
"Itu artinya kakek tahu di mana Alech?" Belle bertanya penuh dengan semangat.
Esmat mengangguk. "Sebaiknya kalian menunggu ketika mereka berada di Amerika. Aku akan membantu kalian, karena lebih mudah ketika kita menjemputnya di sana."
"Kenapa kakek tidak bilang dari tadi! Aku tidak perlu membuat peta tidak berguna ini!" Isaac melemparkan pena ke atas meja.
"Cucu sialan! Aku baru saja dapat informasi tepat di depan pintu itu." Esmat menunjuk pintu ruang kerja dengan wajah kesal.
"Baiklah, jangan marah. Aku tidak berani menyinggung tuan Esmat yang terhormat dan mengerikan." Isaac mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
"Besok kalian berdua ikut aku ke suatu tempat. Ada yang ingin aku tunjukkan kepada kalian." Esmat memberikan pesan kepada Isaac dan Belle sebelum keluar dari ruang kerja.
.
.
.
MARKAS ESMAT - LONDON
"Aku kehilangan orangku yang sangat berharga. Ia diculik oleh Joseph baji ngan tua, dan sekarang keberadaannya masih belum pasti. Mengingat baji ngan tua itu memiliki beberapa tempat penelitian jadi aku kesulitan untuk menemukannya." Esmat berbicara kepada seluruh anggota mafia serikat yang hadir dan melingkari meja bundar.
Anggota mafia serikat saling berbisik satu sama lain.
" Aku meminta bantuan dari kalian semua untuk membantu cucu-cucuku dalam pencarian ini," lanjut Esmat.
"Kami bersedia membantu, terlebih lagi geng mafia secret sudah menyinggung kami semua, orang-orang berharga kami sudah banyak yang dirampas olehnya," kata salah satu anggota.
Kejadian ini sudah menjadi masalah yang lebih luas, tidak hanya antara satu orang dengan orang lainnya. Namun sudah melebar menjadi masalah kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Setelah selesai pertemuan, Esmat membawa cucu-cucunya ke ruang pribadinya.
"Jadi selama ini, Joseph sudah memiliki banyak musuh dan menyinggung kalian? Tapi kenapa tidak ada yang bergerak sedikitpun?" Belle menanyakan kepada Esmat yang sedang menghisap cerutunya.
"Seperti yang kau tahu, baji ngan itu sangat licik dan dia sudah mengorbankan banyak nyawa untuk menjadi tamengnya. Dia senang mengulur waktu. Pola strateginya sudah kita baca." Esmat menjelaskan sedikit apa yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
"Jadi kakek sengaja mengirimkan Alech untuk dijadikan mata-mata?" Belle menyampaikan hadil pemikirannya.
Esmat tertawa mendengar ucapan Belle. "Kau sungguh cerdas. Memang aku mengirimkannya ke sarang para tikus. Kakakmu dan kekasihmu juga setuju."
Mata Belle melebar ketika mendengar itu. "Kalian ...." Belle tidak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat kesal entah dengan siapa.
"Kakek hanya mengatakan kepadaku untuk mengirim Alech menyelamatkan semua anak buah kalian yang diculik oleh Joseph." Isaac semakin bingung dengan rencana terselubung yang ada diotak kakeknya itu.
"Kau belum mengerti juga? Tidak ada mafia yang mengungkapkan tujuan aslinya." Esmat mencibir.
Belle keluar dari ruangan itu dengan hati dan pikiran yang rumit. Ia memang tidak banyak tahu tentang dunia Esmat. Kali ini dia sangat lelah, seakan semua mempermainkan dirinya.
Dengan langkah lesu Belle pergi ke lapangan tembak yang berada di markas Esmat. Ia membawa sebotol bir dan sebungkus rokok. Duduk di bawah payung yang melindunginya dari teriknya sinar matahari siang itu. Dia butuh waktu untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
.
.
.
Suara tamparan terdengar menggema keseluruh ruangan.
"Apa yang sudah kau lakukan, baji ngan cilik!" Joseph sangat marah ketika kedua gedung penelitiannya hancur.
Dengan tenang Alech mengusap ujung bibirnya yang berdarah. "Aku sudah memperingatkan, jangan paksa aku untuk pergi ketika aku belum menyelesaikan tugasku, sekarang kau kesal karena kesalahanmu sendiri dan melampiaskan kepadaku?" Alech tersenyum sinis.
Joseph tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut pemuda di hadapannya itu. "Beraninya kau mengajari, aku yang berkuasa di sini bukan kamu!"
"Ya memang kau yang berkuasa tapi aku yang lebih tau tentang tugasku di sini." Alech sudah muak berbicara dengan Joseph. Setelah mengatakan itu, dia pergi dari hadapan Joseph.
"Anak breng sek! Beraninya dia melawanku!" Joseph tidak terima dengan perlakuan Alech kepasanya.
Joseph berbisik kepada anak buahnya dan dijawab dengan anggukan oleh anak buahnya.
Senyuman sinis terbit dibibir Joseph yang menatap pintu keluar. Ia akan memberikan sedikit hadiah kepada Alech yang mungkin akan membuatnya sedikit tunduk kepadanya.
__ADS_1
.
.
.
Alech terkejut saat dia bangun dari tidurnya. "Shei! Bukannya kau ..." Kata-kata Alech tercekat.
Shei tertawa sangat keras. "Kau pikir aku mati? Aku tidak akan pernah kalah selama Joseph melindungiku."
"Jadi selama ini kau ..." Alech masih tidak percaya bahwa Shei masih hidup dan berdiri di hadapannya.
"Selama ini aku bekerja kepada Joseph dan aku sengaja mendekatimu. Setelah itu kejadian di Turki juga aku yang merencanakan. Tapi hebat juga ya pacarmu itu." Shei tersenyum dingin.
Alech sangat marah kepada Shei. Emosinya memuncak layaknya gunung berapi yang siap meletus. " Dasar kau wanita *** ***! Kenapa kau tidak menangkapku sewaktu kita masih dekat? Kenapa baru sekarang!"
Shei merasa menang kali ini. "Dulu aku mengulur waktu, karena aku mencintaimu tapi ternyata aku sangat naif. Mencintai buruan yang seharusnya aku makan dari dulu."
"Apa yang kau mau dariku?" Alech masih mencari celah kelemahan Shei.
"Aku hanya mau pacarmu menderita, dan aku mendapatkan uang serta jaminan hidup dari Joseph." Dengan bodoh Shei memberitahukan semua yang ada dipikirannya.
Alech tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Shei. "Kau tahu? Geng mafia Joseph tidak sekuat geng mafia milik Belle, dan ketika mereka tahu bahwa kalian menculik semua orang yang menjadi aset miliknya maka kau akan hancur bersama Joseph. Jadi pikirkan mana yang menguntungkan, kau membantu aku atau kau hancur bersama Joseph." Alech berusaha bernegosiasi dengan Shei, namun ia tidak banyak berhatap padanya.
Seketika wajah Shei menggelap. "Kau berusaha mengancamku? Dan kau pikir aku akan bekerja sama denganmu?" Tiba-tiba Shei menampar pipi Alech dengan keras yang memberikan tanda merah di pipi Alech.
Alech mendecakkan bibirnya. "Cih! Buat apa aku mengancammu? Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga. Tapi aku memberikanmu kesempatan untuk hidup. Ketika mereka datang, tidak ada lagi kesempatan untukmu."
Hati Shei mulai tidak tenang karena provokasi dari Alech. Ia keluar dari kamar Alech dengan kesal. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju ruangannya sendiri.
Shei terperangah setelah membaca artikel tentang mafia serikat diponselnya.
"Alech benar, dia jauh lebih kejam dari Joseph dan jauh lebih kuat. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku berada di sarang Joseph dan hanya Alech yang jadi sekutuku di sini," ucapnya dalam hati. Shei mengacak rambutnya frustasi.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. "Bos besar menyuruhmu untuk menemuinya," kata seseorang di balik pintu.
__ADS_1
"Aku akan kesana!" Shei menjawab dengan hati yang gelisah.