Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 27 Kembalinya Ayah Alech 2


__ADS_3

"Alech .. anakku .." Marcus memeluk Alech dengan erat.


Alech terkejut melihat ayahnya berada di depan mata "Ayah? Bagaimana kau bisa ada di sini?"


Marcus menceritakan semua apa yang sedang terjadi. Ia tidak bisa menutupi rasa bersalahnya kepada Alech. Terlebih ia datang sendiri tanpa membawa Giselle.


Setelah pertemuan Marcus dengan Alech, dia pergi ke Thailand untuk menjemput Giselle. Seminggu lamanya ia pergi.


Marcus kembali ke London dengan membawa Giselle. Kondisi Giselle tidak baik, terlalu banyak mengkonsumsi obat penenang.


Alech segera membuatkan ramuan herbal untuk menetralisir efek dan racun dalam tubuh Giselle.


Jakob dan Marcus melepaskan Jhon dan menjadikan dia tahanan di rumahnya sendiri. Kondisi Jhon semakin menurun karena obat yang Alech berikan kepadanya.


Kabar tentang Valerie tidak diketahui. Karena Joseph9 yang ambisius itu menahan Valerie di suatu tempat tersembunyi.


Semuanya semakin rumit, tidak ada titik terang untuk keberadaan Valerie. Jakob hanya menunggu waktu sampai Giselle pulih dan bisa menanyakan keberadaan istrinya itu.


Isaac yang datang ke London dengan wajah lelahnya semakin tidak nyaman melihat ayahnya yang memijat kening berkali-kali.


Ia mendekati ayahnya. "Ayah .. Jangan cemas, aku akan mencari ibu sampai ketemu."


"Aku sudah menemukan beberapa tempat pusat penelitian milik Joseph." Isaac menyodorkan selembar kertas kepada ayahnya.


"Ternyata tikus tua itu memiliki banyak aset," ucap Jakob.


Jakob mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Ledakkan sekarang!" perintah Jakob kepada orang di sebrang sana.


***


***


Beberapa hari ini Belle tidak melihat Alech dan tidak menghubunginya juga. Pikiran Belle mulai melalang buana entah kemana, baru kali ini Alech membuatnya khawatir.

__ADS_1


Belle membuka pintu kamar Alech, dan mendapati Alech yang sedang menghisap rokoknya, duduk dekat balkon kamarnya.


"Sayang .. Are you ok?" Belle berjalan pelan menghampiri Alech.


Tidak ada jawaban dari kekasihnya itu.


Belle duduk di sebelah Alech dan menatapnya lembut. "Sayang .. Mau aku ambilkan wine?" Belle menunggu namun tetap tidak ada respon. Ia berdiri, berniat mengambilkan wine untuk pacarnya itu.


Alech menahan tangan Belle, namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Belle kembali duduk di sampingnya. Sekilas wajah Alech nampak pucat.


Belle sangat panik. "Alech ... Kau baik-baik saja?" Belle mengguncangkan pundak Alech pelan.


Sesaat kemudian Alech menoleh ke arah Belle dan tersenyum jahil. "Aku sedang uji coba obat baru racikanku sendiri."


"Sialan! Kau membuatku khawatir! Aku kira kau sudah jadi zombie!" Belle memukul puncak kepla Alech.


"Auch! Pacarku ternyata suka sekali melakukan kekerasan." Alech mengelus kepalanya yang tidak sakit dengan wajah muram yang dibuat-buat. "Sayang ... Mau kemana?" Alech melihat Belle pergi dari kamarnya.


"Pulang!" sahutnya dengan kesal.


Belle menghentikan langkahnya. "Menurutmu?" Ia menaikkan alisnya sebelah tampak kesal. "Dan berhentilah mengikutiku seperti anak kucing." Ia sangat kesal, bayangan wajahnya yang pucat dan diam membuat Belle sangat khawatir.


"Sial! Percumah saja aku mengkhawatirkan orang jahil seperti dia!" Belle menggerutu kepada diri sendiri selama perjalanan pulang ke rumahnya.


Alech memandang punggung Belle yang mulai menjauh. "Manisnya," ucapnya kepada diri sendiri.


***


COVENT GARDEN, LONDON. James St, London WC2E 8BU, United Kingdom



Sore ini Belle ingin berjalan-jalan sendiri di deretan street restoran yang tidak jauh dari apartemen lamanya. Ada berbagai restoran yang menawarkan menu makanan khas negara lain. Masih terasa ada butiran-butiran air hujan yang turun dimusim semi.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya berniat untuk menelpon Alech, meminta dia datang untuk makan bersama. Tapi ... Tak jauh dari restoran Italian terlihat sosok Alech yang tengah duduk di sebuah restoran The Wellington bersama dengan seorang wanita berkulit putih yang memiliki berambut pirang panjang yang tergerai. Alech menggenggam tangan wanita itu yang berada di atas meja.


Belle terus memperhatikan dari balik kaca restoran yang tertutup oleh tanaman bunga. Ketika ia hendak menghampiri Alech, terlihat Alech sedang menyingkirkan anak rambut Yang menutupi wajah wanita itu karena tersapu angin.


Terlihat sangat mesra. Belle berbicara dalam hatinya. Rasa sesak tiba-tiba menghampiri dada Belle. Dia segera pergi dari restoran Italian tanpa menoleh ke arah Alech.


Cemburu. Itu yang Belle rasakan saat ini. Wanita modis berpakaian casual, rambut panjang berwarna pirang dan kulit yang putih. Adegan memyebalkan itu terus terbayang dipikiran Belle tanpa henti. Hatinya semakin bergemuruh.


"Sialan! Breng sek!" Belle mengumpat serta memukul stir mobilnya dengan kasar. Kali ini ia tidak bisa menahan dirinya agar tetap tenang. Hatinya sangat hancur.


Belle mengingat lagi sosok wanita itu. "Sepertinya aku pernah lihat wanita itu. Ah benar! Dia adalah mantan kekasih Alech." Belle mengingat dengan jelas, Alech pernah bertemu dengannya saat di cafe dekat kantor dan dia menjelaskan bahwa wanita itu adalah mantan pacarnya.


Isaac yang berada di dalam restoran yang sama dengan Belle memperhatikan dari jauh apa yang terjadi antara Belle dan Alech, membuat ia geram dan mengepalkan tangannya. "Dasar pria tidak berguna," gumamnya sambil tersenyum sinis ke arah Alech dan wanita itu.


Isaac yang berniat untuk memperkenalkan diri ke adiknya itu seketika mengurungkan niatnya melihat suasana hati adik kesayangannya itu sedang buruk.


***


Belle sudah mengemasi semua barang yang ia perlukan ke dalam koper dan melesat pergi dengan mobil Mercedes-AMG One putih miliknya. Dia butuh waktu untuk mengobati perasaannya dan fokus ke fashion show bersama Yohji.


STUDIO FASHION MILIK ISABELLA.



Belle akan tinggal di studio miliknya. Studionya lumayan jauh sekitar tiga puluh menit dari kantor diamond. Selama ini Billy tinggal di sini untuk menjaga studio dan merancang gaun boneka barbie kesayangannya.


Belle menelusuri pandangannya kesana kemari mencari sosok Billy. Namun nihil. "Mungkin Billy sedang makan siang," ujarnya dalam hati.


Ia meletakkan koper di kamar terbuka, lalu ia beranjak pergi ke dapur membuat satu server glass penuh kopi Japanese ice V60 lemon favoritnya.



Belle duduk di teras samping, menikmati kopinya dan menghalau pikiran tentang Alech. Tanpa sadar buliran air keluar dari sudut matanya. Ia mengusap kasar wajahnya. Mengambil bungkus rokok di dalam tasnya dan menghisapnya dalam-dalam.

__ADS_1


Semakin Belle menepis pikirannya tentang Alech, semakin sakit hatinya. Ia menyesap kopinya, rasa dingin, pahit dan sedikit asam melewati tenggorokannya.


"Sialan! Aku kira ada pencuri masuk untuk mencuri barbie kesayangan milikku!" ucap Billy setengah berteriak. Billy mendekat setelah melihat Belle duduk di teras samping yang sedang duduk di temani Japanese ice coffee. Dengan tidak tahu malu, Billy menuangkan kopi ke gelas miliknya dan menyesapnya. " Ahh ... Segar sekali .. " Billy menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan bahwa kopi itu sangat nikmat. Tanpa mengatakan apapun ia menyambar bungkus rokok milik Belle diikuti dengan senyuman jahil khas Billy.


__ADS_2