
"Jadi Bang Aldi tadi ketemu sama Dania? " Tanya Firza.
"Iya di depan, sambil kenalin Tiara sama Dania." Jawab Aldi.
"Kapan kalian menikah? "
"Minggu depan, kamu masih disini kan? "
"Udah pulang Bang, saya disini cuman 3 hari."
"Yah, nggak bisa hadir. "
"Doa dari jauh, eh iya kenal sama Bang Aldi dimana? "
"Di kenalkan sama teman, kebetulan teman nya Bang Aldi istri nya teman saya. " Ucap Tiara.
"Awas mba, dia itu galak. "
"Masa, sama saya nggak loh. "
"Belum aja, kalau sudah tahu kedok nya awas aja. "
"Jangan percaya, Abang baik kok. " Ucap Aldi.
"Percaya kok. " Ucap Tiara.
"Kabar Luna bagaimana? "Tanya Aldi.
"Alhamdulillah sehat, ini susah banget di hubungi. Mamah mertua sama nggak respon, malah belum di lihat chat nya. " Jawab Firza.
"Positif aja pikiran nya. "
"Iya Bang. "
*****
"Ya Allah, Mamah pantas Luna nggak enak banget tidur nya. Papah kapan berangkat? "
"Nanti malam berangkat sama om kamu, Mamah juga nggak enak nih ponsel nya aktif tapi nggak tahu kalau ada panggilan banyak dari suami kamu. "
"Mah, telepon dong. "
"Nanti mamah hubungi dia. "
Ibu Sinta pun menghubungi Firza melalui panggilan video, dan Firza langsung mengangkat nya.
"Assalamu'alaikum Firza. " Sapa Ibu Sinta.
"Walaikumsalam." Balas Firza.
"Nak, maaf ya Mamah nggak tahu. Mamah turut berdukacita atas meninggalnya Ayah kamu. " Ucap Ibu Sinta.
"Terima kasih Mah, nggak apa - apa. "
"Yank, maaf ya ponsel nya rusak karena jatuh. Jadi tidak tahu kalau ada kabar duka. " Ucap Luna.
"Iya, nggak apa - apa. Minta doa nya aja buat Ayah. "
"Papah juga nanti malam pulang, langsung ke rumah Ibu, Ayank belum pulang kan? "
"Belum, cuman 3 hari disini. "
"masih ada waktu kalau begitu. "
"Iya, Ibu juga di kamar aja, nggak mau keluar."
__ADS_1
"Ibu kamu, sehat kan Firza? " Tanya Ibu Sinta.
"Alhamdulillah sehat, tapi begitu harus di bujuk terus. " Jawab Firza.
"Kamu hibur Ibu kamu, biar nggak melamun terus. "
"Iya Mah. "
"Kalau begitu istirahat dulu ya, selamat malam. " Ucap Luna.
"Malam." Ucap Firza karena waktu sana malam sedangkan di sini, tempat Luna siang hari.
*******
"Papah." Sambut Firza saat Pak Prabu datang.
"Ibu kamu mana? " Tanya Pak Prabu.
"Ibu di kamar aja, nggak mau keluar. " Jawab Firza.
"Kenapa? "
"Setelah Ayah meninggal Ibu lebih banyak diam di kamarnya. "
"Terus kakak kamu mana? "
"Ada."
"Om Prabu. " Sapa Irfan langsung bersalaman.
Om Prabu tersenyum ke arah Irfan, sedangkan Irfan hanya diam menundukkan wajah nya.
"Saya coba ketuk pintu kamar Ibu dulu. " Ucap Firza.
"Kamu gimana kabar nya? " Tanya Pak Prabu pada Irfan saat Firza tidak ada.
"Gimana rasanya, enak makan uang adik kamu, enak hidup kamu seperti ini? " Ucap Pak Prabu.
"Maaf kan saya om. " Ucap Irfan.
"Nggak harus minta maaf sama saya, kamu banyak lah berubah. Kamu tinggal satu memiliki orang tua, ibu kamu. Jangan berbuat yang aneh - aneh lagi. Kasihan, kamu tidak lihat Firza, begitu lapang dada nya dia. "
"Pah, Bu ada Papah Prabu " Ucap Firza.
Ibu Wike duduk, terlihat lingkaran hitam di kedua mata nya, dengan mata yang sembab, bahkan rambut yang tidak rapih dan acak - acak an.
"Maaf Pah, Ibu seperti ini. " Ucap Firza.
"Wike, saya turut berdukacita. " Ucap Pak Prabu.
Ibu Wike menganggukkan kepalanya, dengan terisak menundukkan kepala nya.
"Kamu yang kuat ya, ada dua anak kamu yang akan menjaga kamu. "
"Hiks.. hiks.. hiks.. iya. "
"Kamu yang ikhlas, wahyu sudah tenang disana. "
"Maaf kan kesalahan suami saya Prabu, maaf kan saya, maafkan anak saya. "
"Saya sudah maafkan kalian, kamu masih harus terus berjuang, kamu jangan sampai terlalu larut dalam kesedihan. Kita semua pasti akan mengalami apa yang kamu alami sekarang, kematian. "
"Sedih nya, saya tidak tahu terakhir dia menghembuskan nafas terakhir, tidak sakit lagi, sakit tapi masih bisa kesana kemari. Dan malam nya tidak bilang apa - apa, tidak mengeluh, hanya seharian dia mencari perusahaan yang mau di ajak kerja sama. "
"Sekarang kamu kerja apa Irfan? " Tanya Pak Prabu.
__ADS_1
"Menganggur Om. " Jawab Irfan.
"Kamu boleh ikut kerja di perusahaan istri Om tapi sebagai staf biasa kamu mau? "
"Apa Om yakin, saya bukan orang baik - baik Om."
"Manusia itu bisa berubah, kamu tidak ingin mencoba berubah. Om kasih kesempatan kamu sekali lagi, demi Ibu kamu. Dan kamu lihat Firza, apa kamu tidak kasihan sama dia." Ucap Pak Prabu sambil menunjuk pada Firza.
"Iya Om, saya mau berubah saya janji."
"Saya kasih kamu kesempatan, kalau tahu kamu tidak berubah dan berbuat masalah di perusahaan, Om nggak segan - segan masukan kamu ke penjara. "
"Saya janji Om, saya janji. "
"Bagus, saya akan hubungi istri saya, dan kamu akan selalu di awasi oleh orang kepercayaan istri saya."
*****
"Pah, makasih sudah mau menolong keluarga saya. " Ucap Firza.
"Bagaimana juga, Papah itu tidak tega melihat keluarga kamu menderita. "Ucap Pak Prabu.
" Apalagi kamu itu menantu Papah, walau Papah ini kejam tapi Papah masih memiliki rasa kasihan. Maafkan Papah juga, kalau Papah jahat sama kamu. "
"Nggak Pah, wajar kalau Papah seperti itu. Bagaimana juga orang tua tidak ingin anak nya sering terbawa masalah. "
"Sekarang Papah serahkan kembali Luna sama Kamu, bangun kembali rumah tangga yang hampir runtuh. Tebalkan kembali pondasi cinta kalian, kunci rapat pintu rumah kalian dengan saling percaya. "
******
"Kamu kenapa diam? " Tanya Ibu Rika.
"Nggak apa - apa kok Bund. " Jawab Dania.
"Cerita sama Bunda. "
"Bund, apa saya ini terlihat patut di kasihani ya. "
"Nggak kok, kenapa? "
"Mungkin, karena tahu kondisinya kita seperti ini di anggap di mata mereka hanya kasihan."
"Mungkin karena kita hidup seperti ini, dulu kita tidak sampai se sengsara begini, sekarang ingin makan saja harus berhutang dulu. "
"Dania harus apa Bunda, biar kita seperti dulu lagi, Dania ingin ke luar negeri juga tidak ada uang. "
"Kamu mau kerja jadi apa? Mungkin di rumah sakit sana, sudah di boikot nama kamu sama Prabu. "
"Masih ada satu orang yang kasihan sama saya, dia akan bertanggung jawab. Tapi kendala uang bu, masa saya harus pinjam sama dia. "
"Siapa? "
"Dia teman, kenal saat seminar waktu di Negara J. "
"Cowok atau cewek? "
"Cowok, dia tahu cerita nya. Dia juga mahasiswa Om Prabu dulu, Om Prabu sempat mengajar dia, malah Mahasiswa kesayangan nya. "
"Iya ya, ada jalan nggak ada uang. "
"Sudahlah Bunda, belum rejekinya saya. Insya Allah kita ada kok, untuk makan dan obat Ayah. "
.
.
__ADS_1
.