi sambil mengulurkan tangannya untuk menggandengnya.
Belle nampak ragu, tapi Billy memaksanya untuk pergi bersama Pill ke atas stage. "Go! Aku ingin mendengar suara emasmu." Billy mengibaskan telapak tangannya.
Dengan enggan Belle menerima tangan Pill dan pergi ke atas stage.
"Selamat datang di Le Quecum Bar. Semoga hari kalian menyenangkan. Aku di sini bersama temanku Isabella akan memanjakan telinga kalian dengan petikan gitarku dan suara merdu Isabella." Pill menatap Belle dengan hangat dan penuh damba.
Wajah Belle memerah, entah karena gugup atau karena tatapan Pill kepadanya.
"Aku akan bernyanyi All of Me by John Legend."
Belle menyelesaikan lagunya dengan sempurna. Tepuk tangan dari pengunjung membuatnya malu. Ia turun dari stage dan kembali ke mejanya.
Billy yang histeris membuat pengunjung bertambah semangat.
Plak
Belle memukul lengan Billy dengan keras. " Kau sama sekali tidak membantu. Aku tidak suka bernyanyi di depan banyak orang."
"Auch! Kau tau? Bernyanyi adalah cara baru untuk meluapkan perasaanmu. Kau selalu memendamnya sendiri, memasang wajah tenang namun hatimu hancur." Billy terpekik setelah mengatakan kebenaran.
"Hey lihat itu, Amelia sepertinya menyukaimu. Dia selalu menatap ke arahmu." Belle menggoda Billy.
"Kau tahu seleraku kan? Pill adalah seleraku." Billy berbisik di telinga Belle.
"Uhuk uhuk ..." Belle tersedak mendengar ucapan Billy. "Dasar kau predator. Jangan macam-macam. Jangan Pill, dan juga jangan menggoda Amelia." Belle melotot, memperingatkan Billy.
"Kau tahu, ekspresi wanita yang tergoda itu sangat manis dan menggemaskan. Yah meskipun aku tidak suka wanita. Aku lebih suka laki-laki yang seperti Pill."
Plak
Belle menepuk mulut Billy. "Jaga bicaramu!" Belle terkekeh melihat Billy yang mengusap-usap bibirnya.
__ADS_1
"Kau tahu berapa berharganya bibirku ini? Semalam aku baru memakai masker bibir dan ternyata dikotori oleh tanganmu yang penuh dengan bekas tusukan jarum jahit." Billy menggerutu seperti biasanya dengan wajah cemberut, membuat Belle tertawa terbahak-bahak.