
"Aku duga, mereka memang melakukan tempat COD yang berbeda. Akan tetapi, tempat persembunyiannya memang tidak sulit ditebak. Lihat titik ini. Markasnya memang ada di -.- .....,"
BRRAAKKKK!!!!!
Sebuah gebrakan pintu terdengar begitu keras. Keempat detektif yang tengah asyik melihat peta, langsung terperanjat. Dengan spontan saja, mereka langsung berdiri dengan tegak.
Seorang pria dengan postur tubuh yang menakutkan, tinggi, besar, berotot, tengah berdiri di depan pintu. Dia menampakkan tatapan tajam. Yang lebih menakutkan, sebuah pisau tertanam di saku celananya.
Tiba-tiba saja sebuah teriakan terdengar jelas. Itu adalah suara ibu Dimas yang tengah ketakutan. Entah apa yang terjadi secara mendadak ini. Perampokan? Yang benar saja!
***
"Makanya kamu jangan salah sangka dulu dong -.-,"ujar ibu Dimas yang nampak memarahi anaknya.
"Ya, aku gak tahu. Aku kira kan dia itu penjahat. Mana ibu teriak-teriak lagi. Siapa yang tahu kalau ibu teriak karena nginjek ekor cicak -.-,"balas Dimas sambil menundukkan kepalanya.
Ibu Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Saya yang mohon maaf. Karena saya tidak lembut ketika membuka pintu, kalian jadi salah faham -.-,"ujar pria itu.
"Tak apa. Kami yang minta maaf -.-,"balas Dimas. "Jadi, bisa diperjelas mengenai pemanggilan kami -.-?"
Pria itu berdeham. Ia lalu merapikan bajunya yang sempat kusut.
"Jadi begini. Saya diutus oleh walikota untuk melihat keadaan kalian langsung. Beliau marah besar karena kalian, Bunga dan Dimas, seolah kabur dari tanggung jawab. Kalian telah memindah tangankan rayon tanpa surat resmi. Selain itu, kalian tidak membantu Ara dalam rayonnya. Oleh karena itu, walikota meminta kalian datang langsung hari ini juga -.-,"
Dimas memandang Bunga. Ia menampakkan wajah herannya. Di hadapannya, Dimas bisa melihat amarah Bunga hendak meluap. Dengan segera ia lalu menutupi punggung tangan Bunga. Secara otomatis Bunga langsung mengalihkan pandangannya. Dimas lalu tersenyum dan mengangguk. Lagi-lagi mereka bertelepati.
"Baik, pak. Kami akan ikut -.-," balas Dimas.
Pria itu mengangguk.
"Saya tunggu di mobil -.-,"
Setelah mengeluarkan kalimat itu, pria dengan tubuh tinggi itu langsung beranjak keluar rumah. Bunga dan Dimas hanya bisa menatap punggungnya yang tiba-tiba hilang di balik pintu.
"Lalu, kalian akan pergi >~"tanya ibu Dimas. Pertanyaan itu hanya mendapatkan anggukan dari mereka berdua.
"Kami ikut >.
Dimas lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Maaf, kalian tidak bisa ikut. Ini urusan kami. Kalian cukup percaya pada walikota yang tidak mungkin melakukan hal jahat atau membentak kami. Lagi pula, aku mendapatkan anugerah berupa kepintaran. Aku akan melindungi Bunga dan diriku dengan kepintaran itu^.^,"
Hari, Hira, dan ibu Dimas hanya bisa menghembuskan nafas mereka. Menjadi seseorang yang terkenal ternyata tidak lah mudah. Semua ini harus dialami oleh dua orang remaja yang seharusnya tengah libur semester itu. Dua minggu yang seharusnya dijadikan sebagai hari berlibur itu harus tersita habis dengan banyaknya konflik kehidupan.
Balai Kota, 15.00 WIB
Sebuah bangunan yang tidak terlalu megah itu menjadi tempat berhentinya mobil yang ditumpangi Bunga dan Dimas. Rasa cemas masih ada pada diri mereka karena bukti yang mendukung mereka, menyatakan bahwa mereka dipecat, tidak ada. Selain itu, tampang pria yang ada di hadapan mereka sungguh menakutkan.
CKLEK!
Terdengar suara kunci pintu mobil dibuka. Tanpa menunggu perintah, Dimas dan Bunga langsung keluar dari mobil itu. Tanah yang terhindar dari sampah sudah menjadi titik hentakan kaki mereka.
Pintu mobil ditutup dengan lembut. Setelah itu, pria yang tadi langsung mengajak kedua mantan detektif resmi itu memasuki Balai Kota. Tanpa ragu, Dimas dan Bunga langsung saja mengikuti setiap langkah pria itu berjalan.
Beberapa orang yang mengenali Bunga dan Dimas sempat melemparkan tatapan sinis pada mereka. Karena berita buruk mengenai mereka tidak tersebar di masyarakat awam, jadi Bunga dan Dimas tak perlu mendapatkan tatapan sinis terlalu banyak. Hanya di dalam balai ini saja, di mana tatapan yang membuat kerah menjadi gerah harus mereka alami.
Sebuah pintu yang paling berbeda mulai didekati. Tangan pria itu mengetuk pintu dengan cukup keras. Memang, ternyata dia orang yang menakutkan.
"Masuk!"teriak seseorang dari dalam ruangan itu.
Pria itu lalu menatap Bunga dan Dimas tanpa ekspresi.
"Saya hanya bisa tunggu di luar. Silahkan masuk -.-,"
Bunga pun mengangguk. Amarahnya yang ia pendam sejak tadi masih belum meluap. Ia lalu membuka pintu ruangan itu dengan cukup keras. Memang, anak itu berbeda dari yang lain.
Seorang pria dengan jas dan wibawanya nampak berdiri di hadapan sebuah meja, melipat tangannya, dan menatap ke arah pintu dengan tampang serius.
Bunga lalu menarik tangan Dimas dengan lembut. Ia menutup pintu ruangan itu. Setelah semuanya dirasa aman, dengan penuh percaya diri Bunga mendekati walikota.
__ADS_1
"Selamat datang -.-,"ujar walikota sedikit menyindir.
"Pak, mohon maaf. Kami ingin segera mendengar inti dari pemanggilan kami ~.~,"
Walikota lalu menatap Bunga dengan cukup serius. Ia lalu menghembuskan nafasnya.
"Tenanglah. Duduk -.-,"
"Mohon maaf kami tidak bisa tenang ~.~,"balas Dimas. Bunga pun sempat terkejut dengan jawaban Dimas. Namun setelahnya ia merasa mendapatkan dukungan.
"Baik kalau begitu -.-,"balas walikota. Ia nampak sangat marah. "Yang pertama saya kecewa pada kalian. Yang kedua saya malu~.~."
Dimas dan Bunga langsung terkejut. Mereka tidak pernah mendengar walikota semarah itu.
"Apa kami membuat kesalahan ~.~?!"tanya Bunga. Nadanya memang sopan namun suaranya cukup nyaring.
"Kalian bertanya? Kalian ini telah menyalahgunakan ketenaran. Kalian pikir dengan bertindak seenaknya kalian akan santai-santai namun mendapatkan uang ~.~?"
"Bapak hanya mendengar keterangan dari direktur, kan -.-?"
"Tentu saja. Hanya dari dia ~.~,".
"Bapak belum dengar dari kami! Kami tidak pernah mau meninggalkan Perusahaan V. Direktur yang mengeluarkan kami dan bilang kalau bapak sendiri yang memberikan surat pemecatan resmi. Kami dikata tidak becus ~.~!"
Walikota yang awalnya merasa marah, tiba-tiba menjadi luluh. Ekspresi marahnya langsung meredam ketika mendengar ucapan Bunga itu.
"Jangan bohong ~.~!"ujar walikota masih dengan nada yang tidak melengking.
"Biar saya jelaskan. Tidak! Saya tunjukkan -.-,"balas Dimas. Ia lalu mulai menyalakan hasil rekaman ucapan direktur yang diam-diam Dimas rekam waktu itu.
Kata demi kata yang dikeluarkan oleh direktur dalam rekaman itu berhasil mengalihkan arah berpikir walikota. Ia sempat terkejut, bahkan tak percaya. Ia berpikir kalau anak-anak licik ini hanya memperdaya dia. Tapi setelah mendengar pengakuan Dimas dan Bunga tentang rasa bahagia mereka karena telah keluar dari kurungan, walikota langsung meneguhkan hatinya.
Rekaman itu berhenti setelah semua detik dan menitnya dilewati. Walikota sempat melamun ketika Dimas menjauhkan rekaman dari telinganya. Dimas mengemasi dirinya. Ia lalu siap berhadapan kembali dengan walikota.
"Apa rekaman itu benar -.-?"tanya walikota.
"Akuan kami, pertama, tak ada untungnya kami berbohong karena di rekaman itu kami tahu kami sedikit kasar pada Perusahaan V yang seolah mengekang kehidupan kami. Kedua, jika ini palsu, apa ada yang bisa menirukan gaya bicara, bahasa, dan suara dari direktur -.-?"ujar Dimas. Ia masih nampak santai walaupun dirinya tengah marah besar.
"Kalau begitu, kalian boleh tunggu di luar. Di mana saja asal jangan berpapasan dengan direktur. Saya mau memanggilnya saat ini -.-,"balas walikota.
Dimas memandang Bunga yang mulai bisa meredam amarahnya. Ia lalu mengangguk sebagai balasan dari perintah walikota. Ia kembali menggenggam Bunga, mengajaknya meninggalkan ruangan itu.
Pintu itu sudah dilewati. Bunga yang masih heran tentang genggaman tangan Dimas yang sebenarnya tidak perlu hanya bisa mengikuti langkah Dimas. Di luar, pria yang tadi menjemput mereka langsung pergi kembali setelah menerima telepon.
"Hidup kita ternyata rumit, ya ^_^,"ujar Dimas. Bunga hanya tersenyum kecut. "Jajan es krim yuk, aku traktir ^-^,"
Bunga pun tersenyum dengan sangat manis. Makanan apa sih yang bisa Bunga tolak?
Balai Kota, 15.32 WIB
Di ruangan walikota, terlihat seorang anak dan seorang ayah tengah mengeluarkan cairan dari dalam tubuh mereka. Anaknya mengeluarkan air dari matanya, pura-pura. Ayahnya mengeluarkan keringat dari punggungnya, ketakutan. Mereka nampak sangat cocok untuk objek kebohongan.
"Tapi, saya mendengarkan rekamannya langsung dari Dimas -.-,"ujar walikota. Kali ini beliau duduk dengan tenang di hadapan mereka berdua.
Ara menarik ingusnya. Ia masih berusaha mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya.
"Pak, maafkan bila saya lancang, tapi ayah saya tak pernah sudi melakukan hal keji itu. Beliau berjuang mati-matian demi melindungi kelakuan buruk kedua makhluk itu. Rayon mereka yang disangka populer ternyata sangat sulit! Dan karenanya mereka membiarkan saya mengambil rayon mereka. Orang-orang jahat itu, saya tidak terima difitnah seperti ini TOT!"ujar Ara.
"Benar, pak -.-,"lanjut direktur. "Sekarang mereka tidak bekerja dengan becus dan malah mau pinjam mobil perusahaan. Saya yakin jika dipinjamkan, mereka akan foya-foya ~.~!"
Walikota lalu tersenyum. Ia sempat mengejutkan kedua orang bermulut besar itu. Apa walikota tidak percaya pada mereka? Namun, tiba-tiba beliau mengusap puncak kepala Ara.
"Yang sabar, ya. Walau saya tahu kamu sakit hati, tapi tidak usah selebay itu. Sabar saja dengan ucapan saya tadi^_^,"balas walikota.
Direktur mengerutkan alisnya. Ia sedikit tersinggung dengan ucapan walikota.
"Apa maksud bapak kami berbohong ~.~?"
Walikota kembali tersenyum.
"Saya tidak percaya kamu berbohong ^.^,"balas walikota. Ucapannya membuat kedua orang itu kebingungan.
__ADS_1
"Ya, sudah. Kalau memang menurut kalian Dimas dan Bunga itu sangat layak dikeluarkan dari perusahaan, tak apa. Saya sudah katakan, saya tidak percaya anda berbohong ^-^,"lanjut walikota.
Direktur dan Ara lalu tersenyum licik. Mereka pun bangkit dari tempat duduk mereka dan berpamitan.
Kedua orang licik itu masih tersenyum sok baik ketika mereka belum melewati pintu. Namun, setelah pintu ditutup, tawa mereka menggelegar.
Bunga yang baru saja mendapatkan es krim, masih merasa senang. Ia malah terus berjalan menuju ruang walikota. Bisikan Dimas yang memperingatinya akan kedatangan Ara dan Direktur tak didengar. Bunga malah sudah mulai menunjukkan tubuhnya di hadapan mereka.
Gawat! Jika direktur tahu kami berdua ada di sini, bisa-bisa keselamatan kami terancam! Dia akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi anaknya.
bisik Dimas dalam benaknya.
Ia terkejut. Dengan spontan, Dimas lalu menarik tangan kiri Bunga yang mengguntai. Bunga sempat terkejut dan mengeluarkan sedikit suara. Namun, Dimas bergerak cepat. Ia berhasil menyembunyikan Bunga dari kedua orang licik itu.
"Ayah denger suara o.o?"tanya Ara.
Direktur menggelengkan kepalanya.
"Enggak tuh. Bodo amatlah, yang penting kamu bakal jadi terkenal sebentar lagi : ),"
Ara lalu tersenyum. Mereka pun pergi tanpa meninggalkan jejak.
Keadaan sudah aman. Dimas lalu menghembuskan nafasnya lega.
"Hhmmffff >_<,"
Suara itu berasal dari Bunga yang kesulitan berbicara. Bukan karena mulutnya ditutup, bukan. Namun karena wajahnya terlalu menempel pada tubuh Dimas.
Tanpa disadari, Dimas langsung memeluk Bunga dengan erat tadi. Ia menyembunyikan tubuh mereka di belakang tembok yang kecil. Mau tidak mau Bunga harus berpelukan erat dengan Dimas. Hingga, wajahnya saja sudah sulit dibuka.
"Aduh maaf >~<,"ujar Dimas. Ia lalu melonggarkan pelukannya.
Bunga sempat kesal. Ia yang sudah bisa mengeluarkan kepalanya langsung mengangkat dagunya dengan amarah. Sumpah serapah hendak ia sampaikan pada Dimas karena es krimnya harus jatuh begitu saja.
Akan tetapi, apa ini? Mengapa wajah Dimas tiba-tiba tampan? Mengapa angin tiba-tiba menyibak rambut berantakannya? Dan mengapa tiba-tiba jantung Bunga berdetak dengan cepat? Apakah ini yang dimakan, kesal?
"Maaf soal es krimnya. Kamu gak denger omonganku, sih. Ambil es krimku aja. Aku gak apa-apa, kok ^-^," balas Dimas dengan senyuman mautnya.
Pipi Bunga seketika memerah. Ada apa ini? Apakah salah satu lapisan atmosfer ada yang rusak sehingga suhunya menjadi panas? Ataukah di sini oksigennya kurang?
Bunga lalu menjauhkan dirinya dari Dimas. Ia mengambil es krim dari tangan Dimas lalu memakannya begitu saja.
Tanpa ragu, Bunga lalu berjalan meninggalkan Dimas.
"Bisa gila aku kalau kejadian kayak gitu terus! Es krim tumpah itu kan sayang banget! Bisa gila aku kalau yang ini juga tumpah >.<,"bisik Bunga.
Ketika Bunga dan Dimas hendak kembali ke ruangan walikota, ternyata beliau tengah berada di luar ruangan. Beliau menatap jalanan yang ribut akan kendaraan. Dan ia, terlihat kecewa.
"Pak ^0^,"teriak Bunga dan Dimas. Bunga pun langsung menelan es krimnya.
"Eh, kalian ^-^,"balas walikota.
"Jadi, bagaimana ^.^?"tanya Bunga.
Walikota lalu menatap kedua anak itu. Ia kemudian tersenyum.
"Aku tidak percaya bahwa kalian berbohong -.-,"ujar walikota.
Bunga dan Dimas langsung terkejut. Mereka menampakkan wajah yang penuh tanya.
"Kalian dianggap berbohong karena tak bilang kalau yang mengambil alih rayon kalian adalah anak direktur ^-^,"
Dimas dan Bunga terkejut lagi.
"Memang, bapak tidak tahu kalau Ara anaknya direktur ^0^?" Walikota menggelengkan kepalanya.
"Mereka benar-benar penipu. Ara bilang rayon kalian populer, berarti dia memang mau rayon kau, kan? Direktur bertanya apa saya tidak percaya mereka jujur, hal itu semakin membuat saya yakin mereka berbohong. Karena saya tidak pernah membahas itu tadi -.-,"
Bunga dan Dimas tersenyum.
"Jadi, apakah kita bisa kembali mengakses kendaraan ^.^?"
__ADS_1
Walikota lalu menggelengkan kepalanya.