
Firza berjalan mencari kamar Luna, seperti yang di informasi kan oleh Ibu Elisa. Firza melihat Pak Prabu dan Ibu Sinta keluar dari kamar nya.
Firza pun segera melanjutkan jalan nya ke arah kamar Luna, di buka pelan pintu kamar rawat, terlihat Luna sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel nya.
"Mamah Papah kok pulang lagi. " Ucap Luna yang masih fokus pada ponsel nya.
Firza tersenyum bahagia saat melihat kembali wanita yang dia sangat rindukan selama beberapa bulan.
"Mah, Pah. " Ucap Luna terhenti saat melihat siapa yang ada di depan mata nya.
"Luna." Ucap Firza.
Luna menaruh ponsel nya, dan menatap Firza dengan tatapan tidak suka, Firza tahu akan itu berjalan mendekat.
"Bagaimana kabar kamu? "
"Baik, lebih baik. "
"Alhamdulillah, melihat kondisi kamu begini saya senang. "
"Ada apa kemari? Tahu dari mana? "
"Saya hanya ingin melihat kamu, suami mana yang tidak rindu sama istri nya. Di saat ingin mengatakan kebenarannya, ternyata kamu pergi begitu saja. Seakan mereka ingin kita berpisah. Dan selama 6 bulan saya mencoba mencari tahu tentang kamu. "
Luna menatap tubuh Firza yang sangat kurus, penampilan yang berbeda, terlihat bulu - bulu kasar di wajah nya, yang belum sempat Firza cukur.
"Kamu tidak memperhatikan penampilan ya, terlihat kucel apalagi tubuh kamu sekarang habis. " Ucap Luna.
"Apa kamu tidak suka? "
"Dania tidak bisa mengurus ya? "
"Kamu salah, saya seperti ini karena kamu. Dan kamu harus tahu, saya tidak melakukan hal seperti itu sama Dania. Bukti Om Mario pun tahu, pasti sudah sampai sama Papah atau Mamah. "
"Bukti apa? "
"Kamu belum mendengar percakapan saya dan Dania? "
"Belum."
Firza mengeluarkan ponsel nya dan memberikan pada Luna, namun Pak Prabu langsung mengambil nya.
"Sedang apa kamu.. ? " Bentak Pak Prabu.
"Saya hanya ingin kasih tahu kebenarannya, kalau saya bukan pria seperti itu. Saya nggak akan sampai kesini. " Ucap Firza.
"Walau kamu bukan pria seperti itu, saya menolak kamu menjadi menantu saya lagi. " Ucap Pak Prabu yang langsung mendapatkan tatapan dari Luna dan Firza.
"Kenapa Pah, salah dimana lagi? " Tanya Firza.
__ADS_1
"Disaat kebenarannya terungkap, di saat orang tua kamu sedang jatuh baru mereka mengejar keluarga kami, dan baru menerima Luna yang sakit parah, kemarin saat sakit parah apakah orang tua kamu perhatian, malah mendukung untuk cerai. Sekarang, terbalik, saya ingin kamu ceraikan Luna. " Jawab Pak Prabu.
"Nggak Pah, saya tidak mau. Tolong jangan pisahkan kami, saya tidak akan cerai dengan Luna. "
"Baik, Luna akan gugat kamu. "
"Saya akan persulit. " Ucap Firza.
"Luna, kamu jangan diam saja. Kamu mencintai saya kan? Kamu nggak ingin kan saya cerai sama kamu. Dan saya ini tidak bersalah. "Ucap Firza kembali.
"Luna, kamu sekarang pilih keluarga kamu atau pilih suami kamu. Kamu pilih dia, kamu akan terus terikat masalah dengan orang tuanya. Kamu tahu keluarga dia, sahabat palsu. " Ucap Pak Prabu.
Luna terisak menangis, sambil memegang dada nya, isakan nya semakin keras, Firza menatap Luna dengan mata yang berkaca - kaca.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Luna, kamu pilih saya kan? "Udal Firza.
Hiks.. hiks.. hiks..
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Ibu Sinta menatap putri nya menangis dan melihat Firza menantunya ada di sini.
" Kamu, bisa sampai disini? " Tanya Ibu Sinta.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Sa - saya hiks.. hiks.. minta cerai. " Ucap Luna, yang membuat kedua kaki Firza lemas.
"Nggak, saya nggak mau kita bercerai."
"Kita cerai, saya juga tidak mau pernikahan yang terus di kekang, saya tidak mau pernikahan rusak atau orang tua selalu ikut campur. "
"Papah Mamah ikut campur. "Ucap Firza.
" Mereka ikut campur, karena nggak mau anak nya di pungut seperti sampah, yang tadi nya di anggap sampah sekarang di ambil kembali. Benar kata Papah, orang tua kamu, disaat jatuh baru ingat saya, hutang lunas juga mereka adakah yang tulus menganggap menantu, di saat tahu kamu tidur sama Dania mereka dukung, disaat tahu mereka menolak apalagi status Dania yang bukan lagi seorang Dokter. Baru sekarang kedua orang tua kamu cari saya, peduli saya, kemana saat kemarin-kemarin saya sakit. " Ucap Luna.
"Maaf kan Ayah sama Ibu, maaf kalau ini yang membuat kecewa, tapi saya minta kita tidak bercerai. "
"Saya memilih keluarga. " Ucap Luna.
"Kamu dengar kan Firza. " Ucap Pak Prabu.
"Baik kalau begitu, saya akan urus. " Ucap Firza.
"Sekarang kamu pulang, jangan kembali lagi. Saya tidak ingin melihat kamu lagi. " Ucap Luna sambil memalingkan wajah nya.
"Saya pamit, maaf. " Ucap Firza keluar dari kamar rawat Luna, dengan rasa kecewa.
****
__ADS_1
Ibu Sinta berlari keluar mencari Firza, kepala nya menoleh ke kanan dan kiri. Cuaca yang dingin berselimut salju tebal, membuat Ibu Sinta harus mengenakan jaket tebal dan sarung tangan.
Ibu Sinta melihat Firza duduk di halte sendirian, dengan koper sedang di samping nya. Ibu Sinta pun langsung menghampiri Firza.
"Firza."
"Mamah."
Ibu Sinta duduk di samping Firza dengan menahan dingin nya cuaca , Firza dengan mata memerah berusaha menahan tangis.
"Kamu akan langsung pulang? "
"Iya Mah, minggu depan sudah harus berangkat ke tempat tugas yang baru. "
"Maaf, tentang keputusan anak Mamah, dan perlakuan Papah sama kamu. Datang jauh - jauh kesini, kamu malah di tolak mentah - mentah. " Ucap Ibu Sinta.
"Nggak apa - apa Mah. "
"Kamu masih mencintai Luna kan? "
"Sangat Mah, sangat mencintai. "
"Kalau kamu mencintai Luna, jangan turuti permintaan nya. "
"Mamah mendukung saya? "
"Iya, Mamah dukung kamu. Mamah ingin kamu tetap bersama Luna, Mamah yakin sebenarnya Luna itu masih mencintai kamu. Sebaiknya, kamu pergi menjauh sementara, Mamah akan kerja sama dengan pengacara keluarga agar pura - pura di urus, dan pura - pura di persulit. "
"Makasih Mah, makasih. " Ucap Firza sambil mencium punggung tangan Ibu Sinta.
"Mamah carikan kamu hotel, baru besok kamu kembali. Masa baru sampai langsung ke Bandara. "
"Sekali lagi, terima kasih Mah. "
"Ingat, jauhi Luna untuk sementara. Biar dia merasakan juga bagaimana rasanya kehilangan dan dia akan menyesal. "
"Tapi Mah, tolong jangan putus kan akses informasi tentang Luna. Bagaimana juga saya wajib tahu kabar istri saya. " Ucap Firza memohon.
"Maaf kan Mamah ya, kalau kemarin Mamah jahat sama kamu. Mamah janji, akan selalu kasih informasi sama kamu. " Ucap Ibu Sinta sambil mengusap punggung Firza.
"Sekali lagi, terima kasih Mah. Terima kasih Mamah masih menerima Firza untuk jadi menantu Mamah. "
.
.
.
.
__ADS_1