
"Casandra." Ucap Firza.
"Hallo Bang. " Sapa Casandra.
"Tahu dari mana kamu rumah saya? "
"Ada deh, kayak nggak tahu saya aja. "
"Yank, ada tamu siap? " Ucap Luna.
"Dokter Luna, saya Casandra. " Ucap Luna dari depan.
"Masuk." Ajak Firza.
Casandra pun masuk dan menghampiri Luna yang sedang duduk di sofa panjang.
"Kamu dari mana? Atau sengaja kesini? " Tanya Luna.
"Sengaja kesini, katanya suruh main." Jawab Casandra.
Firza duduk di samping Luna, sedangkan Casandra menatap ke arah Firza sesekali. Dan Luna pun tahu akan hal itu, namun Firza pura - pura untuk tidak tahu.
"Casandra, kamu makan belum? " Tanya Luna.
"Belum Dok, kenapa? "
"Kita masak sama - sama yuk. " Jawab Luna mengajak.
"Kamu mau makan yank? Nanti saya masakin." Tanya Firza.
"Iya, saya lapar. " Jawab Luna tersenyum.
"Nanti ya. " Ucap Firza.
"Casandra, kamu bantu bisa? " Pinta Luna dan langsung mendapatkan lirikan dari Firza.
"Bisa Dok, begini juga bisa masak. " Ucap Casandra.
"Nggak usah, saya biasa lakukan sendiri."
"Yank, ada Casandra. Harus masak banyak." Ucap Luna dan Firza langsung berjalan ke arah dapur, di ikuti oleh Casandra.
***
"Saya bantuin apa Bang? " Tanya Casandra.
"Tuh bantuin iris sayuran. " Jawab Firza dingin.
Dari ruang keluarga, Luna menatap kedua nya dari jauh, terlihat interaksi kedua nya. Luna tersenyum getir, apalagi Casandra dari tatapan nya sangat menyukai Firza.
Awwww
"Kamu bisa hati - hati nggak sih? " Bentak Firza saat melihat jari Casandra terkena pisau.
"Pisau nya tajam banget. " Ucap Casandra sambil meringis kesakitan.
"Kalau tumpul mana bisa potong jari kamu." Ucap Firza memegang jari Casandra yang terkena pisau, di berikan sebuah plester.
Casandra menatap lekat wajah Firza, hingga pas kedua mata Firza menatap ke arah Casandra. Dari jauh, Luna masih menatap kedua nya, terlihat mereka kini tanpa jarak.
"Kenapa sakit hati saya, tapi dia memang cocok untuk pengganti saya nanti. " Ucap Luna dalam hati.
"Saya tahu, kamu itu menyukai saya. Dan asal ingat, kalau istri saya meminta sama kamu hal yang aneh, awas saja kalau kamu menyetujui nya. Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah membalas cinta kamu. Ingat, saya seperti ini karena Luna. " Ucap Firza.
***
"Wah, enak nih . " Ucap Luna sambil menatap hidangan di meja makan.
"Yang masak Bang Firza Dok, bukan saya. " Ucap Casandra.
"Yaiya, mana bisa dia masak. " Celetuk Firza yang sedang menuangkan lauk kedalam piring.
__ADS_1
Firza dengan telaten menyuapi Luna, cara makan Luna pun kini sudah berbeda, hingga Firza sesekali membersihkan sisa di sudut bibir nya.
"Sudah Yank, kenyang. " Ucap Luna.
"Baru 5 sendok, masa sudah kenyang. " Ucap Firza.
"Kenyang, sekarang ingin istirahat. "
"Baru makan, terus ada Casandra. " Ucap Firza.
"Setelah makan saya pamit kok. " Ucap Casandra.
"Maaf ya. " Ucap Luna.
"Nggak apa - apa Dok. "
Firza mengangkat tubuh Luna kedalam kamar, dan Luna pun bersandar di kepala ranjang.
"Yank, temani Casandra ngobrol dulu. "
"Saya tahu, kamu sengaja. Saya tahu kamu memperhatikan kami tadi di dapur. Apa kamu tidak cemburu, walau kamu memancing saya dengan cara kamu. Saya tidak akan tergoda dengan Casandra. "
"Luna hanya diam, menatap suaminya pergi."
****
"Kamu sudah makan nya? " Tanya Firza.
"Sudah Bang, ini saya sedang bereskan dulu bekas makan nya. " Jawab Luna.
"Jangan, biar saya saja. Kamu pulang saja. " Ucap Firza.
"Makasih ya Bang. "
"Iya."
"Kalau begitu saya pamit, Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." Balas Firza.
*****
"Tunggu, kamu kan anak nya Profesor Nugroho kan? " Ucap Dania.
"Iya benar. " Ucap Casandra.
"Saya tahu sekilas, habis bertemu sama Luna ya? "
"Iya, kalau begitu saya pamit. "
"Hati - hati. "
Dania berjalan masuk dan Firza sudah menunggu di depan pintu, Dania menyerah kan satu kantong kresek berisi buah dan roti.
"Hanya ini? " Ucap Firza.
"Terus, kamu mau nya apa? " Ucap Dania berjalan masuk.
"Kirain bawa apa lagi. " Ucap Firza sambil tersenyum.
"Luna mana? "
"Ada di kamar nya. "
"Saya ke kamar ya. "
"Dania."
"Kenapa Fir? "
"Tolong, kamu bicara sama Luna. Untuk tidak menjodohkan saya dengan wanita lain. "
__ADS_1
"Di jodohkan sama siapa? "
"Kamu tahu kan tadi siapa? "
"Maksudnya, Casandra. "
"Iya, saya tahu maksud tajuan Luna. "
****
"Kamu sudah nggak ada jadwal praktek lagi? " Tanya Luna.
"Nggak ada, katanya kamu tidur. " Jawab Dania.
"Nggak, saya ingin di kamar. "
"Luna, kenapa kamu lakukan ini pada Firza? "
"Dia cerita apa? "
"Apa kamu, ingin melihat Firza bahagia dengan wanita lain, apa kamu tidak sakit hati. Sekarang kamu sedang sakit, tapi bila suatu saat kamu sembuh, gimana? kamu mau mundur, atau mau merusak hubungan Firza dengan madu kamu. Awal masalah itu datang nya dari kamu, bukan dari madu kamu. Datang nya Madu, itu kamu sendiri yang mendatangkan nya. "
"Tapi saya sudah memiliki firasat, kalau saya tidak akan berumur panjang. "
"Stop, kamu bicara seperti itu. Pantas saja, Firza kesal sama ucapan kamu yang semakin hari semakin ngawur. "
*****
"Yank, cukur botak saja apa rambut nya rontok terus. " Ucap Firza.
"Apa nggak malu, punya istri botak? " Ucap Luna.
Firza memeluk tubuh Luna, dari belakang. Begitu sangat nyaman Luna rasakan saat ini.
"Nggak akan pernah malu, karena kamu itu istri yang terhebat. "
"Hebat apanya? "
"Hebat berjuang melawan penyakit. "
"Makasih sayang, tanpa kamu mungkin rasanya hampa. " Ucap Luna.
"Sekarang kamu paham kan, kenapa suami kamu tidak mau di jodoh kan sama kamu. Kalau suami kamu lebih banyak waktu dengan istri muda, kamu bagaimana? kalau suami kamu banyak waktu sama istri tua, istri muda bagaimana? Sudah bisa jawab kan dari sini juga. "
"Tapi kamu juga butuh nafkah bathin kan Yank. "
"Nafkah bathin dari kamu sudah dirasakan, ini juga termasuk nafkah bathin dari istri."
"Makasih Yank, sekali lagi makasih. "
"Sama - sama sayang, cinta Papah buat Mamah nggak akan pernah putus. "
"Kalau sampai tua keadaan Luna seperti ini terus bagaimana? "
"Ya nggak gimana - gimana, Ikhlas merawat. "
"Tidak bisa kasih anak. "
"Kalau tidak di kasih rejeki lagi ya sudah, nggak apa - apa. Mungkin sudah takdir kita begini. "
*****
"Lebih baik, Bunda sama Ayah ikhlas kan saja hutang sama Om Wahyu dan Kak Irfan."Ucap Dania.
"Kamu bilang ikhlas, enak saja bicara begitu. Memangnya cari uang itu mudah, tinggal cetak. Kita yang mandi keringat mereka yang menikmati. " Ucap Pak Surya.
"Mereka kan sudah bayar 70 persen, sisa 30 persen, ikhlas kan saja masa nggak bisa. Aset mereka sudah nggak ada loh, apa Ayah Bunda nggak kasihan. " Ucap Dania.
"Kamu sekarang ada di pihak mana? Wahyu atau Ayah..!! "
.
__ADS_1
.
.