Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Lupakan Masa Lalu


__ADS_3

5 Bulan Kemudian


Firza pun turun dari pesawat nya, hari ini Luna kembali ke tanah air, Firza yang mengenakan seragam nya tampak sedang duduk menunggu pesawat yang di tumpangi istri nya mendarat.


Jantung Firza berdetak kencang, setelah satu tahun lebih LDR an dengan Luna, sudah satu jam menunggu akhirnya pesawat pun mendarat.


Firza pun dengan segera menunggu di pintu keluar penumpang turun, satu persatu penumpang keluar, Firza tersenyum saat melihat Luna berjalan bersama kedua orang tua nya. Luna pun langsung berlari saat melihat suami nya sudah berdiri di depan mata nya.


"Ayank.... !!! " Teriak Luna dan langsung memeluk tubuh Firza..


"Ayank, kangen. " Ucap Luna langsung mencium kedua pipi suami nya, Firza pun tak kalah dengan Luna langsung mencium bibir Luna yang selama ini dia rindukan.


"Sudah, banyak orang. " Tegur Ibu Sinta yang langsung berjalan keluar dari Bandara.


"Kalian mau langsung pulang ke rumah atau ke hotel? " Tanya Pak Prabu sambil tersenyum.


"Ih... papah. " Jawab Luna sambil menggandeng lengan Firza.


"Tadi turun dari pesawat jam berapa? " Tanya Luna.


"Jam 3 sore, lumayan satu jam nunggu. " Jawab Firza.


"Kasihan nunggu Ayank. " Ucap Luna dengan gaya manja nya.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, di jemput oleh supir pribadi keluarga Prabu. Dalam perjalanan Luna dan Firza tak henti saling melepaskan rindu, saling berbagi cerita dengan tangan yang menggenggam erat.


"Terus, Ayank balik lagi nya kapan? "


"Satu minggu cuti nya. "


"Yah, bentar dong. Padahal Luna kangen. "


"Kan masih bisa komunikasi jarak jauh."


"Nggak enak. "


"Gampang, nanti Firza kan cuti beberapa bulan sekali pulang. " Ucap Ibu Sinta.


"Tapi kan Mah, yang bikin kesel nya nih begini, baru ketemu bentar udah di tinggal lagi. " Ucap Luna.


"Nama nya juga punya suami Brimob, kamu harus ngerti dong. Kalau nggak mau terus di tinggal tadi nikah saja sama Dokter. " Ucap Pak Prabu.


Firza hanya tersenyum sedangkan Luna berubah dengan wajah cemberut, Ibu Sinta langsung mencubit lengan Pak Prabu.


"Kalau ngomong, nggak lihat orang. " Ucap Ibu Sinta.


*****


"Kamar ini yang paling saya rindukan. " Ucap Luna langsung berbaring di atas kasur king size nya.


Firza tersenyum, dan langsung menindih tubuh Luna, tangan Luna langsung mengalung pada leher Firza.


"Kamu kangen nggak Yank? " Tanya Firza sambil mengecup pelan bibir Luna.


"Kangen lah, kangen saat seperti ini. " Jawab Luna sambil membelai bibir yang tadi mengecup nya.


"Akhirnya, kita bisa seperti ini lagi. Semoga kita selalu bersama-sama, walau jarak memisahkan kita, ini bukan lah suatu halangan. "


"Benar sayang, janji ya jaga cinta kita. "

__ADS_1


"Janji."


Bibir mereka saling berciuman dan *******, saling melepaskan rindu, setelah lama mereka berpisah.


*****


"Kamu makan nya ada pantangan? " Tanya Firza.


"Nggak juga, tapi masih hati - hati saja, di jaga pola makan nya. " Jawab Luna.


"Walau bebas kanker, masih harus observasi di sini, nanti hasil nya di kirim kesana. Biar nggak bolak balik. " Ucap Ibu Sinta.


"Ayank kan lihat, sekarang nggak seperti dulu." Ucap Luna.


"Iya, yang sehat - sehat ya. " Ucap Firza sambil membelai rambut Luna.


"Sudah yuk makan, Papah lapar. " Ucap Pak Prabu mengalihkan pembicaraan.


*****


"Yank, mau itu dong. " Ucap Luna saat memilih kue di salah satu toko kue di dekat rumah nya.


"Mba, minta pie nya 5 aja. " Ucap Firza pada pelayan toko.


"Sama apa lagi Pak? " Tanya pelayan toko.


"Sama apa lagi Yank? "Tanya Firza sama Luna.


" Roti isi daging. " Jawab Luna.


Mereka pun keluar dari toko kue, lanjut pergi ke tempat lain dengan mengendarai motor milik Firza yang dia beli baru.


Motor pun berhenti, Firza melihat Dania bersama para pedagang kaki lima yang menjajakan jualan nya.


"Dania." Ucap Firza.


"Kita kesana. " Ucap Luna.


Luna dan Firza melihat Dania sedang melayani pembeli yang membeli jualan nya berupa donat kentang.


"Dania." Sapa Luna, seketika Dania kaget melihat kedatangan dua sahabat nya.


"Luna, Firza. " Ucap Dania.


Luna langsung memeluk tubuh Dania, mereka berdua menangis haru, Luna mengusap kedua air mata Dania, begitu juga Dania.


"Kamu sudah sembuh. " Ucap Dania.


"Alhamdulillah sembuh, kamu kenapa jadi begini? " Ucap Luna.


"Ini semua akibat kesalahan saya sendiri, saya pantas mendapatkan hukuman seperti. ini. "


"Kamu sekarang kurus, kamu nggak perawatan. Lihat wajahnya banyak jerawat begini. " Sindir Luna sambil terisak.


"Buat makan saja susah, saya tidak seperti. dulu. "


"Sekarang kamu tinggal dimana? " Tanya Luna.


"Tinggal di perkampungan, beli rumah disana. Lumayan walau kecil yang penting tidak kehujanan. " Jawab Dania.

__ADS_1


"Kita nggak enak sama pembeli Yank, kasihan banyak yang beli. " Ucap Firza.


"Gini saja, kita lepas kangen. Saya borong jualan kamu. " Ucap Luna.


"Beneran? " Ucap Luna.


"Iya betul, saya bayar. Total semua nya berapa. "


"Saya hitung dulu ya." Ucap Dania.


*****


"Ayah kena stroke, dia tidak bisa apa - apa lagi sekarang. " Ucap Dania sambil menatap Pak Surya yang hanya bisa berbaring lemah.


"Sudah lama? " Tanya Luna.


"Sudah satu tahun lebih, kami hanya bisa pasrah saja " Jawab Dania.


"Luna, maaf kan Kami ya kalau kami punya banyak salah. " Ucap Ibu Rika.


"Maaf kan Kami Firza, terutama sama kamu." Ucap Ibu Rika kembali.


"Saya sudah maaf kan Tante. " Ucap Firza.


"Mungkin ini sebuah teguran besar, ini menyadarkan kami semua. " Ucap Ibu Rika.


"Sekarang, kita lupakan masalah itu. Sekarang fokus sama kesehatan om Surya. " Ucap Firza.


"Nanti saya akan minta sama Papah, untuk memberikan perawatan buat Om Surya. " Ucap Luna.


"Jangan Luna, jangan. Papah kamu itu sangat membenci kami. " Ucap Ibu Rika.


"Papah itu tidak seperti yang Tante kira, Papah pasti bantu. " Ucap Luna.


*****


"Kamu minta Papah, kasih fasilitas gratis pengobatan buat Surya? "


"Tolong lah Pah, kasihan. " Ucap Luna memohon.


"Kamu mau dekat lagi sama dia? "


"Pah, Dania itu sahabat saya. Om Surya sahabat Papah sama Mamah. Papah lihat kondisi Om Surya, suami Luna juga melihat nya. "


"Tapi Luna. "


"Pah, jangan lihat dari segi sahabat. Tapi lihat dari segi kemanusiaan. " Ucap Luna.


"Pah, benar apa yang dikatakan putri kita. Kita bantu Surya pengobatan nya. " Ucap Ibu Sinta.


"Baik, Papah akan bantu pengobatan nya, Papah kasih fasilitas gratis. Kali ini Papah akan melihat dari segi kemanusiaan buka persahabatan. " Ucap Pak Prabu.


"Makasih ya Pah, makasih banyak. " Ucap Luna sambil memeluk tubuh Pak Prabu.


"Makasih Pah, kita lupakan semua masalah yang pernah terjadi, dari masalah kita bisa belajar. " Ucap Ibu Sinta tersenyum bahagia.


.


.

__ADS_1


__ADS_2