
"Bell, jujur aku tidak tahu cerita pastinya, yang aku tahu nyonya Valerie adalah teman kuliah ayahku, dan mereka berdua saling mendukung dalam segala hal. Ayahku, ibumu, dan Mr. Carl adalah sahabat sejak masa orientasi mahasiswa. Rumah ini adalah pemberian ibumu, dan kami masih bisa hidup nyaman sampai sekarang karena ibumu. Kau tahu? Setiap bulan kami menerima uang cukup banyak dari ibumu, sampai sekarang. Lalu perusahaan safir bisa maju pesat di atas langit kala itu juga berkat ibumu. Kami berhutang banyak kepada ibumu." Suara Luna tercekat dan wajahnya terlihat sangat sedih.
" Sampai sekarang ibu masih mengirim kalian uang? Tapi ibuku sudah meninggal lima tahun yang lalu. Bagaimana bisa?" Belle semakin bingung dengan semua ini.
" Kematian ibumu masih menjadi rumor, kita tidak percaya rumor itu, dan jenazah ibumu juga tidak ada. Kami merahasiakan tentang semua bantuan ibumu karena ini permintaannya sebelum ibumu menghilang." Mata Luna terlihat sangat yakin akan Valerie yang masih hidup.
"Bisa aku lihat rekening pengirimnya?"
Luna menunjukkan nomor rekening yang selalu mengirimkannya uang. Belle langsung mengambil arloji dan mengarahkan ke nomor rekening tersebut. Informasi pemilik rekening dan semua data langsung muncul.
Di sisi lain tuan Brian tersenyum samar. Arloji yang Belle pakai adalah buatan dari Valerie. Ingatan tuan Brian kembali ke masa di mana Valerie memamerkan hasil temuannya. Kata-kata Valerie selalu terngiang di kepalanya.
"Brian! Coba lihat, aku membuat arloji yang bisa mencari segala informasi, aku akan memberikan arloji ini untuk anakku Isabella di hari ulang tahunnya. Karena aku bingung mau memberikan kado apa lagi, semua sudah ia miliki."
Ulang tahun Isabella yang ke sepuluh tahun, Valerie memberikan arloji itu sebagai hadiah. Dan sekarang Belle masih menggunakannya.
" Rekening ini atas namaku, dan semua data ini milikku?" Belle benar-benar bingung. Ia mengambil ponselnya dan menelepon ayahnya.
"Gadis kecilku ... Ada apa?" Suara tuan Jakob terdengar tenang.
"Ayah, ada yang mau aku tanyakan."
"Dan ayah akan menjawab semua pertanyaanmu."
"Bank Swis atas namaku, apa ayah yang pegang?"
"Ayah tidak tahu soal itu, ada sesuatu?"
"Terlalu bahaya untuk menceritakan lewat telpon. Aku akan mengunjungi ayah segera."
"Minggu depan ayah akan ke London, kita bisa bertemu di sana."
__ADS_1
"Aku tunggu. Aku sayang ayah."
"Ayah juga sayang kamu, gadis kecil."
Belle menutup telponnya, dan terlihat sangat lelah. Alech paham apa yang sedang terjadi pada Belle, akhirnya Alech mengambil alih tugas Belle, menceritakan tujuannya dan Belle datang ke rumah paman Brian.
Paman Brian memberikan kode kepada Luna untuk mengambil semua berkas yang dibutuhkan.
Belle meminta ijin untuk menghirup udara, dia berjalan menuju taman samping rumah tuan Brian. Belle mengambil rokok di saku mantelnya dan menyalakan. Belle tenggelam dalam pikirannya, sampai ia tidak sadar bahwa Luna sudah berada di sampingnya.
"Kau pasti lelah. Banyak kejadian yang datang tak ada henti-hentinya. Aku juga bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan. Aku putus kuliah karena tidak ada biaya, mencari kerja untuk membangun perusahaan lagi. Orang-orang mencemoohku, aku juga lelah." Luna menyodorkan botol bir kepada Belle.
" Semua terjadi begitu cepat, aku seperti lari maraton berpuluh-puluh mil tanpa jeda." Belle meminum bir yang Luna berikan, dan menghisap rokoknya kembali.
" Keluargamu sudah banyak membantuku, aku berhutang budi kepada keluargamu. Aku tidak berani untuk menemuimu ketika kau tampil di acara fashion."
" Datanglah kapanpun kepadaku, aku selalu menyambutmu." Belle tersenyum ke arah Luna.
" Nona Isabella, waktunya pulang." Goda Alech.
" Paman Brian?"
" Paman sedang istirahat. Ohya Luna, sampaikan terimakasih kepada paman dan tunggu hasilnya."
Luna menganggukkan kepalanya. "Akan aku sampaikan. Kalian harus tetap waspada dan hati-hati." Luna memeluk Belle dengan erat.
Dalam perjalanan pulang Belle tenggelam dalam pikirannya sendiri, membuat suasana canggung antara Alech dan dirinya.
"Sayang ... Aku seperti supir membawa majikannya tour kota London." Alech mencoba mencairkan suasana.
"Alech, kita harus cepat bergerak. Tapi aku bingung harus mulai dari mana. Pikiranku penuh dengan semua teka teki menyebalkan ini."
__ADS_1
"Serahkan saja padaku, aku akan menyelesaikan semuanya, ini juga menyangkut keluargaku." Alech menggenggam tangan Belle untul menenangkannya.
"Kita harus mengalihkan perhatian mereka, agar mereka tidak mengganggu persiapan kita." Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Belle.
Belle mengambil ponselnya. "Sebarkan berita tentang kelumpuhan Hera dan juga sebarkan rumor bahwa Hera sakit jiwa. Usahakan berita itu selalu terlihat di halaman depan."
"Baik bos."
Alech tersenyum melihat Belle menjalankan rencananya, pelan tapi menyakitkan. Belle tahu tipikal orang seperti Hera pasti memiliki tempramen yang tinggi disaat kondisinya buruk. Ini menjadikan kesempatan untuk menekan psikologi Hera. Cara ini jauh lebih kejam dari pada membunuh.
"Kenapa kau tidak langsung saja membunuh Hera?" tanya Alech.
"Kematian adalah sesuatu yang terlalu baik untuk apa yang sudah mereka lakukan selama ini, aku akan membuat dia menderita selama sisa hidupnya."
"Woah! Sayang, kau lebih kejam dari aku." Alech mencoba menggoda pacarnya.
"Aku tidak kejam! Jika aku kejam, aku akan menguliti dia hidup-hidup. Hahahaha." Belle sedikit merasa lega, Alech selalu bisa menempatkan posisi di sampingnya.
Di luar sana berita tentang kelumpuhan Hera sudah tersebar. Ada juga berita yang menulis bahwa Hera mengalami gangguan jiwa. Berita ini membuat tuan Jhon semakin kelimpungan.
"Setelah Menjadi Penipu di Dunia Fashion, Sekarang Hera Cacat."
"Kondisi Terkini Hera, Anak Dari Pengusaha Ternama Mr. Jhon Cacat Dan Mengalami Ganguan Jiwa."
"Aaaarrrggghhh! Dasar media sampah! Aku memang cacat tapi aku tidak sakit jiwa! Kalian yang gila!" Hera benar-benar mengutuk media den mengamuk tidak jelas.
"Hentikan! Aku semakin pusing mendengarmu berbicara, cobalah untuk tenang dan bersabar. Gunakan orakmu untuk menepis berita itu." Tuan Jhon sangat geram mendengar suara Hera yang tidak terkendali.
"Bagaimana aku bisa tenang dengan berita seperti ini, ayah juga hanya diam saja tidak melakukan apapun."
Plak. "Aku sudah berusaha meredam berita itu, tapi tidak ada hasil. Aku selalu melakukan semua yang kau minta tapi kau tidak pernah berhenti membuat kacau keadaan." Tuan Jhon menampar pipi Hera karena kesal.
__ADS_1
Kekacauan ini membuat para tetua fashion mengadakan pertemuan darurat. Ini sudah mencoreng nama baik dunia fashion, dan tidak bisa dibiarkan lagi. Belle diundang untuk menghadiri pertemuan itu, meskipun Belle pendatang baru tapi kemampuannya sangat mengagumkan, memberikan pro kontra pada masyarakat, sehingga masyarakat menganggap kasus Hera adalah pengacau dunia fashion untuk menghalangi orang-orang berpotensi seperti Belle. Setelah Hera masuk ke dunia fashion, tidak ada lagi designer pendatang baru, seperti ada tembok tinggi yang menghalangi. Ternyata ini semua karena ulah Hera dan ayahnya.