
Alech sudah memberitahu siapa yang membakar apartment Belle. Seperti dugaan mereka, ayah Hera lah yang melakukannya.
"Dia masih menganggamu remeh sayang," kata Alech sambil mengusap kepala Belle dengan lembut.
"Lalu, apa yang harus kita hadiahkan kepadanya? Sebagai tanda terimakasih." Belle menyunggingkan bibirnya.
"Aku sudah menyiapkan hadiah spesial, sayang. Kamu hanya perlu duduk manis dan menyaksikannya."
"Aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk Hera. Kamu juga hanya butuh duduk manis dan saksikan dengan santai." Kali ini Belle benar-benar geram.
Belle belajar tentang fashion sudah sejak kecil. Dia selalu ikut bersama ibunya kemana-mana. Dari kantor, sampai acara tour fashion seluruh dunia. Jadi dia sudah paham apa yang harus dia lakukan ketika acara fashion show seperti ini.
Belle tertawa geli, ketika dia mengingat Hera datang menemuinya dan menawarkan diri untuk membantu? Atau membuat masalah?
Kali ini Belle memasang kamera lebih banyak dari biasanya, dibantu oleh Alech dan Billy. Tidak ada yang tahu perihal adanya penambahan kamera cctv. Berkat Hera yang menyelipkan kamera sebiji kacang hijau, Belle mempunyai ide bahwa kamera seperti itu akan berguna untuk mengawasi Hera serta seluruh gedung.
Belle mengambil handphone dan menelepon seseorang.
"Terbitkan besok pagi jam 8. Pertahankan beritanya dalam sebulan." Perintah Belle kepada seseorang di sebrang sana.
Tak lama kemudian Hera mengetuk pintu ruangan Belle.
Tok tok tok
"Ya, masuk." Belle sangat pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya, dia terlihat seolah-olah tidak mengetahui apapun.
Hera melirik sofa dan kamera yang terselip masih berada di tempatnya.
"Anda memanggil saya?"
"Silahkan duduk dulu. Tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar." Belle merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya, lalu dia duduk di depan Hera dengan tenang.
"Aku sudah memutuskan bahwa kamu bisa membantuku di belakang stage, mengatur persiapan para model. Apa kau bersedia?" Belle berusaha mengatur ekspresinya dan seolah-olah mengharapkan bantuannya.
Hera tersenyum puas. "Baik, saya akan melakukannya."
Belle mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, dan disambut oleh Hera.
"Mohon kerja samanya." Belle tersenyum menunjukkan bahwa dia bahagia atas bantuan Hera.
Setelah Hera keluar dari ruangannya, wajah Belle kembali datar. Suasana hati Belle sedang tidak bagus. Dia lelah untuk persiapan fashion show serta ulah gila ayah dan anak itu.
Tidak lama kemudian handphone Belle berdering.
__ADS_1
"Sayang ... Apa kau sibuk?"
"Tidak, aku sudah menyelesaikan semuanya." Suara Belle terdengar lesu.
"Bagaimana kalau kita BBQ di cafe sebrang kantormu?"
"Oke, aku akan tiba disana 15 menit lagi."
"Oke."
Billy yang masih sibuk di ruang produksi merasa tenaganya sudah habis. Dia juga butuh udara segar. Tanpa disengaja dia bertemu Belle di depan pintu.
"Hei cantik, mau kemana?" Goda Billy.
"Ayo ikut, aku mau ke cafe depan kantor. Alech msngajak makan BBQ di sana." Belle tidak tega melihat wajah sahabatnya yang sudah mirip zombie.
"Yeah! Ini yang aku tunggu!" Billy mengikuti Bella dengan semangat.
Ketika mereka akan menyebrang jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil van putih melaju dengan cepat. Belle berusaha menarik Billy, namun terlambat, Billy terserempet dan jatuh berguling ke tengah jalan. Belle menatap mobil van yang sempat berhenti. Tidak butuh waktu lama, jalanan mulai macet dan orang-orang berkerumun. Belle dengan cepat berlari ke arah Billy dan menelepon ambulance.
Alech yang melihat kejadian itu dari sebrang, ia langsung berlari ke arah Billy dan Belle.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Alech menatap Belle untuk memastikan.
"Apa kau ingat plat mobilnya?"
Tanpa menjawab Belle segera mengeluarkan handphone dan mengirimkan pesan ke Alech yang berisikan nomor plat mobil.
Billy sudah masuk ke ruang IGD ketika mereka sampai di rumah sakit. Alech dan Belle duduk di luar ruang IGD. Dengan cepat Alech memeluk Belle dengan erat.
"Menangis saja jika kamu ingin."
Belle hanya diam di pelukkan Alech. Bayangan Billy yang berguling di jalanan masih terbayang-bayang.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang IGD, ia menjelaskan bahwa Billy tidak ada luka serius, dia hanya mengalami shock otot dan kelelahan.
Belle bernafas lega, dia langsung menuju ke ruang rawat inap. Belle menatap Billy yang terbaring tidak sadarkan diri. Ia tidak mau mengganggu sahabatnya yang sedang istirahat. Alech dengan sigap membawa Belle ke luar rumah sakit.
"Sayang ... 2 menit saja." Belle menangis di pelukan Alech.
Alech mengusap punggung Belle dengan lembut. "Tidak apa, tidak hanya 2 menit, bahkan kalau kau mau berjam-jam juga tidak apa."
Belle menarik Alech menuju roof top, dimana tempat itu adalah smoking area. Belle mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya. Alech menyodorkan bir kaleng yang ia beli.
__ADS_1
"Aku sudah melacak siapa pemilik mobil itu." Alech menunjukkan handphone miliknya.
"Dia lagi? Apa yang dia mau sebenarnya?" Belle tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Aku sudah menangkap supirnya. Kau mau kesana?" Alech menawarkan.
"Ayo kita kesana!"
Sesampainnya mereka di gudang kosong, mereka disambut oleh anak buah Alech.
"Bos. Silahkan ikut saya." Anak buah Alech memandu mereka.
Belle berdiri dikegelapan. Wajahnya tidak terlihat oleh supir itu.
"Siapa yang dia perintahkan untuk dibunuh?" Belle menanyakan tanpa basa basi.
"Isabella." Jawab supir itu.
"Alasannya?" Suara Belle mulai tenang tapi terdengar lebih dingin dan mengerikan.
Supir itu tidak mau menjawab karena orang yang memerintahnya memberikan uang lebih agar dia tidak membocorkan tujuan bos nya itu.
Belle mengululurkan arlojinya dan menandai wajah supir tersebut. Tidak butuh waktu lama semua informasi mengenai supir itu keluar dari arlojinya.
"Namamu Zeno, umur 38 tahun. Asli dari Italia, di sini kau memiliki seorang adik berumur 17 tahun dan dia cacat. Ibumu adalah pemuas nafsu dan bekerja di Candy Bar. Hidup kalian miskin. Kamu dan adikmu lahir dari ayah yang berbeda dan ayah kalian tidak diketahui."
Sang supir kaget. " Kau berusaha mengancamku? Tolong jangan sentuh adik dan ibuku!"
" Aku tidak akan menyentuh mereka selama kau mau mengatakan tujuannya."
" Baik akan aku katakan, tapi berjanji lah jangan sentuh mereka."
" Ok, deal. Sekarang katakan!" Sudah habis kesabaran Belle.
" Dia tidak mau ada orang yang lebih unggul dari anaknya. Dia selalu melakukan ini setiap ada orang yang dia anggap sebagai saingan."
Setelah Belle mendengarnya, ia keluar dari gudang itu. Tanpa basa basi Belle memerintahkan anak buah Alech.
"Patahkan kaki sebelah kanannya."
Anak buah Alech menatap Alech, meminta persetujuan.
"Lakukan," Jawab Alech singkat.
__ADS_1
Suara teriakan yang kesakitan terdengar dari dalam gedung. Setelah mendengar itu, Belle mengajak Alech untuk kembali ke rumah sakit.