
KRIINGG!!! KRIINGGG!!!!
Sebuah suara membuat seorang pria bertubuh tinggi segera berlari. Gagang telepon sudah berada di tangannya saat ini. Ia lalu mengangkatnya dan menempelkannya pada telinga kanan.
Seseorang berbicara dengan tergesa-gesa di seberang sana. Pria itu mengigit bibirnya setiap kali lawan bicaranya mengeluarkan kata-kata. Beberapa kalimat ramah diberikan oleh pria itu sebelum akhirnya ia menutup telepon.
Dimas, pria yang baru saja menerima telepon dari seorang klien segera berlari mencari partnernya. Ia membuat banyak orang tersenggol, marah, bahkan terpesona. Tunggu, itu bukan bagian dari keadaan genting ini.
Sebuah pintu kaca yang tidak transparan sudah ada di hadapan Dimas sekarang. Penatnya belum tentu memberikan hasil. Tetesan keringatnya belum tentu berguna. Tapi instingnya membuat Dimas yakin, orang yang berada di balik pintu itu pasti tidak akan membuatnya sebal hari ini.
Pintu itu dibuka dengan pelan, membuat engsel elitnya bergerak. Setelah Dimas memasuki ruangan itu, barulah ia bisa melihat ruangan yang amat megah. Ruangan yang dirancang senyaman mungkin untuk orang yang ia tuju.
Dimas bersikap sesibuk mungkin karena ia tahu, partnernya itu pasti akan berlagak santai. Dan benar saja.
Dua buah kaki terlihat terlentang di atas karpet hangat itu. Pemiliknya tengah memakai kacamata, menghitung jarinya, mengisi kertasnya, dan mengigit pensilnya.
Dimas segera menghampiri wanita berkucir kuda itu. Ia menggoyangkan bahu kecil wanita itu dengan lembut.
"Plawer, ada pencurian0.0!"ujar Dimas.
Plawer, orang yang Dimas maksud, menggerakkan bola matanya ke arah Dimas dengan begitu santai. Ia menatapnya beberapa detik lalu fokus kembali ke soal matematika di hadapannya.
"Plawer, tolong. Ini darurat>☆
"Bunga Citra Lestari, maksudnya Bunga Aditya, tolongin kasus ini. Ya, ya, ya. Aku gak bisa hidup tanpa cinta kamu, maksudnya aku gak bisa hadapi ini sendirian. Cuma kamu cintaku di dunia ini>~<,"
"Lagu kali ah-_-."ujar wanita itu. Ia masih belum menatap Dimas. Barulah ketika Dimas menghembuskan nafas lemas, ia mulai sulit konsentrasi. "Oke, oke. Aku bakal bantu Pak Polisi sama kamu. Aku perlu denger dulu ceritanya kayak gimana-_-,"
Dimas memancarkan senyuman indahnya. Ia nampak bahagia ketika usahanya tak sia-sia.
"Rumah Makan Seafoodku, di Jalan Abece dekat mall kota kedatangan artis internasional, Enokuia. Pemilik rumah makan itu menelepon karena Enokuia tiba-tiba kehilangan cincin emas berisi berliannya seharga satu koma tiga milyar rupiah dua puluh lima menit yang lalu. Itu adalah pemberian suaminya. Kalau cincin itu hilang, suaminya akan marah besar. Dan lagi cincin itu belum diresmikan, baru dititipkan oleh perusahaan yang membuatnya. Polisi sudah mengamankan TKP. Mereka mengurung semua orang yang ada di dalam rumah makan itu : )."
Dimas mengakhiri laporannya, ia membiarkan wanita yang ada di hadapannya berpikir sejenak.
Tak butuh waktu lama, wanita itu mengubah ekspresinya. Ia menyipitkan matanya lalu membuka kacamatanya. Nampak cantik dan natural. Ia lalu berdiri, memakai jaketnya lalu membuka ikat rambutnya. Cukup dengan kelima jarinya, rambut Bunga kini sudah rapi.
"Ayo, berangkat*_*!"ujar Bunga mendahului Dimas. Dimas tersenyum. Ia sangat mengagumi Bunga yang manis itu. "Buruan ah! Katanya ini darurat, tapi kamunya lama. Bisa cepet dikit gak>¤!"
Dimas tertawa. "Iya, iya^3^,"ujarnya sambil tersenyum. Ia lalu mengikuti langkah Bunga keluar dari ruangannya. Pintu kaca itu dibuka oleh Bunga. Nampak cahaya yang terang menyilaukan mata.
Rumah Makan Seafoodku, 13.00 WIB. Kasus Pencurian Berat.
Sebuah mobil berhenti tepat di garis kuning. Itu adalah garis yanh tidak boleh dilalui siapa pun, kecuali mempunyai kepentingan. Pintu mobil terbuka. Dari balik pintu itu keluar Bunga dengan gayanya yang modern. Diikuti dengan Dimas, mereka meninggalkan mobil yang masih terparkir di depan garis kuning.
__ADS_1
"Selamat sore, Nona Bunga. Kenapa anda lambat sekali ketika ada kasus penting seperti ini-_-?"ujar seorang polisi, Pak Burhan, yang sudah akrab dengan Bunga.
Bunga membuka mulutnya, menghembuskan nafas kasar.
"Aku? Lama? Pak. Bapak gak tahu kalau besok itu Senin? Saya ada ulangan, bapak, ulangan. Kalau gak menghafal saya bisa-bisa gak naik kelas. Mohon maaf kalau saya lancang, tapi bapak, kan, yang baru saja kasih saya 55 soal matematika~o~?"
Pak Burhan menghembuskan nafasnya. Harusnya ia tahu. Bunga pasti akan meledak jika ia memancingnya dengan api. Akhirnya, tanpa berniat melanjutkan perdebatannya, ia menggenggam tangan Bunga dan membawa ke dalam rumah makan.
Beberapa kali Bunga meronta, akan tetapi Pak Burhan yang berotot bak binaragawan itu kuat memaksa Bunga masuk. Setelah memastikan Bunga memasuki rumah makan, Pak Burhan segera menempelkannya dengan Dimas dan menutup pintu rumah makan. Dari balik pintu nampak Bunga masih marah-marah, menyampaikan sumpah serapahnya. Akan tetapi, Pak Burhan pura-pura tidak mendengar. Ia terus berjalan sambil menampakkan senyumannya.
Dimas menggenggam tangan kecil Bunga. Bunga membalikkan tubuhnya, memandang ke arah Dimas. Dengan senyumannya, Dimas mengacak rambut Bunga yang terpaku menatapnya. Dengan tangan kanan yang masih mengusap lembut kepala Bunga dan tangan kiri yang menggenggam tangannua erat, Dimas mendekatkan wajahnya ke arah Bunga.
"Jangan marah-marah. Nanti cantiknya luntur. Kalau udah luntur, siapa lagi yang bisa aku pandangi setiap paginya~♡~,"ujar Dimas menatap Bunga.
Bunga tidak berkomentar. Ia masih terpatung, tanpa ekspresi. Setelah beberapa menit berlalu, ia melepas tangan Dimas dan mendorongnya dengan lembut.
"Bodo amat! Aku gak pakai masker es krim jadi gak bakalan luntur. Bukan karena aku marah-marah cantiknya bisa hilang, tapi rambut aku yang kamu acak-acak ini buat aku kayak orang gila. Udah, ah. Bucin terus hidup lo~o~,"balas Bunga masih dengan nada marahnya.
Dimas melepas senyumn geram. "Kalau gak susah sudah aku masukin kamu ke hati aku♡3♡,"
Bunga menghampiri seorang wanita cantik yang tengah menangis tersedu-sedu. Di sampingnya banyak sekali orang yang sedang menyemangati. Biasa, orang terkenal memang begitu.
Bunga pun jongkok, menyesuaikan dirinya dengan posisi Enokuia yang masih belum berhenti mengeluarkan air matanya. Tanpa banyak basa-basi, Bunga langsung memegang bahu Enokuia. Dia pun akhirnya membuka wajahnya untu melihat siapa yang tengah memegangnya.
"Cincin itu berharga, sangat berhargaT0T." ujarnya di samping telinga Bunga.
Bunga mengusap punggung Enokuia. Ia lalu mendorong Enokuia dengan lembut untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.
"Kita duduk di atas, ya, bu. Di sini kotor, dingin. Walaupun ketika di atas kita jarang bersyukur, tapi seenggaknya saya bisa dapat info lebih detail dari ibu-,-."ujar Bunga yang dibalas dengan anggukan kepala dari Enokuia.
Mereka berdiri. Sebuah kursi yang berada di dekat mereka sudah di duduki.
"Pak,"ujar Bunga mengangkat tangan kanannya. "Frappucino satu^3^,"
"Bunga, fokus dulu~_~,"
"Tapi aku lapar, Dim¤~¤."
"Tahan. Aku tahu kamu bisa+♡+,"
Bunga mengangguk. Ia kembali mengangkat tangan kanannya.
"Pak kepiting satu, maksudnya ada ruangan yang privasi gak-_-?"ujar Bunga mulai fokus pada tugasnya.
__ADS_1
Pemilih rumah makan itu nampak berpikir. Ia lalu menampilkan wajah semangatnya.
"Dari sini belok kanan, ada WC belok kiri. Buka saja, ada CCTV di sana. Maaf saya tidak boleh bergerak kata Pak Burhan//_-,"ujar pemilik rumah makan itu.
Bunga mengangguk. Ia lalu mengajak Enokuia untuk berbicara empat mata di tempat yang dimaksudkan oleh pemilik rumah makan. Dimas ikut membantu menggotong Enokuia yang terlihat lemas. Mereka mengikuti Bunga yang berjalan paling depan.
Terdapat belokan dari ujung rumah makan. Di sana mereka langsung berbelok ke arah kanan. Barulah ketika melihat WC, mereka merasa ingin buang air kecil sehingga mereka segera berbelok ke arah kiri.
Sebuah pintu yang transparan seperti pintu ruangan Bunga nampak di sana. Bunga segera membuka pintu itu dan mempersilahkan Enokuia memasuki ruangan itu. Mereka lalu duduk di kursi. Saling berhadapan dan serius.
"Bu, saya akan langsung bertanya. Saya tidak akan menunggu kesedihan ibu berhenti karena saya akan segera menghentikannya^_^,"ujar Bunga. "Silahkan, ceritakan apa yang ibu alami-_-."
Enokuia menarik ingusnya. Ia lalu menarik nafas panjang. Ia siap bercerita.
"Beberapa minggu lalu suami saya dapat endors cincin emas. Karena suami saya gak suka pakai cincin, dia menghadiahkannya pada saya. Itu masih percobaan sehingga saya sangat suka. Itu memang cuma cincin emas, tapi jangan bilang siapa pun. Emas itu berisi berlian di dalamnya. Berlian yang paling asli. Itu yang membuat saya menangis. Ketika saya datang ke rumah makan ini, memamerkan cincin emas saya di atas daftar menu, tiba-tiba cincin itu hilang ketika saya selesai makanT_T."
Bunga mengangguk-anggukan kepalanya. Ia nampak mengerutkan alisnya.
"Apa ibu tidak memakannya\=¤\=?"tanya Dimas.
"Tidak. Saya tidak suka makan emas yang ada berliannya//_-."
Bunga semakin mengerutkan dahinya. Senyuman masih belum nampak sejak tadi. Ia nampak berpikir keras sehingga rasanya Dimas mendengar ledakan dari diri Bunga.
"Siapa saja yang berpapasan dengan ibu di sini, selain saya, Dimas, dan para polisi-_-?"ujar Bunga.
Enokuia memutar bola matanya. Ia kembali menarik ingusnya sambil berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
"Pemilik rumah makan, wanita yang jutek pakai baju merah muda, pria dengan brewok, dan pria dengan kacamata hitam. Mereka yang agak lama berpapasan dengan sayaT_T."
Dengan segera Dimas mengumpulkan mereka.
Pemilik rumah makan: cincin berlian itu memang berharga, tapi martabat saya lebih berharga. Lagi pun saya yang melapor loh mbak. *0*
Wanita jutek dengan baju merah muda: Aku gak tahu mbak. Orang itu emang agak pamer sama cincin biasa itu. Tapi buat apa saya curi emas murahan kek gitu? Saya orang kaya.\=~\=
Pria dengan brewok: kalau saya niat mah mbak udah saya super glue di brewok saya.{>~<}
Pria dengan kacamata hitam: cuma mau ngomong, saya buta mbak.¤_¤
Dari sana, Bunga nampak bersemangat.
Siapa pelakunya? Baca di next episode.
__ADS_1