Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Setia


__ADS_3

"Luna dirawat lagi? " Tanya Dania yang menyusul ke rumah sakit milik orang tua Luna.


"Nggak, dia habis kemoterapi. " Jawab Firza.


"Oh, kirain drop lagi. "


"Luna, lagi ngeluh terus. Habis ngelantur bicara nya saya langsung tinggal pergi. "


"Sabar ya, nama nya juga lagi sakit. Pasti lah yang utama dia stress. "


"Iya."


"Kamu sudah tahu, Luna melunasi hutang sama Ayah? "


"Iya, Mamah hampir memisahkan kami."


"Tante Sinta kenapa? "


"Memang salah orang tua saya, tidak mau menerima Luna tapi uang nya di terima.Memang benar apa yang di lakukan Mamah, mana ada orang tua yang terima anak nya di gitukan. "


"Kamu sudah bertemu sama orang tua kamu?"


"Belum, saya masih fokus sama Luna. "


"Firza, cewek yang kemarin masih suka main?" Tanya Dania.


"Cewek mana?" Tanya Kembali Firza.


"Itu si Casandra. " Jawab Dania.


"Oh, dia. Nggak lagi, nggak tahu kemana tuh bocah. " Ucap Firza.


"Kamu kangen nggak? " Sindir Dania.


"Apaan sih, mulai kamu kayak Luna. "


"Hahahahaha.. kirain, ternyata cinta kamu besar ya sama Luna. Nggak menyangka saja kamu itu begitu sangat sayang dan cinta dia."


"Dia wanita yang spesial, wanita yang berbeda dari yang lain nya. Berharap sama dia bisa memiliki keturunan kembali, setelah yang pertama keguguran. "


"Amin, semoga ya. "


Dania pun masuk ke kamar rawat, terlihat Luna sudah bangun, dan tersenyum ke arah Dania.


"Dari tadi? " Tanya Luna.


"Iya, dari tadi. Masih mual? " Jawab Dania bertanya kembali.


"Sudah mendingan, kamu sudah nggak ada jam praktek? "


"Iya, makan nya langsung kesini. "


"Hallo.. Luna. " Sapa Dokter Husen.


"Apa kabar Dok? " Sapa Dania.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, kamu gimana kabar nya?" Tanya Dokter Husen kembali.


"Alhamdulillah Dok, sehat. " Jawab Dania dengan tersenyum.


"Bagaimana Dok, perkembangan Luna? " Tanya Firza.


"Dari saya cek, sel kanker sudah menyebar seluruh tubuh, tapi kita kan sudah berusaha. Hanya mukjizat dari Allah, tapi Luna jangan menyerah ya. Ada orang yang paling sayang sama Luna terus memberikan semangat." Jawab Dokter Husen.


"Berapa lama saya akan bertahan hidup? " Ucap Luna.


"Hanya Allah yang menentukan berapa lama lagi, karena kita tidak tahu barang kali Luna di berikan umur panjang dan sehat. "


"Dokter, apa saya akan seumur hidup akan seperti ini? "


"Kalau penyakit nya masih ada akan terus di obati. Kalau sembuh ya sudah, Om kan sudah bilang menunggu Mukjizat, dan mukjizat itu pasti akan datang. "


****


"Mamah masih mau kan, tinggal sama kami? " Tanya Firza pada Ibu Mertua nya.


Ibu Sinta menganggukkan kepala nya, dan tersenyum pada Firza.


"Maaf kan mamah ya. " Jawab Ibu Sinta.


"Firza yang seharusnya minta maaf, maaf atas apa yang di lakukan keluarga Firza. Jujur mah, saya sangat nggak enak sama Mamah dan Papah, Firza nggak menyangka aja. Disaat kami sedang bahagia, ada saja ujian nya. Di saat sedang menghadapi ujian hidup, malah keluarga seperti itu. "


"Jujur,Mamah sama Papah tidak pernah membenci Ayah sama Ibu kamu, atau pun orang tua Dania. Tapi Mamah sama Papah lebih baik menjauh, dari pada nanti akan ada masalah baru. Lebih baik kami diam, terlihat kan kedua keluarga sudah tidak akur, hanya karena uang. Walau mereka tidak tulus, kami tidak dendam. "


"Disini Firza yang menjadi malu nya, Firza kadang nggak enak sendiri. "


****


"Ayah sama Ibu dan Kak Irfan itu tidak tahu malu, giliran di lunasi hutang sama Luna, diam tidak berterima kasih. Menghina dan ingin memisahkan kami berdua, dan apa uang nya saja kalian ambil. " Ucap Firza kesal.


"Ayah sama Kakak kamu ucapkan terima kasih banyak. Sampaikan saja sama Luna. " Ucap Pak Wahyu.


"Hanya itu, nggak pada ingin datang langsung menengok Luna yang sakit, jangan seperti Kak Irfan, datang hanya ingin ada mau nya. " Ucap Firza sambil menatap ke arah Irfan.


"Kakak minta maaf, sampaikan saja makasih, sama seperti Ayah. " Ucap Irfan.


"Benar - benar terlalu kalian, kalau tidak Luna bantu, kalian masih di kejar hutang sama Om Surya. Tapi apa sudah ditolong malah lupa begitu saja, siapa yang sudah membebaskan kalian dari hutang. "


"Firza, ucapkan terima kasih dan lewat kamu juga sudah cukup, pasti lah Luna paham. Kamu nya saja yang lebai. " Ucap Ibu Wike.


"Bu, kalian semua punya sopan santun tidak sih, hanya untuk datang lihat Lun, ucapkan terima kasih saja nggak lebih kok, tapi kalian seperti berat rasa nya. Inilah yang buat Firza malu karena ulah kalian. "


****


"Pulang Dinas nya kok telat? " Tanya Luna yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Tadi habis ke rumah orang tua. " Jawab Firza.


"Mereka sehat? " Tanya Luna.


"Alhamdulillah sehat. " Jawab Firza.

__ADS_1


"Yank, kenapa? " Tanya Luna.


"Nggak apa - apa., hanya pusing biasa. "Firza merebahkan tubuh nya di samping Luna.


" Ganti pakaian dulu, mandi dulu jangan langsung tidur. "


"Tolong, jangan bangun kan, ingin tidur nyenyak dulu. Nggak akan sampai pagi tidur juga, hanya beberapa menit. " Ucap Firza yang masih melekat seragam di tubuh nya.


Luna pun dengan tenaga seadanya berusaha membuka kancing seragam Firza, dan melonggarkan ikat pinggang nya, terlihat lingkaran hitam di kedua mata nya. Tubuh Firza yang sedikit hangat, terlihat jelas lelah yang sedang Firza alami sekarang.


"Jangan sakit Yank, kalau sakit siapa yang akan mengurus saya. " Ucap pelan Luna sambil membelai pipi Firza.


Luna pun ikut berbaring dan memeluk tubuh Firza, Firza merasakan Luna memeluk nya membalasnya dengan mengusap pelan punggung Luna.


"Tidur Yank, kalau capek. " Bisik Luna.


****


Firza merasakan sangat pusing, dan melihat Luna tengah tertidur lelap dengan kepala berbantal dada nya. Dengan hati - hati, Firza memindahkan kepala Luna di bantal, di cium nya kening Luna.


Firza turun dari tempat tidur, dan langsung membuka seragam nya. Kepala yang sangat berat membuat Firza tidak kuat dan langsung duduk di kursi sambil memijat kedua pelipis nya.


*****


"Firza, kamu pucat? "


"Lagi nggak enak badan Mah. "


"Udah minum obat? " Tanya Ibu Sinta sambil memegang kening Firza.


"Udah Mah. " Jawab Firza sambil menuangkan bubur kedalam mangkuk.


"Kamu istirahat saja, istirahat. Biar Luna yang Mamah urus. " Ucap Ibu Sinta.


"Nggak usah Mah, cuman demam biasa. "


"Jangan begitu, udah kamu istirahat saja sana di kamar lain, biar mamah yang urus Luna."


"Tapi Mah. "


"Mamah bilang, istirahat. "


"Makasih Mah, maaf merepotkan Mamah lagi."


"Udah nggak apa - apa, istirahat ya. "


"Kalau Luna cariin Firza, bilang saja lagi tidur."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2