Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Memilih Pergi


__ADS_3

"Keluar kamu, Saya ada di desa rumah kamu." Ucap Firza melalui sambungan telepon nya saat menghubungi Dania.


"Tunggu ya, saya pakai hijab dulu." Ucap Dania dari seberang.


Setelah menunggu hampir 5 menit, Dania keluar dan masuk kedalam mobil Firza. Dengan wajah datar Firza menjalan kan mobil nya.


"Kita mau kemana? " Tanya Dania.


"Kita ke suatu tempat. " Jawab Firza.


Selama perjalanan Firza tetap diam dan tidak mengajak bicara pada Dania, sedangkan Dania memulai obrolan Firza tidak menyahut nya.


Hingga mobil berhenti di sebuah jalanan sepi dengan hamparan sawah yang masih hijau. Firza pun keluar dari mobil dan berdiri menatap hamparan sawah.


"Loh kok kemari sih? Saya kira kemana. " Ucap Dania.


"Kamu benar suka sama saya? " Tanya Firza dan membuat Dania tersentak kaget.


"Ka - kata Luna? " Tanya Kembali Dania.


"Luna tidak pernah cerita. " Jawab Firza bohong.


"Terus kata siapa? " Tanya Dania.


"Kamu tanya, seharusnya kamu jawab bicara tentang hati kamu sama siapa saja. " Jawab Firza.


"Jujur, iya Saya suka sama kamu."


"Berarti tahu kan kalau kita mau di nikah kan?"


"Iya tahu, tapi apa kamu mau? "


"Mau tidak mau ya harus mau. Kamu senang kan, akhirnya sebentar lagi mau jadi istri saya."


"Apa kamu tidak suka? "


"Saya tidak suka dengan cara nya. "


"Maaf kalau Saya mencintai kamu."


"Asal kamu tahu, Saya itu mempunyai wanita di luar sana. Dan kami saling mencintai, dan kamu tahu wanita itu lebih baik mengalah karena tahu hubungan kami tidak di restui."


"Apa boleh tahu siapa wanita itu? "


"Harus tahu, kamu memang harus tahu."


"Siapa Firza? "


"Luna, kamu tahu Luna itu pacar Saya. " Ucap Firza dengan suara yang sangat lantang.


"Nggak mungkin, Luna suka sama kamu. Dia itu mendukung Saya untuk mencintai kamu."


"Asal kamu tahu Dania, demi kamu dia rahasia kan semua nya sampai kami putus dia bilang jangan bilang sama Dania. Kamu tahu putus nya sama sama kamu gara - gara orang tua kamu dan orang tua Saya. Kamu tahu, Saya di putus kan sama dia. Dia itu pergi sekarang, tanpa ucapan lain, bahkan panggilan Saya di bandara dia tidak hiraukan. Kamu sadar tidak nomer ponsel nya tidak aktif, dia blokir nomer Saya dan kamu."


"Luna tidak seperti itu. "


"Kalau kamu tidak percaya, datangi dia kesana. "


*****


"Nanti obat nya di minum ya Bu. " Ucap Luna pada seorang pasien ibu - ibu yang mengalami gatal - gatal.

__ADS_1


"Bu Dokter, ini obat nya di minum semua? " Tanya nya.


"Iya, tapi satu yang ini, tablet nya di minum kalau merasakan gatal saja. " Jawab Luna sambil menunjuk pada tablet tersebut.


"Oh baik Bu Dokter, terima kasih."


"Sama - sama. " Ucap Luna.


Luna memegang hidung nya yang mulai berdarah lagi, lalu dengan segera mengusap nya dengan tisu. Kepala Luna tundukkan untuk darah mimisan nya keluar tuntas tidak masuk lagi.


"Luna, kita makan yuk. " Ajak Roni masuk dan melihat Luna tengah tertunduk.


"Kamu kenapa? " Tanya Roni.


Luna mengangkat wajah nya, sebelum nya langsung membuang tisue bekas ada darah nya.


"Kenapa Roni? "


"Kamu kenapa? Sakit? "


"Nggak kok, mungkin capek. "


"Oh, kirain kenapa - napa. Makan yuk."


"Yuk, kita makan dimana? "


"Biasa lah kantin, kalau cari pizza kan nggak mungkin. "


"Kamu itu bisa saja. " Ucap Luna tersenyum.


****


Hilda dan Danil sudah berada di kantin duluan dan mereka sedang minum es teh manis.


"Sudah, tinggal nunggu." Jawab Danil.


"Luna, kamu sakit ya? " Tanya Hilda.


"Mungkin capek. " Jawab Luna.


Danil melirik ke arah Luna, namun Luna dengan malas berusaha tidak membuat suasana jadi panas.


"Makanan nya siap. " Ucap Ibu kantin sambil membawa pesanan makan siang berupa nasi liwet.


"Wah, nasi liwet nya mantap. Makasih Dokter Danil sudah traktir kita. " Ucap Hilda.


"Makan yuk. " Ajak Danil.


Luna merasakan tidak nafsu makan, bahkan merasakan perut yang mual. Dengan menahan nya Luna minum teh hangat yang tadi di bawa oleh pelayan kantin.


"Kamu nggak makan? " Tanya Roni.


"Nggak Roni, makasih. Saya nggak nafsu makan." Jawab Luna.


"Mau makan yang lain? " Tanya Roni.


"Nggak, Saya benar nggak nafsu." Jawab Luna.


***


"Luna." Panggil Danil sambil menahan lengan Luna.

__ADS_1


"Lepasin." Ucap Luna sambil menurunkan tangan Luna.


"Kamu kenapa sih, sama saya masih benci terus? "


"Sakit hati Saya tidak bisa kamu obati."


"Saya minta maaf Luna, Saya mohon. "


"Mending kamu jangan dekati Saya lagi. "


"Kamu sakit Luna. " Ucap Danil.


Luna menoleh ke arah Danil dan tersenyum kecut ke arah nya.


"Mau Saya sakit mau tidak, itu bukan urusan kamu. " Ucap Luna melanjutkan langkah nya.


****


"Kamu nggak mau di cek? " Tanya Hilda saat memijat punggung Luna.


"Mungkin Saya kecapean Hilda, ini semua nyeri banget. " Jawab Luna.


"Maaf ya Lun, ini pinggang sama dada kamu beda loh, menurut Saya sebagai Dokter kandungan. Makan nya Saya minta kamu cek? " Ucap Hilda.


"Kamu pikir saya hamil? " Ucap Luna


"Maaf." Ucap.


*****


"Apa mungkin saya hamil? " Ucap Luna memegang perut nya.


"Memang sih, saya sekarang telat." Ucap Luna kemabli.


Luna pun mengambil alat tes kehamilan yang dia ambil di rumah sakit. Dengan ragu Luna membawa ke kamar mandi.


Luna menatap hasil tespack tersebut, dengan tersenyum sambil mengusap perut nya.


"Welcome sayang, tapi maaf kan Mamah nak." Ucap Luna terisak.


*****


Firza menatap nomer ponsel Luna, yang masih tidak bisa di hubungi. Rasa sesak bila mengingat namanya , Firza mencoba mengetik pesan walau tidak terkirim.


Luna Babe


Sayang, apa kamu tidak kangen? "


Pesan pun terkirim dan hanya centang satu, di rebahkan tubuh nya di atas tempat tidur sambil menatap langit - langit.


"Kamu meminta kita begini, Saya jujur tidak mau. Tapi bila kamu memang memaksa Saya akan pergi tapi asal kamu tahu hati Saya tidak akan pernah berubah akan terus mencintai kamu. "


****


Luna menatap nomer ponsel Firza yang di masukan kedalam kontak hitam, Luna ingin membuka blokiran nomer Firza namun di urungkan kembali.


"Saya tidak mau merusak hubungan kedua orang tua saya. Saya sadar diri, kebahagiaan mereka itu penting. Apalagi persahabatan yang sudah terjalin puluhan tahun. Mamah akan membesarkan kamu nak, walau tanpa Papah. "


Luna merasakan nyeri kembali di bagian punggung nya, dengan segera di rebahkan di atas tempat tidur.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2