
LE QUECUM BAR
"Kau terlihat tidak semangat akhir-akhir ini?" Amelia meletakkan cocktail pesanan Pill di meja.
"Entahlah aku merasa ada yang kosong." Raut wajah Pill terlihat sangan lesu.
"Belakangan ini Belle juga tidak datang. Ah! Jangan-jangan ..." Amelia mengerlingkan matanya kearah Pill.
Pill mendecakan bahunya. "Mungkin saja benar apa katamu karena dia, membuat aku merasa seperti ini."
Amelia menarik kursinya mendekat pada Pill. "Kau ... jatuh cinta kepada Belle, kan?"
"Aku tidak yakin. Dia wanita yang hebat, aku merasa bersalah jika jatuh cinta kepadanya." Pill meminum cocktail untuk membasahi tenggorokannya.
"Hey! Dengarkan kata hatimu pak tua." Amelia terkekeh melihat Pill seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Kau juga menyukai Billy teman Isabella, kan?" Pill mengalihkan pembicaraan.
Wajah imut Amelia memerah. "Siapa? Billy? Tidak!" Amelia mencoba untuk menutupinya.
"Hei bocah, aku tahu semuanya. Sejak berkenalan sampai Billy pergi dari bar, aku melihatmu menatap Billy tanpa berkedip. Sampai aku takut matamu akan lepas dari tempatnya." Pill terkekeh, ia mengendalikan obrolan dengan gadis imut satu ini.
"Sialan! Apa itu terlihat sangat jelas?" Amelia mulai panik, pikirannya berantakan.
"Aku rasa Belle juga menyadari itu, dan pasti dia mengatakannya kepada Billy." Suara tawa Pill sangat renyah, membuat kepanikan Amelia memuncak.
Amelia menarik-narik rambutnya pelan, ia tidak merasa pusing namun panik dan bingung.
Terdengar lonceng pintu masuk bar berbunyi. Pill dan Amelia melihat ke arah pintu.
Billy tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Pill dan Amelia.
"Pangeranmu datang," kata Pill setengah berbisik.
Dengan gugup Amelia kembali ke meja bar. "H hai Bill ... mau pesan apa?" Ia berteriak dari balik meja bar dengan suara gugup.
"Sepeeti biasa, please." Billy tersenyum melihat Amelia yang gugup. Lebih tepatnya ia menahan tawa.
Billy mendaratkan pan tatnya di kursi dekat Pill.
"Kau sendirian?" Pill mencari sosok wanita yang ia rindukan.
__ADS_1
"Aku datang sendiri. Belle sedang sibuk di kampus, mungkin dia akan menyusul kalau tidak terlalu larut." Billy paham kemana arah pembicaraan Pill.
Pill mengangguk. "Amelia sepertinya menyukaimu." Pill gemas melihat tingkah Amelia yang panik tidak terkendali.
Billy tertawa terbahak-bahak. "Terus? Aku harus bagaimana?"
Pill hanya mendecakkan bahunya untuk menjawab pertanyaan Billy. Ia sudah cukup pusing dengan perasaannya, dan ia tidak mau bertambah pusing dengan ikit campur perasaan orang lain.
"Kau ... menyukai Belle, kan?" Kata-kata Billy meluncur begitu saja tanpa filter.
Pill menghela nafas panjang. "Mungkin iya, mungkin saja ... entahlah."
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Pill memainkan gitarnya di atas stage mengiringi lagu-lagu sendu malam ini.
Wanita yang ia nanti tak kunjung datang. Hilang seperti debu yang terbawa oleh angin.
***
***
***
PERAYAAN KELAS AKHIR, FASHION SHOW CENTRAL SAINT MARTIN UNIVERSITY.
Rancangan mereka lebih terlihat hidup dan elegan dari tahun sebelumnya. Para mahasiswa sibuk mempersiapkan rancangannya yang mulai dikenakan oleh para model.
Belle hanya duduk di ruangan mentor, tidak hanya Belle, tapi semua mentor terlihat tegang. Ia tidak menyukai suasana seperti ini. Perasaan tegang dan gugup melebihi acara fashion show pertama yabg Belle adakan.
Dengan langkah lebar, Belle keluar dari ruangan dan menuji roof top universitas. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungkus rokok. Ia melihat jam tangan, masih ada tigapuluh menit sebelum acara dimulai.
Ponselnya menerima beberapa email masuk. "Miss, kami membutuhkanmu." Email dari para mahasiswanya.
"Aku akan kesana sepuluh menit lagi."
Belle tersenyum mengingat pesan yang ia terima. Perasaan bangga, senang, khawatir, dan gugup bercampur jadi satu.
Sepuluh menit kemudian Belle sudah berada di ruang persiapan. Para model sudah berjajar rapi. Dengan cekatan Belle memeriksa rancangan baju satu persatu.
Belle melihat para model yang tegang dan gugup, ia tidak bisa melihat karya mahasiswanya sia-sia hanya karena tampilan akhir. "Kalian harus mengingat tema pakaian yang kalian kenakan, pakaian ini adalah diri kalian, pamerkan ke seluruh ruangan bahwa kalian pantas dibanggakan. Percaya pada hati kalian, fokus pada pikiran kalian. Mengerti?" Belle memberikan sedikit motivasi ke para model yang akan menjadi penentu hasil dari karya mahasiswanya.
Model-model itu mengangguk dan terlihat bersemangat dari sebelumnya. Perasaan lega meluap dari para mahasiswa dan juga Belle. Ia menggiring mahasiswanya untuk berkumpul.
__ADS_1
"Kalian sudah melakukan yang terbaik. Aku menghargai setiap proses yang kalian lakukan. Jika hal buruk terjadi, aku akan berada di samping kalian untuk berjuang bersama." Kata-kata Belle membuat para mahasiswa terharu.
Acara sudah dimulai. Belle sebagai mentor tidak ingin duduk diam dan menonton bersama para mentor yang lain. Dia lebih suka berkumpul dengan mahasiswanya di belakang stage untuk mendukung secara langsung.
Pengumuman hasil kelulusan akan diumumkan dua jam setelah acara. Setelah acara selesai, semua model dan mahasiswa berkumpul di dalam ruang kelas.
.
.
.
Belle masuk ke ruang kelas, wajahnya yang tenang membuat semua mahasiswa bertambah gugup. Ia membawa duapuluh amplop.
"Mau aku bacakan atau kalian baca sendiri?" tanya Belle.
"Kami baca sendiri saja, Miss," jawab mereka serempak.
"Baiklah, silahkan ambil."
Semua mahasiswa mengambil amplop sesuai namanya.
Sesaat kemudian suara sorak sorai memenuhi seluruh ruangan. Semua mahasiswa memeluk Belle dengan rasa bahagia.
"Terimakasih Miss, kamu memang mentor yang luar biasa. Kami menyayangimu, Miss."
"Aku ikut senang mendengarnya. Teruslah berkarya, jangan dengarkan cercaan orang-orang tentang karyamu yang membuat kalian putus asa. Kalian memiliki karya yang unik dan khas dari pikiran kalian." Belle mengusap ujung matanya yang berair.
Semua mahasiswa berhambur keluar ruangan, memamerkan kelulusannya kepada kerabat dan orang tua mereka yang sudah menunggu di hall universitas.
" Miss ... Terimakasih untuk semua ilmu dan motivasi yang diberikan. Tapi maaf aku tidak bisa meneruskan mimpiku." Seorang mahasiswa yang bernama Liana tiba-tiba datang dan mengucapkan kata-kata yang tidak bisa Belle terima.
"Ada apa, Liana?" Belle menyentuh pundak Liana.
"Aku bersekolah disini karean beasiswa, dan aku adalah seorang yatim piatu, aku harus bertahan untuk menghidupi diriku sendiri. Menjadi designer hebat sepertimu memang impianku tapi semua terasa tidak mungkin." Liana menceritakan kegelisahan hatinya dengan wajah yang tertunduk.
"Berikan nomor ponselmu, aku akan menghubungimu segera. Sekarang aku harus pergi ke kantor." Belle mengeluarkan ponselnya.
Liana mengetik nomornya di ponsel Belle dan menyerahkannya. "Maaf Miss jika aku mengganggu waktumu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha keras. Bersekolah di sini adalah pilihan yang tepat untuk memulai impianmu. Aku pergi sekarang, jaga dirimu." Belle mengusap lengan Liana dan pergi dari hadapan Liana.