
Firza memasukan satu persatu pakaian kotor milik dia dan Luna, sambil mencuci Firza pun mengepel. Terlihat Luna tertidur di sofa panjang sambil TV menyala.
Firza tersenyum melihat istri nya yang tertidur nyenyak. Firza melarang Luna untuk melakukan pekerjaan rumah , dan mengutamakan untuk istirahat.
"Astaga Firza...!! " Ucap Ibu Wike dengan suara lantang.
"Ibu, jangan berisik. Ada Luna sedang tidur." Ucap Firza mendekat dan mencium punggung tangan Ibu Wike.
"Otak kamu taruh dimana? Lihat istri kamu enakan tidur, kamu malah ngepel dan itu terdengar suara mesin cuci. Astaga, Ibu nggak habis pikir anak Ibu yang melakukan pekerjaan rumah."
"Bu, Luna kan sakit. Pernah coba melakukan pekerjaan rumah dia udah nggak kuat buat melakukan hal seperti ini, dari pada Luna kenapa - napa lebih baik Luna diam dan istirahat. "
"Benar - benar ya, saya punya menantu nggak berguna. Udah penyakitan, nggak bisa layani suami. "
"Firza sudah ikhlas, ini niat Firza menikahi wanita yang Firza sayang dan Cintai. Apapun yang terjadi dengan Luna, Firza akan tetap bertahan hingga maut memisahkan kita. "
"Mending kamu nikah lagi deh, punya istri yang bisa mengurus kamu. "
Luna pun terbangun, saat mendengar suara keributan, Ibu Wike menatap tajam ke arah Luna.
"Sudah bangun tuan putri? " Ucap Ibu Wike sinis.
"Ibu." Ucap Luna berusaha untuk bangun tapi tidak bisa karena kedua kaki nya merasakan sangat lemas.
"Tuh,lihat bangun saja nggak bisa. Kamu mau seumur hidup mengurus orang penyakitan. Mending kamu kembalikan ke rumah orang tua nya dari pada disini menyusahkan."
"Bu, stop ya. Anak ibu tidak masalah kan ini semua. Jadi ibu tolong, jangan usik rumah tangga Firza, jangan mengompor - ngomporin Firza sama Luna. Sekarang Ibu pulang, dan kalau Ibu ingin main, main saja jangan menghina Luna. Kalau Ibu tetap seperti itu, lebih baik Ibu jangan menginjakkan Kaki Ibu kemari. "
"Kamu berani ya sama Ibu sekarang..!! "
"Maaf kan Firza Bu, tapi saya tidak terima Ibu memperlakukan Luna seperti itu. "
"Luna, Ibu juga tidak terima anak Ibu di perlakuan seperti pembantu. " Ucap Ibu Wike lalu pergi.
Luna terdiam dan hanya bisa meneteskan air mata, Firza lalu mendekat dan memeluk tubuh istri nya.
"Jangan dengarkan Ibu, suami kamu ini akan tetap berada di samping kamu. "
Hiks.. hiks.. hiks...
"Benar yang di katakan Ibu, hiks.. hiks... hiks.. kalau Luna itu tidak bisa apa - apa, istri yang tidak berguna, istri yang tidak bisa memberikan nafkah lahir bathin. "
"Ikhlas, saya ikhlas melakukan ini semua. Saya akan menemani kamu sampai maut memisahkan kita. "
"Kalau merasakan capek, memiliki istri penyakitan menikah lah, turuti kemauan kedua orang tua Ayank, Dania pasti akan bisa menjadi istri yang sempurna. "
"Nggak, Dania tidak akan pernah jadi istri suami kamu, atau wanita lain. Istri yang akan selalu menemani suka dan duka itu adalah kamu sayang, kamu seorang. "
*****
"Firza, lebih baik Luna pakai kursi roda. Kedua kaki nya lemas, untuk sementara saja. " Ucap Dokter Husen.
"Iya Dok, nanti saya beli. "Ucap Firza.
" Om sarankan besok untuk kemo. "
"Nggak Om, Luna tidak mau botak. "
__ADS_1
"Sayang, botak juga nggak akan masalah. Besok kemo ya, nanti di temani. "
**
"Firza, Luna itu butuh support dari kamu. Jangan kamu tinggalkan Luna disaat seperti ini, dukungan orang terdekat itu sangat penting. "
"Iya Dok, saya selalu memberikan dia dukungan. Dia memang banyak mengeluh, sering setiap hari malah. "Ucap Firza.
" Iya, kamu nya jangan pernah bosan ya. "
"Iya Dok, saya pasti akan selalu setia di samping nya. "
Firza pun masuk kedalam rumah nya, setelah mengantarkan Dokter Husen sampai teras depan rumah.
"Sayang." Ucap Firza.
"Yank, saya tidak mau kemoterapi."
"Nggak Yank, nanti besok ijin antar Ayank ke rumah sakit. "
****
"Aduh, saya harus antar istri ke rumah sakit? " Ucap Firza dari sambungan telepon nya.
"Kita kekurangan pasukan, ada keributan antar warga. Mereka sangat anarkis. " Ucap Teman sesama Anggota Brimob.
"Baiklah, saya kesana sekarang. " Ucap Firza langsung menutup sambungan telepon nya.
"Kenapa Yank? " Tanya Luna.
"Oh, yaudah nggak apa - apa. " Ucap Luna.
"Sama Mamah saja ya. " Ucap Firza.
"Iya, nggak apa - apa. "
"Nanti hubungi Mamah dulu. "
****
"Mah, maaf ya. " Ucap Luna.
"Nggak apa - apa sayang. " Ucap Ibu Sinta tersenyum.
"Luna ini merepotkan semua orang, kenapa Luna tidak di ambil saja nyawa Luna secepatnya. "
"Hus.. kamu nggak boleh bicara begitu, kamu akan sembuh nanti nya. " Ucap Ibu Sinta.
"Suami juga nggak ke urus , malah dia yang mengurus Luna. Sampai pekerjaan rumah suami yang kerjakan. "
"Ya mau gimana lagi, kamu sakit sayang. "
"Apa Luna pulang saja ke rumah Mamah Papah, dari pada disana suami seperti pembantu. "
"Kamu kenapa bicara begitu? "
"Ibu mertua kemarin datang, marah - marah melihat Firza melakukan pekerjaan rumah. Dan belum Dania mengatakan saya tidak bisa apa - apa dan memang benar, lebih baik saya pulang saja Mah. Lebih baik di rawat orang tua. "
__ADS_1
"Ya Allah sayang, bukan mamah tidak mau. Tapi suami kamu itu memang ikhlas nak, kalau tidak mau, Firza mungkin tidak mengurus kamu. "
"Luna memang merepotkan. "
"Nggak sayang, Luna tidak merepotkan. Kami semua Ikhlas mengurus Luna. "
***
"Biasanya akibat kemo akan terlihat dampak nya, nanti jangan kaget. " Ucap Dokter Husen.
"Iya, saya paham. " Ucap Ibu Sinta.
"Kasih Support, saya lihat Luna itu sangat down. "
"Memang benar, penyakit nya ini membuat dia banyak nggak enak hati, apalagi tahu sendiri di sisi lain, itu sangat berpengaruh buat dia."
"Kenapa tidak di bawa saja pulang, itu lebih baik dari pada tinggal dengan suami nya. "
"Suami nya pasti melarang,karena suami nya sangat sayang sama Luna. "
****
Dor
Dor
Firza mengeluarkan tembakan ke udara, untuk membubarkan masa yang terus menyerang bahkan ada yang melawan petugas.
Tembakan gas air mata, dan siraman air dari fire Hose tidak membuat mereka mundur, Firza pun ikut basah yang berusaha membubarkan masa.
"Bubar....!!! "
Dor
Dor
Bugh
Awwww
Firza terjatuh, saat seorang wanita mendorong tubuh Firza. Wanita tersebut langsung lari sambil membawa kameranya.
"Hey... tangkap itu , bahaya masuk ke dalam kericuhan. " Teriak Firza, langsung bangun dan berlari mengejar wanita tersebut.
"Tangkap dia..!! " Teriak Firza dan beberapa anggota mengejar wanita tersebut hingga akhir nya tertangkap.
"Kamu bagian dari mereka atau provokator? " Tanya Firza sambil mencengkram lengan wanita tersebut.
"Bukan, Pak.. saya wartawan. " Jawab nya dengan gemetar.
"Ini bahaya, apalagi buat perempuan seperti kamu, cari berita cari berita tapi jangan cari mati. " Bentak Firza.
.
.
.
__ADS_1