Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Ikhlas Melepaskan


__ADS_3

Tengah malam, Luna terbangun merasakan nyeri di bagian perut nya, tangan nya meremas perut nya yang sakit hingga membuat rasa sesak di dada nya.


Terlihat Firza yang sedang tertidur lelap, di atas sofa panjang. Luna terus meremas perut nya hingga terlihat darah yang keluar dari celah kaki.


"Yank..... tolong yank....!!! " Teriak Luna.


Firza terbangun dan kaget dengan nyawa yang belum terkumpul, berlari mendekat ke arah Luna.


"Yank... sakit yank...!!! " Ucap Luna sambil memegang tangan Firza.


"Astagfirullah, Yank darah Yank..!! "


"Cepat panggil Dokter Yank, sakit...!!! "


Firza pun segera keluar dan memanggil Dokter, Dokter pun masuk bersama perawat langsung mengecek kondisi Luna.


Luna pun dengan segera di bawa ke ruang UGD, untuk di berikan tindakan. Firza dengan panik menghubungi Papah mertua nya untuk segera datang ke rumah sakit.


"Cepat ya Pah, Luna pendarahan." Ucap Firza dari panggilan telepon nya.


"Nanti papah sama Mamah kesana sekarang." Ucap Pak Prabu dari seberang.


"Firza." Ucap Dokter Husen.


"Bagaimana Dok? " Tanya Firza.


"Maaf, setelah di periksa kandungan tidak bisa di selamat kan. " Jawab Dokter Husen membuat Firza langsung lemas seketika.


"Maaf ya, kami sudah berusaha. Seperti nya anak dalam kandungan istri kamu tidak bisa bertahan. "


"Bagaimana saya harus bilang pada Luna." Ucap Firza frustasi.


"Pelan - pelan ya. "


Firza berjalan ke arah Luna, terlihat Luna masih lemas berusaha tersenyum ke arah Firza.


"Yank, anak kita baik - baik saja kan? " Tanya Luna.


Firza mendekat, dan menggenggam tangan Luna, terlihat kedua mata Firza memerah menahan rasa sakit setelah apa yang menimpa keluarga.


"Yank, kamu kenapa? anak kita baik - baik saja kan? "


"Maaf, suami kamu harus mengatakan sesuatu yang buruk. " Ucap Firza.


"Nggak, itu nggak mungkin. Pasti bohong." Ucap Luna.


"Anak kita tidak bisa di selamat kan. "


Hiks.. hiks.. hiks...


"Nggak mungkin, itu nggak mungkin....!!! " Luna berteriak histeris bertepatan Pak Prabu dan Ibu Sinta masuk.


"Anak kita nggak boleh meninggal hiks. hiks.. hiks.. nggak boleh...!! "

__ADS_1


"Ikhlas ya sayang, anak kita sudah ada di surga. " Ucap Firza menenangkan.


"Sayang, sabar ya. " Ucap Ibu Sinta.


Hiks.. hiks.. hiks...


"Saya benci tubuh Luna, saya benci. Ini gara - gara penyakit sialan.... membuat anak saya meninggal dunia, saya benci.. tubuh ini benci kenapa nggak meninggal semua nya kalau begini, hiks.. hiks.. hiks... "


"Jangan bicara begitu Yank, bukan salah kamu, karena anak kita memang lemah. " Ucap Firza.


"Benar sayang, anak kamu sekarang sudah tenang di surga tidak merasakan ikut sakit seperti mamah nya. Allah memberikan yang terbaik, kamu harus ambil hikmah nya. " Ucap Pak Prabu.


"Nggak, ini tetap salah Luna. Saya benci tubuh ini membuat anak saya meninggal dunia. " Teriak Luna.


Dokter pun lalu masuk dan langsung memberikan suntikan penenang pada tubuh Luna, dan kini Luna tak sadarkan diri.


Hiks.. hiks.. hiks...


"Pah, Luna pasti shock. " Ucap Ibu Sinta langsung memeluk tubuh Pak Prabu.


"Wajar Luna seperti itu, kita juga sama merasakan kehilangan. " Ucap Pak Prabu.


****


"Sayang, kamu sudah bangun. " Ucap Firza sambil membelai lembut pipi Luna.


"Anak kita mana Yank? " Isak Luna.


"Anak kita sekarang sedang bermain di surga, sama bidadari. " Ucap Firza sambil menahan agar tidak menangis.


"Kenapa Allah ambil anak saya, kenapa? Hiks.. hiks... "


"Ssssttt nggak boleh bicara begitu, jangan bicara begitu nggak baik. Allah mengambil nya dari kita karena ini yang terbaik buat anak kita. Surga jaminan anak kita disana, suatu saat nanti kita akan bertemu dengan nya. "


"Kenapa, tidak ambil nyawa saja sekalian, kenapa saya harus di siksa dengan penyakit seperti ini. "


"Jangan bicara begitu, insya Allah pasti sembuh. "


"Saya nggak akan sembuh Yank, saya akan berubah tidak cantik lagi. Kamu lihat kan Yank, tubuh saya yang sudah kurus begini. Lebih baik kita cerai saja, kamu pergi tinggalkan saya. "


"Kamu bicara apa sih, saya nggak akan tinggalkan kamu. Bagaimana nanti bentuk kamu karena penyakit, saya nggak akan tinggal kan kamu. "


"Tapi saya sudah tidak bisa apa - apa Yank, bagaimana mau melayani suami. "


"Cukup Luna, sekali lagi kamu bicara begitu saya pergi sekarang. "


"Pergi sana, pergi.. buat apa kamu disini habis kan waktu untuk orang penyakitan. Lagian kita tidak ada ikatan kuat lagi, anak sudah tidak ada. Jadi cerai kan saya sekarang. "


"Cukup Luna, cukup. Saya nggak akan ceraikan kamu. Sekali lagi kamu bicara begitu, saya pergi. "


Hiks.. hiks.. hiks...


"Kamu kenapa pergi secepat ini sayang. " Ucap Luna sambil mengusap perut nya.

__ADS_1


****


"Kamu kok duduk di sini? " Tanya Ibu Sinta melihat menantu nya yang duduk di luar kamar.


"Saya lebih baik menghindari Luna. " Jawab Firza.


"Kenapa? katakan sama Mamah. " Ucap Ibu Sinta.


"Luna minta cerai. " Ucap Firza.


"Astagfirullah, itu anak kenapa bilang seperti itu. "


"Demi Allah Mah, saya menerima Luna apa adanya. Walau nggak ada anak, saya akan tetap disisi nya. "


"Nanti mamah bicara sama Luna. "


****


"Kamu nggak boleh bicara begitu sayang, Firza menikahi kamu itu bukan karena tanggung jawab ada anak, tapi mencintai kamu juga. Firza akan tetap jadi suami kamu." Ucap Ibu Sinta menjelaskan pada pada putri nya.


"Kapan Luna bahagia Mah, kapan Luna menikmati kebahagiaan. " Ucap Luna.


"Insya Allah, kamu bisa melewati ujian hidup. Kalau Allah kasih kamu ujian, berarti Allah sayang sama Luna, dan menyadarkan Luna untuk tetap ingat sama Allah. " Ucap Ibu Sinta memeluk putri nya.


"Tapi saya sebagai istri tidak sempurna Mah, tidak bisa membahagiakan suami. "


"Ada banyak cara, untuk membahagiakan suami. "


Dari balik pintu Firza menguping pembicaraan istri dan Mamah mertua nya. Firza mengusap air mata yang keluar dari sudut kedua kelopak mata nya.


****


Firza pun masuk, setelah Mamah mertua nya pulang, Luna masih memalingkan wajah nya saat sang suami mendekat.


"Gimana rasa nya? baikan atau masih ada yang dirasa? " Tanya Firza pelan.


"Saya ingin sendiri, tidak mau bicara dulu. " Jawab Luna.


"Ya sudah, kalau begitu mamah istirahat, Papah mau ke kantin dulu. "


Setelah Firza pergi, Luna menangis. Firza pun melihat dari balik pintu saat tahu istrinya menangis.


"Bagaimana pun kondisi kamu, saya tidak akan pernah meninggalkan kamu Luna. Sampai maut memisahkan kita, saya ikhlas merawat kamu. Saya ikhlas menerima kamu apa adanya. Iklhas, Ikhlas karena cinta saya sama kamu sangat besar. "


Sedangkan di dalam kamar, Luna terus menangis, merasakan kehilangan janin yang dirinya berusaha di pertahankan.


"Maaf kan Mamah nak...!!!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2