
Firza tersontak kaget saat dirinya sebentar tertidur sambil duduk yang bergantian berjaga, di samping nya sudah ada Casandra yang sedang tertidur dengan kepala bersandar di bahu nya.
Firza menyingkirkan kepala nya hingga dia terjatuh ke samping, dan kepala nya sedikit terbentur.
"Aduh, sakit banget. " Ucap Casandra sambil mengusap kepala nya.
"Ini Wartawan kenapa masih disini saja sih, malah nggak pulang - pulang. " Ucap Firza lantang.
"Dia, Wartawan kriminal. Makan nya selalu stand bay di setiap kerusuhan pasti ada. " Ucap salah satu teman Firza.
Firza pun bangun dan menjauh dari Casandra yang mulai terkantuk - kantuk kembali.
"Kalau dia sudah sadar, singkirkan dia dari sini. Ruang gerak saya nggak bebas. " Ucap Firza memberikan perintah.
"Siap Bang. "
Firza menatap ponsel nya dan melihat status chat Luna aktif, Firza langsung menelepon istri nya.
"Sayang."
"Ayank."
"Kenapa masih belum tidur? Ini sudah jam 3 pagi. "
"Nggak bisa tidur, ingin dengar suara Ayank. "
"Nanti jam 7 pulang, ada pergantian. "
"Sekarang kan sudah dengar suara nya, saya tidur dulu. "
"Tidur ya sayang, mimpiin suami kamu yang tampan. "
"I love you. "
"I love you too. "
"Astaga." Ucap Firza saat berbalik badan, terlihat Casandra yang sudah berada di belakang nya.
"Kamu itu kayak hantu, tahu - tahu sudah ada di belakang, ngapain sih? " Ucap Firza kesal.
"Saya mau pamit, sudah waktu nya balik ke kantor. "
"Yasudah sana pulang, jangan balik ke tempat beginian, cewek kok jadi jurnalis di lapangan ambil berita nya yang ekstrim. "
"Itu kan suatu pekerjaan Bang, oh iya Bang boleh minta nomer ponsel nya? "
"Maaf, saya akan kasih sama orang yang kenal dekat sama saya saja. " Ucap Firza langsung pergi meninggalkan Casandra.
__ADS_1
"Bantu Firza menarik juga ternyata. " Ucap Casandra sambil menatap punggung Firza.
****
"Luna masih tidur Firza. " Ucap Ibu Sinta.
"Jam 3 pagi baru tidur, ya jelas Mah masih tidur. " Ucap Firza.
"Sarapan dulu? "
"Nanti Mah, mandi dulu. "
Firza masuk kedalam kamar, terlihat Luna masih tertidur lelap. Firza mencium kening Luna lalu membelai rambut nya. Tapi saat Firza membelai rambut nya, telapak tangan Firza terdapat rambut milik Luna yang rontok.
Firza mengepal dan sedih, saat tahu rambut Luna mulai rontok. Firza mencium kembali kening istri nya, ada perasaan sedih dan ingin menangis.
"Kamu akan tetap cantik sayang, walau kamu tidak memiliki rambut lagi. " Ucap Firza dalam hati.
*****
Luna terbangun dan melihat suami nya tertidur lelap di samping nya. Luna tersenyum sambil menatap Firza.
Luna belai pipi nya hingga ke bibir Firza, Luna tersenyum menatap wajah tampan yang selalu menghiasai hari - hari nya.
"Sampai kapan, wajah ini akan selalu bisa saya tatap. Terima kasih sayang, disaat seperti ini kamu masih tetap berada di samping saya. Cintamu tidak akan pernah saya lupakan, tapi di saat kamu katakan lelah, saya ikhlas melepasmu. " Kedua mata Luna berkaca - kaca, dan mendekat kan tubuh nya pada tubuh Firza yang sedang tertidur menyamping.
Luna memeluk tubuh Firza, dengan wajah nya di benamkan di leher Firza. Terasa ada yang berat, Firza membuka mata nya, senyum Firza mengembang saat tahu Luna memeluk nya. Firza kembali tidur bersama Luna, dengan posisi saling berpelukan.
*****
"Wike,kamu itu kenapa sih? Beda dari Wike yang dulu.Kamu itu kalau memiliki masalah,marah nya jangan sama keluarga saya, anak kamu lihat nempel terus sama anak saya. Mau di pisahkan juga, anak kamu nya yang nggak mau lepas. " Ucap Ibu Sinta lantang.
"Bu,ada apa sih? Firza bilang jangan kesini kalau buat keributan. " Ucap Firza kesal yang baru bangun tidur.
"Ibu hanya bilang, mumpung ada mertua kamu. Suruh bawa Luna pulang. " Ucap Ibu Wike.
"Eh, Wike kamu itu di bilang ya. Dari kemarin Luna juga ingin pulang, dia juga sadar diri karena ucapan kamu, tapi apa anak kamu nya nggak boleh. Disini itu anak kamu yang kejar - kejar anak saya bukan anak anak saya. " Ucap Ibu Sinta.
"Stop, jangan bicara lagi. Sampai kapan juga tidak ada yang bisa memisahkan Firza sama Luna. Mau Luna penyakit an, Mau Luna nggak bisa apa - apa lagi, saya tetap ada di samping Luna.
Dari dalam kamar, Luna menangis sambil menatap telapak tangan nya yang terdapat banyak nya rambut rontok. Suara lantang Firza dan Ibu mertua nya terdengar sangat jelas yang sedang membicarakan nya.
Luna berusaha bangun untuk beralih ke kursi roda nya, dengan mencoba menggeser kedua kaki nya yang sangat lemas.
" Sayang Mau kemana? " Tanya Firza saat masuk ke dalam kamar.
"Mau duduk di kursi roda. " Jawab Luna.
__ADS_1
Firza melihat Luna menggenggam rambut rontok nya, Firza berusaha tersenyum ke arah Luna.
"Ayank lihat kan, rambut nya sudah mulai rontok. "
"Iya, ya sudah biarkan saja. "
"Ayank lihat kan, tubuh saya kurus? "
"Iya sayang , tapi nggak masalah bagi suami kamu. "
"Maaf ya kalau sudah membuat repot, saya istri yang tidak berguna. "
"Jangan bicara begitu, ikhlas ridho merawat kamu. "
"Kalau Ayank lelah, saya ikhlas melepas Ayank untuk hidup dengan wanita yang lebih sempurna. "
"Tolong jangan bicara seperti itu. "
"Benar yang di katakan Ibu, saya ini menyusahkan. Sekarang ada Mamah yang bantu, besok nggak ada, Ayank yang repot. Pulang Dinas, bukan nya istirahat malah mengurus rumah, masak, ngepel, cuci baju. Itu seharusnya pekerjaan perempuan tapi di kerjakan sama laki - laki. '
" Sudah ya, jangan bahas itu lagi. Sekarang Mau mandi nggak?"
Luna menganggukkan kepala nya, dan Firza pun mengangkat tubuh Luna ke arah kamar mandi.
***
Firza menangis, saat men shampoo rambut Luna. Sedikit demi sedikit rambut rontok hingga banyak, terlihat rambut banyak yang terbawa oleh air mengalir.
"Ayank, kenapa nggak di bilas - bilas, dari tadi saya mulai kedinginan. " Ucap Luna.
"Ini sudah selesai. " Ucap Firza sambil menyiramkan air ke arah rambut Luna.
Firza menyisir rambut Luna, namun terus rontok. Firza terus terisak sehingga Luna menatap nya dari cermin rias langsung memegang tangan Firza.
"Kalau suatu saat Luna pergi sangat lama dan nggak kembali, Ayank harus ikhlas ya. "
Hiks.. hiks.. hiks..
Firza memeluk tubuh Lun dari belakang, hingga tangisan nya sangat kencang.
"Hiks.. hiks.. hiks.. kenapa kamu bicara seperti Yank, hiks.. hiks.. kamu pasti sembuh."
"Semakin hari, tubuh saya semakin sakit dan lemas. Semakin hari untuk berusaha berdiri saja pun susah. "
"Kamu pasti sembuh, kamu nggak akan pernah tinggalkan saya sekarang, kita akan tua sama - sama. "
.
__ADS_1
.
.