
CENTRAL SAINT MARTIN UNIVERSITY ART & DESIGN.
Pagi ini terlihat ramai di lingkungan kampus. Tentu saja. Karena hari ini adalah fashion show hasil rancangan mahasiswa tingkat akhir. Semua mahasiswa wajib merancang pakaiannya sendiri untuk syarat kelulusan.
Bulan Agustus, bulan yang sangat sibuk untuk Belle. Undangan untuk menghadiri beberapa fashion show dari tempat ke tempat.
Belle berjalan melewati beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi di pelataran area kampus.
Seseorang menepuk pundak Belle dari belakang. Alech? Dia terlihat rapi dan tersenyum menawan seperti biasanya.
"Hallo Bel .." Alech menyapa Belle dan berjalan menyamakan langkah dengan Belle.
Belle terkesiap karena terpana melihat senyuman dan sosok laki-laki yang ia rindukan selama ini. "Ah .. Ya hallo," balas Belle sekenanya.
"Kau menghadiri fashion show?"
Belle hanya menjawab dengan anggukan. Ia tidak mau terlalu banyak bicara dengan Alech. Bagaimanapun juga mereka sudah tidak ada hubungan apapun yang spesial selaim rekan bisnis.
"Kita masih bisa jadi teman, kan? Atau lebih, jika kau bersedia." Alech menatap lurus ke depan tanpa menoleh Belle.
Belle terkejut dengan kata-kata Alech. Ia berhenti dan menatap Alech dengan dingin. "Apa maksudmu ldari kata lebih?"
Alech tersenyum jahil. "Maksudku kita bisa menjadi sahabat bukan hal lain. Atau kau masih mengharapkan kita kembali lagi?"
Belle mencebik kesal. "Terimakasih, tapi aku tidak berminat." Ia melanjutkan langkahnya dengan pipi merah, meninggalkan Alech yang masih berdiri mematung.
.
.
.
Belle duduk di deretan pertama, tepat di samping stage catwalk, terlihat Alech juga duduk satu deret berselang lima kursi dengan Belle. Ia membolak-balik sebuah brosur yang berisikan deretan nama mahasiswa yang akan menampilkan hasil rancangannya. Belle melihat Alech yang terus menatapnya dari ekor matanya. Kepalanya seolah memiliki kemauan sendiri untuk menoleh ke arah Alech.
Alech tersenyum dan mengedip-kedipkan sebelah matanya. Bibirnya bergerak tanpa suara mengatakan "I love you."
Seketika Belle memutar bola matanya, jengah. "Dasar tidak tahu malu." Ia bergumam pada dirinya sendiri. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya sedikit goyah, ada rasa rindu dengan sifat jahilnya. Ia terkesiap ketika ada seseorang wanita memanggil nama Alech.
Karine yang datang menghampiri Alech, mencium pipi Alech dan tangannya memegang leher Alech, membuat perasaan Belle tak karuan. Kesal dan cemburu.
Belle yang masih melihat ke sumber suara itu, menatap mereka dengan dingin. Shei yang menyadari bahwa ada seseorang yang melemparkan pandangan mengerikan hanya memberikan tatapan sinis.
"Nak .. Kau sudah datang." Yohji menepuk pundak Belle yang sedang tertunduk entah menahan tangis atau melihat brosur yang ia genggam.
__ADS_1
"Kakek ... Ya aku baru saja datang." Belle memaksa tersenyum kepada Yohji.
Yohji melirik sekilas ke arah tempat duduk Alech. Ia duduk di kursinya dan tersenyum. "Kau gadis cantik, cerdas, dan berbakat. Habiskan masa mudamu untuk membuat orang lain menyesal dan iri."
Belle menatap Yohji dengan lembut. "Terimakasih kek, aku akan melakukannya."
"Ada kabar baik untukmu. Datanglah ke Jepang kapanpun kau mau. Kau sudah membuka pintu di Jepang dan kami menantikan kedatanganmu dengan tangan terbuka." Yohji mengenggam telapak tangan Belle seperti seorang kakek kepada cucunya.
Mata Belle tidak bisa menahan air mata haru. "Terimakasih kek, aku akan datang ke sana setelah semua pekerjaanku selesai."
Shei yang melihat keakraban Belle dengan Yohji membuat dirinya geram. Senyuman jijik melintas di bibirnya. "Dasar wanita penjilat." Gumamnya yang terdengar oleh Alech.
Alech mencengkram lengan Shei. "Jaga ucapanmu!" Suara ya lirih namun tegas itu membuat hati Karine semakin panas.
.
.
.
"Kak, kau menjemputku?"
Belle berlari ke arah Isaac yang berdiri di samping mobil tepat di parkiran kampus.
"Aku pulang ke studio saja." Wajah Belle terlihat masam.
Dengan cekatan Isaac membukakan pintu mobil penumpang untuk Belle. Sekilas ia melihat Alech dan Shei yang bergelayut manja memeluk tangan Alech.
Senyuman remeh Isaac mampu membuat geram Alech. Wajahnya yang merah menahan marah hendak menghampiri Isaac. Namun jarak 500 meter membuat ia tidak bisa mengejar Isaac yang sudah melesat pergi dengan mobilnya.
***
RIVER THAMES AUTUMN
Sudah memasuki musim gugur, cuaca lebih dingin dari bulan kemarin. Semua kesibukan Belle telah usai. Ia berjalan menyusuri trotoar di pinggir sungai thames dengan menenteng paper bag kecil berisi burger yang ia beli di burger van keliling.
Belle duduk di kursi trotoar, tepat menghadap ke sungai. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Pikiran tentang kenangannya dengan Alech melintas tanpa permisi.
"Ehm ... Kau lupa membawa kopimu, cantik."
Suara familiar yang tiba-tiba membuyarkan pikirannya.
"Alech! Sedang apa kau di sini?" Belle mengatur ekspresinya agar tetap tenang.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja lewat dan melihat ada wanita cantik yang lupa membawa kopi." Alech menyodorkan kopi, dan duduk di samping Belle. "Wah udaranya semakin dingin, sedingin wanita yang ada di sebelahku."
"Apa kau berhalusinasi?" Belle menyesap kopi yang Alech berikan.
"Setiap malam aku berhalusinasi, kau tidur di sampingku." Senyum Alech yang jahil membuat nafas Belle naik turun.
Wajah Belle memanas. "Ya Tuhan selamatkan jantungku," ucap Belle dalam hatinya.
"Maaf Alech aku harus pergi." Belle pergi tanpa memberikan Alech waktu untuk berbicara.
Ia menyadari bahwa Alech mengikutinya di belakang. "Kau mau jadi penguntit?"
"Tidak."
"Terus?" Belle melipatkan tangannya di depan dada.
Alech mendekat ke arah Belle. "Aku antar kau pulang, wanita cantik tidak boleh jalan sendiri."
"Aku bisa pulang sendiri." Belle hendak pergi dari hadapan Alech. Namun Alech menarik tangannya.
"Apa kita tidak bisa jadi teman?" Alech berbisik di telinga Belle dan menyunggingkan senyuman jahilnya.
Membuat Belle merasakan desiran di dadanya.
"Aku tidak mau ... Maksudku tidak untuk sekarang," kata Belle dengan gugup.
Belle pergi dari hadapan Alech dengan membawa wajahnya yang merah. Dadanya masih berdegup sangat kencang. Ada rasa hangat yang menyusup ke hatinya.
.
.
.
Belle membantingkan badannya ke sofa. Mengatur nafasnya yang memburu. Ia mengingat Alech menggodanya, membuat hati Belle semakin tidak menentu.
"Aku harus menjauh darinya," gumamnya. Tapi perasaannya tidak bisa dipungkiri bahwa ia masih menyimpan rasa cinta terhadap Alech. Cinta? Lantas bagaimana tentang kedekatan Alech dengan Shei.
Ia mengingat senyum Shei yang penuh dengan kemenangan saat acara di Central Saint Martin sebulan yang lalu. "Wanita terkutuk, tiba-tiba datang di saat seperti ini." Belle memukul sofa dengan tinjunya.
Tanpa Belle disadari, Billy yang sedang duduk di teras tertawa terbahak-bahak. "Wanita gila! Kau memiliki hobi baru sekarang? Berbicara sendiri dan meninju sofa dengan gemas?"
Belle terperanjat mendengar Billy tertawa. "Sial! Sejak kapan kau berada di situ?"
"Sejak kau datang dan tiduran di sofa, lalu tertawa sendiri, dan sampai sekarang. Pada intinya aku melihat semua pertunjukkan yang kau suguhkan. Silakan dilanjutkan." Billy mengibaskan tangannya ke arah Belle dengan kekehan dari Billy memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1