Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 39


__ADS_3

Alech dan Belle berlari ke area parkir mobil tidak jauh dari laut marmara. Ketika mereka sudah dekat di mana mobil mereka terparkir, ada lima orang yang menghalangi mereka tepat di hadapannya.


Alech menggenggam erat tangan Belle, dan mereka mundur empat langkah. Namun kelima orang itu terus berjalan dengan pelan menghampirinya dan Belle.


Sedetik kemudian kelima orang itu membentuk setengah lingkaran untuk menghadang mereka.


Alech menarik Belle untuk berada di belakang badannya sambil meneliti pergerakan kelima orang itu.


Belle merogoh saku coatnya dan memberikan sebuah pistol ke tangan Alech. Ia juga mengambil satu pistol lagi yang terselip di ikat pinggangnya. Ia tidak tahu bahwa Alech sudah menyimpan bom berukuran kecil menyerupai batang kayu korek api.


Kelima orang itu juga menodongkan pistol ketika melihat Belle dan Alech menggenggam pistol di masing-masing tangannya. Mereka menyunggingkan bibirnya setengah tersenyum, seolah mengatakan "Kau kalah, lima lawan dua."


Belle memposisikan dirinya membelakangi punggung Alech, sehingga dia dapat menghalau serangan dari belakang.


Salah satu dari kelima orang itu terlihat sangat gugup, ia menarik pelatuk dan peluru keluar dari sarangnya, namun tembakannya jauh dari target yang ia bidik.


Alech menyeringai melihat hal bodoh itu dan dia berfikir bahwa semua orang ini bukan tandingannya, tapi entah untuk Belle.


Belle mengarahkan pistolnya ke laki-laki tadi yang gugup, dia membidik kepala orang itu, dan ... peluru melesat masuk ke kepala orang tersebut dengan cepat tanpa suara. Pistol yang ia gunakan adalah pistol senyap, sehingga membuat musuhnya tidak tahu kapan peluru itu akan keluatlr dari mulut pistolnya.


Sedetik kemudian orang itu tergeletak tak bernyawa. Membuat ke empat rekannya mundur satu langkah.


Belle dan Alech meneruskan aksinya. Belle menembak di bagian dada dan paha, sedangkan Alech menembak di bagian area kepala.


Namun siapa sangka salah satu dari kelima orang itu berhasil menembak perut Belle sebelum ia lemas kehabisan darah.


Alech yang melihat itu dengan brutal menghabisi mereka tanpa tersisa. Ia segera menopang Belle agar tidak jatuh ke tanah.


"Aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi ke markas Isaac." Belle menarik Alech ke dalam mobil.


"Kondisimu? Perutmu?" Alech menanyakan hal random karena ia panik.


Belle membuka coat dan sweater yang ia kenakan. Baju anti peluru membalut badannya dengan rapi, baju itu diproduksi oleh salah satu mafia terbesar di Rusia dan hanya ada sepuluh baju, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Namun itu pengecualian untuk Isaac.


Belle tertawa kecil. "Isaac memakaikan ini sebelum kita pergi untuk berjaga-jaga, agak aneh dan terlalu kencang," ucap Belle dengan santai.


"Sial! Aku sudah khawatir terjadi sesuatu kepadamu." Alech mengacak rambutnya.

__ADS_1


Arloji Belle berbunyi, Isaac menelponnya.


"Aku kirimkan titik koordinatnya datanglah kesitu, aku sudah menjemput," Kata Isaac di sebrang sana. Suaranya yang nyaring beradu dengan suara bising.


Belle dan Alech menuju tempat sesuai arahan Isaac. Tanpa disadari ada tiga mobil berwarna hitam mengikuti mereka.


Ketika mereka sampai di lamapangan tepat di daerah Ulupınar, Yahyalı, Provinsi Kayseri, Turki. Isaac sudah menunggu dengan helikopter miliknya.



Lapangan yang luas dikelilingi oleh tebing dan tidak jauh dari rumah pemukiman penduduk.


Belle dan Alech turun dari mobil dan akan menghampiri Isaac yang berada di dalam helikopter. Tapi suara tembakan terdengar dari salah satu mobil yang mengikuti mereka. Peluru melesat menggores lengan Alech.


Duabelas orang turun dari mobil. Masing-masing mobil berisikan empat orang, mereka sudah mengacungkan pistol dan senapan ke arah Alech dan Belle.


Isaac sudah memasang ranjau 500 meter dari tempat Alech dan Belle berdiri. Ranjau itu akan meledak jika orang lain menginjaknya. Isaac membuat ranjau bom yang sudah di seting dengan identitas adiknya dan Alech, sehingga aman jika mereka melewatinya.


Anak buah Isaac dan Alech mengepung keduabelas orang itu dari belakang mereka.


"Lari!" Isaac berteriak dari dalam helikopter.


Belle terkejut dan segera membantu Alech berdiri dan memapahnya untuk terus jalan.


Isaac melompat dari dalam helikopter dan membantu Belle menuntun Alech.


"Pergi, jangan hiraukan aku, aku akan menghabisi mereka." Suara Alech sangat pelan hampir tidak terdengar.


"Diam! Jangan banyak mengoceh!" Belle marah karena permintaan Alech yang tidak masuk akal.


Wajah Alech perlahan berubah menjadi biru, entah rancun apa yang berada di peluru itu.


Helikoper Isaac pergi dari lapangan itu menuju ke markasnya. Di dalam perjalanan, Isaac menyuntikan cairan berwarna bening. Dalam waktu beberapa detik wajah Alech yang membiru berubah menjadi sedikit pucat.


Alech memang lemah dalam bertarung, tapi otaknya yang genius tidak bisa diremehkan. Sebelumnya Alech sudah meminta kepada Isaac untuk melepaskan salah satu orang yang menyerangnya. Agar mereka tahu siapa bos mereka.


Ketika mereka sampai di markas, dan sedang merawat luka Alech, anak buah Isaac datang memberikan laporan.

__ADS_1


"Bos, sesuai dengan perintah, kita memasang alat pelacak ke salah satu orang itu."


Isaac mengangguk paham. "Berapa banyak yang terluka?" Isaac menanyakan kondisi anak buahnya dan anak buah Alech.


"Tidak ada bos. Tapi saya menemukan ini." Anak buah Isaac memberikan pistol yang terukir huruf S.


Isaac mengambil pistol itu dengan sarung tangan. "Baiklah, kau boleh pergi dan istirahat."


Anak buah Isaac menatap Belle seolah memastikan kondisi Belle.


Belle mengerti jawaban apa yang ingin anak buah Isaac dengar. "Aku baik-baik saja. Sampaikan ke anak buah Alech, bos mereka akan baik-baik saja, dan ia sedang dirawat oleh dokter. Jangan khawatir."


.


.


.


Orang tua Belle dan Alech datang ke markas setelah mereka mendengar anak-anaknya telah diserang dan Alech terluka.


" Sudah tahu siapa semut bodoh yang menyerang kalian?" Jakob duduk di sofa dengan segelas wine di tangannya.


" Belum, kami sedang mencari tahu, petunjuk huruf S," kata Isaac kepada Jakob.


"Boleh ibu lihat?" Valerie ingin memastikan.


Anak buah Isaac menyerahkan pistol berinisial S kepada Valerie.


"Bawakan semua alat untuk membongkar senjata." Valerie meminta kepada anak buah Isaac.


Tidak lama kemudian anak buah Isaac memberikan koper berukuran sedang dan Valerie mulai membongkar pistol itu.


Valerie tercengang melihat isi pistol itu. Kode senjata yang sangat ia kenal memberikan petunjuk besar.


"Aku tahu siapa orangnya," ucap Valerie.


"Sayang ... Apa ini ..." Kata-kata Jakob berhenti.

__ADS_1


"Joseph. Aku yang membuat kode senjata ini. Dan huruf S mungkin bawahannya." Valerie berfikir keras untuk menemukan nama dengan huruf awalan S.


Jakob tertawa terbahak-bahak. "Berarti sudah jelas, ada satu orang bawahannya yang bodoh bersembunyi di Turki."


__ADS_2