
Rasa sakit akan terus membekas, karena Luka yang di toreh akan terus ada, sekali berkhianat akan tetap berkhianat, karena suatu kesetiaan mahal harga nya.
.
.
.
Prok..
Prok..
Dania menoleh saat mendengar suara tepuk tangan , Aldi memutar isi percakapan antar Dania dan Firza di dalam mobil.
"Ternyata kamu rendah ya Dania. " Ucap Aldi.
"Jadi Abang bersekongkol dengan Firza. " Ucap Dania.
"Iya, bagaimana juga Firza itu sepupu saya. "
"Sekarang tahu kan, kebenarannya. Saya melakukan nya karena hati saya sakit. Firza pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal."
"Dania, saya nggak menyangka kamu itu jahat, melebihi seorang pembunuh. Ingat Dania, karma itu berlaku untuk kamu. "
"Lebih baik, Abang urus sendiri masalah Abang. Jangan ikut campur masalah saya." Ucap Dania langsung meninggalkan Aldi.
"Kamu yakin, akan berjalan sendiri di malam hari begini, dan ini kebun tebu loh.. panjang nya sekitar 2 km, kalau nanti kamu kenapa - napa bagaimana? "
"Tidak usah sok perhatian, sekarang kamu jangan ikuti saya. "
"Silahkan, saya pun akan pergi. " Ucap Aldi langsung naik ke atas motor nya.
Dania menoleh ke arah Aldi, dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya Dania ikut naik ke motor milik Aldi.
****
"Mang, tolong kasih tahu saya dimana bawa Luna berobat. "
"Maaf Mas, saya tidak tahu. " Ucap nya.
"Tolong Mang, kasih tahu saya. Saya ini masih suami nya, saya ini menantu nya, masa tidak bisa sama sekali bantu saya. "
"Maaf Saya tidak berani, nanti Saya yang di marahin. "
"Tolong."
"Maaf, Mas. Saya masuk kedalam dulu. "
Firza hanya menatap punggung tukang kebun di rumah mertua nya, rasa kecewa yang kini di rasakan oleh Firza.
****
"Gimana sudah ada kabar tentang Luna? " Tanya Ibu Wike.
"Belum, mereka tutup mulut semua. " Jawab Firza.
"Kok tutup mulu sih. "
__ADS_1
"Padahal, saya ingin kasih tahu kalau saya tidak bersalah. Dania masih suci, Dania yang menjebak saya. "
"Tuh kan, benar. Dasar Dania. Terus kelanjutan nya bagaimana? "
"Kelanjutan nya, saya menunggu Bu. "
"Ibu sama Ayah tidak bisa bantu apa - apa, maaf ya. "
"Ibu sama Ayah, cukup bantu dengan doa saja. Mendoakan anak nya agar selalu bahagia, dan mulai sekarang jangan pernah ikut campur masalah asmara saya Bu, biar saya yang menentukan jalan hidup sendiri."
*****
"Alhamdulillah, kamu sudah mau makan." Ucap Ibu Sinta setelah menyuapi Luna.
"Papah mana? " Tanya Luna.
"Papah, sedang ada acara seminar. Kebetulan agenda Papah memang sedang ada di luar negeri, agenda seminar juga ada berapa, dan undangan study banding sama Dokter dari negara kita lain nya. " Jawab Ibu Sinta.
"Mah, apa Firza mencoba menghubungi? "
"Mamah sama Papah tidak membuka kartu yang sudah di non aktifkan. Mungkin dia hubungi, tapi dia sempat ke rumah. "
"Terus? "
"Untung orang rumah mau bekerja sama. Biarkan orang seperti dia itu menanggung akibat nya. Mau kita tega, harus di beri pelajaran, malah papah kamu yang paling semangat untuk kamu cerai sama dia."
"Entahlah Mah, hati saya masih belum menentu, masih sedikit ada yang berubah - ubah, jadi jangan paksa dulu. "
"Iya, Mamah paham. Tapi kalau kamu memang sudah capek dan bosan, cerai lah itu lebih baik. "
******
"Saya harus bagaimana Bund. " Ucap Luna.
"Kamu bantu cari kerja, biar kita bisa makan. Belum lagi Ayah kamu yang sekarang sering sakit. "
"Kerja apa? "
"Kerja apa, kamu kan Dokter ,lamar di rumah sakit, buka praktek yang sesuai dengan profesi kamu. "
"Bunda lupa ya, kalau saya sudah di blacklist. Kalau saya nggak di blacklist sudah dari kemarin saya itu cari kerja. Bunda mau saya kerja nya bukan sesuai profesi. Kalau mau saya cari. "
"Semua nya ini gara - gara kamu, kamu cari Prabu dan Sinta. Minta maaf sama mereka, dan juga Luna. Akui kesalahan kamu, hanya itu cara satu - satu nya agar kita kembali seperti dulu. "
"Bunda, ingin saya minta maaf sama merek? "
"Iya, minta maaf sama mereka. "
"Minta maaf kemana Bund? "
"Kamu cari info dong, kalau kamu nggak mau semua nya habis. "
"Apa saya menemui keluarga Tante Sinta? "
"Terserah kamu, yang penting rumah jangan di ambil dan kita kembali seperti dulu."
"Tapi mereka juga sama sering ke luar negeri, kapan pulang nya. "
__ADS_1
"Aaaaaaa.. Bunda pusing. Sekarang kamu keluar, cari kerjaan apa yang bisa buat makan kita bertiga. "
******
3 Bulan Kemudian
"Bang, sampai sekarang belum ada kabar." Ucap Firza.
"Gimana ya Fir, Abang juga nggak tahu cari kemana lagi. Coba tanya di keluarga Om Prabu dan Tante Sinta juga mereka tutup mulut. " Ucap Aldi.
"Ya Allah kenapa di siksa begini. "
"Fir, saran saya kita tunggu saja. Bagaimana Luna nanti dan keluarga nya. Sekarang kamu lanjutkan hidup kamu, dan nikmati hidup kamu. Kalau kamu terus memikirkan dia terus, yang ada tubuh kamu habis. Belum tentu di sana juga memikirkan kamu."
"Masalah nya Bang, mereka harus tahu terutama Luna kalau saya nggak bersalah."
"Iya, tapi kemana? Kita mau cerita saja seolah mereka tutup telinga. Mending kamu fokus ke depan, kalau masih jodoh Luna nggak akan tinggalkan kamu. "
"Kalau tidak, saya harus ikhlas ya Bang."
"Nah itu, masih banyak wanita di luar sana, kamu pun masih harus terus melanjutkan hidup. "
*****
Firza melepaskan seragam nya, dan duduk di tepi tempat tidur. Deretan photo Luna dan diri nya menghiasi kamar. Firza menatap nya dengan rasa rindu.
"Apa kabar sayang, apa kamu masih merasakan sakit? Ayank rindu kamu. Tolong kasih kabar, Ayank rindu, rindu segalanya."
Sedangkan di negara lain, Luna sedang menjalani pengobatan, Ibu Sinta dan Pak Prabu selalu menemani nya.
Ibu Sinta tersenyum saat melihat kabar dari anak perusahaan nya, memperlihatkan jatuh nya Surya Corp.
"Sudah terbalas. " Ucap Pak Surya.
"Firza masih terus datang. " Ucap Ibu Sinta.
"Apa mereka kasih tahu? " Ucap Pak Prabu.
"Tidak, mereka tutup mulut. "
"Bagus, jangan kasih tahu. "
*****
"Alhamdulillah, kamu sedikit ada perubahan." Ucap Pak Prabu.
"Apa saya bisa sembuh Pah? " Ucap Luna.
"Insya Allah, kamu sembuh nak. " Ucap Pak Prabu.
"Pah,Luna mohon. Jangan dulu meminta Luna untuk cepat berpisah. Karena Luna ingin melihat bagaimana hancur nya hati Luna."
"Apa kata kamu, Papah sama Mamah ikut."
.
.
__ADS_1
.