Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Menerima Kamu Apa Adanya


__ADS_3

"Alhamdulillah, bisa pulang. Nanti berobat jalan saja. " Ucap Dokter Husen.


"Apa sudah lebih baik Dok, penyakit saya? " Tanya Luna.


"Masih belum ada perubahan, saya sarankan nanti minggu depan kita kemo. " Jawab Dokter Husen.


"Nggak Dok, kalau kemo nanti tubuh saya hitam dan rambut pun rontok. "


"Hanya itu jalan nya, bila terkena kanker harus kemoterapi. "


"Saya tidak mau Dok. "


"Kamu kan seorang Dokter, pasti tahu lah cara pengobatan. Kemoterapi itu menghambat sel kanker kamu. "


"Tapi saya nanti tidak cantik lagi Dok, saya akan botak. "


Dokter Husen tersenyum dan menatap ke arah Luna, Luna hanya diam menatap malas ke arah Dokter Husen.


"Om yakin, Firza tidak akan pernah berpaling dari kamu. "


****


Luna di papah oleh Firza masuk kedalam rumah nya, Luna kini tinggal di rumah Firza. Ibu Sinta membantu membawa tas pakaian Luna dan Pak Prabu pun membawakan alat medis lainnya.


"Firza, kamu bisa kan? " Tunjuk Pak Prabu pada selang infus dan beberapa obat - obat an yang di masukan ke selang infus.


"Bisa Pah, tenang saja. " Ucap Firza.


"Kalau di perlu kan darurat pakaikan saja, dan ada satu tabung oksigen. "


"Papah ini, rumah malah jadi rumah sakit."


"Antisipasi, kamu pasti menolak kalau nanti di rawat di rumah sakit, katanya kemo saja kamu menolak. " Ucap Pak Prabu.


"Yank, kamu menolak untuk kemo? "


"Iya, saya nanti jadi nya nggak cantik. "


"Ya Allah sayang, kamu akan tetap cantik dimata suami kamu. "


Ibu Sinta dan Pak Prabu tersenyum menatap menantu nya yang perhatian.


****


"Yank, sudah dong jangan pijit kaki terus. "


"Kenapa? "


"Capek Yank, mending istirahat. "


Firza memeluk tubuh Luna, di cium nya bibir Luna lalu berpindah ke kening Luna.


"Yank, sejak menikah saya belum pernah mengurus suami ,malah suami yang mengurus istri." Ucap Luna.


"Jangan pikirkan itu, sembuh saja dulu. "


"Kalau saya tidak bisa melayani layak nya seorang istri, apa akan cari wanita lain di luar sana? "


"Kenapa sih, kamu bicara seperti itu. Suami kamu itu bukan tipe pria yang seperti itu."


"Tapi kalau istri nya tidak berdaya bagaimana? "


"Stop, jangan lanjutkan. " Ucap Firza langsung memejamkan kedua mata nya dan berpura - pura untuk tidur.


****

__ADS_1


"Prof, saya serahkan file tesis saya. Maaf belum bisa bertemu sama Profesor Nugroho." Ucap Luna dari panggilan video nya.


"Tenang Luna, kamu fokus saja sama kesehatan kamu. Kemarin juga Danil telepon saya, dia juga banyak cerita tentang kamu."


"Dia pasti masih belum berani untuk menghubungi saya. Salam saja buat Danil." Ucap Luna.


"Nanti saya akan sampaikan salam kamu. "


Luna pun menutup panggilan dari Profesor Nugroho, dan langsung menatap layar Laptop yang menunjukkan laporan tesis nya.


****


Firza memilih beberapa kue di toko kue, Dania melihat Firza dan langsung mendekat.


"Setiap kamu belikan kue sus, pasti kamu belikan untuk saya. " Ucap Dania.


"Kamu mau? " Tanya Firza.


"Boleh." Jawab Dania.


"Mba, kue sus nya 5 lagi tapi minta di pisah." Ucap Firza pada pelayan toko kue.


"Udah itu saja? " Tanya Pelayan toko kue.


"Udah mba, cukup. " Jawab Firza.


"Makasih, kamu masih tetap jadi sahabat setia. " Ucap Dania.


"Kalau begitu, saya duluan. " Ucap Firza pergi meninggalkan Dania.


Dania menatap punggung Firza yang naik ke atas motor, hingga Firza melesat jauh.


"Kamu sekarang beda sama saya Firza. " Ucap Dania dalam hati.


*****


"Sama - sama sayang. " Ucap Firza.


Luna memakan kue sus nya sampai habis dan iseng memainkan ponsel nya dan membuka semua blokiran nomer telepon. Firza mendengar notifikasi pesan masuk saat melihat pesan yang di kirim ke Luna terkirim.


"Yank, kamu akhirnya buka blokiran ya? " Tanya Firza.


"Iya." Jawab Luna.


"Tega kamu yank, udah nikah beberapa hari baru di buka. " Firza langsung menciumi perut Luna yang sedang bersandar di kepala ranjang.


Luna menatap pada satu status, yang memperlihatkan kue sus dengan kotak yang sama persis seperti kotak kue yang di beli oleh Firza.


Terima kasih, untuk kue sus tanda sayang.


Luna menatap ke arah Firza yang sedang memainkan kancing piyama Luna, Firza pun menatap Luna saat tahu dirinya sedang di perhatikan.


"Kenapa? "


"Tadi ketemu sama Dania? " Tanya Luna.


"Iya, kenapa? " Tanya kembali Firza dan langsung memperlihatkan status Dania yang memposting kue sus yang di belikan oleh Firza.


"Katanya, kesal sama pria yang meninggalkan di hari pernikahan, tapi saat di belikan oleh pria itu malah posting beginian. "


"Dia yang minta, katanya kalau beli kue sus buat kamu Yank, dia juga di belikan. "


"Itu dulu kan? "


"Maaf ya, nggak tahu kalau Dania posting begini. Jangan cemburu ya, nggak ada maksud apa - apa. "

__ADS_1


"Mulai sekarang , tidak mau makan kue sus lagi. "


"Iya deh, maaf ya. "


"Iya, saya maafkan. "


*****


Luna merasakan sakit di seluruh tubuh nya, terlihat tubuh nya yang semakin kurus. Luna mencoba memasak untuk Firza namun tak mampu untuk berdiri lama.


"Sayang." Ucap Firza langsung mematikan kompor dan mengangkat tubuh Luna sampai di sofa.


"Kamu sedang apa sih? Ngapain tadi? " Ucap Firza.


"Tadi coba buat sarapan untuk Ayank, kan mau berangkat dinas. " Ucap Luna.


"Nggak usah, mending diam diri di kamar atau menonton televisi. "


"Sebagai seorang istri, saya nggak bisa apa - apa. Sudah membuat Ayani repot. "


"Sudah ya, mending istirahat. Biar nanti suami kamu yang masak, tapi sekarang sudah telat mau Apel pagi jadi nanti tak pesan kan dari aplikasi. "


"Maaf ya. "


"Ssssttt, sekarang berangkat dulu. " Ucap Firza langsung mengecup kening Luna.


Setelah Firza berangkat, terdengar suara ketukan pintu, Luna berusaha untuk jalan walau pelan.


"Pasti kurir pengantar makanan." Ucap Luna.


Tok.. tok...


"Ya sebentar. " Ucap Luna langsung membuka pintu rumah nya.


Ceklek


Luna menatap Dania yang kini berdiri di depan nya dengan membawakan sesuatu dan langsung menyerah kan pada Luna.


"Ini tadi, ada kurir yang mengantar makanan untuk kamu. " Ucap Dania.


"Makasih, masuk Dan. " Ucap Luna.


Dania kini duduk berhadapan dengan Luna mereka lama saling diam, Luna pun akhirnya memulai pembicaraan.


"Kamu kemari ada perlu apa? "


"Saya ingin tahu keadaan kamu saja. "


"Kamu sudah tahu kan, keadaan saya begini."


"Kamu kenapa tidak menyerah saja? "


"Menyerah dalam rumah tangga? "


"Iya, apa kamu tidak memiliki pikiran kalau seorang pria tidak pernah di beri nafkah bathin apa dia akan tetap setia? "


"Kalau itu sering saya katakan, tapi suami saya sayang nya bukan tipe yang seperti itu."


"Sekarang Luna, tapi nanti dia akan jenuh. " Ucap Dania yang membuat senyuman Luna berubah menjadi sendu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2