Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Orang Ketiga


__ADS_3

"Sayang." Sapa Firza.


"Sudah baikan ya? " Ucap Luna sambil membelai wajah Firza.


"Iya, Ayank berangkat Dinas dulu, pulang Dinas mau di bawakan apa? "


"Nggak mau apa - apa, cukup lihat Ayank pulang saja sudah senang. "


Firza mengecup kening Luna, lalu turun ke bibir hingga beralih di kedua punggung tangan nya.


"Jangan lupa minum obat, dan makan. "


"Iya, hati - hati di jalan. "


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


"Mah, Firza berangkat dulu. "Ucap Firza sambil mencium punggung tangan Ibu Sinta.


" Hati - hati. "


"Iya Mah. "


Ibu Sinta pun membawa nampan berisi cemilan untuk Luna, dan beberapa buah - buah an.


"Gimana? "


"Beginilah Mah. "


"Obat kamu habis, nanti Papah kesini bawakan obat nya. "


"Iya Mah. "


*****


"Kamu tumben ajak makan bareng? " Tanya Luna saat baru sampai di sebuah restoran cepat saji.


"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu." Ucap Firza.


"Bicara apa? "


"Luna kan sebentar lagi ulang tahun, kado buat dia yang cocok apa ya? "


"Kenapa nggak belikan dia perhiasan saja."


"Perhiasan apa? "


"Coba deh belikan dia cincin. "


"Boleh juga, nanti kita buat pesta kecil untuk dia. "


"Siap, saya akan atur dekorasi nya. "


"Nanti saya terima jadi saja , saya percaya kan sama kamu. "Ucap Firza.


"Kamu mau pesan apa? " Tanya Firza.


"Pesan apa ya, ini saja deh. " Jawab Dania.


"Boleh, habis ini nanti antar saya ke toko perhiasan ya. " Ucap Firza.


***


"Ini obat nya, nanti kalau habis bilang sama Papah. " Ucap Pak Prabu.


"Iya Pah, Luna juga capek harus minum obat terus. "


"Kalau mau sembuh ya begini. "

__ADS_1


"Pah, sampai saat ini mertua nya nggak ada yang menjenguk Luna. Setelah lunas hutang, basa basi apalah ini sih nggak ada. " Celetuk Ibu Sinta.


"Sudahlah Mah, mau bagaimana lagi. Anak kita nya cinta sama Firza, untung Firza sabar sampai saat ini masih bersama Luna. " Ucap Pak Prabu.


"Iya, kalau nggak sabar sudah sama wanita lain. "


****


"Nah ini bagus. " Tunjuk Dania.


"Dulu jari nya sama seperti kamu, sekarang dia tambah kecil jari nya. " Ucap Firza.


"Seukuran jari kelingking saya sekarang dia kecil nya. " Ucap Dania menunjukkan jari kelingking kanan nya.


"Coba saja ya di jari kelingking kamu."


Firza mencoba cincin di tangan Dania, dan Dania memperlihatkan pada Firza menunjukkan cincin yang melingkar di jari kelingking nya.


"Bagus kan? "


"Iya bagus, mba bungkus ini. " Ucap Firza.


"Eh... Dania, Firza. " Sapa Ibu Wike.


"Tante." Ucap Dania.


"Mamah, sama siapa? " Tanya Firza.


"Mamah sendirian, kalian ngapain di toko cincin, jangan - jangan Firza belikan cincin untuk kamu Dania. " Jawab Ibu Wike.


"Bu - bukan Tante, ini buat Luna. " Ucap Dania.


"Kenapa sih, bukan kamu saja yang di belikan sama Firza. Kenapa juga buat Luna, seharusnya kamu kasih ke Dania bukan Luna." Ucap Ibu Wike.


"Luna mau ulang tahun Bu, saya mau kasih kado sama dia. "


"Mending, kamu belikan buat Dania bukan buat Luna. " Ucap Ibu Wike langsung pergi meninggalkan Firza dan Dania.


"Ya begitu lah. "


****


Ibu Sinta dan Pak Prabu melihat Dania turun dari mobil nya bersama motor yang di kendarai Firza. Ibu Sinta melirik ke arah suami nya, seakan tidak suka dengan kedatangan Dania.


"Assalamu'alaikum Tante, Om. " Sapa Dania mencium punggung tangan mereka berdua.


"Walaikumsalam." Balasa Pak Prabu.


Firza langsung masuk kedalam kamar nya dan menghampiri Luna yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil menonton televisi.


"Ada Dania. " Ucap Firza sambil mencium kening Luna.


"Ayank, pulang sama dia? " Ucap Luna.


"Iya, pulang sama Dania. Tadi habis makan bareng sama dia, makan sama - sama. " Ucap Firza.


"Oh, kirain kemana dulu. " Ucap Luna tersenyum kecut.


"Kenapa ? Cemburu. " Ucap Firza.


"Nggak." Ucap Luna.


"Percaya sama suami kamu, kami hanya makan biasa. Kita kan sahabat, hati Ayank kan cuman untuk kamu. "


***


"Kabar Ayah Bunda bagaimana? " Tanya Pak Prabu.


"Alhamdulillah baik om." Jawab Dania.

__ADS_1


"Lama ya tidak ketemu mereka, salam saja buat Ayah Bunda kamu. " Ucap Pak Prabu.


"Nanti saya sampaikan salam ke mereka berdua. "


"Dania, seharusnya kamu itu sadar, dan ingat dengan hijab kamu. Apa pantas jalan bersama dengan pria beristri, bisa saja kamu bilang kebetulan tadi bisa datang bersamaan, tapi hati seorang Ibu tidak bisa di bohongin." Ucap Ibu Sinta.


"Maaf tadi, Firza yang hubungi saya. Kita memang jalan sama - sama hari ini. " Ucap Dania.


"Sebaiknya kamu, sedikit jaga jarak. Bagaimana juga kamu sama Firza pernah hampir menikah. "


"Maaf kan Tante Sinta ya Dania. " Ucap Pak Prabu.


"Nggak apa - apa, memang nggak pantas sih." Ucap Dania.


"Kalau paham, mulai sekarang jangan dekat sama Firza. "


***


Dania tersenyum sambil menatap ke arah Luna, Firza pun duduk di samping Luna.


"Kamu cepat sembuh, jangan lama - lama sakit nya. " Ucap Dania.


"Siapa sih yang mau sakit begini, rasa ingin sembuh saya pun memiliki rasa. Tapi mau bagaimana lagi, tubuh saya semakin di gerogoti oleh kanker. " Ucap Luna.


"Tadi kata Firza habis jalan bareng ya? " Tanya Luna dan Dania melirik ke arah Firza.


"Iya , kita makan bareng terus jalan bareng. Tapi kita tidak ngapa - ngapain loh, kita jalan aja. " Jawab Dania.


"Saya nggak marah kok, makasih sudah temani suami saya. " Ucap Luna.


"Nanti kalau sudah kondisi nya baik, kita jalan - jalan ya. " Ucap Firza.


*****


"Firza."


"Iya Mah. "


"Mamah paling nggak suka ya kalau kamu dekat sama Dania. "


"Kenapa Mah? Kan tahu Mamah juga Dania sahabat Luna sama Firza. "


"Sahabat, tapi kamu dengan sering nya jalan sama Dania, dan Luna yang sakit. Bisa saja kamu nanti akan tumbuh cinta, mana kesetiaan kamu sama Luna, yang dulu sampai mohon - mohon. "


"Mamah kok. bicara nya begitu, Firza demi Allah Mah nggak ada rasa seperti itu. "


"Bisa saja kamu, lain di mulut lain di hati. "


****


"Tumben kamu kesini. " Ucap Ibu Rika.


"Saya kemari, hanya ingin kamu sebagai orang tua tolong nasehati Dania untuk tidak terlalu dekat sama menantu saya. " Ucap Ibu Sinta.


"Dania dekat sama Firza!! "


"Iya, dekat sama Firza. Kamu tahu, kalau sampai Dania dekat sama Firza, dan Dania menjadi orang ketiga di pernikahan anak saya, ingat saya tidak akan tinggal diam."Ancam Ibu Sinta.


" Saya akan bicara sama Dania. "


"Jangan akan, tapi harus. "


"Maaf kalau Dania jadi orang ketiga. "


"Bagus, kalau kamu sadar. Tolong, kamu bicara baik - baik sama Dania, kalau sampai jadi orang ketiga, suami saya bisa meminta untuk pecat Dania, dan tidak akan pernah dapat ijin praktek setelah di keluarkan oleh suami saya. Kamu ingat kan, tanpa Prabu Dania tidak akan bisa menjadi Dokter di rumah sakit besar. "


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2