
Alech, Belle dan tuan Jakob menuju ruang bawah tanah. Dengan cekatan tuan Jakob menyalakan komputer dan mulai mengoperasikan komputer. Tangannya yang terampil menunjukkan kemampuannya yang tidak diragukan lagi dan tidak bisa diremehkan.
Alech yang masuk ke ruang senjata untuk memilih senjata mana yang bisa digunaka. Sedangkan Belle duduk di sebelah ayahnya, mencari informasi sedetail mungkin.
Suara keyboard komputer yang diadu, terdengar seperti melodi yang indah. Alech yang melihat ayah dan anak bekerja sangat kompak, mengingatkan dirinya dengan ayahnya.
"Alech, tolong buatkan bahan peledak semampu yang kau bisa, semua bahan ada di ruang senjata, di brangkas warna hitam, di bawah etalase." Tuan Jakob tetap fokus ke layar komputer.
Alech segera mencari sesuai arahan tuan Jakob. Ia kaget setelah membuka brangkas sepanjang dua meter. Dia menggelengkan kepala heran karena melihat semua bahan yang ia butuhkan lengkap tanpa kurang sedikitpun. Bahkan ada bahan yang ia tidak tahu.
Alech keluar dari ruangan membawa bubuk berwarna abu-abu dalam kantong kecil, bahan yang ia tidak tahu.
"Tuan Jakob, bahan apa ini?" Alech memberanikan diri untuk bertanya.
Tuan Jakob menoleh ke arah Alech. "Oh itu bubuk yang bisa menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima." Tuan Jakob tersenyum.
Belle menghentikan aktifitasnya, ia menatap ke arah ayahnya. Tuan Jakob melihat Belle menatapnya melalui ekor matanya.
"Simpan pertanyaanmu, kau boleh menanyakan setelah semua selesai." Tuan Jakob masih menatap ke layar komputer.
Tepat jam duabelas malam, Alech menyelesaikan tugasnya. Lalu ia menuju ke ruang medis untuk membuat racikan obat.
__ADS_1
Tuan Jakob yang mengetahui itu tidak berbicara apapun, dia tahu bahwa Alech memiliki rencananya sendiri. Alech membuat racun untuk mengikis usus dan lambung, jika tidak ditangani secara cepat maka usus dan lambung akan hancur. Efeknya akan terasa sebulan setelah meminum racun itu. Jika orang berumur lebih dari empat puluh tahun maka efeknya akan lebih cepat, sekitar dua atau tiga minggu setelah meminumnya.
Kabar yang mereka dapat, tuan Jhon akan menghancurkan gedung safir, malam sebelum grand opening. Kabar kembalinya perusahan safir sudah menyebar ke seluruh kota London dan majalah bisnis diseluruh dunia. Tuan Jhon semakin marah dan tak sabar untuk melakukan aksinya.
Tuan Jhon masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana Valerie dan Giselle, ibu Alech memperlakukannya sewaktu di Universitas. Jhon yang berasal dari keluarga kaya raya dan kutu buku membuat teman seangkatannya selalu bersikap tidak ramah kepadanya, hanya Valerie yang bersikap baik dan perduli. Valerie terkenal sebagai wanita yang genius, cantik serta baik hati. Jhon jatuh cinta kepada Valerie, ia mencoba untuk mengajak Valerie duduk di taman kampus. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang, awal musim semi yang masih tersisa aroma air hujan di hamparan rumput hijau, ia memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya kepada Valerie.
"Vale, aku menyukaimu, apa kau mau menjadi kekasihku? Aku janji akan memberikan apapun yang kau mau, semua keinginanmu akan aku kabulkan." Jhon berusaha menahan rasa gugupnya.
"Jhon, maafkan aku, aku hanya menganggap kau sebagai temanku. Aku suka berteman denganmu, kamu banyak merekomendasikan buku-buku yang menarik untuk dibaca, dan kau juga sangat serius dalam hal akademis. Aku menyukaimu yang seperti itu bukan menyukaimu sebagai orang yang spesial." Valerie mencoba menjelaskan dengan sangat hati-hati.
Jhon bisa menerima alasan Valerie atas penolakan cintanya itu. Setelah dua tahun berlalu, ia melihat adik tingkatnya di Universitas, gadis manis dan anggun dengan make up tipis membuat dia terlihat cantik dan segar dipandang. Namanya Giselle, anak dari pemilik perusahaan safir yang terkenal. Jhon berusaha untuk mendekatinya, karena Giselle adalah wanita yang mudah bergaul dan tidak suka memilih teman, dia bisa akrab degan Jhon dalam waktu singkat.
Selang dua minggu, Jhon melihat Valerie dan Giselle sedang jalan bersama di area kampus. Valerie dan Giselle saling kenal karena Valerie magang di perusahaan safir sejak enam bulan yang lalu. Tanpa di sengaja Valerie dan Giselle berpapasan dengan Jhon di gerbang kampus, mereka berdua menyapa Jhon sekilas lalu pergi sambil tertawa. Meskipun mereka tidak menertawakan Jhon namun Jhon merasa tersinggung atas sikap mereka.
Itulah sebabnya Jhon dendam kepada Valerie dan Giselle sampai sekarang. Rasa sakit hatinya bertambah parah, ia ingin menghancurkan semua kebahagiaan yang mereka dapatkan. Tapi rencana Jhon tidak berjalan dengan lancar, Valerie dan Giselle menikah dengan laki-laki dari kelompok mafia paling mengerikan di dunia. Ia harus menunggu bertahun-tahun untuk membalaskan dendamnya, itupun dengan bantuan ayahnya.
Waktu berjalan sangat cepat. Malam ini tuan Jhon datang bersama anak buahnya ke perusahaan safir. Ia berniat untuk mengambil perhiasan hasil karya Valerie.
"Aku akan masuk dulu, kalian bergerak menunggu perintahku, sementara amankan tempat ini." Tuan Jhon berbicara kepada salah satu anak buahnya.
Ia berjalan dengan santai memasuki ruangan penyimpanan perhiasan. Tidak disangka, Alech sudah menunggu di ruangan itu dengan dua cangkir kopi di atas meja. Tuan Jhon kaget namun ia tidak bisa melarikan diri.
__ADS_1
" Selamat malam tuan Jhon, ternyata yang datang adalah anda. Maaf saya kira pacar saya datang. Silahkan duduk tuan Jhon."
"Selamat malam Alech, aku sedang perjalanan pulang dan melihat beberapa lampu ruangan masih menyala jadi saya berniat untuk mampir." Tuan Jhon duduk di depan Alech.
"Ya, memang ada beberapa hal yang harus saya pastikan untuk acara besok. Oh ya, bagaimana kabar putri anda?" Alech terlihat sangat tenang.
"Kabar Hera tidak baik, karena banyak tekanan yang ia dapat, serta kondisinya yang lumpuh." Tuan Jhon melirik ke arah cangkir kopi.
"Silahkan minum kopi ini, ketika saya sedang banyak pikiran, secangkir kopi bisa sedikit membuat kita tenang." Alech menyodorkan secangkir kopi ke hadapan tuan Jhon.
Tanpa rasa curiga karena terlalu gugup, tuan Jhon meminum kopi itu. Disisi lain Alech tersenyum simpul.
" Ah benar apa yang kau katakan, kopi bisa sedikit membantu. Bagaimana dengan persiapanya? Apa kau butuh bantuan?" Tuan Jhon mencoba bersikap ramah.
"Terimakasih, tapi semuanya sudah selesai dengan baik."
"Giselle pasti bangga memiliki anak yang berbakat sepertimu. Kalau begitu saya pamit dulu, saya harus cek kondisi Hera. Maaf jika mengganggu waktumu." Tuan Jhon berdiri dari duduknya.
"Terimakasih tuan Jhon, sudah meluangkan waktu untuk melihat-lihat kantor saya." Alech tetap tersenyum namun tatapannya sangat dingin.
Tuan Jhon keluar dari gedung perusahaan safir dan menarik semua anak buahnya untuk mundur. Kali ini dia gagal, tapi dia berencana untuk menjalankan rencananya disaat safir berada di atas kejayaannya, seperti yang pernah ia lakukan dulu.
__ADS_1