
Bunga merebahkan diri di kamarnya. Ia ingin sekali pulang, ingin sekali. Tapi akibat adanya DJ, dia jadi harus diam di gedung tinggi itu.
Bunga mengeluh. Ia tidak habis pikir. Untuk apa DJ melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu. Lagi pula, kalau mencuri, apakah harus sengaja meninggalkan jejak. Bunga hanya bisa melamun setiap kali memikirkan hal itu.
Ketika Bunga baru saja menutup matanya, terasa sesuatu yang bergetar dari bawah bantal. Ia terkejut, lantas segera terbangun. Dilihatnya handphone yang sedang menampilkan layar yang terang. Ibu. Itulah kata yang tertera di layar.
Bunga senang bukan main. Ia lalu segera mengambil handphonenya dan menerima panggilan masuk itu.
"Ibuuuuuuuuu ToT!!"teriaknya. Seperti biasanya, ia langsung berkaca-kaca.
"Halo, nak. Apa kabar? Tumben kamu belum kasih kabar^.^,"ujar seorang wanita yang berhati lembut di seberang sana.
Bunga mengusap matanya sebelum melanjutkan pembicaraan. Ia lalu menarik nafas dalam dan mulai mengobrol.
"Aku baik, bagaimana ibu, ayah, adek sama kakak TvT?"
"Kami juga baik. Ibu sempat khawatir karena kamu sudah hampir dua hari ini tidak menelpon. Ketika ibu menelpon pun Mas Jutong yang angkat. Katanya kamu sedang banyak tugas. Kamu baik-baik saja ^o^?"
"Iya, bu. Ini sudah jadi tanggung jawabku. Aku dulu sudah janji jadi, ya, aku harus melaksanakannya TvT,"Bunga menarik nafas. Ia tahu, rasanya memang sakit. "Aku kangen rumah T~T."
Tanpa sadar Bunga kembali meneteskan air mata. Suaranya mulai memberat. Ia mengeluarkan banyak air mata. Hatinya sudah tidak sanggup lagi menahan.
Dari seberang sana, ibu Bunga tersenyum. Ia tahu, perjuangan anaknya itu sulit untuk dibalas. Walaupun masih kecil tapi Bunga menyanggupi hal berat ini. Memang terdengar mudah ketika menyelesaikan sebuah kasus dan rekeningmu langsung terisi banyak. Tapi bukan itu yang Bunga rasakan. Dan ibunya tahu betul bagaimana perasaan anaknya.
"Nak ~.~,"ujar ibu Bunga. "Kalau kamu memang sudah tidak sanggup, pulang saja. Kan kamu bisa batalkan kontrak. Ibu kangen kamu, nak. Semua orang di sini kangen kamu. Ayahmu juga ^-^."
Bunga tersentak. Ayah? Ya, ayah. Ayahnya yang hanya bekerja sebagai penjahit kini sering merasa bersalah. Melihat Bunga kelelahan memecahkan masalah di kota demi rupiah membuatnya merasa gagal sebagai tulang punggung keluarga. Kakaknya, tengah kuliah. Adiknya, masih Sekolah Dasar. Dan Bunga yang membiayai semua itu, bukan ayahnya.
Walaupun Bunga merasa sangat pantas melakukan hal itu, mengingat perjuangan kedua orang tuanya yang telah membesarkannya, namun ibu dan ayahnya selalu merasa tidak enak. Bunga tidak mau melihat ibu dan ayahnya selalu dalam kesengsaraan. Walaupun dia kini sengsara karena harus mempekerjakan otaknya dengan keras, ia ikhlas. Ia tahu, ia belum bisa membalas semua jasa kedua orang tuanya.
"Maaf, bu TvT,"ujar Bunga masih dengan isakannya. "Dari dulu aku selalu merepotkan. Sudah jauh pun aku tetap merepotkan. Aku, ahh. Aku tidak tahu harus berkata apa, bu. Maaf, karena menyetujui kontrak itu. Aku, sangat ingin seperti dulu. Tapi, aku juga tak ingin kalian sengsara T~T."
Ibu Bunga tersenyum.
"Tak usah minta maaf. Kamu, hebat. Kami, tidak, kampung kita bangga padamu, nak ^U^,"
Bunga tersenyum. Ketika ia sedih, ibunya selalu bisa menghibur. Memang benar, kepercayaan mereka tidak boleh diabaikan. Bunga harus semangat menjalani hidupnya.
"Kamu tahu, nak? Ibu, ayah, kakak, dan adikmu sudah berencana untuk ke kotamu. Kamu yang selalu mengunjungi kami. Kali ini, kami yang akan datang ke sana. Bibi Kelly menyuruh kami untuk tinggal di kota sementara waktu. Kakakmu libur, adikmu juga. Jadi jika kamu tidak keberatan, tak apa kami berkunjung^-^?"
Bunga girang. Ia tersenyum bahagia. Sebelum menjawab, ia menganggukkan kepalanya dengan kencang. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarganya setelah dua bulan tidak bisa pulang ke kampung halaman.
Setelah menjawab pertanyaan ibunya, mereka kembali melanjutkan percakapan. Sesekali, adik dan kakaknya merebut telepon untuk bisa mengobrol dengan Bunga. Hal itu membuat Bunga tertawa. Apalagi ketika ayahnya mengobrol dengannya. Suara yang sudah lama tak ia dengar. Suara seorang penyemangat. Suara yang membuat Bunga bisa tinggal di tempat yang terkenal ini.
Butuh waktu hampir satu jam untuk bisa melepas rindu. Barulah setelah terdengar suara adiknya yang mengantuk, Bunga menghentikan obrolan mereka. Toh besok mereka akan sampai di sini. Untuk apa dia berlarut-larut dalam kesedihan kalau besok semuanya akan berubah menjadi kebahagiaan.
Telepon di tutup tepat pukul 08.30. Bunga masih ingin mengobrol namun ibunya pasti tengah kelelahan. Tak apa, lah. Ibunya harus istirahat.
Setelah Bunga mematikan handphonenya, ia lalu pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah sembabnya. Air yang terasa dingin menyentuh kulit, berhasil menyegarkan suasana hati Bunga. Ia akhirnya bisa tersenyum kembali.
Bunga melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sebelumnya ia sempat berbalik menghadap cermin untuk memastikan penampilannya. Setelah itu ia mulai keluar dari kamar mandi.
Ketika sudah menutup pintu, Bunga berbalik. Ia membuang nafas karena mengeluh. Di pintu kamarnya kini terlihat seorang wanita yang seumuran dengannya tengah melipat kedua tangannya di hadapan dada. Ia menatap Bunga dengan sinis. Ya, dia adalah rival Bunga di rayon yang berbeda. Reisa Rasyinta, atau nama detektifnya yaitu Ara. Memang dia seangkatan dengan Bunga, namun fisik dan kecerdasannya masih jauh jika dibandingkan dengan Bunga. Apalagi dia lebih tua satu tahun dari pada Bunga.
"Denger-denger seorang detektif yang terkenal cerdas, muda, cantik, dan hebat itu gak bisa selesaikan kasus semudah itu dalam waktu satu hari. Malah nangkap orang yang bukan pelaku ^,^,"
__ADS_1
Bunga memutar bola matanya. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan Ara dan langsung tidur saja. Besok, ujian harus ia laksanakan. Untuk apa meladeni orang seperti Ara yang memang kurang kerjaan itu.
"Ya, lo memang gak bisa jawab, sih. Soalnya lo gagal jadi detektif ^,^."
Namun sepertinya Bunga tidak bisa membiarkan orang ini begitu saja. Apalagi jika mengingat Bunga memang seorang pemarah. Dan akhirnya Bunga mulai menghadap Ara dengan tegas.
"Gue sih bodo amat ya Ra kalau penghargaan itu diambil. Tugas gue cuma nyelesaiin kasus, gak perduli cepet atau lambat. Juga yang penting bayaran gue besar, bahkan udah lebih besar dari lo yang udah lama di sini -.-."
Skakmat! Bunga berhasil memutar balikkan fakta. Ara pun mulai marah dengan balasan dari Bunga.
"Ya, iya dong. Lo kan anak kurang duit, jadi ya duit tu prioritas lo. Lagian, gua gak terlalu butuh bayaran di sini kok. Duit gua banyak ^,^,"
"Oh, gitu. Gua gak bahas itu tapi, gak mau tahu juga -.-."
"Eh, jaga ya omongan lo! Gak bisa selesaiin kasus aja songong lo ~¤~."
"Denger, ya Ra. Ini udah malem, tolong. Aku mau tidur. Kamu nyanyiin aku lagu kek, ceritain dongeng pengantar tidur kek, bukan ceramah tapi gak jelas kayak gini. Lagian, yang kemarin tuh udah naik tingkat kasusnya. Dan, memang yang ditangkap bukan pelakunya, tapi dia itu pelaku pencurian berlian mahal yang ada di museum rayon kamu. Yang harusnya kamu tangani dua minggu yang lalu dan sampai sekarang belum beres. Malah aku yang nemu pelakunya. Inget kamu Ra-.-?"balas Bunga.
Ara merasa tersudutkan. Ia kesal namun tak sanggup membalas. Ia seolah-olah dibungkam mulutnya oleh Bunga secara tidak langsung. Dan itu membuat dirinya merasa marah.
"Udah, ah. Mau tidur gua. Kalau keluar tutup pintu. Nanti ngunci otomatis kok gak kayak kamar lo yang harus manual -.-,"balas Bunga. Ia pun berjalan menuju ranjang empuknya dan segera menarik selimut, membiarkan Ara yang tengah marah-marah.
***
"Makanya jangan begadang ~o~!"ujar Bunga yang tengah duduk manis di jok. belakang sepedanya.
"Iya, maaf. Jangan marah dong cantikku, kita belum nikah jadi aku tuh susah lupain kamu ^♡^," balas Dimas dengan santainya.
Bunga hanya mendumel dan tidak menjawab ucapan Dimas.
Hari ini adalah hari pertama ujian, mengganti kemarin. Dan mereka harus berangkat agak siang karena Bunga tidak bisa pergi tanpa Dimas. Tas Bunga, entah bagaimana, ada di kamar Dimas. Dan karena hal itu, Pak Burhan malah menyuruh Bunga untuk sekalian berangkat bersama .
07.15 WIB.
Di jam itu mereka baru sampai di sekolah. Maka dari itu, setelah memarkirkan sepeda, mereka langsung berlari ke dalam kelas. Kelas Dimas bersebelahan dengan Bunga. Sehingga Dimas bisa melemparkan rasa sayangnya dengan mencium tangannya dan meniupnya ke arah Bunga setiap kali hendak masuk kelas. Dan untunglah, mereka belum terlambat.
10.00 WIB
Bunga menggantungkan mantelnya di tangan kanan. Ia lalu memasuki toilet sekolah dengan hati-hati dan langsung mengenakan mantelnya. Ia langsung keluar dengan pakaian yang berbeda Kali ini, karena ada persiapan, ia bisa mengganti penampilan dalam waktu lima belas detik.
Dimas tersenyum manis. Ia lalu menyambut Bunga dengan begitu hangat. Mereka segera pergi ke kantor guru untuk menangani masalah DJ lebih lanjut. Ketika ia melihat ke belakang Dimas, di sana berdiri seorang anak laki-laki dengan seragam yang sama tengah menatapnya sinis.
"Beib♡.♡,"ujar Dimas.
"I..iyah-,-?"balas Bunga.
"Cieee udah anggep kamu beibnya kamu>♡<,"
"Ih apaan sih >o
Dimas terus menggodanya. Dan anak itu, tiba-tiba hilang.
10.15 WIB
Bunga nampak duduk manis di sebuah ruangan yang telah disediakan oleh pihak sekolah untuk menggali informasi dari ketua kelas itu. Namun, Bunga masih teringat dengan anak laki-laki itu. Siapa dia? Kenapa menatap Bunga dengan tatapan seperti itu?
__ADS_1
Dimas menghampiri Bunga. Ia nampak lebih tenang dari biasanya karena baru saja Bunga meladeni rayuannya.
"Bunga, ketua kelas udah di luar. Suruh masuk^♡^?"tanya Dimas yang dibalas dengan anggukan dari Bunga.
Seorang laki-laki memasuki ruangan itu. Bunga sengaja tidak berbalik agar tampak lebih berwibawa. uou. Ia pun menegakkan tubuhnya, menunggu laki-laki itu datang.
Ketika kursi di hadapannya diduduki, Bunga terkejut bukan main. Ia sampai hendak sulit bernafas. Apa-apaan ini?
"Kamu ~.~?"ujar Bunga. Laki-laki itu hanya berkedip pelan. "Kamu yang tadi lihat aku dengan sinis, kan ~o~?"
Laki-laki tidak tersenyum atau pun menjawab pertanyaan Bunga. Ia hanya berkedip pelan tanpa ada ekspresi sedikit pun.
"Oke, lupakan yang tadi -_-,"ujar Bunga berusaha menenangkan jantungnya. "Jadi, kau ketua kelas-.-?" Dia berkedip pelan.
"Kau yang menyuruh Priska menyapu koridor-.-?" Dia berkedip pelan.
"Pagi-pagi kau ikut main petak umpet-.-?" Dia kembali berkedip pelan.
"Pertanyaan pentingnya, kau bersekongkol dengan DJ-.-?" Dan lagi-lagi dia berkedip pelan.
Bunga merasakan sesuatu yang aneh. Dia tidak melihat ada kejujuran atau kebohongan dari reaksi laki-laki ini. Ia pun mengerutkan alisnya, menatap laki-laki itu dengan aneh.
"Aku Hari -_-,"ujarnya tiba-tiba. "Kalau tidak tanya nama, aku tidak akan menjawab -_-."
Bunga membuang nafas lemas. Ia pun mulai bersabar.
"Oke, namamu siapa^-^?"
"Aku sudah bilang, aku Hari. Iya tidak tahu iya-_-,"
"Maksudnya -.-?"
"Pertanyaanmu_-."
"Kenapa menyuruh Priska jawabannya tidak tahu-.-?"
"Aku langsung cerita saja. Waktu main petak umpet ada yang menepuk bahuku. Dan aku tidak sadar dari situ. Aku sadar ketika terbangun di ruangan yang ternyata kelasku sendiri-_-,"
Bunga terdiam. Ia berusaha mencari celah untuk menemukan petunjuk yang tepat. Dan barulah ia menyadari sesuatu.
"Terimakasih, Hari. Informasinya cukup lengkap. Dan, sampaikan salamku pada Hira agar cepat sembuh ^-^."ujar Bunga yang diiringi senyuman manis.
Hari sedikit terkejut. Ia lalu mengerutkan alisnya.
"Kau tahu aku kembarannya^.^?"ujarnya.
Bunga hanya menggeleng.
"Tidak. Aku baru tahu dari kau. Baru saja kau bilang kalau dia kembaranmu, kan? Aku cuma mengira-ngira tadi ^-^,"
Hari tersenyum. Ia nampak takjub dengan jebakan Bunga.
"Akan aku sampaikan^-^,"balas Hari. Bunga pun tersenyum. Ia lalu keluar untuk menemui Dimas dan Pak Burhan, meninggalkan Hari yang tiba-tiba tersenyum sinis.
Bunga menghadap ke arah dua pria itu yang seolah-olah tengah menunggu anaknya lahiran. Dan ketika Bunga keluar mereka langsung menanyakan keadaan. Benar-benar seperti keluarga yang menunggu cucunya lahir ke dunia.
__ADS_1
"Aku sadar satu hal -.-,"ujar Bunga. Dimas dan Pak Burhan mengerutkan alis mereka. "DJ itu sengaja merencanakan agar Hira, Hari, dan Priska menjadi umpan. DJ adalah seorang ahli hipnotis. Ketua kelas itu tidak menunjukkan bahwa dia tengah berbohong. Sama halnya dengan Hira, dia dihipnotis. Dan dia kembaran Hira ^-^,"
"HAH^O^?!"teriak mereka berdua. "Siapa Hira^O^?!"