
Firza pun pulang, saat mendapatkan kabar kalau Ayah nya meninggal dunia, Firza langsung berlari saat Ayah nya yang baru selesai di kebumikan.
Tanah kuburan yang masih basah, baru beberapa jam yang lalu Ayah nya di makam kan. Firza menangis, saat terakhir tidak bisa melihat nya.
"Ayah, maaf kan saya. Kalau selama ini Firza punya salah sama Ayah. " Ucap Firza sambil terisak.
"Maaf Ayah, Firza belum bisa membahagiakan Ayah. " Ucap Firza semakin terisak.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Firza itu sayang sama Ayah, bukan berarti Firza itu membangkang sama Ayah, hiks.. hiks.. hiks.. Ayah kenapa begitu cepat pergi, padahal masih banyak yang ingin Firza lakukan untuk Ayah, hiks.. hiks.. "
"Maaf kan Firza, Ayah maaf kan Firza. "
Hiks.. hiks.. hiks..
"Ayah sekarang sudah tidak sakit lagi, hiks.. hiks.. Ayah sekarang sudah bahagia disana. Selamat jalan Yah, sampai ketemu lagi nanti di kehidupan kedua. "
*****
Rumah pun masih suasana duka, Firza berjalan menuju kamar orang tua nya, terlihat Ibu Wike sedang menangis.
"Bu."
Ibu Wike semakin menangis saat melihat, Firza datang. Firza pun langsung memeluk tubuh Ibu nya, isakan tangis Ibu Wike tiada henti hingga membuat Firza ikut menangis.
Hiks... hiks.. hiks..
"Maaf kan Ayah nak, maaf kan Ayah kamu." Ucap Ibu Wike.
"Nggak Bu, saya tidak pernah menganggap Ayah memiliki salah sama Firza, tapi Firza yang memiliki banyak salah sama Ayah, yang jadi menyesal nya Firza, saat terakhir, Firza tidak bisa melihat Ayah. "
"Ibu juga nggak menyangka , Ayah kamu pergi secepat ini. "
"Ayah sudah bahagia disana, Ayah sudah tidak sakit - sakit an lagi. " Ucap Firza semakin memeluk erat tubuh Ibu nya.
*****
"Kak." Firza duduk di samping Irfan.
"Kenapa kamu masih panggil saya Kakak, padahal saya ini sudah jahat sama kamu." Ucap Irfan.
"Bagaimana juga, Kak Irfan itu kakak saya, saudara kandung saya. Kesalahan kecil atau besar, tidak bisa memutuskan ikatan tali persaudaraan kita. " Ucap Firza.
"Saya sudah jahat sama kamu, makan uang milik kamu. Sekarang uang nya sudah habis, saya tidak bisa menggantikan nya. "
"Saya ikhlas kan, bagaimana mau ganti. Kakak saja nggak punya apa - apa, jadi ya sudah nasi sudah jadi bubur. "
"Ayah sakit - sakit an terus, karena pusing memikirkan usaha yang terus bangkrut. Hingga perusahaan gulung tikar, bahkan mendirikan kembali usaha dari nol, semuanya nihil. "
"Roda itu akan berputar kak, tidak harus di atas terus. Ini adalah ujian berat keluarga kita, kalau kakak mau berubah, dan benar - benar berusaha, Kakak akan kembali seperti dulu. Tapi ingat Kak, rubah lah sikap kakak. "
"Apa kamu mau memaafkan kakak kamu? " Tanya Irfan sambil menatap adik nya.
"Rasulullah saja memaafkan kak, kenapa kita sebagai manusia biasa tidak memaafkan juga. Saya maaf kan kesalahan Kakak, sebelum kakak meminta maaf, sudah saya maafkan terlebih dahulu. "
"Makasih dek, makasih. "
__ADS_1
"Kita lupakan masalah uang, kakak harus kasih semangat buat Ibu, jangan tinggalkan Ibu. Saya tidak bisa menemani Ibu, hanya kakak yang ada disini. Orang tua kita tinggal satu, kita sebagai anak nya harus rukun, jangan membuat Ibu menangis karena kita. " Ucap Firza sambil tersenyum.
"Kakak janji, janji akan selalu ada di samping Ibu, kakak janji akan berubah, kakak akan rubah kebiasaan buruk kakak. "
"Kita yang akur ya kak, ingat kakak juga seorang Ayah, ingat anak kakak. Suatu saat kakak akan merindukan sosok nya. "
"Iya, kakak rindu dia. "
*****
"Bu, makan ya. " Ucap Firza.
"Ibu nggak mau makan, mau menyusul Ayah saja. " Ucap Ibu Wike.
"Ibu jangan bicara begitu, Ibu makan ya. "
"Kamu kenapa, masih baik sama Ibu. Padahal Ibu sudah jahat sama kamu, dan Ayah kamu juga. "
"Bu, tidak ada seorang anak yang membenci Ibu nya, atau orang tua nya. Anak akan tetap menganggap Ibu atau Ayah itu orang tua nya, bagaimana yang telah mereka lakukan. Firza tidak pernah benci sama Ibu, Kak Irfan atau Almarhum Ayah, Firza tetap sayang. "
"Terima kasih nak, terima kasih. "
"Sekarang Ibu makan ya, Firza nggak mau Ibu sakit. "
*****
"Dania." Ucap Firza.
"Saya kemari mau mengucapkan turut berduka cita, atas meninggalnya Om Wahyu. " Ucap Dania yang datang sendiri.
"Makasih." Ucap Firza.
"Kabar kamu bagaimana? " Tanya Firza.
"Alhamdulillah baik, sekarang saya kerja jadi perawat di panti jompo. " Jawab Dania.
"Panti jompo!! "
"Mau kerja dimana lagi, kalau bukan disana. Semua rumah sakit menolak saya. "
"Kabar Tante sama Om bagaimana? "
"Bunda sehat, Ayah yang sakit - sakit an, sekarang terbaring saja di kamar. Bunda nggak bisa pergi kemana - mana. "
"Salam buat mereka. "
"Nanti saya sampai kan, ehm.. kabar Luna bagaimana? "
"Alhamdulillah, sudah di nyatakan negatif kanker, tapi masih masa observasi. "
"Syukurlah saya ikut senang dengar nya. "
"Dania, kamu semangat ya. "
"Iya, makasih. Maaf kan saya, maaf kan kesalahan saya waktu itu. "
"Saya sudah maaf kan kamu, sama dengan Luna juga sudah maaf kan kamu. "
__ADS_1
"Sampai kan salam untuk dia. "
"Saya akan sampai kan. "
******
"Inalilahi wainnailaihi rojiun. " Ucap Pak Prabu dan Ibu Sinta, saat mendapatkan kabar dari Mario yang baru saja tiba.
"Saya telat kasih kabar, mungkin Luna sudah tahu. " Ucap Mario.
"Luna nggak tahu, ponsel dia rusak terjatuh. Dan Kakak baru lihat ponsel tadi, sampai lupa karena mengurus Luna, dan bolak balik rumah sakit. Banyak panggilan tak terjawab dari Firza. " Ucap Ibu Sinta.
"Surya juga, sekarang tidak bisa apa - apa. Mereka kena karma semua. " Ucap Mario.
"Hus, kamu nggak boleh bilang begitu. " Ucap Ibu Sinta.
"Memang fakta. "
"Banyak hal indah bersama mereka, rusak sekejap persahabatan puluhan tahun." Ucap Pak Prabu.
"Salah mereka kak, bukan salah kakak. " Ucap Mario.
"Bagaimana juga, kita berteman sangat lama, pasti ada rasa kehilangan. "
"Apa Papah mau pulang, melayat? "
"Iya, Papah akan kesana. Pulang bersama Mario, sekalian ada rapat di rumah sakit. "
"Mamah siapkan dulu keberangkatan Papah." Ucap Ibu Sinta langsung masuk kamar.
******
"Baby Aldi. " Sapa Dania saat masih berada di rumah Firza.
Dania melihat Aldi bersama seorang wanita, yang menggandeng lengan nya, tersenyum ke arah Dania.
"Kenalkan calon istri Abang. " Ucap Aldi.
"Dania." Ucap Dania bersalaman.
"Tiara." Ucap nya ramah.
"Oh iya, Abang minggu depan mau nikah, nanti datang ya. " Ucap Aldi.
"Insya Allah Bang, saya pasti datang. " Ucap Dania dengan hati merasakan sangat sedih.
"Kalau begitu, Abang masuk dulu, belum ketemu sama Firza. " Ucap Aldi lalu masuk bersama Tiara ke dalam rumah.
"Saya kira, kamu belum punya pacar Bang, saya sangat berharap kemarin. " Ucap Dania sambil menatap punggung kedua nya.
.
.
.
.
__ADS_1