
Setelah Belle menyelesaikan kelas mengajarnya, seperti biasa jam tujuh malam tepat Belle mengakhiri kelasnya, ia berjalan dengan ringan keluar dari kampus, ia merasa bahagia hanya dengan melihat mobil Alech yang berada di parkir area utama milik kampus untuk menjemputnya.
COPPA CLUB TOWER BRIDGE - LONDON
Tempat romantis yang selalu penuh dengan pengunjung ini harus melakukan reservasi terlebih dahulu jika ingin datang untuk makan malam.
Malam ini Alech mengajak Belle untuk makan malam, kencan? Mungkin sebutan itu lebih tepat untuk mereka yang sedang melakukan pendekatan lagi.
Mereka duduk di salah satu meja yang terbungkus kaca seperti rumah di daerah kutub. Lampu berwarna kuning di sepanjang jalan menuju meja dan kaca yang berwarna emas jika terkena pantulan cahaya, menambah kesan mewah nan romantis.
Makan malam sudah tersedia di atas meja dengan rapi. Belle melihat Alech yang tengah berbisik kepada pelayan.
Tidak lama kemudian pelayan itu kembali dengan membawa gitar. Belle hanya menatap Alech dengan tenang.
"Suasananya sangat nyaman, jadi aku meminta pelayan untuk meminjamkanku gitar." Alech mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Belle menahan tawanya melihat Alech kebingungan. "Terimakasih sudah membawaku ke sini. Pemandangannya indah, langit yang biru tua hampir tergeser oleh langit hitam. Suasananya yang ramai tapi nyaman. Intinya terimakasih untu malam ini."
Mereka menghabiskan hidangan yang ada di meja dengan bercerita tentang masa kecil. Waktu berlalu sangat cepat. Belle tidak bisa mengingat semua masa kecilnya entah apa yang terjadi.
Alech mengambil gitar dan stem gitar dengan jemarinya yang lincah. Belle melihat tangan Alech yang kokoh, jari dan naik ke bibir Alech membuat Belle sangat gugup. Ingatan waktu itu di kamarnya membuat hatinya berdesir dan wajahnya memanas. Belle menyentuh pipinya dengan kedua tangannya untuk menutupi pipinya yang merah.
Alech melihat tingkah Belle yang terlihat tidak nyaman. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Aku menunggumu bermain gitar." Belle menjawab dengan sedikit gugup.
Alech merapatkan duduknya di samping Belle. Tangannya menyentuh rambut Belle dan mengusap wajah Belle dengan lembut. Ia merapatkan wajahnya, nafas yang berhembus pelan menyapu wajah Belle. Seketika Belle memejamkan matanya.
Terdengar suara bisikan di telinga Belle. "Aku akan bermain gitar untukmu dan bernyanyi untukmu."
Belle membuka matanya, setelah ia mendengar kata-kata Alech. "Sial apa yang aku harapkan, sungguh memalukan!" Ia benar-benar kesal, entah pada dirinya sendiri atau kelakuan jahil Alech.
Alech terkekeh melihat ekspresi wajah Belle. Ia duduk agak menjauh dan mulai bermain gitar.
*Saying "I love you"
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say but if you only knew
__ADS_1
How easy, it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
What would you do
If my heart was torn in two?
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say
If I took those words away?
Then you couldn't make things new
Just by saying "I love you"
La-di-da, da-di-da
More than words
La-di-da, da-di-da
Now that I've tried to
Talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close, don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
'Cause I'd already know
__ADS_1
What would you do
If my heart was torn in two?
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say
If I took those words away?
Then you couldn't make things new
Just by saying "I love you*"
Seperti musim semi, bunga tumbuh bermekaran di dalam hati Belle, setelah mati terinjak oleh pemiliknya. Ia merasakan seluruh badannya dipenuhi oleh kupu-kupu yang terbang kesana kemari. Apakah ini yang disebut jatuh cinta lagi pada orang yang sama? Bahkan perasaan itu melebihi saat ia masih menjadi kekasih Alech.
Alech meletakkan gitarnya dan mendekat, tangannya menyentuh tengkuk Belle, tanpa berkata-kata ia melu mat bibir Belle dengan mendominasi.
Belle menikmati setiap sentuhan tangan Alech yang mengusap punggungnya, terbuai oleh bibir Alech yang manis. Ia sedikit tersentak ketika tangan Alech mengusap pan tat Belle dan meremasnya, namun Belle tidak bisa menghindar.
Belle membuka matanya dan tersadar, mereka berada di tempat umum. Dengan enggan ia mendorong Alech untuk menjauh. Alech sedikit terkejut dengan sikap Belle yang tiba-tiba berubah.
"Tempat umum." Hanya dua kata yang keluar dari bibir Belle dengan suara terengah.
Alech melihat sekitar dan tertawa. "Hahaha ... Maaf, aku tidak menyadarinya."
Wajah Belle memerah karena malu, banyak orang di sekitarnya, meskipun mereka tidak perduli namun perasaan malunya tidak bisa dipungkiri.
"Isabella ... Maukah kau kembali kepadaku? Menjadi kekasihku?" Alech mengusap punggung tangan Belle.
Belle hanya terdiam. Ada sedikit perasaan takut yang menghampiri hatinya. Kejadian tentang Shei, ia tidak sanggup melihat kekasihnya dekat dengan wanita lain seperti yang Shei lakukan di depan matanya.
" Aku masih butuh waktu," ucap Belle dengan wajah tertunduk.
"Aku mengerti, tapi kemungkinan kita kembali lagi masih ada dipikiranmu, kan?" Alech mengangkat dagu Belle agar ia menatap matanya.
Pikiran Belle buntu, ia tidak bisa memberikan jawaban apapun. Hatinya menginginkan Alech, namun ada ketakutan yang tidak bisa ia ungkapkan. Sungguh rumit.
"Tolong jangan tanyakan tentang ini, aku masih butuh waktu untuk menenangkan hatiku."
"Aku akan berusaha membuatmu yakin dan percaya kepadaku. Aku akan melakukan semuanya agar kau kembali percaya padaku." Alech memeluk Belle dengan erat. "Tunggu aku, aku akan buktikan semua ucapanku."
Rasa hangat kembali menyelimuti hati Belle yang telah dingin belakangan ini. Harinya yang terasa hitam putih, kini kembali ada goresan warna. Perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu meluap bersama pelukan Alech yang memberikan kenyamanan.
__ADS_1
Cinta. Kadang membuat kita bodoh, logika yang terkalahkan kadang menjadikan kita salah dalam mengambil keputusan. Perasaan yang tidak bisa kita jabarkan semua dengan kata-kata.
Pertahanan Belle sedikit demi sedikit terkikis dengan kesungguhan Alech. Namun keraguan yang ia rasa belum sepenuhnya menghilang.