Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 48


__ADS_3

Belle masuk ke ruang kerja Esmat. Ia ingin menanyakan tentang pria bertopeng yang menyelamatkannya.


"Kek. Di mana Abel?" Tanpa basa basi Belle langsung menyampaikan tujuannya.


Esmat mengerutkan dahinya. "Abel?"


"Iya Abel, pria bertopeng yang menyelamatkan aku dari penculik," kata Belle gemas.


Esmat terbahak mendengarnya. "Jadi anak itu mengaku sebagai Abel?"


"Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya." Belle kehabisan kesabarannya.


"Aku tidak bisa mengatakan siapa dia, yang jelas dia adalah orang yang kembali dari maut." Esmat tidak ingin melanggar janjinya kepada pria bertopeng itu untuk merahasiakan identitasnya.


"Kakek kikir sekali. Informasi seperti itu saja harus dirahasiakan seperti buronan FBI." Belle benar-benar kesal.


Belle keluar dari ruang kerja Esmat dengan tangan kosong. Ia masih merasa bahwa Abel adalah Alech. Entah karena rasa khawatir, atau perasaan lain yang menginginkan Alech kembali.


Dilema adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Belle.


"Sesak. Kalau itu bukan Alech maka aku harus melupakannya. Aku tidak bisa terus begini," gumamnya pada diri sendiri.


Belle membuka ponselnya, ada sembilan puluh tujuh panggilan tidak terjawab. Semua panggilan dari Pill, dan ada lima pesan yang belum Belle lihat.


Semua pesan itu tentang permintaan maaf. Pill juga mengkhawatirkan Belle, terlihat dari pesannya yang selalu menanyakan apakah Belle baik - baik saja.


Dengan perasaan bersalah, Belle menelpon Pill.


"Hai Pill, maaf aku baru bisa menghubungiku. Aku sangat sibuk sesampainya aku di Amerika, jadi aku tidak melihat handphone selama beberapa hari. Ohya bagaiman dengan Lily? Sampaikan maafku kepadanya." Belle berusaha untuk tenang dan melupakan kejadian malam itu saat ia mabuk.


"Ah begitu. Aku hanya mengkhawatirkanmu dan juga Lily selalu menanyakanmu. Aku merasa bersalah padamu. Maaf," jawab Pill di ujung sana.

__ADS_1


"Tolong sampaikan salamku untuk Lily. Mungkin aku akan berada di Amerika untuk sementara waktu. Jangan menungguku." Belle harus menghentikan Pill dan Lily agar tidak berharap terlalu banyak padanya untuk sesuatu yang tidak bisa terjadi di masa depan.


"Akan aku sampaikan. Jaga dirimu baik-baik. Ohya Billy sudah selesai pengobatan dan sekarang dia berada di Dubai bersama Sean untuk melanjutkan pengobatannya sekitar tiga bulan." Pill memberikan info tentang Billy, ia berfikir bahwa Belle mengkhawatirkan kondisi Billy.


"Baik, aku mengerti. Sampai jumpa." Belle mengakhiri percakapannya dengan Pill, dan menutup telponnya.


Isaac mendekati Belle yang sedang duduk di mini bar yang ada di rumah Esmat.


"Kau tahu siapa yang merencanakan penculikanmu?" tanya Isaac.


"Diana, ibu dari Hera yang kau selamatkan. Dia mengetahui fakta bahwa aku dan Alech yang sudah menyiksa anaknya itu." Belle menjawab dengan yakin.


"Dari mana kau tahu?" Isaac terkejut bahwa Belle mengetahui dalang penculikannya sebelum ia memberitahu.


"Siapa lagi yang memiliki dendam padaku dan orang yang berani menyerangku tanpa senjata, hanya bermodalkan obat bius." Tebakan Belle sangat akurat.


Jika penculik itu dari kalangan mafia, pasti mereka memiliki senjata dan tidak ceroboh. Selama tiga hari pasti penculik dari kalangan mafia sudah membawanya jauh dari benua Amerika. Mungkin Belle sudah berada di daerah pelosok seperti di Afrika yang penuh dengan binatang buas.


"Tapi aku tidak suka memiliki kakak yang gila rahasia sepertimu." Belle mencibir Isaac.


"Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Diana." Belle meninggalkan Isaac dalam kebingungan.


Di ruang senjata, Belle memilih beberapa senjata untuk ia bawa. Tanpa mengatakan rencananya kepada Isaac, ia meluncur pergi dari rumah Esmat tanpa satu pengawalpun.


Dengan celana hitam ketat, baju hitam yang menutupi baju anti peluru, mantel cokelat tua tanpa dikancing dan sepatu boots berwarna hitam membungkus kakinya sampai ke lutut. Rambut yang diikat ekor kuda membuat Belle terlihat sebagai dewi prajurit bayaran yang kejam namun elegan.


Belle menggunakan mobil Bugatti miliknya. Ia melaju dengan cepat dari Washington menuju ke California dimana Diana tinggal.


Belle sudah mencari informasi tentang Diana, meskipun Diana sudah mengganti namanya, namun Belle masih bisa menemukannya.


- Rumah Diana -

__ADS_1


Diana sangat marah kepada anak buahnya yang gagal menculik Belle dan membunuhnya di tempat yang asing.


Suasana rumah yang tegang membuat anak buahnya semakin tidak menyukai bosnya itu.


"Bagaimana bisa kita berhasil, wanita itu dari kalangan mafia terkejam di dunia dan kita menculiknya dengan senjata terbatas dan hanya menggunakan mobil. Kita tidak sanggup melawan Esmat," kata salah satu anak buah Diana.


"Omong kosong macam apa itu! Apa kau takut dengan Esmat dan juga kematian? Aku sudah membayarmu mahal hanya untuk membunuh satu wanita." Diana tidak bisa menahan emosinya mendengar kata - kata anak buahnya.


Anak buah Diana pergi dari hadapannya setelah ia mengibaskan tangannya.


Belle sampai di rumah Diana pada tengah malam, dia melemparkan bius asap ke halaman rumah Diana untuk melumpuhkan penjaga yang sedang berjaga.


Butuh waktu lima belas menit untuk efek bius yang ia lemparkan. "Tck, Alech kau harus hidup lebih lama dan membuat bom bius dalam durasi tiga detik untuk melumpuhkannya."


Belle menginjak batang rokok yang ia hisap untuk menunggu semua penjaga terbius sebelum bergerak masuk ke dalam rumah Diana.


Lima belas menit berlalu, Belle melenggang masuk dengan santai dan tenang. Ia melihat isi rumah Diana yang penuh dengan foto hera.


"Tidak ada senjata satupun? Penjahat macam apa Diana ini?" Belle tersenyum sinis.


Belle muju lantai dua dan menemukan kamar Diana. Ia mendobrak pintu kamar Diana yang mengakibatkan Diana bangun dari tidurnya karena terkejut.


"I Isabella?" Diana menggosok matanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat bukanlah mimpi.


"Diana, ibu dari Hera yang selalu mengusik hidupku. Kalau saja Hera tidak mengusikku mungkin dia masih hidup. Diana, istri dari John si baji ngan yang terobsesi dengan ibuku, Valerie. Andai saja kalian tidak menyinggung keluargaku mungkin kalian bisa hidup dengan nyaman. Dan kau yang sudah diselamatkan oleh kakaku sekarang kau mencoba membunuh adik kesayangannya? Balas budi macam apa ini?" Belle terus mencerca Diana tanpa henti.


"Apa yang kau mau?" Diana ketakutan setelah melihat Belle. Ia berfikir bahwa Belle adalah gadis yang lembut dan pemaaf. Tapi Belle yang di hadapannya sekarang justru sosok wanita kejam tanpa ampun.


"Seharusnya aku yang bertanya. Apa maumu?" Belle duduk di sofa kamar dengan melipatkan kakinya.


"Kau sudah membunuh anakku dan kau harus membayarnya. Nyawa dibayar dengan nyawa." Suara Diana meninggi setengah berteriak. Sorot matanya yang ketakutan membuat Belle ingin tertawa.

__ADS_1


"Bagaimana dengan apa yang sudah mereka lakukan? Membunuh, menipu, menculik orang - orang yang aku sayangi? Nyawa dibayar dengan nyawa. Aku sudah melakukannya sesuai prinsipmu. Seharusnya Isaac tidak pernah mengampunimu dan menghabisi seluruh keluargamu tanpa sisa." Belle masih berusaha sabar menghadapi Diana.


__ADS_2