
"Maaf." Ucap Firza dengan raut wajahnya yang sedih.
"Nggak apa - apa, ikhlas kan ya. " Ucap Luna sambil menenangkan suami nya dari jarak jauh.
"Suami kamu nggak punya apa - apa lagi, tadi nya mau di ambil beberapa buat beli rumah yang ukuran sedang aja, tapi boro - boro buat beli rumah atau kasih ke kamu, malah habis begitu saja tanpa permisi. "
"Kita juga tidak tahu, Janji apa yang sudah di rencanakan malah berbanding terbalik. Mau gimana lagi, sudah terjadi Yank, Ayank mau protes aja juga percuma. " Ucap Luna.
"Iya, tapi kenapa tega banget. Malah di pakai tanpa permisi, padahal kalau pun bilang dan minta, akan di kasih entah itu dari mana asal nya, bisa usahakan. "
"Jangan benci mereka ya, bagaimana juga mereka keluarga Ayank, dan keluarga saya juga . "
"Benci tidak, tapi kesal nya nggak akan bisa hilang satu atau dua hari. "
*****
"Jadi, mereka pakai? " Ucap Aldi saat menerima panggilan telepon dari Firza.
"Iya Bang, sudah saya nggak punya apa - apa lagi, buat biayai Luna. " Ucap Firza dari seberang.
"Mereka itu ya, yang nakal ini pasti Irfan. Dia itu memang dari dulu nggak ada rubah nya, masalah uang nggak bisa di diam kan. Pantas di cerai istri nya, orang nya begitu. " Ucap Aldi kesal.
"Saya nggak enak Bang, apa kata mertua. Saya sebagai suami jadi terlihat lempar beban, padahal saya nggak seperti itu malah sedang berusaha. "
"Yang penting kan mereka tahu kenyataan , seperti ini. "
"Iy, tapi tetap saja Bang. Sekarang hanya mengandalkan gaji untuk bantu Luna, itu hanya seberapa nggak ada arti nya, dalam arti masih kurang. "
*******
"Irfan, otak kamu itu dimana? Adik kamu sedang butuh uang buat berobat istri nya, malah kamu ambil. " Ucap Aldi dengan nada tinggi.
"Kamu di suruh Firza ya buat negur saya, tolong bilangin jangan tegur kakak nya aja, tegur juga Ibu sama Ayah, uang nya mereka menikmati juga. "
"Tapi kamu yang mulai, saya yakin. Kalau kamu nggak mulai, orang tua kamu nggak akan ikut - ikutan an. " Ucap Aldi.
"Seharusnya kamu sebagai Kakak, bisa menjadi contoh adik nya. Bisa menasehati orang tua, ini malah mengajak di jalan yang salah, kalian itu memang benar - benar keluarga yang keterlaluan. " Ucap Aldi kembali.
"Berisik kamu, mending kamu pulang, jangan ikut campur urusan orang. Pulang sana, hus.. hus... " Ucap Irfan mengusir.
"Ingat, karma. " Ucap Aldi lalu pergi.
*****
"Jadi uang 500 juta milik Firza, hasil jual rumah, mobil sama motor habis di makan keluarga nya? " Ucap Ibu Sinta terkejut.
"Benar Mah, kata Firza itu sebenarnya buat biaya berobat Luna, dan beberapa mau di ambil buat beli rumah yang ukuran kecil aja, tapi malah uang nya di ambil keluarga nya, suruh urus jual beli. " Ucap Luna.
"Paling juga alasan saja. " Celetuk Pak Prabu.
"Nggak Pah, Firza nggak akan bohong. "Ucap Luna.
" Benar Pah, apa yang di katakan Luna. Nggak mungkin Firza bohong. " Ucap Ibu Sinta.
__ADS_1
"Kamu lihat, keluarga nya. Kata Papah juga apa, sudah cerai saja. Sampai tahun berapa juga, itu keluarga nya bakal buat masalah. " Ucap Pak Prabu.
"Pah, ini bukan salah Firza, keputusan meminta cerai sama Firza itu salah. Firza nggak salah, jadi nggak pantas kalau saya minta cerai saja, alasan karena keluarga. "
"Karena Ini akan membuat mereka jera."
"Nggak Pah, nggak. Suami saya hanya korban. "
"Terserah kamu, Papah hanya akan menjadi penonton. "
"Pah, seharusnya Papah sebagai orang dua, nggak bicara begitu. Biarkan mereka bahagia, walau di balik kebahagiaan mereka ada sedikit rintangan. Kalau mereka cinta nya semakin kuat, walau keluarga nya brengsek, insya Allah mereka baik - baik saja. Karena Luna menikah dengan Firza , bukan dengan mereka. " Ucap Ibu Sinta.
"Insya Allah, menantu kita dapat rejeki kembali yang lebih. " Ucap Ibu Sinta kembali.
*****
"Mario, mumpung kamu ada disini, kamu tolong kasih pelajaran sama Irfan dan Wahyu." Ucap Ibu Sinta.
"Pelajaran? " Ucap Mario.
"Iya, pelajaran agar membuat nya mereka sadar. Saya tidak ikhlas dan tidak rela, mereka memakan uang milik menantu saya. "
"Ok kak, saya akan lakukan apa yang kakak perintah kan. "
"Biar mereka kapok. "
*****
"Ya Bund, nanti pulang kerja Dania beli." Ucap Dania yang sekarang bekerja sebagai perawat Lansia.
"Kamu punya uang? "
"Masih ada sisa gaji. "
"Maaf Kak, kalau menyusahkan kamu. "
"Nggak apa - apa Bund, nanti saya akan belikan obat nya. "
Dania pun lalu pamit dan akan pergi bekerja, berjalan kaki Dania pulang pergi, hingga sampai di halte bisa.
Aldi melihat Dania, lalu mobil nya pun berhenti tepat di depan Dania.
"Dania, kamu mau kemana? " Tanya Aldi.
"Eh Bang Aldi, saya mau kerja. " Jawab Dania.
"Kamu ikut Abang yuk, sekalian. " Ucap Firza.
Dania menganggukkan kepala nya, dan masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh Aldi.
"Kamu sekarang kerja dimana? " Tanya Aldi memulai pembicaraan.
"Kerja merawat Lansia. " Jawab Dania.
__ADS_1
"Dimana? "
"Sebuah panti jompo. "
"Kamu kenapa nggak coba melamar ke sebuah rumah sakit saja. "
"Abang lupa ya, kalau nama saya di blacklist."
"Iya, Abang lupa. Maaf ya. "
"Nggak apa - apa Bang, sekarang hidup kamu berubah 180 derajat. Mungkin ini adalah teguran buat saya, dan keluarga. "
"Abang bisa bantu apa buat kamu? "
"Bantu apa Bang? Bantu keadaan seperti dulu, percuma Bang, tidak akan pernah bisa. "
"Kabar Om Surya bagaimana? "
"Ayah sakit - sakit sekarang, setelah kehilangan semua nya, Ayah langsung jatuh sakit. " Ucap Dania.
"Sakit apa? "
"Komplikasi, padahal anak nya Dokter, tapi nggak bisa berbuat apa - apa, jangan kan beli obat untuk makan juga susah. "
Aldi hanya diam sambil fokus ke arah jalanan lurus, Aldi melirik ke arah Dania yang sedang mengusap sudut mata nya.
"Bang, stop di depan. " Ucap Dania.
Aldi pun memberhentikan mobil nya tepat di sebuah panti jompo, Dania melepaskan safe belt nya.
"Dania ini ada sedikit buat Om Surya beli obat." Ucap Aldi sambil membuka dompet nya.
"Jangan Bang, jangan. Saya ada kok. " Ucap Dania menolak.
"Terima lah, rejeki buat Om Surya beli obat." Ucap Aldi memaksa.
"Ya Allah Bang, saya begini amat. " Ucap Dania sambil mata nya berkaca - kaca.
"Ambil, kamu nggak usah sungkan, kalau butuh apa - apa hubungi Abang. "
"Saya cerita bukan maksud memelas. "
"Saya tahu, ini ikhlas dari saya. " Udah Aldi sambil menaruh uang nya pada tangan Dania.
"Terima kasih banyak Bang, makasih banyak. Semoga Abang selalu di beri rezeki lebih."
"Amin...!!! "
.
.
.
__ADS_1