
Shei berjalan menuju ruang kerja Joseph dengan perasaan berat. Pikirannya kacau, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Joseph memandang hamparan laut yang luas di balik jendela. "Kau mencari tahu tentang mafia serikat diponselmu? Untuk apa?" Joseph membalikkan badannya dan menatap Shei tajam.
"A aku hanya ingin tahu tentang musuhku, untuk berjaga-jaga. Karena Alech mengatakan pasti geng mafia serikat akan datang mencarinya dan membunuh kita semua." Shei berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Apa kau takut?" tanya Joseph.
"Aku lebih takut jika aku tidak tahu apapun tentang musuhku, itu kenapa aku mencari info tentang mafia serikat." Shei terus menjelaskan tujuannya.
Joseph mengangguk. "Hati-hati dalam mencari tahu tentang mereka. Mereka akan menemukan kita. Kau tahu? Esmat dan keluarganya ahli dalam melacak orang."
"Baik, aku akan lebih berhati-hati lagi." Shei sedikit lega karena Joseph tidak tahu tujuannya yang sebenarnya.
"Bagaimana pertemuanmu dengan mantan kekasihmu?"
"Tidak ada yang spesial, hanya rasa benci yang aku rasakan." Shei memang membenci Alech karena dia bersama dengan Belle.
Setelah obrolan panjang antara Shei dengan Joseph, ia harus menerima tugas lagi untuk membawa Belle ke hadapannya. Namun Shei menolak misi itu, ia menggunakan alasan yang sama, bahwa itu jauh dari kemampuannya untuk menghadapi Esmat.
***
Sudah dua tahun lamanya hidup Belle tanpa Alech. Namun kekosongan Belle sedikit terisi akan kehadiran Pill.
"Pill! Aku lulus!" Belle memeluk Pill yang menunggu Belle di parkiran kampus untuk melihat hasil pengumuman kelulusannya.
"Selamat! Ayo kita ke Le Quecum bar untuk merayakan bersama Amelia dan Billy." Pill melingkarkan lengannya ke pundak Belle.
Belle hanya mengangguk setuju dengan ide Pill.
- LE QUECUM BAR -
Billy yang sudah menunggu di meja yang penuh dengan cocktail dan makanan itu terlihat sangat bahagia.
"Selamat atas kelulusannya gadis genius yang gila!" Billy berlari memeluk Belle yang baru saja masuk.
"Terimakasih semuanya. Ini karena kalian yang selalu ada buat aku. Aku sangat beruntung memiliki kalian," kata Belle sambil mengusap ujung matanya yang sedikit basah.
Selama pesta kecilnya itu berlangsung, Belle selalu teringat Alech. Setelah ini dia harus berjuang untuk menyelamatkan Alech.
__ADS_1
Hari sudah semakin larut. Belle pulang bersama Pill dan Billy. Sebelum mereka keluar dari bar, tiba-tiba Esmat menelpon Belle.
"Jangan keluar dulu, ada nyamuk yang ganas sedang berkeliaran."
"Baik kek, aku mengerti." Belle menutup telponnya dan meminta sebotol air mineral kepada Amelia.
"Ayo kita pulang," ajak Billy kepada Belle dan Pill.
"Boleh aku di sini sebentar lagi? Aku sedikit pusing dan butuh waktu sebentar buat menyadarkan kepalaku." Belle memijit pelipisnya yang tidak pusing.
Tanpa curiga, Billy setuju dengan permintaan Belle.
Tidak lama kemudian suara lonceng pintu masuk terdengar. Belle dengan waspada menoleh ke arah pintu.
"Bell, aku diminta kakek untuk menjemputmu." Isaac berjalan mendekat ke arah adiknya itu.
"Tapi ..." Sebelum Belle menyelesaikan kalimatnya, Isaac memotong lebih dulu.
"Ayo kita pulang sekarang, kakek khawatir." Isaac menarik lengan Belle.
"Aku pulang dulu! Sampai jumpa! Dan terimakasih semua ..." Belle berbicara sambil berjalan tergesa-gesa keluar dari bar mengikuti Isaac.
"Kak, ada apa?" Belle memutar kepalanya untuk menatap kakaknya yang sedang fokus mengemudi.
"Joseph ingin menyulikmu, agar Alech tunduk kepadanya. Dan kau adalah kelemahan Alech." Isaac menjelaskan secara singkat.
"Lalu apa yang terjadi setelah kakek menelponku?" Belle yang mabuk secara ajaib ia menjadi sadar dari mabuknya.
"Aku dan kakek membereskan sebagian orang yang sedang menuju ke bar untuk menculikmu. Dan temanmu akan mati di sana kalau kau sampai tertangkap." Isaac mengeratkan tangannya.
Belle hanya diam dan berfikir, apa yang harus ia lakukan kedepannya. Dia tidak mungkin keluar rumah dengan aman mulai detik ini. Ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri tapi dia khawatir jika sesuat yang buruk akan terjadi kepada teman-temannya yang disebabkan olehnya.
"Setelah ini kamu harus naik mobil kakek, aku harus membereskan 'nyamuk' yang mengikuti kita. Aku kasih waktu lima detik untuk pindah mobil," kata Isaac.
"Aku mengerti." Belle sudah bersiap untuk membuka seat belt.
Isaac memasuki gang yang tidak lebar menuju mobil Esmat yang sudah menghadangnya di ujung gang. Mobil Isaac berdecit sangat keras karena pedal rem yang ia injak dengan mendadak dan mensejajarkan mobil milik Esmat.
Esmat membuka jendela mobil. Ia memberikan tanda bahwa dia berada di mobil kedua yang menghadang mobil Isaac di gang yang tidak terlalu lebar itu.
__ADS_1
Tanpa peringatan, Belle loncat dari mobil Isaac dan sudah berada di mobil Esmat dalam waktu tiga detik.
Sekilas terlihat bibir Isaac melengkungkan senyum melihat aksi adiknya. "Kerja bagus!"
Isaac memutar balik mobilnya dan melaju menuju jalan awal, diikuti mobil milik anak buah Esmat.
Anak buah Joseph tertawa senang melihat Isaac melaju ke arah mereka. "Lihat dia kebingungan! Terkepung oleh kita. Hahaha ... jangan harap kau bisa lolos."
Anak buah Joseph mengira bahwa mobil yang di belakang Isaac adalah mobil yang dikirim oleh bosnya untuk membantu mereka.
Isaac melewati keempat mobil itu dengan cepat, secara bersamaan keempat mobil itu berputar arah untuk mengikuti mobil Isaac.
Tanpa mereka sadari, Isaac menggiring mobil-mobil itu menuju pedesaan yang memiliki lapangan yang cukup luas dan jauh dari rumah penduduk desa.
Tepat di tengah lapangan, Isaac keluar dari mobil dan bersandar di mobil miliknya dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya.
"Waktunya melihat pertunjukkan," gumam Isaac pada dirinya sendiri.
Seketika mobil anak buah Esmat berhenti tidak jauh dari Isaac, dan mereka turun dengan menggenggam pistol.
Keenam anak buah Esmat menodongkan pistol ke arah Isaac. Mereka mengarahkan musuh tetap berada di dekat mobil mereka. Dengan gerakan cepat salah satu anak buah Esmat melemparkan bom berisi gas bius ke arah mereka.
Anak buah Esmat dengan cepat memasang respirator dan membawa delapan orang anak buah Joseph menuju markas mafia serikat.
- MARKAS MAFIA SERIKAT, LONDON -
"Kenapa Joseph agresif sekali? Kita selalu mendapatkan serangan tidak ada hentinya. Sekarang dia menargetkan Belle," ucap Isaac.
"Mungkin dia sudah kehabisan akal buat mengatur bocah nakal itu." Esmat menyesap cerutunya dengan tenang.
"Berarti Joseph secara tidak langsung memberitahukan kita soal kondisi Alech, baguslah kalau begitu caranya." Belle tersenyum sinis untuk tindakan Joseph.
Mereka bertiga terdiam untuk waktu yang lama. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Alech yang sekarang berada di Afrika, pertanda bahwa selangkah lagi mereka akan menuju ke Amerika.
Persiapan sudah selesai diberapa negara, karena kemungkinan pergerakan mereka lari di luar jalur sangat besar.
Kali ini adalah tempat terakhir untuk menjemput Alech. Tepat saat semua anggota mafia secret berkumpul untuk memamerkan hasil produksi mereka.
__ADS_1
Esmat cukup bersabar untuk membereskan semua sekaligus. Ia sudah cukup muak dengan keberadaan mafia secret yang selalu mengganggunya.