Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 15 Semua akan aku kembalikan 2


__ADS_3

Belle menatap Billy yang masih terbaring lemah. Alech menepuk pundak Belle dengan lembut.


"Sayang, ini bukan salahmu." Alech mencoba menenangkan hati Belle.


"Andai saja aku tidak menyinggung mereka, andai saja supir itu tidak salah sasaran pasti Billy tidak akan seperti ini." Suara Belle tercekat.


"Kalau sampai kau yang berbaring di ranjang itu, aku akan membunuh semua dari supir itu dan seluruh keluarga mereka."


Belle menghadap Alech dan memeluk pinggangnya dengan erat.


"Sayang ... Setelah ini siapa lagi yang akan terluka karena aku?" Suara Belle terdengar semakin frustasi.


"Aku berjanji akan lebih berusaha lagi untuk menjaga siapa saja yang berada di dekatmu."


Belle sedikit merasa tenang, dan hari semakin larut. Alech menyarankan Belle untuk pulang dan beristirahat.


"Ayo sayang kita pulang, kau belum melihat rumahmu yang baru kan?"


"Aku juga penasaran dengan rumah baru yang kau pilihkan." Belle mengangkat satu alisnya, menggoda Alech.


"Aku harap kau menyukainya sayang."


Mereka keluar dari rumah sakit dan menuju ke parkiran mobil. Menyusuri kota London yang masih ramai seperti biasa. Mobil Alech memasuki gerbang perumahan Valerie Sweet Home. Perasaan Belle terusik, nama mendiang ibunya terpampang di pintu masuk.


" Sayang ..." Sebelum Belle melanjutkan pertanyaannya, Alech tiba-tiba memotong.


"Nanti akan aku jelaskan, sayang."


Mobil Alech terus melewati barisan perumahan yang megah, sampai akhirnya mereka memasuki gerbang ke dua, di dalam gerbang ke dua ada sebuah rumah yang mewah di kelilingi oleh taman berumput hijau, bunga berjajar rapi di jalan menuju pintu masuk rumah itu.


Terlihat Belle berfikir keras, ia samar-samar mengingat sesuatu. Rumah ini tidak terlihat asing untuknya. Seperti de javu, dia berusaha keras untuk menahan pertanyaan kepada Alech. Belle ingin mendengar penjelasan Alech terlebih dahulu.


Alech memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk, dan mereka menuju ke rumah yang didominasi oleh kayu itu. Pintu dibuka oleh seorang pelayan yang berseragam hitam putih.


"Selamat datang nona Isabell dan tuan Alech," Kata pelatan itu menyambut kedatangan mereka.


Belle mengangguk dan tersenyum menanggapi penyambutan dari pelayannya.


"Ayo kita duduk di ruang tamu saja, dan aku akan menjelaskan. Aku tahu kamu menahan diri mati-matian untuk tidak bertanya bukan?" Alech tertawa lebar melihat wajah Belle yang bingung.


"Tolong jangan membuat aku mati penasaran, kejadian hari ini sudah cukup menguras tenagaku." Belle merebahkan dirinya di sofa.


"Ini adalah rumahmu, ayahmu membangun perumahan khusus dengan keamanan tingkat tinggi. Dulu rumah ini dipakai oleh mendiang ibumu. Dan ... kamu juga pernah tinggal di rumah ini, dari kamu lahir sampai berumur 10 tahun. Ayahmu yang mengatakan itu kepadaku."


" Hah ... Pantas saja aku tidak asing dengan rumah ini, seperti sudah mengenalnya lama." Belle menghela nafas lega.


" Rumahku ada di sebelah kanan rumahmu. Ah maksudku dibalik tembok tinggi pagar rumahmu. Hahaha ... "

__ADS_1


" Sial, masuk ke rumah ini saja sudah jauh, kenapa harus dibalik tembok?" Belle mencibir.


" Tenang saja, sini ikut aku." Alech menarik Belle ke ruang kerja, dan mendorong tembok dengan kuat.


Tembok itu terbuka seperti pintu. Terlihat tangga menuju ke bawah ruangan. Alech menarik tangan Belle dengan sangat hati-hati. Mereka menuruni tangga. Setelah tangga ke lima, lampu otomatis menyala. Belle semakin penasaran, apa yang ada di bawah sana.


"Ini ruang kerja ayahmu dan ayahku."


Belle melihat dengan kagum. Ada sepuluh komputer yang berjajar rapi. Belle penasaran dengan dua ruangan di sebelah ujung, ruangan pertama dengan pintu kaca, dan ruangan ke dua dengan pintu besi. Belle menyentuh ke dua pintu itu bergantian.


Seolah Alech paham apa yang Belle pikirkan. Alech menekan tombol di sebelah pintu kaca, dan pintu itu terbuka.


"Kamu penasaran kan? Ayo masuk." Alech mengajak Belle untuk melihat isi ruangan itu.


Belle kaget setelah melihat isi ruangan itu, seperti ruang operasi, ada dua tempat tidur rumah sakit, dan perlengkapan kesehatan serta peralatan operasi. Belle paham kegunaan ruangan ini.


Setelah melihat ruangan dengan pintu kaca itu, Alech menekan beberapa kode di sebelah pintu besi. Pintu itu terbuka dan mereka masuk ke dalam.


Ruangan penuh dengan etalase besar mengelilingi ruangan yang berisikan berbagai macam senjata. Belle tidak heran, karena ayahnya dan Alech memang butuh senjata untuk bertahan dari serangan musuh.


"Sekarang bagian terakhir dari tujuan kita."


Alech menuju pintu di ujung lorong, dan membuka pintu tersebut. Tidak beda jauh dengan pintu masuk tadi. Ternyata rumahnya terhubung dengan rumah Alech.


Alech berbalik dan tersenyum ke arah Belle. "Kita cukup dekat bukan?"


"Iya, dekat sekali sampai aku tidak bisa berfikir jika kau suatu saat menyerangku, aku tidak bisa lari kemana-mana."


Belle tertawa terbahak-bahak. "Hey, ini sudah jam 2 pagi. Besok aku harus pergi lebih awal."


"Besok aku akan mengantarmu. Selamat malam sayang." Alech mencium ujung kepala Belle dengan lembut.


"Good night." Belle masuk ke kamarnya dan bersiap untuk tidur.


***


~ Aula Diamond ~


Semua sedang sibuk memeriksa kesiapan fashion show. Para teknisi memeriksa ulang tatanan lampu catwalk. Para model juga sedang berdandan di ruang make up.


Belle masuk ke ruang make up membawa sepuluh kotak perhiasan berwarna hitam.


"Hera, tolong pakaikan semua perhiasan ini ke semua model, aku sudah memberikan gambarnya ke semua model. Aku percayakan soal perhiasan ini kepadamu. Terimakasih Hera." Belle memeluk Hera dan tersenyum.


Setelah Belle menyelesaikan urusannya di ruang make up, ia bergegas keluar dan menuju ruangannya. Alech yang sudah duduk manis di meja kerja Belle sambil menatap layar laptop.


" Akting yang bagus sayang." Alech menggoda sikap Belle kepada Hera.

__ADS_1


"Hahaha ... Sebenarnya aku muak melakukan itu, tapi aku harus melakukannya. Semua aman?"


"Menurutmua?" Alech melipat tangannya di depan dada dan menaikkan satu alisnya.


"Melihat ekspresi wajahmu sepertinya tidak ada masalah." Belle acuh tak acuh.


"Kenapa aku bisa memacari wanita dingin seperti kutub utara ini?" Alech menggerutu.


"Jika kau tak suka aku jadi pacarmu, maka kau jadi bawahanku saja, sepertinya tak cukup buruk." Belle menggoda Alech.


"Ah jadi ini yang dimaksud oleh Billy. Isabella berlidah tajam seperti belati. Hahaha ..."


"Kau menyebalkan!" Belle memukul pundak Alech.


Ponsel Belle berdering, terlihat nomor yang familiar. Dia mengangkat telpon itu dengan tenang.


"Ya?"


"Semua sudah siap bos," Kata orang di sebrang sana.


Belle melihat jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 07:30 itu tandanya acar sudah harus dimulai dan kejutan untuk Hera akan segera datang.


"Ok, lakukan sesuai kataku, rilis tepat jam 8. Berhati-hatilah. "


"Baik bos."


Saat Belle menutup telpon, ada seseorang mengetuk pintu ruangannya.


Tok tok tok


"Masuk."


"Acara bisa dimulai sekarang Miss?" Tanya sekretaris Belle.


"Ayo kita mulai."


Belle berjalan keluar ruangan menuju belakang stage, dia memeriksa para model.


"Mohon kerja samanya." Belle sedikit membungkuk ke semua model.


Para model berdiri dan melingkari Belle. Ini sudah menjadi tradisi sebelum acara dimulai. Belle paham maksudnya dan memberikan sedikit ceramah motivasi untuk para model.


Setelah melakukan itu Belle melihat ke layar tv yang menampilkan acara dari depan catwalk. Rekaman video sambutan dari Belle serta profil Belle sedang ditampilkan.


"Miss, maaf bolehkah saya bertanya?" Sekretaris Belle berbisik di telinga Belle.


"Oh dia adalah pengganti Billy untuk sementara sampai Billy benar-benar sembuh."

__ADS_1


Sekretaris itu hanya mengangguk paham.


...^^^🎉🎉SELAMAT TAHUN BARU 2022 🎉🎉SEMOGA HARAPAN KALIAN TERWUJUD DI TAHUN 2022 JANGAN LUPA UNTUK SELALU SETIA BACA NOVEL AKU YA... ❤️❤️❤️^^^...


__ADS_2