
~ Ruang Kerja Hera~
"Aaaaaaaahhh..."
Hera berteriak histeris. Setelah membuka paket yang terbungkus rapi di atas meja kerjanya. Teriakan Hera membuat gaduh seisi kantor. Para karyawan berkumpul di luar ruangan Hera, penasaran apa yang sedang terjadi.
"Panggilkan OB sekarang juga!" Hera berdiri di pojok ruangan, ia masih ketakutan.
Billy masuk ke ruangan Belle sambil terkikik. "Akhirnya aku bisa tenang."
"Apa yang sudah kamu lakukan Bill?"
"Dasar kau penyihir! Kenapa kamu selalu tahu apa yang aku lakukan." Billy kaget, karena Belle mengetahui apa yang sudah ia lakukan.
"Aku sudah bilang, biar itu jadi urusanku, kau hanya perlu duduk dan melihat pertunjukan."
"Aku tidak tahan lagi melihat kelakuan dia, sombong dan tidak mau kalah, terus dia juga mulai mengganggu."
"Apa isi kotak itu?" Belle penasaran.
"Tiga ekor tikus mati dan pisau kecil yang menancap di leher tikus. Lebih mirip seperti menusuk daging untuk BBQ." Billy menjelaskan dengan wajah polos.
"Hahaha ... Sialan kau Bill! Itu menjijikan. Dari mana kamu mendapatkan ide kado istimewa itu?"
"Entahlah, tiba-tiba ide itu muncul seperti ilham dari Tuhan." Billy berbicara dengan mengangkat tangan ke atas seperti sedang menerima sesuatu.
"Lalu bagaimana dengan cctv?"
Benar dugaan Belle, Hera langsung berlari keruang cctv untuk melihat siapa yang meletakkan kotak mengerikan itu. Hera melihat seorang satpam perusahaan masuk dan meletakkan kotak itu di meja Hera.
Hera berlari keruang satpam untuk menanyakan hal tersebut.
"Saya menerima paket itu dari kurir ekspres, karena tertulis untuk nona Hera maka saya mengantarnya secepat mungkin. Saya kira itu paket penting seperti biasa."
Hera kembali dengan wajah merah karena marah. Dia berfikir keras tapi tidak ada hasil. Hera sempat berfikir ini ulah Belle, tapi melihat sikap Belle sepertinya ini bukan gayanya, terlebih lagi dia sudah membekukan cctv, tidak ada bukti bahwa dia yang menerobos masuk untuk mencuri design.
***
Fashion show perdana Belle akan diadakan dua hari lagi. Belle semakin sibuk dan tidak ada waktu untuk pulang ke apartmentnya. Billy juga menemani Belle tidur di kantor.
Hera tiba-tiba datang ke ruangan Belle.
"Selamat sore Miss. Saya Hera putri dari Tuan Jhon dan ketua tim produksi yang menangani produksi pakaian untuk dijual.
" Oh ... Saya Isabella, silahkan duduk. Ada perlu apa sampai anda menemui saya dijam pulang kantor?"
__ADS_1
"Saya datang kesini untuk mengajukan diri membantu fashion show perdana anda tiga hari lagi."
"Terimakasih untuk niat baik anda, saya akan coba mendiskusikan kepada tim pelaksana."
"Kalau begitu saya tunggu kabarnya, saya juga sudah terbiasa mengadakan fashion show, mungkin saya bisa banyak membantu anda."
"Baik, saya akan coba bicara kepada tim pelaksana, mohon tunggu kabar dari saya."
"Terimakasih Miss. Saya permisi dulu." Sebelum berdiri, Hera menyelipkan sesuatu di sofa.
Belle menatap kamera kecil hampir mirip seperti biji kacang hijau yang terselip di sofa. Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja kerja.
Billy menerobos masuk ke ruangan Belle. " Apa yang...... "
Dengan cepat Belle meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Billy mendekat ke meja kerja Belle. Belle menulis di kertas. "Jangan banyak bicara, ayo kita keluar."
Belle dan Billy meninggalkan ruangan. Mereka menuju ke cafe dekat kantor.
"Sekarang jelasan kepadaku." Billy melipat tangannya di depan dadanya.
"Wanita itu datang dan mengajukan diri untuk membantu di acara fashion show, tapi sebelum dia pergi, dia menyelipkan kamera sebiji kacang hijau di sofa." Belle menjelaskan dengan pelan.
"Sial! Apa yang dia mau?
Belle mengambil laptopnya di dalam tas. Dia tahu kamera macam apa yang Hera selipkan, tidak butuh waktu lama Belle berhasil membekukan kamera itu.
Jalanan di luar tidak seperti biasanya, terlalu ramai sampai mengalami kemacetan, ada mobil kebakaran lewat dengan menerobos kerumunan mobil yang berjajar rapi.
Tiba-tiba telpon Belle berdering, tertera nama Alech di layar ponselnya.
"Sayang ... Dimana kamu sekarang?"
"Aku masih di cafe dekat kantor, ada apa sayang?"
"Apartment mu, kebakaran." Alech berbicara dengan tenang tanpa panik.
"Terus?"
"Semua barangmu dan Billy sudah aku pindahkan ke rumah barumu. Semua aman."
Belle sudah menduga, meskipun Alech tidak pernah mengganggu di jam kerja, tapi dia selalu menjaganya dari jauh.
"Apa aku butuh kesana?"
__ADS_1
"Tidak usah, aku sudah membereskan semua, kamu fokus saja ke acaramu."
"Terimakasih sayang. I love you." Belle menutup telpon dan menghela nafas berat.
Belle diam sejenak, menyalakan rokok dan berusaha untuk menghadapi kepanikan Billy.
"Bill ... Apartment kita kebakaran."
"What! Bagaimana bisa? Aku sudah cek semua sebelum pergi ke kantor, terus barang-barang kita bagaimana?" Suara Billy cukup keras, sehingga menarik perhatian para pengunjung.
"Tenang dan kecilkan suaramu. Alech sudah mengurus semua, apartment sudah dikosongkan sebelum kebakaran."
"Aneh. Terus siapa yang berani membakar apartment kita?"
"Entahlah." Belle mengangkat bahunya dengan santai.
Belle cukup lelah berfikir hari ini. Dia mempercayakan semua pada Alech, pasti Alech sudah tahu siapa yang membakar apartmentnya.
Belle mengajak Billy untuk cek lokasi fashion show, semua sudah hampir siap. Lampu, panggung catwalk semua sudah siap. Belle merasa lega karena persiapan sudah 80%.
Alech tiba-tiba muncul di pintu masuk. Dia membawakan camilan tengah malam. Seperti biasa, senyumannya yang menawan dan penampilannya yang selalu elegan menambah ketampanannya.
Belle berlari ke arah Alech dan memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu sayang." Pelukan Belle semakin erat.
"Aku juga sangat merindukanmu. Apa kau baik-baik saja?" Alech tahu bahwa Belle merasa lelah untuk persiapan fashion show dan ditambah lagi dengan kejadian hari ini.
Billy melihat Alech dari kejauhan, ia segera berlari ke arah Alech dengan panik.
"Alech! Bagaimana dengan kebakaran itu?"
"Tck! Mengganggu saja." Belle menggeruru.
"Hahaha ... Nanti akan aku jelaskan, ayo kita ke kantor Belle dulu."
Mereka bertiga berjalan menuju kantor Belle. Kantor masih cukup ramai, terlebih di ruang produksi. Belle berhenti di depan pintu ruang produksi.
Alech menganggukkan kepalanya, memberikan persetujuan pada Belle. Belle tersenyum dan masuk ke ruang produksi. Sedangkan Alech dan Billy masuk ke ruangan Belle.
"Bagaimana persiapannya?"
"Miss ... Semua sudah siap, kami tinggal menunggu evaluasi dari anda," Kata Dion, ketua tim.
Belle memeriksa satu persatu gaun-gaunnya. Dan menyarankan untuk menambahkan beberapa aksesoris saat digunakan kepada para model.
__ADS_1
"Untuk gaun yang ini, tolong jangan menggunakan pita satin, ganti saja dengan kain kaca dan jahit menjadi bentuk pita. Lalu bagian tengah pengunci pita tambahkan beberapa manik-manik. Oh ya, ujung pitanya juga, berikan sedikit manik-manik di ujung atas sebelah kanan serta ujung bawah sebelah kiri." Belle mengarahkan pada penjahit. Agar memudahkan penjahit, Belle menggambarnya di kertas hvs.
Setelah selesai di ruang produksi, Belle bergegas ke ruangannya.