Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Jangan Berani Bilang


__ADS_3

"Om periksa, sekarang sudah stadium 3,anak kamu tidak mungkin bisa berkembang. " Ucap Pak Mulya.


"Om, tolong pengobatan ekstra untuk anak saya agar tetap hidup. "Ucap Luna.


" Luna, kondisi kamu seperti ini? Kamu juga tidak mungkin beraktivitas. Om saran kan kamu di rawat di rumah sakit Papah kamu, disana ada Dokter Helmi, dia teman Om juga. Peralatan nya juga lebih memadai mungkin Papah kamu akan bawa kamu ke luar negeri."


"Saya mohon Om, saya ingin tetap disini. Saya tidak mau mereka melihat kecewa sama Luna, dan saya tidak mau pernikahan Dania dan Firza gagal. "


"Luna, anak kamu suatu saat akan butuh wali. Apa kamu tidak memikirkan kesana."


"Om, tolong mengerti lah. "


"Om ini menasehati kamu. "


"Benar Luna, apa yang di katakan sama Dokter Mulya, kamu itu harus kasih tahu Firza. "Ucap Roni.


****


" Saya mau tanya, siapa Ayah dari anak yang Luna kandung? " Tanya Danil.


"Saya kira, kamu sudah tahu. " Jawab Roni.


"Saya katakan, siapa Ayah nya..!!! " Bentak Danil.


"Kamu kenapa sih, nyolot gitu. Tanya saja sendiri siap Ayah nya. " Ucap Roni.


"Tolong, kamu jujur sama saya. Tolong kamu jangan tutupi. "


"Firza, kamu ingat kan sahabat nya Luna dan Dania, sekarang di Brimob. Dia itu bapak nya, dan sekarang mau menikah sama Dania. Luna begitu karena dia lebih memilih mengalah, demi orang tua. Dan satu, karena dia bukan anak dari Pak Prabu. " Ucap Roni.


"Kenapa Luna menutupi nya, dari sakit hingga hamil. "


"Ini permintaan Luna, saya juga sudah bilang begitu. "


"Ya Allah Luna, kenapa kamu itu melihat nya saya ingin menemui si Firza. "


*****


"Boleh saya masuk? " Tanya Danil.


"Kenapa kamu masih disini? " Tanya Luna pada Danil.


"Saya sengaja ambil libur sampai besok untuk jaga kamu. " Jawab Danil.


"Saya sudah kasar sama kamu, kenapa kamu masih tetap ingin bicara sama saya? "


"Karena Saya ingin kita seperti dulu lagi."


"Apa karena Papah? "


"Nggak Luna, bukan karena Om Prabu. Tapi Saya sendiri. "Ucap Danil.


" Lun, saya memang salah. Kamu tahu, melakukan seperti itu tidak bangga dan kesuksesan saya itu bukan hasil jerih payah saya sendiri tapi hasil kelicikan saya. Disini saya sadar, apa yang di dapat kan itu tidak seindah yang di harapkan. Saya berusaha ingin memperbaiki nya, saya mohon maaf kan saya. " Ucap Danil.


"Tolong, jaga rahasia ini. "


"Iya, Saya akan jaga. "


*****


"Ini ada nasi kotak. " Ucap Robby.

__ADS_1


"Saya nggak selera makan." Ucap Firza.


"Makan lah, tadi kan habis nge pam masa nggak makan. "


"Kalau orang merasakan rindu seperti ini ya, mau ngapain aja susah. "


"Bukan nya, mau menikah. 4 hari lagi kamu nikah, masih saja bertugas. Ingat sudah ada calon istri, bagaimana juga Dania adalah masa depan kamu."


"Jujur, rasa nya nggak enak begini. Saya kepikiran dia terus, nggak tahu kenapa."


"Namanya juga masih cinta, coba kalau udah nggak cinta."Ucap Robby.


" Saya itu ingin sekali bertemu sama dia walau hanya sekali saja. "Ucap Firza berharap.


*****


" Nanti datang ya. " Ucap Rika sambil menyerah kan undangan pada Ibu Sinta.


"Pasti kami datang. " Ucap Ibu Sinta.


"Tapi sayang, anak kamu nggak bisa hadir. "


"Dia kan jauh, nggak mungkin hadir. "


"Maaf kan saya, kalau saya tega sama anak kalian. "


"Sudah lah Rika, Luna juga sedang belajar melupakan calon mantu kamu."


"Ya sudah, kalau begitu saya tidak bisa lama - lama, saya pamit. " Ibu Rika pun bangun dari duduk nya.


"Hati - hati. "


"Seharusnya nama kamu Luna yang disana, bukan nama Dania. Hiks.. hiks.. hiks. .


*****


" Bagaimana saya hubungi Luna, dia malah nggak aktif. " Ucap Dania bolak balik dalam kamar nya.


"Oh iya, Roni saya akan hubungi Roni. "


Dania pun menghubungi Roni, panggilan nya tak juga tersambung.


"Susah banget sih, hubungi dia. " Dania mencoba kembali menghubungi ponsel Roni dan panggilan pun tersambung.


"Hallo Roni. " Sapa Dania.


"Hi.. Dania, tumben telepon? Nggak di pingit kamu. " Ucap Roni.


"Saya sudah cuti, ehm.. kabar Luna bagaimana? "


"Baik, kenapa? "


"Bisa saya bicara sama dia? "


"Dia sedang keluar, nanti saya akan sampai kan. "


"Ini harus saya yang kasih tahu. "


"Lebih baik, kamu tidak usah hubungi Luna. Buat apa hubungi dia, sebaiknya kamu fokus sama pernikahan kamu dan Firza. "


"Ya sudah kalau begitu, salam buat semua nya. "

__ADS_1


Dania diam dan menatap ke luar jendela, melihat rumah kayu yang biasa mereka bertiga berkumpul, kini kebersamaan itu sudah tidak ada lagi.


"Jujur, walau kamu bohongi Saya, rasa rindu Saya sama kamu sekarang yang di rasakan."


*****


"Sakti Om. " Ucap pelan Luna.


"Iya sakit, ini Om sudah kasih pengobatan yang aman dan bagus buat janin kamu." Ucap Pak Mulya.


"Om, anak Saya baik - baik saja kan? "


"Iya, dia kuat walau Mamah nya lemah."


"Luna, kita kembali saja ya. Kamu lebih baik pulang, biar nanti di obati disana. " Ucap Danil.


"Nggak, saya tidak mau mereka sedih."


Danil dan Dokter Mulya menatap Luna yang semakin lemah, Luna terus menatap langit - langit kamar rumah sakit dengan sesekali membaca doa.


"Om, bagaimana ini? "


"Om tidak bisa berkata apa - apa."


"Kita paksa Om, kondisi nya lihat. Apa akan parah disini? "


"Benar kata kamu, lebih baik kita bawa pulang. Mau Luna bilang apa, kita harus bawa dia. "


"Jangan sampai nanti ada yang menyesal atau menyalahkan kita Om. Tolong Om, bantu proses nya. "


"Kalau seperti ini, Luna akan cuti sementara. Kita nanti akan sama - sama bantu proses berkas nya. "


"Iya, masalah nya kalau minta pindah tugas lagi nggak mungkin, karena ini ikatan Dinas."


"Om akan mengurus untuk kepulangan nya."


*****


Firza duduk di tepi tempat tidur , pesta pernikahan di lakukan di hotel bintang 5 milik Ayah Dania. Firza hanya menatap kosong ke arah lantai.


Ceklek


"Kok belum siap? " Tanya Aldi.


"Apa ini nyata Bang? " Tanya kembali Firza.


"Ini nyata, kenapa? "


"Sampai detik saya mau menikah, Luna benar - benar tidak ada kabar atau kasih ucapan selamat. "


" Lupakan Luna, Dania sebentar lagi menjadi istri kamu. "


****


Dania duduk bersama kedua orang tua nya, rombongan pengantin wanita datang, dan kedua orang tua Firza menyambut nya.


Firza tetap dengan wajah sendu nya dan tidak memperlihatkan senyuman tidak seperti Dania yang terpancar aura bahagia.


"Firza, senyum jangan diam aja. " Bisik Ibu Wike.


Firza pun memaksakan tersenyum ke arah Dania, senyuman terpaksa dengan hati berada di tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2