
"Breng sek! Kenapa mereka sangat licin seperti ikan!" Bos wanita itu membanting semua barang yang ada di dekatnya.
"Maafkan saya bos. Ada orang asing yang menolong mereka, dia warga negara Rusia, dan dia juga membawa helikopter edisi terbatas yang diproduksi di Rusia." Anak buah yang selamat itu melapor kepada bos wanita itu.
Bos wanita itu melambaikan tangannya ke anak buahnya, tanda ia harus keluar dari ruangan.
Anak buah itu keluar dari ruangan dengan pincang karena terkena tembakan anak buah Isaac.
"Kali ini aku tidak mau gagal lagi. Sudah cukup membuang waktu dan tenaga," ucap bos wanita kepada dirinya sendiri.
***
"Ini suara ...." Kata-kata Belle terhenti.
Alech terkejut, ia tidak menyangka bahwa wanita itu akan berbuat sejauh ini.
"Sudah dipastikan. Ayo kita buat strategi baru." Isaac bangkit dari sofa dan menuju meja bundar untuk membahas strateginya dengan anak buahnya. "Kali ini aku akan melibatkan Belle, karena wanita itu akan mengetahui rencana kita jika Belle tidak berada di sisi Alech," lanjutnya.
"Aku tidak setuju. Aku tidak bisa menempatkan Belle dalam bahaya," kata Alech dengan nada sedikit meninggi.
"Kalian berdua akan aku bekali semua yang dibutuhkan, untuk kemungkinan kalian terluka sangat kecil. Percaya padaku." Isaac mencoba meyakinkan Alech.
"Kak, biarkan aku berbicara pada Alech," ucap Belle setengah berbisik.
Isaac hanya mengangguk, dan ia pergi ke ruang senjata.
"Dengarkan aku, orang sakit. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendiri menghadapi musuh? Sedangkan kau saja tidak bisa bertarung. Oh ya kau sudah pernah bilang kalau kau akan disisihku apapun yang terjadi." Belle membulatkan matanya yang indah selama berbicara.
Alech menyukai tatapan itu. " Ehm ... Tapi ini sangat berbahaya." Alech tidak bisa mengatakan semua isi hatinya.
"Aku percaya padamu dan tolong percaya padaku untuk satu hal ini. Ok, tidak ada penolakan, aku anggap kau setuju, mari kita berjuang bersama." Belle menepuk pundak Alech dan pergi ke area latihan.
Alech tercengang melihat sikap Belle yang biasanya tenang, sekarang berubah menjadi gadis ganas dan kecanduan untuk bermain bahaya.
.
.
.
" Kenapa kau ada di sini?" tanya salah satu anak buah Isaac.
"Tolong ajari aku berkelahi dan menembak." Belle melihat papan target berbentuk orang yang berjajar di lapangan.
"Apa kau sudah dapat izin dari bos?" Anak buah Isaac tidak mau ambil resiko.
"Tidak perlu, dia akan paham apa yang aku lakukan, demi kelancaran misi kali ini." Belle menepuk pundak anak buah Isaac dan mengambil pistol yang sudah berjajar rapi di atas meja.
__ADS_1
Isaac yang melihat Belle dari jauh mengangguk setuju ke arah anak buahnya yang tepat berdiri di samping Belle.
Anak buah Isaac melatih Belle dengan cara yang dulu Isaac ajarkan.
.
"Sepertinya adikmu sangat bisa diandalkan sepertimu. Tidak ada salahnya kau melatih dja sedikit." Valerie yang tiba datang dan berdiri di samping Isaac, melihat Belle yang sedang berlatih.
"Ibu benar, dia bukan gadis yang manja. Ibu tahu? Gaya dia bertarung sama seperti gaya pembunuh bayaran. Tepat, cepat, dan mematikan." Isaac memberikan laporan sedikit ke ibunya.
Valerie tertawa kecil. "Aku juga heran, dari mana dia belajar berkelahi. Tidak ada seorangpun yang mengajarinya."
Isaac mencurigai sesuatu. "Apa ... kakek yang mengajarinya sewaktu Belle berada di Rusia beberapa waktu lalu?"
Valerie sempat berfikir sama dengan Isaac. "Mungkin saja."
.
.
.
"Bos, saya mau memberikan laporan." Anak buah Isaac berdiri di depan Isaac yang sedang duduk.
"Katakan."
"Saya merasa tidak pantas untuk melatih Belle. Karena dia lebih tinggi levelnya di atas saya. Bahkan hampir setara dengan bos kakek Rusia." Anak buah Isaac terpaksa mengatakan ini, karena dia merasa tidak mampu.
Anak buah Isaac tertunduk malu, karena apa yang dikatakan bosnya itu adalah fakta di lapangan.
"Kau boleh pergi, besok aku sendiri yang akan melatih adikku."
"Baik bos." Anak buah Isaac keluar dari ruang kerja Isaac dengan membawa rasa malunya.
***
***
***
Sudah seminggu lamanya Belle berlatih dengan keras. Hari ini ia mengunjungi rumah lamanya untuk sekedar melepas rasa rindu dan lelah.
Siapa sangka, setelah ia mengunjungi rumahnya dan dalam perjalanan kembali ke markas Isaac, ia dihadang oleh lima mobil van berwarna putih dan biru tua.
Alech yang mengikutinya dari jauh menghentikan mobilnya, dan hendak turun membantu Belle, namun sepuluh mobil land rover mengepung, melingkar dan mobil Belle berada di tengah lingkaran.
Dalam waktu kurang dari dua detik orang-orang yang keluar dari mobil van itu terkapar tidak berdaya.
__ADS_1
Alech berlari menghampiri Belle, langkahnya terhenti sekitar 300 meter dari krumunan mobil land over.
Sosok orang tua yang memakai tongkat kayu mengkilap keluar dari mobil itu. Alech tahu siapa orang tua itu. Dia adalah Esmat, kakek Isabella. Ketua mafia serikat yang terkenal kejam dan tidak ada ampun namun sangat menyayangi keluarganya.
Esmat melirik ke arah Alech dan menyunggingkan bibirnya. Ia berjalan ke arah Belle dan memeluk cucu perempuannya itu.
"Aku mengamati dari tempat yang jauh, ternyata baji ngan cilik, Joseph sudah membuat celaka keluargaku." Esmat mengusap rambut panjang Belle penuh dengan kasih sayang.
"Aku tidak berniat menanyakan apapun pada kakek, karena kakek seperti hantu. Bisa datang kapan saja dan pergi sesuka hati." Belle memasang wajah tidak suka karena kebiasaan Esmat.
Mereka kembali ke markas Isaac bersama Esmat, tanpa luka sedikitpun.
Esmat mengajak cucu-cucunya dan Alech untuk pergi ke ruang kerja Isaac. Di sana mereka merencanakan sesuatu untuk melawan Joseph.
Setelah mereka selesai, Alech memberikan sebuah cincin kepada Belle.
"Ketika aku kembali, tolong berikan aku jawaban. Maukah kau menikah denganku?" Alech menyerahkan kotak cincin berwarna biru tua yang terbuka, memperlihatkan cincin berbentuk bunga teratai yang indah.
Belle menerima kotak cincin itu. "Aku akan berikan jawabannya, cepatlah kembali dan berjanjilah padaku jangan sampai kau terluka." Belle mengusap ujung matanya yang mengembun.
"Aku janji," ucap Alech.
Alech memeluk Belle dan melu mat bibirnya dengan lembut namun mendominasi.
Alech melepaskan Belle dengan enggan. Ia kembali mengecup ujung kepala Belle dengan penuh rasa cinta.
.
.
.
Hari ini Alech dan Belle harus kembali ke London. Mereka menyamar sebagai orang lain dengan penampilan yang sangat sederhana.
Setelah pesawat lepas landas, Belle pergi ke toilet untuk menyiapkan semua yang ia perlukan. Ketika ia keluar dari toilet, ia dihadang oleh dua orang laki-laki. Mereka berjalan menyudutkan Belle.
Alech yang mengetahui itu, ia dengan santai berjalan ke arah mereka. Dengan cepat Alech menyuntikkan anestesi ke leher kedua orang itu.
Seketika sebagian penumpang ternyata musuh mereka itu berdiri dan mengepung Alech dan Belle.
Belle bertarung sangat cepat dan Alech menyuntikkan banyak anestesi. Tidak disangka ternyata tempat yang sempit dan banyaknya orang membuat Belle dan Alech lengah.
Mereka berhasil menangkap dan menahan Alech.
"Pergi!" Alech berteriak meminta Belle pergi.
Belle enggan meninggalkan Alech. Tapi ia teringat kata-kata Alech, kakek, dan Isaac. Mereka berjanji akan menyelamatkan Alech. Dan Alech berjanji akan pulang untuk mendengar jawaban atas lamarannya.
__ADS_1
Dua orang laki-laki mengejar Belle, namun sudah terlambat.
Belle berlari ke arah pintu pesawat tepat di kabin bagian belakang, ia melompat dan menarik parasut yang sudah berada di punggungnya dan terbang dengan indah sambil menatap pesawat yang memisahkannya dengan Alech. Hati Belle terasa sesak, tanpa sadar buliran air mata jatuh sangat deras dari matanya.