
Belle kagum dengan kecepatan pria bertopeng itu sama dengan kecepatan ia bertarung. Belle semakin menepis pemikirannya tentang pria bertopeng itu bukanlah Alech.
"Kita harus cepat, yang lainnya akan menyadari bahwa temannya tidak kembali." Pria bertopeng itu menarik tangan Belle untuk cepat pergi.
Belle terkesiap dan mengikuti pria itu tanpa bertanya apapun.
Pria bertopeng berhenti di depan sebuah rumah kecil. "Kita bersembunyi di sini dulu, sampai Esmat datang menjemput."
Belle menarik tangannya dengan kasar. "Siapa kamu sebenarnya?"
Pria itu melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Belle.
Belle mau tidak mau mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah.
"Kau belum jawab pertanyaanmu. Siapa kau?" Belle mengulangi pertanyaannya.
Pria itu terkekeh. "Yang jelas aku bukan kekasihmu dan juga bukan pacarmu."
Belle terkejut dengan jawaban pria itu. "Dia bukan Alech. Dia orang lain." Belle berkata dalam hatinya.
"Kenapa kau tidak bersama anak buah kakek yang lainnya dan bergerak sendiri?"
"Kenapa harus mengirim banyak orang dan membuat keributan? Aku cukup mampu untuk melawan keempat penculik itu sendiri." Pria itu berkata dengan sombong.
Dengan malas Belle duduk di sofa dan memyandarkan punggungnya yang sedikit nyeri karena pukulan yang ia terima dari penculik tadi.
"Kenapa kau tidak melepas topengmu itu? Apa kau tidak kekurangan oksigen memakainya terlalu lama?" Belle sangat penasaran dengan wajah pria yang membantunya itu.
"Aku justru tidak bisa bernafas jika aku melepas topeng ini." Pria itu membawa segelas air untuk Belle.
Belle menyunggingkan bibirnya. "Aneh," katanya dengan suara rendah.
"Kau lebih aneh, kenapa kau bisa sampai diculik oleh penculik amatiran." Pria itu mencibir.
"Sial! Bagaiaman aku tahu kalau aku akan diculik!?" Belle geram kepada pria bertopeng itu.
Belle sudah mulai tidak sabar untuk menunggu Esmat menjemputnya. Ia mencari arlojinya, dan sialnya dia tidak membawa arlojinya. Benar saja, karena ia diculik saat dia tidur dan melepaskan arlojinya.
Pria itu terkikik melihat Belle yang sedang mencari arlojinya. "Kau sangat ceroboh. Aku heran bagaimana hidupmu kemarin ini sampai kau seceroboh begini. Kau pikir dengan membunuh Joseph, semuanya akan selesai? Kau tidak tahu kalau paus kecil pasti memiliki paus besar di atasnya." Pria itu menceramahi Belle.
"Laki-laki banyak omong! Kenapa kakekku belum datang juga? Atau kau sedang menipuku?!" Belle menjadi curiga kapada pria bertopeng itu karena kata-kata yang ia ucapkan.
__ADS_1
Dengan terbahak pria bertopeng itu sampai menunduk karena perutnya sedikit kaku. "Jadi kau selama tiga hari tidak sadar dan tidak tahu sekarang kau berada di mana?"
Wajah Belle tidak bisa digambarkan. Ia terkejut setelah mendengar bahwa dia sudah tiga hari diculik. "Hah? Tiga hari? Kau bercanda?"
"Baiklah Isabella. Akan aku beritahu." Pria itu mengambil peta dunia yang tertempel di dinding. "Kau diculik dari Washington, dan sekarang kau berada di Nebraska," lanjutnya.
Belle tercengang setelah mengetahui dia berada di Nebraska.
"Lihat ini." Pria itu menunjukkan lokasinya saat ini dimap ponsel miliknya.
Belle tidak bisa mengatakan sepatah katapun. "Kenapa semakin runyam sekali masalahnya." Belle bergumam pada dirinya sendiri.
"Kau bisa istirahat dulu sampai Esmat datang menjemputmu." Pria itu pergi menuju dapur.
Tidak lama kemudian pria itu krmbali dengan dua mangkuk mie instan.
"Makanlah, kau harus mengisi perutmu. Karena tiga hari kau tidak makan." Pria bertopeng menyodorkan mangkuk kepada Belle.
Belle baru menyadari bahwa ia sangat lapar ketika melihat semangkuk mie instan. Ia menghabiskan makanannya dalam waktu yang singkat.
" Maaf aku hanya bisa memberimu mie instan, karena hanya ini yang tersisa," kata pria itu sambil memakan mie miliknya.
"Tidak apa, terimakasih untuk makanannya. Ohya boleh aku tahu namamu?" Belle penasaran dengan nama pria menyebalkan di hadapannya itu.
"Nama yang unik. Terimakasih Abel." Belle tersenyum sangat manis.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Abel segera meminta Belle untuk bersembunyi. Ia khawatir penculik itu datang lagi.
"Di mana cucuku?" Suara Esmat yang khas terdengar ketelinga Belle.
"Dia ada di dalam." Abel membuka lebar pintunya, mempersilahkan Esmat masuk.
"Kakek!" Belle berlari dan memeluk Esmat.
Tiba-tiba Abel menutup pintu, ia menarik Esmat dan Belle ke pintu bawah tanah.
"Kau diikuti. Mereka sudah mengepung rumah ini. Masuklah ke dalam dan ikuti lorong, itu akan membawamu ke tempat kau memarkir helikoptermu." Abel menatap Esmat dengan tajam.
Suara dobrakan pintu terdengar sangat keras. Musuh Esmat menggeledah rumah Abel. Namun yang ia temukan hanya seorang laki-laki cacat dan buruk rupa yang sedang tidur di sofa.
"Siapa kau!" Abel berteriak kepada musuh Esmat.
__ADS_1
"Di mana Esmat dan cucunya?" tanya salah satu musuh Esmat.
"Esmat siapa? Aku tidak tahu siapa Esmat." Abel melakukan sandiwara yang membuat geram musuh Esmat.
"Gledah rumah ini!" kata salah satu musuh yang menjadi pemimpin.
Dengan cepat Abel masuk ke pintu ruang bawah tanah. Ia berusaha lari secepat mungkin dan meledakkan rumahnya sendiri. Tentu saja semua musuh Esmat hancur bersama rumahnya.
Esmat dan Belle yang belum pergi terlalu jauh mendengar ledakan itu.
"Kek, Abel!" kata Belle cemas.
Esmat mengerutkan keningnya. "Dia bukan pria bodoh. Aku akan menunggu di sini dan kau pergi jemput dia, dia pasti ada di lorong ini."
Belle segera berlari menyusuri lorong untuk menemukan Abel. Tidak jauh terlihat Abel yang sedang duduk meluruskan kakinya.
"Psstt ... Abel ..." Belle memanggil Abel dengan suara sedikit berbisik.
"Dasar gadis nakal! Cepat pergi!" Abel melambaikan tangannya meminta Belle pergi meninggalkannya.
"Kau pria gila!" Belle menuntun Abel untuk berjalan.
Setelah kejadian itu Belle memiliki lusinan penjaga di sampingnya, dan mengikuti kemanapun ia pergi.
Belle tidak melihat Abel selama tiba di rumah Esmat. Entah apa yang membuat Belle lebih tertarik untuk melihat wajah di balik topeng itu. Ia mencari kesana kemari namun ia tidak menemukan Abel di manapun.
"Siapa yang kau cari?" Isaac menepuk pundak Belle dari belakang.
"Abel. Di mana dia?" tanya Belle kepada kakaknya.
"Siapa Abel? Aku tidak tahu. Kau masih belum sadar ya? Atau berhalusinasi?" Isaac menepuk kening Belle.
"Abel, pria yang memakai topeng." Belle menjelaskan ke kakaknya.
Langkah Isaac terhenti ketika mendengar pria bertopeng.
"Oh dia sudah pergi tadi pagi. Esmat memintanya untuk melakukan misi." Isaac menjawab dengan acuh.
"Siapa dia sebenarnya?" Belle menyamakan langkahnya dengan Isaac.
"Dia tentara bayaran yang tidak pernah mau memperlihatkan wajahnya." Isaac memberikan informasi yang sangat sedikit.
__ADS_1
Belle tidak puas dengan jawaban Isaac. Lalu bagaimana dia mencari informasi tentang Abel? Arlojinya tidak menemukan identitas Abel.