Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Kewajiban


__ADS_3

Andi sudah sampai di tempat tugas yang baru, tempat tugas yang jauh dari perkotaan. Banyak penduduk desa, yang hilir mudik membawa hasil panen, dan beberapa orang membawa kerbau untuk membajak di sawah.


Andi tersenyum, melihat anak - anak kecil tanpa alas kaki bermain perang - pegangan, bahkan terlihat para wanita nya sebagian wanita dewasa bahkan remaja sedang membuat anyaman dari bambu.


"Mau di buat apa ini? " Tanya Firza.


"Mau di buat kipas. " Jawab salah satu Ibu - Ibu.


"Di jual nya kemana? " Tanya kembali Firza sambil melihat beberapa kerajinan tangan dari bambu lain nya.


"Di jual kota, nanti salah satu dari kami akan pergi ke kota. " Jawab nya.


"Kota itu jauh dari sini, kalian jual berapa? "


"Satu kipas ini kita jual 30 ribu. "


"Ada untung nya tidak? "


"Ada lah Pak. "


"Fir, orang sini hasil panen nya itu bagus, mereka nggak akan kelaparan. Tapi untuk pegangan uang mereka jual ke kota, makan nya harga sayur, dan bahan pokok lain nya mahal karena jauh nya pemasok." Ucap Lukman.


"Apalagi jarak angkutan yang lumayan jauh, dan jarang lagi. "


"Tapi lebih parah si Robby, dia kalau ke kota berangkat sekarang kalau telat pulang nya besok bisa pulang. "


"Robby itu di tempat tugas istri saya dulu."


"Dokter itu ya? "


"Iya, selama dia sakit, dia di bawa pulang."


"Terus sekarang, kabar istri kamu gimana? "


"Alhamdulillah baik, ada banyak perkembangan. "


"Istri kamu itu terkenal, dia di juluki selebritis Dokter. "


"Dia wanita hebat, dia wanita kuat. Dia sempat hamil anak saya, tapi keguguran karena penyakit nya. "


"Sabar ya, suatu saat akan indah pada waktu nya. "


"Amin, ya Allah. "


"Pak , ini ada tas dari bambu." Ucap salah satu gadis desa yang menghampiri Firza dan Lukman. Di ketahui anak kepala suku setempat.


"Ini buat siapa? "Tanya Lukman.

__ADS_1


" Buat Pak Firza. " Jawab nya.


"Aduh dek, jangan panggil Bapak, seperti udah tua. " Ucap Firza tertawa bersama Lukman.


"Saya panggil Abang. "


"Terserah lah, mau bapak atau Abang. Makasih ya saya terima." Ucap Firza mengambil tas bambu dari anak kepala suku yang di ketahui bernama Mulan.


Mulan tersenyum, namun senyum nya sirna saat melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Firza.


"Abang sudah menikah? "


"Kenapa? "


"Nggak apa - apa. "


"Ini bagus, kalau di jual di kota berapa? "


"200 ribu. "


"Wow..!! " Ucap Firza.


***


"Mulan kayaknya suka sama kamu deh. " Ucap Lukman.


"Hak dia, tapi dia nggak akan bisa memiliki saya. " Ucap Firza sambil menatap tas pemberian Mulan yang tergeletak di atas meja.


"Semoga paham. "


"Ayah nya itu baik, dia ramah banget sama kita, saat pertama datang, yang saya ingat. Dia ada pesta, bawakan buat kita satu ekor kambing guling, malah pernah bilang, kalau perayaan pernikahan, dia sumbang satu ekor sapi. "


"Kaya juga ya. "


*****


Firza tersenyum, saat melihat video kiriman dari Mamah mertua nya, terlihat Luna sudah mulai berjalan sendiri, tubuh nya pun sudah sedikit berisi.


"Alhamdulillah, melihat kamu begini saja sudah senang. " Ucap Firza.


Telepon pun berdering, tertera mamah mertua nya yang menelepon, Firza langsung mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum Mah. "


"Walaikumsalam, kamu sudah lihat kan? "


"Alhamdulillah Mah, Luna masih suka tanya saya nggak Mah? "

__ADS_1


"Nggak, tapi nggak tahu hati nya sih. "


"Besok saya transfer uang nya, begitu gaji masuk langsung saya transfer. "


"Fir, lebih baik kamu simpan. Biaya nya juga mahal, kamu kirim juga Mamah belum pakai, uang yang di ATM kamu, dua bulan juga bisa langsung habis. "


"Mamah, buat Luna perkiraan butuh berapa ratus juta lagi? "


"Kalau di hitung - hitung banyak, biar Mamah sama Papah saja, maaf bukan maksud menghina, ini akan memberatkan kamu."


"Mah, saya rela jual apa saja yang saya punya, demi Luna, tolong Mamah Terima, saya tidak mau. dari Mamah atau Papah, tolong Mah. "


"Kamu mau jual apa disana? "


"Ada rumah, mobil sama motor, sampai lah 500 juta. "


"Nggak jangan, tabungan kamu juga, beberapa ratus juta hanya beberapa bulan habis. "


"Nggak apa - apa Mah, nanti Firza bisa cari - cari lagi. Tolong Mah, biar saya menjadi suami yang bertanggung jawab. Tolong pakai, kalau Mamah tidak ingin pakai untuk berobat, pakai untuk lain nya saja, keperluan Luna lain nya. "


"Ya sudah, Mamah akan gunakan. "


"Iya Mah, berapa aja, kalau kurang Mamah tinggal bilang, Firza akan cari. "


*****


"Mamah, habis telepon sama siapa? " Tanya Luna yang tiba - tiba sudah berada di belakang Ibu Sinta, saat berada di balkon rumah sakit.


"Oh, bukan siapa - siapa, teman mamah. " Jawab Ibu Sinta langsung mengajak Luna masuk ke dalam.


"Siapa yang akan jual, buat keperluan Luna? "


"Siapa? Tadi nggak ada yang bilang. "


"Mamah jangan bohong. "


"Kamu kenapa sih? Mamah nggak pernah bohong. "


"Luna tahu, selama ini Mamah berhubungan sama Firza, Lun dengar saat Lun tidur mamah berbisik masalah transfer uang, Mamah tahu Luna benci sama Firza. "


"Luna, memang benar, Firza selama ini mengirim uang untuk pengobatan kamu. Tapi Mamah belum pakai, dia minta Mamah harus pakai uang ini, dia juga akan jual rumah, mobil dan motor nya untuk kamu. Coba lihat, Firza itu suami yang bertanggung jawab, dia rela apa saja untuk kamu. Kenapa kamu mau lepaskan pria seperti dia, hanya karena kelakuan orang tua nya. Kalau Mamah jadi kamu, Mamah akan pertahankan pernikahan, kamu jangan ikuti apa kata Papah kamu, papah kamu bicara seperti itu karena sakit hati. Kamu pikirkan baik - baik, tidak ada lelaki seperti Firza, pernah kah dari dulu Mamah benci Firza, saat kesalahan, saat karena keadaan demi persahabatan, hati orang tua menerima apa ada nya, tapi mungkin papah kamu berubah karena kelakuan orang tua nya, tapi kalau Mamah jadi kamu, mamah akan tentang, akan tetap bersama suami pilihan Mamah. Orang tua akan luluh, masa bodoh dengan mertua. "


"Saya hargai kalian, saya capek Mah. Capek di perlakuan seperti ini. "


"Hati kamu dan ucapan itu bohong, hati kamu masih sayang sama Firza. Kamu yang munafik, kamu yang sok nggak mau memiliki dia lagi. Jauh - jauh dari sana kesini demi kamu, ternyata kamu sama Papah malah menolak mentah - mentah. Kamu nggak pikir, dia kesini pakai tenaga dan uang yang nggak kecil, dia duduk di halte kedinginan, mamah rangkul dia, bermalam di apartemen, Mamah ini orang tua, memiliki perasaan, melihat seorang anak yang tengah sedih di negara orang, tidak ada saudara atau teman. Mana perasaan kamu. "


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2