
ISTANBUL AIRPORT
Sudah lama Belle tidak pulang ke negaranya. Ada rasa rindu yang menyeruak di dalam hatinya. Ia kembali ke Turki bersama Alech, hanya untuk berlibur dan bertemu dengan Isaac yang sudah berada di Turki dua minggu lebih cepat dari jadwal.
Isaac membutuhkan Alech dan Belle untuk berdiskusi tentang pekerjaan, serta peralihan sebagian saham milik ayahnya yang akan diserahkan kepada Belle.
Tanpa sadar mereka sedang di ikuti oleh tiga orang laki-laki yang berbadan tegap. Mengamati gerak gerik mereka dengan menyamar sebagai orang biasa.
Arloji Belle berbunyi, pesan dari Isaac.
"Hati-hati sekelilingmu."
Pesan singkat yang mengisyaratkan peringatan untuk selalu waspada.
"Alech, sepertinya kita cukup disambut di negaraku ini. Apa perlu kita menyambut mereka dengan hangat?" Belle melihat sekitar mereka dengan wajah tenang dan ceria.
Alech paham apa yang sedang Belle bicarakan. Ia menyeringai. "Tentu saja, ayo kita sambut mereka." Alech menggenggam tangan Belle dengan tujuan agar Belle tetap berada di dekatnya.
Belle mengirimkan pesan kepada Isaac lewat arlojinya. "Sepertinya mereka butuh sambutan hangat dariku juga. Kak, tolong berikan sambutan untuk mereka."
Isaac mengirimkan anak buahnya untuk mencegah tamu tak diundang itu dengan sebuah ledakan kecil versi Isaac.
Setelah mereka keluar dari bandara, tidak lama terdengar suara BOOM! membuat huru hara di tempat parkir bandara.
"Sepertinya kita harus hati-hati di negaramu tercinta ini," kata Alech. Ia tidak tahu siapa orang bodoh yang mengincar Belle di area kekuasaan Jakob.
"Tidak masalah. Aku merasa ketagihan untuk bermain pistol. Sepertinya kali ini aku bisa bermain lagi." Belle meringis setelah ia tahu bahwa ada seseorang yang sedang menargetkan dirinya dan Alech.
.
.
.
MARKAS ISAAC - Armutlu, Provinsi Yalova, Turki.
" Kakak ... Kau seperti cacing, markas di bawah tanah, tapi aku suka," kata Belle yang sambil berkeliling melihat-lihat isi markas Isaac dengan santai.
__ADS_1
Isaac hanya menghela nafas panjang, mendengar ocehan adiknya itu. Ia mengajak Alech untuk duduk di mini bar miliknya, yang berada di ujung markas.
" Aku pernah bilang kepada Belle untuk menjauhimu sebisa mungkin. Tapi sepertinya sangat sulit." Isaac menuangkan wine ke gelas berkaki tinggi dan memberikannya kepada Alech.
"Entahlah, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya, dan aku juga tidak bisa menjauhinya. Sangat berat untuk menjauhinya," kata Alech sambil menyambar gelas winenya.
Setelah kejadian Jhon dan Hera, Joseph menhetaui bakat Alech sebagai laki-laki yang genius dalam medis dan pembuatan bom. Ambisinya kini beralih, ia ingin menangkap Alech dan mempekerjakannya di pusat penelitian bahan peledak. Selama ini Joseph hidup dan mendapatkan uang dengan cara menculik orang-orang berbakat dalam segala hal dan menciptakan semua yang bisa dijual di kalangan mafia secara ilegal.
Isaac dan Alech mengetahui niat Joseph, meskipun mereka sudah bersiap untuk kemungkinan buruk tapi mereka tidak mengetahui strategi yang Joseph rencanakan.
Joseph terkenal dengan strategi dadakan yang muncul kapan saja dan tidak bisa diprediksi, membuat lawannya lengah akan serangannya.
***
"Bos, kita kehilangan orang yang mengikuti mereka, kemungkinan mereka memasang bom di mobil orang kita." Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan tegap melapor kepada bosnya.
"Kau tau siapa yang melakukannya?" tanya wanita itu dengan wajah kesal.
"Mereka dilindungi oleh seseorang, tidak ada jejak percakapan diponsel mereka." Laki-laki itu menundukkan kepalanya takut.
Bos wanita yang sedang memegang gelas kaca itu seketika membanting gelasnya di hadapan anak buahnya. "Sialan! Kirimkan orang lagi untuk mengikutinya dan lebih hati-hati!"
Laki-laki itu tidak bisa mengatakan apapun, hanya anggukan kepala sebagai jawaban. Ia keluar dari ruangan bosnya dengan wajah pucat dan keringat dingin.
***
Belle mengajak Alech untuk menikmati turki, ia menyusuri kota Istanbul dan berhenti di Blue Mosque yang terkenal megah dan memiliki banyak sejarah.
Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed sugguh luar biasa. Berdiri di depan masjid ini membuat mereka terasa kecil. Beberapa kubah besar bertumpuk dengan indahnya, terkena pantulan sinar matahari menjelang sore yang tak lagi panas, ditambah terpaan angin sepoi - sepoi dari laut marmara,
Setelah mereka melakukan tour di area blue mosque, Belle mengajak Alech duduk di tepi laut marmara.
Sore ini sangat ramai, entah hanya perasaan Belle atau memang sekarang bertambah ramai. Ada banyak pasang mata menatap ke arah mereka.
Ini membuat Belle paranoid, ia teringat kata Isaac agar terus waspada. Ia duduk dengan tenang namun hatinya terus gusar. Kaca mata hitam yang ia kenakan menutupi bola matanya yang sedang menelusuri sekitarnya.
"Bell ... Aku pesan dua gelas kopi dan turkish delight, itu sangat enak kata penjaga cafe, jadi aku pesan itu." Alech menyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Belle teraenyum melihat ekspresi Alech yang sangat lucu, seperti anak kecil yang menemukan permen kesukaannya. " Ya memang enak, dan itu perpaduan yang pas." Belle mengeluarkan bungkus rokok dari dalam tasnya.
Ketika Belle sedang menikmati kopi dan sebatang rokok, arloji Belle berbunyi.
"Jam duabelas, tiga, enam, sembilan." Isaac memberikan isyarat kepada Belle.
Belle mengatakan kepada Alech. "Angka genap, ganjil, genap, ganjil. Duabelas, tiga, enam, sembilan. Ada delapan mata."
Alech paham maksud kata-kata Belle. "Persiapan sudah selesai?"
Belle yang masih duduk tenang menikmati angin laut, rokok dan segelas kopi hanya mengangguk.
Tiba-tiba Alech mengeluarkan dompet busa yang dibalut kain berwarna ungu muda dari saku coat miliknya. "Bell, aku ingin memberikan ini untukmu, aku yang membuatnya sendiri. Terimalah."
Belle menatap kalung itu dengan bingung. "Kenapa kau memberikan ini untukku?"
"Karena aku ingin." Alech tersenyum jahil.
Rasa senang dan hangat menyelimuti hati Belle, membuat ia terpatung.
Alech menyerahkan kalung yang berada di tangannya. "Terimalah, meskipun kau belum menerimaku kembali menjadi kekasihmu." Ia tertawa kecil meperlihatkan sederet gigi putihnya
"Alech ... Aku ..." Kata-kata Belle tercekat.
"Biar aku pakaikan."
Belle menarik rambutnya ke bahunya, tanda ia setuju untuk memakai kalung pemberian Alech. Ia menyentuh kalung itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Kau terlihat cocok dengam kalung itu," ucap Alech sambil memandangi wajah Belle dan kalung itu.
"Terimakasih, aku menyukainya." Hanya kata-kata itu yang keluar dari Belle.
"Aku mencintaimu, aku ingin kau kembali menjadi kekasihku." Namun pernyataan itu tidak bisa keluar dari bibir indah Belle.
.
"Semua sudah siap? Kita lakukan setelah melihat adegan romantis ini usai, biarkan mereka menikmati hari terakhirnya," kata bos wanita itu kepada anak buahnya.
Alech merasakan suasana semakin menegang di sekelilingnya. "Kita harus pergi sekarang." Ia menarik tangan Belle dan menggenggam dengan erat.
__ADS_1
Belle dengan cekatan memberikan sinyal kepada Isaac untuk menyebarkan anak buahnya.
Dengan sekejap, anak buah Isaac datang entah dari mana dan menghalau para penguntit itu.