Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Jangan Pernah Menjodohkan


__ADS_3

"Yank."


"Kenapa? "


"Besok, ada jadwal sidang tesis. "


"Terus? "


"Saya malu yank, rambut sudah mulai menipis, bahkan ada botak sedikit. "


"Pakai kerudung ya, besok Papah temani Mamah sidang tesis. "


"Makasih ya. " Ucap Luna sambil membelai wajah Firza.


"Mamah kangen pegang stetoskop, bisa lagi nggak ya seperti dulu. "


"Pasti bisa, pasti sembuh. "


"Mamah kangen suasana rumah sakit, ketemu pasien, pokoknya semua nya. Seharusnya sekarang itu ada di daerah dimana tempat tugas yang baru, tapi malah kembali lagi. "


"Kan fokus sama sakit nya, disana juga tetap saja nggak bisa apa - apa. "


"Yank, lihat deh kulit sedikit menghitam karena pengaruh kemo, bahkan tubuh saja kurus tinggal tulang begini. "


"Kamu tetap cantik kok, ehm... gimana kalau kita jalan - jalan? "


"Ayank nggak malu? "


"Kata siapa malu? Nggak lah. "


"Mau kemana? "


"Ke Mall yuk!! "


"Boleh."


*****


Firza mendorong kursi roda yang di duduki Luna, Firza membawa Luna ke toko sepatu. Firza memilih beberapa sepatu untuk Luna.


"Pas nggak? " Tanya Firza.


"Pas, tapi buat apa beli sepatu? kan jarang keluar. " Jawab Luna.


"Nggak apa - apa, nanti juga pasti di pakai. Bukti nya sekarang langsung di pakai. "


"Bang Firza. "


Firza dan Luna menatap wanita yang memanggil Firza, Casandra tersenyum pada kedua nya.


"Dokter Luna. " Ucap Casandra.


"Casandra, kamu sama siapa? " Tanya Luna.


"Kamu kenal Yank? " Tanya Firza.


"Dia anak Profesor Nugroho. " Jawab Luna.


"Oh." Ucap Firza singkat.


"Dokter Luna, lama nggak lihat. Dokter sakit apa? " Ucap Casandra.


"Leukemia, Ayah kamu nggak cerita? "

__ADS_1


"Saya jarang pulang ke rumah, sudah 1 tahun terakhir kost. " Ucap Casandra sambil melirik ke arah Firza.


Luna memperhatikan gerak mata Casandra, Luna tersenyum kecut dan langsung mengusap tangan Firza.


"Kita makan sama - sama yuk. " Ajak Luna.


"Boleh." Ucap Casandra.


*****


"Kalian kenal dimana? " Tanya Luna.


"Dia itu wartawan yang ikut masuk di kerumunan masa hanya untuk cari berita. " Jawab Firza jujur.


"Dok, saya benar nggak tahu kalau Bang Firza itu adalah suami Dokter Luna. " Ucap Casandra.


"Kalau bukan suami saya kenapa? " Tanya Luna.


"Ya nggak kenapa - napa sih. " Jawab Casandra sambil tersenyum.


Makanan pun datang, Firza menyuapi Luna. Casandra memperhatikan sikap Firza ke Luna. Luna pun tahu, sesekali Casandra melirik ke arah Firza.


"Casandra, kamu sudah punya pacar? " Tanya Luna.


"Belum Dok. " Jawab Casandra.


"Pernah pacaran? "


"Pernah, tapi sudah lama banget putus nya."


"Kalau lagi suka sama cowok? "


"Ehm... kalau suka sih ada. "


"Ya suka aja, dia itu udah ganteng, keren dan perhatian. " Ucap Casandra sambil melirik ke arah Firza.


Luna tersenyum getir, dan berusaha untuk tetap tersenyum. Firza hanya diam dan terus fokus pada makanan nya dan makanan Luna.


"Nanti kapan - kapan main ya. " Ucap Luna.


"Tinggal nya dimana sekarang? " Tanya Casandra.


"Tinggal sama suami, perumahan Agra Permai. " Jawab Luna.


"Itu sih deket sama kost an saya, kalau saya di perumahan Seroja Indah. " Ucap Casandra.


"Oh.. yang di seberang jalan itu. " Ucap Firza.


"Iya disitu. " Ucap Casandra.


****


"Yank, Casandra cantik ya? " Ucap Luna.


"Biasa aja. " Ucap Firza fokus pada kemudinya.


"Casandra suka sama Ayank. "


Firza diam dan tetap pada padangan lurus nya, tidak merespon ucapan Luna.


"Casandra itu cantik, dia nggak mau jadi Dokter dan memilih jadi wartawan. Kenal Casandra, saat dekat sama profesor Nugraha. Dia baik loh anak nya. "


"Terus? "

__ADS_1


"Kalau saya sudah nggak ada, bisa masuk kategori istri Dania atau Casandra. "


"Stop ya, jangan mulai lagi bicara begitu. Kamu itu masih lama meninggal nya. Bukan sekarang meninggal dunia, tapi nanti kita akan tua bersama, sampai punya anak cucu. "


"Tapi saya sakit Yank, mana bisa punya anak. Selera ingin berhubungan saja seperti tidak ada. "


"Kamu mau coba? kita coba lakukan. Saya nggak melakukan nya karena kamu itu sakit."


Mobil pun sampai di rumah, Firza dengan kasar membuka pintu mobil dan langsung membawa Luna masuk kedalam rumah.


Luna di baringkan ke atas tempat tidur, Firza membuka semua pakaian nya, hingga milik Luna juga.


"Yank."


"Kamu ini kan yang di maksud? "


Firza langsung mencium bibir Luna secara kasar, dan memberikan beberapa tanda di tubuh nya.


Firza pun dengan kasar memasukkan milik nya pada milik Luna, saat beberapa kali hentakan Luna menangis, hingga Firza langsung bangun dari tubuh Luna.


Hiks.. hiks.. hiks...


"Saya nggak bisa, hiks.. hiks.. " Isak Luna.


Firza bersandar di kepala ranjang, sambil menahan pening di kepala.


"Kenapa saya minta kamu untuk cari wanita lain, ya begini yank. Dan dua wanita itu masuk kategori pilihan saya. "


"Sekali lagi, kamu katakan itu. Saya pergi dari sini, urus diri kamu sendiri. " Ucap Firza bangun dan langsung memungut pakai nya.


Di lempar nya, pakaian milik Luna ke arah tubuh nya dengan kasar, lalu Firza keluar kamar dengan membanting pintu.


Hiks... hiks.. hiks...


****


Firza duduk di bawah guyuran air di dalam kamar mandi, sambil menatap kosong dengan kedua mata yang terlihat sembab.


"Seribu wanita yang kamu tawarkan, tidak akan pernah saya akan memilih. Dari pada saya memilih dan menikahi kedua wanita pilihan kamu lebih baik, saya pergi jauh tinggal kan kamu. Kalau kamu ingin saya tidak di repot kan. "


Firza mengusap wajah nya dengan kasar, berkali-kali tangan nya dia pukulkan di dinding kamar mandi.


****


Luna, tertidur dengan tubuh yang masih polos hanya tertutup selimut, Firza membangun kan Luna dan Luna terbangun.


"Pakai baju nya, kalau saya nikah lagi nanti siapa yang akan pakai kan baju kamu, mandikan kamu. Masa harus mamah, kalau istri muda hamil, punya anak mungkin saya akan habiskan banyak waktu dengan mereka, apa kamu tidak akan sedih. " Firza membantu memakai kan pakaian Luna.


"Satu jam lagi, nanti mandi besar. Kamu kumpulkan nyawa kamu dulu. " Ucap Firza langsung berdiri.


"Maaf."


"Cukup kamu ucapkan kata maaf, jangan pernah ulangi seperti itu. Jangan pernah menjodohkan saya dengan Casandra, atau Dania. Ikhlas Ridho saya mengurus kamu, kamu tahu kan saya sayang sama kamu dan cinta sama kamu. Sekali lagi bilang seperti itu, saya tinggal kan kamu dan akan pergi jauh. Jangan harap akan melihat saya lagi, saya sudah nggak akan peduli lagi mau kamu hidup atau mati. "


Hiks.. hiks.. hiks..


"Maaf." Ucap Luna sambil terisak.


Firza lalu duduk di samping Luna, dan mengusap air mata nya. Firza memeluk tubuh Luna, dengan mengusap punggung nya.


"Maaf ya, kalau tadi bilang kasar. Maaf ya, suami mana nggak marah, kalau istri nya bicara seperti itu. "


.

__ADS_1


.


__ADS_2