
Firza menatap jalanan saat berada di dalam truk Brimob yang akan menjaga keamanan di salah satu tempat. Firza menatap jalanan sambil memegang senjata, tatapan nya seakan kosong, selama 6 bulan terakhir Luna tidak ada kabar, dan habis nya tubuh Firza yang semakin kurus.
"Hey.. " Ucap Robby yang duduk di samping Firza.
"Ada apa sih? "
"Bulan depan kita sudah nggak ketemu nih, sudah beda Dinas nya, pindah sama - sama jauh. "
"Terus?"
"Ya kita adakan perpisahan kek. "
"Malas." Ucap Firza singkat.
"Kok gitu, kita ini nanti nggak tahu kapan ketemu nya loh. "
"Kapan? " Ucap Firza singkat.
"Besok lah, sama komandan kita. "
"Iya deh, kalau besok nggak ada dadakan tugas negara. "
"Sip lah, kamu tahu nggak? Saya ini tugas di tempat istri kamu dulu. Bayangkan saja, kalau istri kamu masih ada disana, pasti kamu suruh saya awasi istri kamu. "
"Jangan bicara Luna lagi, saya sedih dengar nya kalau bahas dia terus. "
"Maaf, saya paham bagaimana hati kamu."
*****
"Yah, Ibu khawatir sama fisik Firza. Sekarang semakin kurus, dia setiap hari memikirkan Luna. " Ucap Ibu Wike.
"Prabu dan Sinta begitu sangat tega, memisahkan anak kita dan anak nya. " Ucap Pak Wahyu.
"Lagian, Firza bodoh banget. Kayak nggak ada wanita lain aja. " Ucap Irfan.
"Memang nya kamu, begitu mudah melupakan mantan istri, anak saja kamu nggak ingat. Pantas istri kamu jauhi anak kalian, sekarang malah menikah sama pengusaha kaya raya, yang umur nya sama seperti Ayah kamu. "Ucap Ibu Wike.
" Saya cari lagi itu yang benar - benar mau menerima saya apa adanya. Jangan seperti mantan, giliran miskin di tendang. "
"Nah, sekarang kamu kan sudah kerja, pernah nggak kasih uang ke anak? malah kasih nya ke janda itu. " Ucap Ibu Wike.
"Sudahlah jangan bahas masalah yang buat kepala Ayah pusing. " Ucap Pak Wahyu.
*****
Firza ikut dalam pengamanan kunjungan presiden bertemu dengan beberapa kepala Daerah, yang tepat nya menjadi tuan rumah kabupaten kelahiran Firza sendiri.
Pengamanan ketat pun berlangsung, saat melakukan pengamanan Firza merasakan sangat pusing dan mual, namun Firza tahan dan masih tetap berdiri tegap sambil memegang senjata nya.
Aldi memperhatikan gerak gerik Firza, dan langsung mendekati Firza dan berdiri di belakang nya.
"Saya komandan kamu sekarang, kalau kamu pingsan saya lempar kamu. " Bisik Aldi.
"Siap komandan saya kuat. "
"Kalau kurang fit, kamu ambil cuti istirahat. Saya juga bilang apa, belajar menerima kenyataan. "
"Saya tidak siap. "
"Terserah kamu, saya sebagai Abang sepupu kamu hanya memberi saran. Kamu sakit, kamu yang tersiksa, sedangkan disana belum tentu memikirkan kamu. " Ucap Aldi langsung pergi meninggalkan Firza.
__ADS_1
*****
"Alhamdulillah, kamu ada perubahan sayang." Ucap Pak Prabu.
"Terima kasih ya Allah, makasih Mah Pah selama ini kalian sabar merawat saya. " Ucap Luna.
"Iya sayang, Papah sama Mamah akan melakukan apa saja untuk kamu, agar kamu bisa sembuh. " Ucap Ibu Wike.
"Tapi hati Luna masih sakit Pah, Mah. " Ucap Luna.
"Jadi kamu apa? "Tanya Pak Prabu.
" Saya ingin gugat cerai. " Jawab Luna.
Ibu Wike dan Pak Prabu saling menatap dan kembali beralih menatap ke arah Luna.
"Kamu yakin? " Tanya Ibu Wike.
"Yakin, baik saya masih di beri umur, baik saya tidak di beri umur saya ingin cerai." Jawab Luna.
"Papah akan urus gugatan cerai kamu. "
*****
"Ya ampun Firza, rumah kayak kapal pecah. Kamu nggak bersihin ya. Seragam kotor belum kamu cuci. " Ucap Ibu Wike sambil membersihkan rumah Firza.
Firza hanya berbaring di sofa sambil menonton televisi dengan lingkaran hitam di mata nya.
"Firza, kamu itu seperti mayat hidup. Sudah lah, jangan menyiksa kamu. Luna saja sudah nggak ada kabar, kamu sakit belum tentu dia disana memikirkan kamu. "
"Kenapa sih, semuanya pada bilang begitu. Nggak Bang Aldi nggak Ibu. " Ucap Firza.
"Firza nggak mau tanda tangan, atau apa. Firza nggak akan mau cerai sama dia. "Ucap Firza.
"Luna lupa kalau dia menikah dengan seorang Anggota Brimob, saya akan persulit. "
"Kamu apa siap, bila itu terjadi. "
"Mau bagaimana lagi, memang orang tua nya berharap cerai. "
*****
"Kamu bantu, untuk urus perceraian anak saya. "Ucap Pak Prabu.
" Ini akan memakan waktu lama, banyak proses yang harus di lalui, apalagi suami nya seorang Abdi Negara. " Ucap Pak Santo, pengacara keluarga Pak Prabu.
"Kamu bisa lah, kamu kan selalu banyak mengatasi masalah. "
"Iya, tapi ini bukan cerai orang biasa, harus ada bukti, dan harus lapor Firza nya. "
"Kamu paksa Firza, agar mau mentalak Luna." Ucap Pak Prabu.
"Nanti saya akan temui dia. " Ucap Pak Santo.
"Dan ingat, jangan kamu katakan dimana Luna."
"Baik, saya akan rahasia kan ini semua."
"Bagus, saya akan ganti biaya pesawat nya."
*****
__ADS_1
"Bund, Ayah ini makan hari ini. " Ucap Dania yang baru pulang kerja.
"Dania, sampai kapan kamu akan kasih kita makan nasi bungkus hanya lauk tempe sama sayur saja. " Ucap Ibu Rika.
"Sedangkan, Ayah kamu struk. Bunda bingung mau berobat pakai apa, sedangkan kamu kerja hanya jadi pelayan toko pakaian." Ucap Ibu Rika sambil menangis.
"Maaf kan Dania bund, ini semua karena Dania. Tapi Dania akan berusaha cari uang yang banyak lagi. " Ucap Dania dengan mata berkaca - kaca.
"Bunda nggak kuat Dania, kalau begini terus."
"Bunda jangan menyerah, Bunda harus dukung Dania juga. Kita harus saling mendukung. "
"Tapi sampai kapan Dania, hiks.. hiks.. hiks.."
"Maaf Dania Bunda, maaf kan Dania Ayah."
*****
"Om Mario, tolong bantu kembalikan perusahaan Ayah saya. " Pintar Dania memohon pada Adik Ibu Sinta.
"Kamu kalau mau memohon sama kakak saya. " Ucap Pak Mario.
"Dimana Tante Sinta, biar saya kesana. " Ucap Dania.
"Kamu ada uang buat naik pesawat nya? Makan saja susah sok an mau ke luar negeri."
"Jujur saya tidak mampu, kalau boleh minta nomer ponsel nya. " Ucap Dania.
"Kamu siapa, minta nomer Ponsel seorang Presdir. " Ucap Pak Mario langsung pergi meninggalkan Dania.
"Saya mohon Om. " Ucap Dania sambil berlutut.
"Om." Ucap Firza.
"Hah.. kamu lagi. " Ucap Pak Mario saat melihat Firza datang ke perusahaan nya.
"Lihat, selingkuhan kamu. Sampai berlutut, sudah tidak memiliki harga diri. " Ucap Pak Mario melanjutkan langkah nya.
"Om, tolong dimana mereka? " Ucap Firza.
"Kalian cari saja sendiri. "
"Om, saya ini suami nya. "
Pak Mario menghentikan langkah nya dan membalikkan tubuh nya lalu menatap ke arah Firza.
"Kamu lupakan Luna, dia ingin meminta berpisah dari kamu. "
"Om pasti bohong, ini pasti keinginan Papah sama Mamah. "
"Saya tidak bohong, kamu tunggu saja. Nanti ada utusan nya datang ke kamu. "
"Saya tidak akan pernah mau cerai, saya akan persulit. "
.
.
.
.
__ADS_1