
Waktu berjalan sangat cepat. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sudah empat tahun lamanya Alech tidak kunjung ditemukan.
Setiap bulan, Belle selalu datang ke samudra atlantik hanya sekedar menatap lautan dan berharap sosok Alech muncul dari kejauhan.
"Hey breng sek! Kenapa kamu tidak muncul juga? Sudah empat tahun aku selalu mengunjungi tempat ini. Sialan! Apa kau sudah menikah dengan Ursula di dalam laut?!" Belle berbicara kepada lautan lepas seolah Alech berada di hadapannya.
***
Kehidupan Belle kembali normal. Bekerja seperti biasa dan mengadakan fashion show.
Liana sudah memiliki butik miliknya sendiri dan cukup digemari oleh kalangan remaja.
Marcus dan Giselle sibuk dengan perusahaannya sendiri.
Jakob dan Valerie seperti biasa menghabiskan waktu untuk berkeliling dunia.
.
.
.
Billy datang ke ruang kerja Belle dengan wajah penuh dengan kesedihan.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" Belle menatap Billy penuh selidik.
"Bell, aku minta maaf." Billy menyerahkan amplop putih yang bertuliskan salah satu rumah sakit di London.
"Apa ini? Kau hamil?" Belle menggoda sahabatnya itu.
Seketika Belle terisak dan memeluk Billy setelah melihat isi amplop itu.
"Kenapa jadi begini?" Belle terus menangis dipelukan Billy.
Billy memeluk Belle dengan tangisan yang menjadi.
"Aku tidak tahu. Aku takut Bell."
"Kita lakukan yang terbaik. Jangan menyerah, kau harus melawan. Mengerti?!" Belle menyentuh kedua pipi Billy.
Billy mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening. Terlihat di sana masih ditahap awal, stadium satu.
Belle sangat yakin bahwa Billy masih bisa sembuh.
"Seandainya Alech di sini, pasti dia sudah meracik obat untukmu." Belle teringat akan kehebatan Alech.
"Cukup! Jangan memikirkannya lagi, aku akan semakin sakit kalau kau mengingatnya," cerca Billy.
.
.
__ADS_1
.
Pill yang selalu datang mengunjungi Belle, membuat hubungan mereka bertambah dekat. Ia datang ke rumah sakit di mana Billy berada untuk pengobatan.
"Kau butuh istirahat. Biar aku yang menjaga Billy." Pill melingkarkan jaket kebahu Belle.
"Aku akan tidur di sofa, kau jaga Billy baik-baik ya." Belle menepuk punggung tangan Pill dengan lembut.
Belle berbaring di sofa dan terlelap.
"Bell, aku pulang. Maafkan aku. Butuh waktu lama untukku bisa bertemu denganmu."
"Dasar kau sialan! Kemana saja kau selama ini? Aku sudah mencarimu kemanapun tapi kamu tidak ada!"
Alech terbahak. "Kau merindukanku, kan?"
"Berhentilah bodoh!" kata Belle kesal.
"Aku akan menagih jawaban atas cincin yang kau pakai." Alech melirik ke jari Belle.
"Aku tidak akan mengatakannya. Kau tahu? Aku sangat dendam kepadamu karena kamu menghilang bertahun-tahun!"
"Kalau begitu lebih baik aku tidak akan pernah kembali dan menagih janjimu." Alech tersenyum.
"Breng sek! Sialan! Berhenti menggodaku! Oke aku meenyerah. Aku akan jawab tapi tolong jangan pergi lagi."
Seketika Belle tersadar dari mimpinya karena mendengar suara bising di dalam ruangan.
"Apa kau berusaha membodohiku? Kau menggoda Billy kan?" Sean sangat marah kepada Pill.
Sean adalah kekasih Billy. Dia kembali ke London dari Dubai karena mendengar Billy sakit dan harus menjalani pengobatan yang tidak sebentar.
"Sean, tenang. Pill adalah teman kami. Mereka tidak ada hubungan apapun selain teman. Jadi berhentilah berbicara." Belle menjelaskan dengan tenang.
"Maaf, aku terlalu cemas dengan Billy dan pikiranku menjadi kacau." Sean tertunduk malu.
Belle bangkit dari sofa dan berdiri di samping tempat tidur. "Karena kau sudah di sini, tolong jaga Billy, aku ingin istirahat dengan tenang." Wajah Belle yang kesal tidak bisa ditutupi lagi.
Pill dan Belle keluar dari ruangan.
"Pill ini sudah waktunya kamu menjemput Lily dari sekolah." Belle mengingatkan.
"Astaga aku hampir terlambat." Pill berjalan dengan langkah lebar.
"Aku ikut menjemput Lily, boleh?" Belle mengejar Pill dengan cepat.
Pill mengangguk senang. "Pasti Lily sangat senang melihatmu."
Lily adalah anak semata wayang Pill, umurnya masih delapan tahun. Anak yang pintar dan mandiri. Belle sangat menyukai Lily.
"Papa!" Lily berlari ketika melihat Pill turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Maafkan papa yang tidak tepat waktu menjemput tuan putri." Pill menggendong Lily penuh dengan kasih sayang seorang ayah.
"Belle kau juga menjemputku?" Lily terlihat sangat senang melihat Belle.
"Aku merindukanmu, tuan putri kecil." Belle mencium pipi bulat Lily dengan gemas.
Orang lain akan mengira bahwa mereka adalah keluarga yang sangat bahagia. Namun kenyataannya sangat pahit untuk Pill.
"Belle, aku ingin makan masakanmu." Lily bergelayut manja.
"Aku akan memenuhi permintaanmu, tuan putri." Belle mencibit hidung Lily gemas. "Ayo kita pergi ke supermarket," lanjutnya
Mereka bertiga pergi ke sebuah supermarket untuk membeli bahan makanan.
"Ambil apapun yang kau suka." Belle berbisik ke telinga Lily.
Lily membulatkan matanya yang jernih karena bahagia. Ia berlari dan mengambil troli.
"Bell, tolong jangan manjakan Lily seperti ini." Pill mengeluh.
"Tidak apa, aku cuma ingin melihat senyum manis Lily, jadi ini tidak maslah."
Pill "...."
- Apartment Pill -
Setelah mereka menikmati makan siang dan Belle bermain bersama Lily. Belle membantu Lily untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahnya.
"Belle ..." Lily memanggil, tapi dia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ya tuan putri ..." Belle menunggu apa yang akan dikatakan Lily.
"Umm ... Apa kamu mau jadi ibuku?" Suara Lily sangat kecil tapi masih bisa di dengar oleh Belle.
Belle tidak tahu jawaban apa yang akan dia berikan. Ia memcoba mengalihkan topik, namun tidak berhasil.
"Baiklah. Aku akan pikirkan permintaanmu, untuk menebus kesalahanku karena tidak memberikan jawaban pasti, malam ini aku akan menginap di sini untukmu." Belle tidak tega melihat wajah Lily yang sedih
"Yeay! Aku mencintaimu Belle." Lily bersorak gembira. Ia segera memeluk Belle dan mencium pipinya.
"Aku juga mencintaimu tuan putri." Belle memeluk Lily dengan penuh kasih sayang.
Belle sangat menikmati waktu bersama Lily. Lily membutuhkan kasih sayang seorang ibu, itu terlihat jelas dari tingkah laku Lily. Mantan istri Pill tidak pernah datang untuk mengunjungi Lily semenjak ia menikah lagi dengan laki - laki lain, dan sekarang keberadaan mantan istri Pill tidak mereka ketahui.
"Belle, aku ingin makan kebab daging domba atau daging unta." Lily memilih menu makanan untuk makan malam.
"Bagaimana dengan kebab daging sapi?" Belle menyarankan.
"Tapi ..." Sebelum Lily melanjutkan kata-katanya. Pill menyela.
"Jangan pilih - pilih makanan, kau akan membuat Belle marah dan tidak akan datang lagi untuk menemuimu," ucap Pill dengan kesal.
__ADS_1
"Bukan begitu. Daging domba tidak cocok untuk gadis seusiamu. Kalau kau sudah besar nanti, kau boleh memakan daging domba." Belle menjelaskan.
Lily tersenyum ketika Belle memberikannya alasan. Ia mengangguk patuh atas saran Belle.