
"Apa yang dilakukan Hera tidak salah, dia hanya ingin semua memberikan perhatian kepadanya." Diana tetap membela Hera.
"Itu berarti kau menyadari bahwa anakmu menjadi psikopat gila selama ini? Kau tidak tahu apapun tentang anakmu, karena kau dikurung terlalu lama. Terima saja kenyataan bahwa anakmu itu penjahat gila yang patut mati dengan cara seperti itu." Belle terus mempermainkan emosi Diana.
"Itu semua karena Valerie *** *** itu! Dia membuat hidupku dan anakku menderita." Diana tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Kenapa harus menyalahkan orang lain atas apa yang sudah menjadi takdirmu dan kesalahanmu untuk memilih takdirmu sendiri? Dan kau sudah tahu hati suamimu tidak untukmu tapi kau terlaku serakah serta percaya diri untuk mengandalkan laki - laki baji ngan itu."Belle terus menyudutkan Diana tanpa henti.
"Aku akan membunuhmu dan ibumu!" Diana meneriaki Belle dan akan menyerang.
Belle segera menelpon seseorang. "Bunuh semua keluarga Diana tanpa sisa."
Mendengar kata - kata Belle, Diana semakin emosi. Ia mencari pistol di nakas tempat tidurnya.
Belle menerima telpon dan menyalakan speaker ponselnya. "Bos, semua sudah mati. Dari kakek sampai anak dari keponakan Diana."
Ini merupakan pembunuhan paling besar selama hidup Belle. Anehnya dia tidak merasakan apapun saat mengetahui bahwa orang terbunuh karena keputusan Belle.
Diana menyerang Belle dengan tangan kosong karena ia tidak menemukan pistol miliknya.
Tanpa basa basi Belle menendang Diana hingga tepental ke ujung kamar.
Belle menodongkan pistol ke arah Diana. "Ada kata - kata terakhir sebelum aku mengirimmu bersama anakmu?" Belle menatap Diana dengan tatapan dingin.
"Kau benar, aku adalah wanita bodoh yang serakah. Bunuh aku sekarang jika kau berani!" Diana berbicara dalam ketakutan.
Tanpa mengedipkan mata, Belle menarik pelatuk pistolnya dan peluru itu menembus kepala Diana. Diana tergeletak tak bergerak. Dengan cepat Belle keluar dari rumah Diana dan kembali ke rumah Esmat sebelum anak buah Diana sadarkan diri.
Isaac dan Esmat menunggu Belle pulang dengan perasaan khawatir.
Dengan langkah yang ringan dan wajah yang tenang, Belle masuk untuk menemui Esmat dan Isaac yang berada di ruang tamu menunggu kedatangannya.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun dan malah bergerak sendiri?" kata Esmat dengan rasa kesal kepada Belle.
__ADS_1
"Aku ingin menyelesaikan semua dengan cepat dan tidak tersisa." Belle menjawab dengan cuek.
"Kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan?" Esmat ingin mendengar semua alasan Belle.
Belle duduk bersandar di soda dan melepaskan sepatu boots. "Aku sadar. Aku membunuh lima puluh delapan orang dalam waktu yang bersamaan."
"Untuk apa?" Esmat terus melontarkan pertanyaan kepada cucu perempuannya.
"Aku sudah lelah untuk kekacauan ini semua, jika kita tidak mengulur waktu seperti kemarin mungkin saja Alech masih bisa kita selamatkan." Suara Belle semakin tegas.
Esmat tersenyum. "Memang kau cucuku. Kau punya bakat menjadi pembunuh yang kejam."
"Ini yang pertama dan yang terakhir kali. Tidak ada lain kali." Belle meninggalkan Esmat dan Isaac.
Isaac yang masih tidak percaya bahwa adiknya berubah menjadi wanita kejam. Ia tercengang dan menggelengkan kepalanya.
"Sejak kapan dia seperti itu kek? Bahkan Joseph yang berada di bawah pengawasan kita saja bisa iya bunuh dengan cepat." Isaac menatap punggung Belle yang semakin menjauh.
"Seharusnya kau belajar darinya. Dia berubah karena rasa kehilangan Alech. Kau belum pernah berada di posisinya. Tapi aku paham rasa sakit yang ia alami empat tahun tanpa Alech." Esmat tersenyum bangga.
"Dasar laki - laki bodoh! Tentu saja dia mencintai baji ngan cilik itu." Esmat memukul puncak kepala Isaac.
"Kakek tahu di mana dia sekarang?" Isaac menjadi ikut penasaran di mana Alech berada, masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Esmat hanya tersenyum dan pergi meninggkan Isaac tanpa berniat untuk menjawab.
- LONDON -
Belle keluar dari bandara dengan menyeret koper miliknya. Salju sudah turun di kota London. Salju yang turun seolah menyambut kedatangannya.
Belle menghela nafas berat dan naik ke mobilnya.
"Sudah hampir lima tahun dia tidak ada, aku sudah membunuh semua yang menyebabkan kepergian Alech," kata Belle dalam hati.
__ADS_1
Belle berencana untuk datang ke le quecum bar, bertemu Amelia dan Pill untuk sekedar menghangatkan badan dengan minum cocktail buatan Amelia.
"Bell! Aku sudah sembuh!" Billy berlari ke arah Belle yang masih berada di pintu masuk.
Belle terkejut meliah Billy dengan penampilan yang berbeda. "Hei ada apa denganmu?" Belle dan Billy duduk di meja tempat biasa, meja nomor sembilan belas.
"Aku sudah sembuh. Aku akan menikahi Amelia." Suara Billy setengah berbisik.
"Apa!? Kau sudah sembuh dari kanker kelenjar getah bening? Tapi kau tidak sembuh untuk membuat lelucon omong kosong. Kau sudah dinodai oleh Sean." Belle menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Sial! Aku tidak sedang bercanda. Kau lihat cincin yang di jari Amelia? Itu cincin lamaranku, dan dia setuju untuk menikah denganku." Billy mencibir.
"Benar Bell, aku akan menikah dengan Billy." Amelia membenarkan perkataan Billy.
"Hah! Sial! Aku tidak bisa menerima ini semua." Belle memijat keningnya.
Ketika mereka sedang bergurau, tanpa mereka sadari Pill memperhraikan mereka dari balik kaca di luar bar.
Pill masuk ke dalam bar dan langsung menyambar gitarnya. Suara petikan senar gitar yang khas membuat Belle menoleh dengan sendirinya.
Belle melambaikan tangan ke arah Pill, namun Pill hanya tersenyum dingin padanya. Ini membuat Belle tidak nyaman, tapi memang harus seperti ini agar Pill tidak sakit hati lebih lama lagi.
.
Kehidupan Belle kembali normal. Dia bekerja dan mengadakan acara fashin show, merancang gaun. Beberapa kali dia mengunjungi Yohji di Jepang.
Waktu berjalan sangat cepat. Hatinya yang hampa tidak juga terobati. Bahkan banyak laki - laki dengan trik murahan mencoba mendapatkan simpati dari Belle.
Belle sekarang berubah menjadi wanita genius yang dingin. Tapi mereka tidak tahu betapa kejamnya Belle untuk membunuh seseorang. Ia lebih pantas menyandang gelar wanita iblis yang genius.
Musim semi ke lima tanpa Alech. Tepat lima tahun kepergian Alech. Seperti biasa Belle pergi ke pinggir lautan lepas berharap ia bisa bertemu dengan Alech, seperti tahun - tahun sebelumnya.
"Alech baji ngan! Sudah lima tahun aku menunggumu seperti orang bodoh. Ini terakhir kalinya aku berada di sini untuk menunggumu dan datang kesini. Aku menyerah, aku tidak bisa menunggumu lagi. Semoga kau bahagia dengan ubur - ubur di dalam sana." Belle menarik nafas dan menghembuskannya. Berulang kali dia melakukannya sebelum ia pergi dari tepi lautan.
__ADS_1
"Selamat tinggal Alech. Semoga kau bahagia dan tenang di sana." Belle pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke studio miliknya.