Dendam Mafia

Dendam Mafia
Chapter 12 New World 5


__ADS_3

"Ah sial! Kenapa susah sekali menemukan identitas Alech, ini sangat janggal." Gerutu Belle.


Alech yang tengah sibuk menyusun rencana untuk menjebak dalang pembunuhan sedikit terganggu dengan notifikasi sistem di komputernya, yang memberitahukan bahwa ada seseorang yang mencoba mencari tahu tentangnya. Ia terkejut setelah mengetahui bahwa Belle mencoba menembus sistem informasi rahasia, namun gagal.


"Belle, wanita yang cerdas dan juga peka, dia mengetahui ada sesuatu yang aku sembunyikan." Gumam Alech.


Alech sudah memutuskan akan memberitahu Belle tentang siapa dirinya, namun tidak untuk sekarang, waktunya kurang tepat. Bisa jadi malah akan membuat Belle berada dalam bahaya.


Ia membuka kotak kayu yang terletak didalam laci meja kerja. Surat dari Valerie sebelum ia meninggal untuk Alech.


"Tolong jaga Isabella."


Alech menghela nafas berat, dia tidak bisa mencerna semuanya sekaligus. Kematian orang tuanya dan Valerie, serta kehadiran Belle yang sangat beresiko. Tapi kenapa Tuan Jakob merasa tenang dan tidak melakukan penjagaan ketat kepada putrinya. Atau Tuan Jakob sengaja menjadikan Belle sebagai umpan.


"Bell, apakah kau sibuk? Aku akan datang ke apartmentmu sekarang, ada yang harus aku bicarakan denganmu." Alech memutuskan untuk memberitahu Belle sekarang.


"Tidak, aku tunggu ya ... Hati-hati dijalan."


Alech menutup telpon, ia keluar dari rumahnya dan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


Ting tong


"Ayo masuk. Sudah makan? Akan aku buatkan sesuatu untuk makan malam."


Alech memeluk Belle dengan erat secara tiba-tiba, Belle sempat bingung ada apa dengan pacarnya.


"Sayang ... Are you ok?" Belle mengusap pipi Alech dengan lembut.


"Aku harus memberitahumu sekarang, sebelum semuanya terlambat."


"Ayo kita duduk dulu, aku akan buatkan coklat hangat untukmu."


Alech menuju ke balkon, dan duduk di sofa yang terletak di ujung balkon.


Tidak lama kemudian Belle datang dengan membawa dua mug coklat panas. Alech mulai menceritakan semua tentang dirinya, kematian orang tuanya, hubungan dia dengan ayah Belle, serta kematian Valerie.


Belle mendengarkan tanpa menyela bahkan dia terlihat sangat tenang, seolah-olah ini bukan sesuatu yang mengejutkan untuk dirinya.


"Aku berjanji akan menjagamu, aku tidak akan membiarkan sesuatu hal yang buruk terjadi padamu." Alech menggenggam tangan Belle dengan erat. Takut akan kehilangan Belle tiba-tiba menjalar ke hati Alech.


Belle menghela nafas lega. "Aku sudah mengira akan seperti ini. Terimakasih sayang, sudah jujur dan mau menjagaku. Ayo kita hadapi bersama." Belle tersenyum kepada Alech, membuat Alech sedikit lega.

__ADS_1


Alech mencium bibir Belle dengan intens. Ciuman yang lembut dan hangat, seolah saling memberikan kekuatan satu sama lain untuk menghadapi kenyataan yang harus mereka lalui.


~ Markas Besar, Dubai ~


" Bos ini dokumen yang anda minta." Anak buah Tuan Jakob memberikan beberapa lembar kertas yang berisikan informasi Tuan Jhon dan Hera.


Tuan Jakob membaca sekilas, dan tertawa terbahak-bahak.


"Tikus itu yang akan mencoba mengganggu putriku? Hahaha ..."


"Lalu bagaimana bos? Apa perlu kita memberikan mereka pelajaran?" Tanya anak buah Tuan Jakob.


"Tidak, biarkan putriku yang bergerak. Belle masih terlihat tenang, dan belum melakukan apapun, itu tandanya tikus-tikus itu belum bergerak."


"Lalu bagaimana dengan Alech, bos?"


Tuan Jakob tersenyum. "Kita lihat saja, untuk sekarang biarkan Alech melakukan tugasnya menjaga kekasihnya. Aku tidak meragukan anak itu."


Tuan Jakob tidak pernah meragukan Alech yang tidak lain adalah anak dari sahabatnya. Dengan kemampuan yang Alech miliki, lebih dari cukup untuk menjaga Isabella. Jadi untuk sekarang Tuan Jakob hanya duduk manis menikmati teh herbal dan melihat pergerakan mereka.


***


Fashion show perdana Belle tinggal seminggu lagi akan dilaksanakan.


"P permisi Miss ... Ada sedikit masalah di tim produksi persiapan fashion show." Sekertaris Belle gemetar.


"Ada kendala apa?"


"Semua design hilang, kami sudah mencarinya kemana-mana namun tidak ketemu."


"Oh ... Terus?" Belle melipat tangannya dan mendengarkan dengan tenang.


"Maaf ... Tapi ada beberapa gaun yang belum selesai, termasuk gaun bintang malam." Sekertaris Belle menunduk ketakutan.


Belle bangkit dari kursi kerjanya. "Ayo kita lihat ke ruang produksi, dan tolong kumpulkan semua orang di tim produksi. Oh ya, tolong panggilkan Billy untuk kesana juga."


Belle menuju ruang produksi, ia sudah menduga masalah klasik ini akan terjadi. Dan Belle tahu siapa yang mengambil semua design miliknya.


Semua karyawan tim produksi berkumpul di ruang rapat, tidak ada satupun yang berani duduk di kursi mereka. Belle dengan santai masuk keruang rapat dan duduk dengan tenang.


Belle menatap satu persatu karyawannya. "Ada apa dengan kalian? Duduk dan kita akan mulai rapatnya." Suara lembut dan tenang Belle menambah ketakutan semua karyawan.

__ADS_1


"Dion, aku ingin mendengar penjelasanmu." Belle menatap ketua tim produksi.


"Maafkan saya Miss ... Kemarin kita sudah merapikan semua design dilaci meja, dan terkunci. Ruangan produksi juga terkunci, tapi tadi pagi ketika tim pelaksana membuka laci tersebut ... semua design hilang." Dion menunduk ketakutan.


"Apa ada kerusakan?"


"Tidak ada Miss."


"Lalu dimana kalian menyimpan kunci ruangan dan lacinya?"


"Dilaci ruang kerja saya Miss." Dion semakin ketakutan dan bersalah.


"Kalian sudah cek cctv?"


"Sudah Miss. Tapi tidak ada yang masuk keruangan saya maupun keruangan produksi."


Belle berfikir sejenak, dia paham apa yang sudah terjadi.


"Dion, kamu keruangan saya. Yang lain tolong lanjutkan produksinya." Belle meninggalkan ruang rapat yang di susul oleh Dion.


~ Ruang Kerja Belle ~


"Miss ... Saya minta maaf atas kejadian ini, saya sungguh teledor."


"Ini bukan kesalahanmu Dion. Hanya saja ada orang yang tidak menginginkan fashion show perdanaku."


Belle mengeluarkan map kuning. "Ambil ini, ini salinan design yang kemarin. Untuk masalah design yang hilang, biar itu jadi urusanku, kau fokus saja untuk menyelesaikan gaunnya. Sebelum pulang kantor akan aku cek. Kau bileh pergi."


"Terimakasih Miss ..." Dion tersenyum lebar, langkahnya ringan tanpa beban.


Belle membuka laptop miliknya. Ia mulai mengetik kode rahasia dan menembus cctv perusahaan. Dia memperbaiki cctv perusahaan dan benar dugaannya, cctv perusahaan di hack oleh seseorang. Tapi Belle bisa mendapatkan rekaman aslinya, dia hanya membutuhkan waktu kurang dari dua menit.


Belle menonton rekaman asli cctv dengan santai. "Pantas saja cctv perusahaan bisa di hack, pengamanannya yang kurang bagus."


Billy datang keruangan Belle. "Bell, maaf aku terlambat, jalanan macet dan semua kain yang kamu minta sudah aku serahkan ke tim produksi." Billy melihat Belle yang tengah fokus menatap layar laptopnya.


"Apa yang sedang kamu tonton?" Billy penasaran, dan mendekat kesamping Belle.


"Tontonan bagus, coba lihat siapa yang berusaha mengacaukan acaraku."


"Dasar wanita gila! Beraninya dia! Aku akan datang kesana dan menjambak rambutnya yang jelek itu!"

__ADS_1


"Tenang Bill. Aku punya hadiah bagus untuk dia. Hadiah yang berkesan dan tidak mungkin dia lupakan." Belle menatap Billy jahil.


__ADS_2