Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 19 - Berhentilah sampai di sini


__ADS_3

"Astaga ... Di mana ya? Ya ampun kemana kalung milik Belle, katanya ada sepuluh set, tapi kenapa hanya kotaknya yang sepuluh? Yang berisikan kalung hanya enam set. Gawat!" Billy panik ketika dia sedang mengecek kalung yang dipakai untuk fashion show.


Billy berlari ke ruangan Belle. " Bell ... Gawat! Kalungmu ... " Sebelum Billy menyelesaikan kalimatnya, Belle sudah memotong.


" Aku sudah tahu. Kalung itu diambil oleh Hera." Dengan santai Belle menjawab.


"Terus kenapa kamu diam saja? Kau benar-benar gila! Itu sangat berharga untukmu kan?" Kata Billy geram.


"Itu hanya imitasai, jadi santai saja, tak usah panik."


Billy mencubit lengan Belle kesal. "Kau benar-benar ... Argh dasar wanita gila, kau sudah membuat aku panik dan ketakutan!"


"Maafkan aku, aku lupa memberitahumu." Belle hanya bisa meringis melihat Billy yang pucat.


Alech datang untuk menjemput Belle. "Ayo kita pergi dan selesaikan yang satu ini."


Belle mengangguk dan bergegas keluar dari kantor, meninggalkan Billy yang masih marah.


"Hey kalian mau kemana? Aku ikut!" Billy membuntuti dari belakang.


"Kita akan pergi ke rumah sakit, menjenguk Hera kesayanganmu." Alech menggoda Billy yang cerewet.


"Woah! Luar biasa, aku akan melihat pertunjukan yang seru."


"Aku mohon jaga sikapmu, kalau perlu tutup mulutmu, jangan berbicara sepatah katapun." Belle memperingatkan Billy dengan tegas.


"Oke oke aku hanya akan menonton, aku tahu apa jadinya ketika aku ikut bicara, pasti tidak akan berujung baik." Billy mengangkat bahunya.


"Jelas tidak akan berujung baik, kau dan Hera akan melakukan lomba tarik rambut." Alech menimpali.


~ Rumah Sakit ~


Tok tok


"Masuk!" Suara Hera terdengar tidak bersahabat.

__ADS_1


Belle masuk ke ruangan Hera dengan membawa bunga dan parcel buah. Wajahnya tetap tenang seolah dia tidak memiliki urusan dengan Hera.


"Hera ... Maaf, aku baru datang menjengukmu, bagaimana kondisimu?" Belle meletakkan bunga dan parcel di nakas samping tempat tidur.


"Astaga Belle ... Terimakasih sudah menjengukku. Beginilah kondisiku saat ini, maafkan aku tidak bisa membantumu sampai acara berakhir." Hera tersenyum seolah-olah tidak ada sesuatu yang dia lakukan.


"Pasti ini sangat berat untukmu. Tapi kau masih bisa bekerja, jika kau mau." Belle menawarkan sesuatu yang mustahil.


"Aku akan kembali ke kantor jika kondisiku sudah lebih baik. Terimakasih atas kebaikanmu." Hera memegang tangan Belle dengan kencang, seolah dia menunjukkan rasa kesal kepada Belle.


Perawat masuk ke ruangan Hera. "Nona Hera, sekarang waktunya untuk terapi dan check up CT scan."


Hera mengangguk dan teraenyum kepada perawat itu. Perawat kaget dengan perubahan Hera, yang selalu tidak ramah mendadak menjadi wanita seperti malaikat.


"Pergilah, aku akan menunggu di sini bersama Billy dan pacarku."


"Baik, aku juga ingin berbincang denganmu lebih lama." Hera keluar dari ruangan dengan bantuan tiga orang perawat.


Belle merapikan tempat tidur Hera, ketika dia sedang menata bantal tiba-tiba ada sesuatu yang berat di dalam sarung bantal. Belle mengambil sesuatu di balik sarung bantal Hera. Dan benar, ada empat set kalung milik Belle yang Hera curi.


"Apa ini? Kau mengambilnya?" Mata Belle menatap Hera dengan dingin.


"Ah i itu ... Terbawa. Aku berniat mau mengembalikan kepadamu." Hera sangat gugup.


"Kenapa kau tidak menelponku? Kenapa harus menunggu aku datang kesini? Jika aku tidak datang kesini apa kau akan mengembalikan? Kamu tahu ini sangat berharga untukku, kenapa membuat semua orang di kantor khawatir dan panik?"


"Ma ... Maafkan aku ... Aku minta maaf, tolong maafkan aku." Hera memohon kepada Belle dengan ketakutan.


"Jika kau berniat ingin mengembalikan seharusnya kau tidak takut seperti sekarang ini, dan tidak meminta maaf seperti pencuri yang tertangkap basah."


Hera tersentak mendengar ucapan Belle. Benar kata Belle kenapa ia harus takut dan gugup.


"Aku tidak tahu apa salahku kepadamu, aku tidak pernah menyinggungmu dan aku tidak memiliki niatan jahat kepadamu. Lalu ayahmu menyadap ponselku, kau juga meletakkan kamera sebiji kacang di ruanganku. Apa maksudnya itu semua?" Suara Belle terdengar tenang namun sangat dingin.


Hera semakin ketakutan, dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan Belle.

__ADS_1


" Jika kau tidak mau menjawab, aku anggap kau membenarkan semua dugaanku. Kau dan ayahmu berniat untuk menyingkirkan aku." Tanpa memberi kesempatan Hera untuk berbicara, Belle keluar dari ruangan diikuti oleh Billy dan Alech.


Belle belum pergi, dia berdiri di samping pintu mendengarkan Hera yang mulai marah.


" Dasar wanita sialan! Kenapa dia bisa tahu semuanya!" Hera membanting apa saja yang ada di dekatnya.


Tiga orang perawat ketakutan dan keluar dari ruangan. Tanpa Hera sadari salah satu perawat itu adalah anak buah Alech yang bertugas untuk merekam semua kejadian tadi.


Keesokan harinya rekaman itu muncul di semua media online.


Tidak Hanya Gila, Hera Adalah Pencuri dan Psikopat. Ingin Menghancurkan Karir Isabella Dikondisinya Yang Hampir Sekarat


Dalam sebulan berita tentang Hera tidak ada hentinya. Semua masyarakat gempar dan mulai menghujat Hera. Tuan Jhon tidak memiliki muka untuk berkeliaran di kantor dan tempat publik, dia hanya mengurung diri di rumah.


Kondisi Hera semakin mengenaskan, dia sering mengalami mimpi buruk dan sering mengamuk tanpa sebab. Pihak rumah sakit tidak sanggup untuk melayani pasien seperti Hera.


"Maafkan kami tuan Jhon, kami sudah tidak sanggup untuk merawat Hera di rumah sakit kami. Terlalu beresiko. Saya sarankan agar Hera dirawat di rumah atau rumah sakit jiwa. Karena kondisi mental Hera yang sudah tidak baik. Dia membutuhkan penanganan yang tepat." Direktur rumah sakit berbicara kepada tuan Jhon dengan hati-hati.


"Ya saya mengerti. Terimakasih atas sarannya. Saya pamit dulu." Tuan Jhon tidak ingin menambah masalah lagi, dia sudah lelah dengan kekacauan yang disebabkan oleh Hera.


Keputusan tuan Jhon membawa Hera ke psikiater menambah emosi Hera semakin menjadi. Tuan Jhon sudah tidak sanggup lagi dengan anaknya. Akhirnya Hera hanya di kurung di dalam kamar.


Sudah satu minggu kondisi Hera semakin memburuk, kurus, dekil dan tidak terawat. Tuan Jhon memberanikan diri untuk masuk ke kamar Hera. Hera terlihat tidak menolak kehadiran tuan Jhon.


"Ayah ... Aku ingin menggambar, aku butuh kertas dan pensil." Hera meminta kepada ayahnya untuk dibawakan alat tulis.


Pelayannya memberikan alat tulis ke tuan Jhon dan menunggu di luar kamar. Ia takut kalau-kalau Hera mengamuk lagi.


"Ini sayang, kamu mau menggambar apa?" Dengan lembut dan penuh kasih sayang, tuan Jhon bertanya sambil mengelus kepala Hera.


Hera tidak menjawab, ia fokus menggambar, seperti anak kecil yang sedang asik dengan mainan baru.


"Lihat ayah, baguskan gambarku? Aku menggambar gaun pengantin untukku sendiri." Hera menunjukkan gambarnya dengan wajah gembira.


"Bagus sekali sayang, ayo kita gambar lagi apa yang kamu inginkan." Tuan Jhon masih mencoba berkomunikasi dengan Hera.

__ADS_1


Kondisi Hera semakin buruk, duduk di kursi roda dan bersikap seperti anak kecil. Tuan Jhon sakit melihat kondisi anak semata wayangnya yang berubah menjadi wanita tidak normal.


__ADS_2