Detak Jantung Terakhir

Detak Jantung Terakhir
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

"Jadi kamu hamil duluan? " Ucap Dokter Mulya kecewa.


"Iya Om, tolong jangan kasih tahu Papah sama Mamah, apalagi masalah sakit nya Luna. " Ucap Luna.


"Kamu mau merahasiakan kehamilan kamu, terus itu perut apa tidak terlalu besar nanti nya? "


"Saya akan merahasiakan anak ini Om, begitu juga sama Bapak nya. "


"Anak siapa yang kamu kandung? "


"Anak Firza, calon cucu nya Om Surya sama Tante Rika. "


"Jadi sama sahabat kamu sendiri? Nggak nyangka Om sih, terus kenapa kamu rahasiakan, dia nggak bertanggung jawab."


"Dia akan langsung tanggung jawab kalau tahu, sebelum hamil juga dia sudah minta untuk kita menikah. "


"Terus, kenapa kamu nggak nikah sama dia?"


"Panjang Om cerita nya, tapi saya minta yang Om tahu dan lihat jangan sampai Mamah Papah tahu. Saya mohon Om. "


"Baik, selama disini Om akan melindungi kamu. "


"Makasih Om. "


Setelah melakukan pemeriksaan secara detail, Pak Mulya membawa hasil laporan pemeriksaan keponakan nya.


"Luna."


"Bagaimana Om hasil nya? "


"Kamu positif, mengindap Leukimia."


Luna tersenyum dengan mata berkaca - kaca, sambil menatap ke arah Om nya.


"Stadium berapa? "


"Stadium 2, masih bisa untuk sembuh dengan berbagai cara. "


"Bagaimana dengan kandungan Saya? "


"Semoga tidak memperlambat pertumbuhan janin. "


"Om, Saya hanya ingin fokus pada kandungan saya saja. Saya ingin anak saya tetap hidup."


"Berdoa dan usaha, Om akan obati kamu, tapi Om tidak jamin. "


"Saya rela mati Om, tapi jangan anak saya. Dia harus kuat berjuang sama Mamah nya sampai lahir, walau nanti saya yang meninggal duluan. "


"Kamu jangan bicara begitu, kamu pasti sembuh. "


"Ini kanker Om, seribu satu bisa bebas sembuh total, apalagi saya sedang hamil. Saya ingin pengobatan untuk calon anak saya agar tumbuh sehat. "


"Kalau si Ibu nya lemah, anak kamu juga ikut lemah. "


"Saya akan berjuang Om demi anak saya."


"Om sarankan, kasih tahu Firza. "


"Nggak Om, jangan sampai dia tahu. Jangan sampai rencana orang tua Firza dan Dania gagal. Jangan sampai persahabatan Papah sama Mamah dengan mereka renggang."


"Kamu masih memikirkan itu hah.. ini kamu Lihat, ini kamu sedang sakit dan sedang hamil pula. Apa kamu tidak sadar, mementingkan persahabatan terus."

__ADS_1


"Saya sadar Om, bukan anak kandung Papah sama Mamah, Saya tidak ingin membuat persahabatan yang sudah puluhan tahun hancur gara - gara kesalahan Luna. Biar Luna yang tanggung sendiri, tolong Om jangan bilang - bilang. "


"Tapi kalau kondisi kamu tidak memungkinkan, Om akan kasih tahu. "


*****


Luna menatap tubuh nya yang semakin kurus dengan mengusap perut nya yang masih tampak rata.


"Kamu harus berjuang sama Mamah nak, kamu harus hidup. " Ucap Luna.


Hilda memeluk tubuh Luna, hingga Luna semakin terisak saat tahu kondisi dirinya seperti ini.


Hiks.. hiks.. hiks...


"Hilda, tolong bantu Saya. " Ucap Luna.


"Iya, saya akan bantu kamu selama disini."


Hiks.. hiks.. hiks...


"Saya akan tetap disini sampai habis waktu Saya, disini saya akan berjuang demi anak saya Hilda. Dia harus hidup, dia harus bisa berkembang di dalam perut saya. "


"Kamu pasti sembuh Luna, kamu pasti sembuh. " Ucap Hilda yang ikut terisak.


****


"Nak, kabar kamu bagaimana? " Tanya Ibu Sinta dari telepon nya.


"Alhamdulillah sehat Mah, mamah papah sehat? " Jawab Luna dari seberang.


"Alhamdulillah sehat, Papah sedang ke luar negeri. Nanti kalau telepon Mamah kasih kabar. "


"Mah, maaf kan Luna kalau mengecewakan mamah sama Papah. "


"Luna itu banyak salah, Luna itu kalau Papah Mamah tahu sudah membuat kecewa. Luna minta maaf Mah Pah. "


"Iya sayang, orang tua juga pasti pernah membuat anak nya kecewa, Mamah Papah juga minta maaf nak. "


"Iya Mah, Luna kangen sama Mamah Papah. "


******


"Luna, kabar kamu gimana? " Ucap Dania sambil menatap photo mereka bertiga.


"Kamu blokir nomer saya, kamu pacaran sama Firza, sekarang kamu jauh sangat jauh. Apa kamu tidak kangen sama saya, kalau kamu tahu saya kangen sama kamu. " Dania mengusap bingkai photo tersebut.


Namun dengan kasar Dania lalu membuka bingkai photo dan merobek tepat di gambar Luna.


"Saya kecewa sama kamu, Saya benci kamu yang sudah membohongi Saya. "Ucap Dania sambil merobek - robek photo wajah Luna hingga menjadi sobekan kecil.


*****


Luna membersihkan sisa mimisan nya di depan wastafel, Danil saat itu memperhatikan Luna, Danil mendekat dan langsung memegang tangan Luna.


" Kamu sedang apa Danil? Bentak Luna yang ingin menurunkan tangan nya dari pegangan Danil.


Danil memeriksa lengan Luna, bahkan melihat leher Luna. Lalu menatap Luna dengan tatapan sendu.


"Sejak kapan? " Tanya Danil.


"Sejak kapan apanya? " Tanya Luna kembali.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu sakit? "


"Apa urusan kamu. "


"Luna, Saya tanya sejak kapan kamu sakit? "


"Iya, apa urusan nya sama kamu. Mau Saya sakit, mau Saya mati itu bukan urusan kamu."


"Luna, Saya tahu Saya salah. Tapi tolong, kamu ini sakit. Biar Saya disini memberikan perhatian khusus untuk kamu. "


"Bukan nya, kalau Saya sakit dan Saya mati kamu senang. "


"Luna, please jangan sudut kan Saya seperti itu. Tolong, kamu maafkan Saya. "


"Saya memang sakit, tapi tolong jangan kasih tahu Mamah sama Papah. "


"Kamu kena kanker kan? "


"Sok tahu. "


"Saya bukan Dokter bodoh. Itu ciri - ciri nya, kamu kena Leukimia kan? "


"Kalau iya kenapa? kamu puas seharusnya. "


"Luna, Saya tulus minta maaf dan saya perihatin atas apa yang menimpa kamu. "


Luna hanya diam dan langsung naik ke atas tangga melangkah ke arah kamar nya. Roni keluar dari kamar nya, dan menghampiri Danil.


"Luna sakit? " Tanya Roni.


Danil tidak menjawab pertanyaan Roni dan memilih untuk pergi meninggalkan Roni.


*****


Firza memegang dada nya yang tiba - tiba sakit dan langsung duduk di kursi setelah melaksanakan apel pagi. Firza mengusap dada nya perlahan dengan memejamkan kedua mata nya.


"Bang, ada yang cari di luar. " Ucap Adi.


Firza membuka kedua mata nya dan menatap Adi yang berdiri di depan nya.


"Siapa? " Tanya Firza.


"Katanya, calon istri Abang. " Jawab Adi.


Firza pun lalu berjalan ke arah pintu gerbang, terlihat Dania bersandar di mobil nya. Saat tahu Firza menghampiri nya dengan senyuman Dania menyapa.


"Ini buat kamu. " Ucap Dania menyerah kan rantang dua susun.


"Apa ini? " Tanya Firza.


"Buat kamu sarapan. " Jawab Dania.


"Makasih." Ucap Firza.


"Nanti sore, kita fitting pakaian pengantin."


"Iya, nanti Saya jemput kamu."


"Saya pamit dulu ya. "


"Makasih, hati - hati. "

__ADS_1


Dania tersenyum dan masuk kedalam mobil nya.


Firza menatap rantang yang di beri dari Dania, dan langsung meninggal gerbang menuju ke ruangan nya.


__ADS_2