Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 50 (END)


__ADS_3

"Isabella, bisa kau beritahu kami dari mana kau mendapatkan inspirasi untuk gaun barumu?"


"Rancangammu sungguh berani dan lebih terlihat sangat menakutkan. Tidak seperti biasamya."


Para wartawan berkerumun mengelilingi Belle. Namun Belle enggan memberikan komentar detailnya.


"Aku ingin membuat sesuatu yang berbeda. Terimakasih." Belle menerobos keluar dari kerumunan.


Berita tentang kesuksesan Belle sudah tersebar luas. Ia mencapai topik paling dicari selama tiga bulan ini.


Banyak para tetua ingin menjadikannya menantu atau cucu menantu mereka. Tapi Belle selalu beralasan dia sudah memiliki tunangan dengan menunjukkan cincin yang Alech berikan waktu itu.


Karena sudah sering menolak tawaran untuk menikah, terbitlah berita simpang siur.


"**Isabella yang Genius Sudah Memiliki Tunangan?"


"Isabella Menolak Lamaran Menikah dari Seorang Pengusaha Terkaya di London."


"Isabella Wanita Hebat yang Setia, Menolak Semua Laki - Laki dengan Kejam."


"Tunangan Isabella adalah Pangeran Inggris**."


Belle terbahak melihat berita online. "Tunanganku sudah mati." Dia mencibir dirinya sendiri.


"Bell, apa sebaiknya kau membuat penyataan pers?" Billy sedikit cemas dengan berita yang terbit.


"Hahaha ... Buat apa? Biarkan saja, aku tidak peduli dengan berita itu." Belle menjawab dengan cuek.


"Tapi kita semua khawatir. Reputasimu akan hancur karena berita ini." Billy sedikit geram.


"Kau pikir siapa mereka berani membuat reputasiku hancur? Kalaupun ada yang berani itu tandanya mereka menggali kuburannya sendiri." Belle sudah mulai bosan dengan berita tentang kehidupan pribadinya.


Semakin Belle diam maka semakin banyak yang menghujat Belle. Mau tidak mau Belle melakukan konferensi pers.


Belle duduk di balik meja panjang, di hadapan semua wartawan yang melontarkan pertanyaan pertanyaan. Dengan tenang Belle menjawab semua pertanyaan dari para wartawan.


"Jika kalian memang tidak menyukai kehidupanku maka kagumi aku karena karyaku, aku memberikan batas yang jelas di sini. Aku tidak ingin siapapun menghakimi kehidupan pribadiku tanpa dasar dan berhentilah menjadi Tuhan yang seolah kalian tahu semua tentang kehidupan pribadiku." Belle mengatakan dengan lantang sebelum menutup konferensi pers.

__ADS_1


Semua wartawan terkejut dan mereka membenarkan perkataan Belle dalam hati mereka masing - masing.


Tanggapan publik semakin ramai. Banyam yang setuju dengan ucapan Belle. Namun banyak juga yang tidak setuju. Pasti ada pro kontra di sini.


Belle memaklumi orang yang tidak setuju itu, karena dia tidak mengalami kehidupan sepertinya.


Semua orang yang berprofesi sama dengan Belle juga merasa terbantu secara tidak langsung.


***


Waktu cepat berlalu. Belle sangat merindukan Alech. Ia berjalan menyusuri tempat yang pernah ia datangi bersama Alech. Mengingat setiap tingkah Alech yang sedang mengejarnya. Ia juga mendatangi apartment Alech dan masuk ke dalam.


Tanpa disadari Belle menangis dihadapan foto yang tergantung di dinding. Foto dirinya dan Alech, serta tertulis "Always be my baby." di bawah sebelah kiri foto itu. Ada rasa penyesalan yang meremukkan hatinya.


Belle mengeluarkan kaleng bir dari tasnya. Ia menenggak bir dan menyalakan rokoknya. Sekilas ia melihat ke rak buku, terjajar rapi board games milik Alech yang menjadi salah satu kenangan mereka berdua.


Hati Belle semakin sesak. Ia bergegas keluar dari apartment Alech. Belle melanjutkan perjalanannya menuju kota Bristol. Ia menyewa cottage yang berada di pinggir pantai untuk bermalam.


Belle berjalan di pantai untuk melihat sunset, seperti yang ia lakukan bersama Alech. Ia masih berasa di pantai hingga malam tiba. Suasana pantai yang sunyi, angin yang bertiup semakin kencang meniup rambut hitam Belle tak beraturan.


"Alech! Kau breng sek! Baji ngan cilik! Beraninya kau membuatku seperti ini! Jika kau kembali akan aku ..." Kata - kata Belle terhenti.


Belle membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Alech berdiri tidak jauh darinya, dengan stelan jas hitam, kemeja putih, dasi berwarna biru mengkilap, celana hitam dan sepatu pantopel. Menambah ketampanan laki - laki yang Belle cintai.


Alech yang menghilang lebih dari lima tahun kini ia hadir kembali dengan tiba - tiba seperti bangkit dari kematian.


Belle berlari dan memeluk Alech. Air matanya yang tidak bisa ia tahan lagi, menari indah di pipi putihnya.


"Laki - laki gila! Aku kira kau sudah mati dimakan ikan hiu atau kau sudah menikah dengan Ursula atau mungkin kau sudah terjerat oleh ubur - ubur. Kau membuatku gila!" Belle meluapkan semua yang ia pendam selama ini.


"Aku kembali untukmu. Kau yang menjadi alasan untukku bertahan hidup." Alech menyentuh kedua pipi Belle dan menciumnya dengan penuh kerinduan.


Setelah mereka bertemu di pantai, mereka kembali ke cottage.


"Aku hampir menyerah untuk bertahan di tengah lautan lepas, siapa sangka Rei, anak buah Isaac yang berada di helikopter bersama kita itu selamat. Kita berdua sudah berada di perahu milik teman Rei sebelum Esmat meledakkan helikopter Joseph. Kebetulan Joah memiliki teman yang sedang berlayar." Alech menceritakan kepada Belle.


"Lalu siapa Abel?" Belle masih penasaran kepada Abel.

__ADS_1


Alrch tertawa. "Abel itu Rei. Aku yang memintanya untuk membantumu."


Sekilas Alech melihat cincin yang ia berikan kepada Belle, terlihat sangat cantik di jari Belle.



"Cincin itu ... cantik dipakai olehmu," kata Alech.


"Gara - gara cincin ini, aku punya alasan untuk menolak semua pria." Belle mengusap cincin itu sambil tersentum.


"Jadi apa jawabanmu?" Alech menagih janji Belle.


"Dasar tidak tahu malu! Menghilang dan datang lagi sesuka hatimu dan sekarang kau minta jawaban dariku?" Belle memajukan bibirnya.


Alech yang melihat wajah Belle seketika terbahak. "Kau masih sama seperti dulu. Tapi kau menjadi sangat kejam dalam beberapa hal. Membunuh tanpa ampun dan menolak para pria. Apa ini sebuah kekuatan baru setelah kehilanganku?"


"Kau narsis sekali? Aku melakukan itu semua karena aku menyayangi nasib dan nyawaku!" Belle membulatkan matanya kesal.


"Kau tahu? Selama lima tahun aku memulihkan tubuhku dan hanya Rei serta temannya yang membantuku, dan kau adalah penguat terbesarku. Jadi kita sama - sama berjuang." Alech tidak mau kalah.


"Sebenarnya aku tidak yakin kau mati begitu saja. Ada keyakinan kuat dihatiku bahwa kau masih hidup. Karena aku tahu kau laki - laki yang keras kepala dan kau memiliki tujuh nyawa seperti kucing liar." Belle mencibir Alech.


Setelah perbincangan yang panjang. Mereka kembali ke London. Di bawah jembatan London, Alech menggenggam kedua tangan Belle.


"Isabella. Apakah kau mau menikah denganku? Menikah dengan laki - laki cacat yang menggunakan kaki palsu untuk berjalan?" Alech mencoba melamar Belle.


Tanpa sadar mata Belle mengembun dan buliran air jatuh ke pipinya. "Ya aku mau menikah dengan laki - laki bodoh yang cacat."


Alech memeluk Belle dengan erat. Ia mencium bibir Belle dengan sangat lembut. Rasa bahagia yang meluap dari hatinya serta hembusan angin musim semi seolah alam mendukung cinta mereka.


Penantian, kerinduan, pengorbanan semua terbayar tidak ada kata sia - sia untuk sebuah tujuan yang baik.


...- - - END - - -...


Hay readers terimakasih sudah membaca karya pertamaku. Mohon maaf jika ada kekurangan. Karena hidup adalah belajar. 😄


Sampai di sini dulu ya ceritanya. Semoga para readers sehat selau.

__ADS_1


Salam sayang.


- Wind Magus - 😘


__ADS_2