
23 Februari, 08.00 WIB
Dimas terlihat cemberut di sepanjang jalan. Kali ini nampak Hari, Hira, dan Bunga tengah menggoda anak tampan itu. Ia sebenarnya bukan tidak berani melawan, tapi ia sudah lelah melawan. Sudah beratus-ratus kata ia keluarkan untuk melawan godaan mereka, akan tetapi tak ada yang mudah di kalahkan.
"Eh, Bunga jadi Selena bentar, aku jadi Dimas nya ^0^,"ujar Hira mulai berakting. Dan Hari hanya menjadi penonton setia yanh tertawa terbahak-bahak.
"Boleh, boleh ^0^,"ujar Bunga. "Ahh Dimas oppa, kamu nanya aku, ya? Atau jangan-jangan aku udah lebih keren dari Bella? Kenapa selama ini kamu gak temui aku ♡.♡?"ujar Bunga yang tengah berada di samping kanan Bunga.
"Aduh, sayangku Selenah, kamu tuh memang cantek, tapi aku tuh cuma mau tanya ♡.♡,"ujar Hira.
"Gak perlu ditanya, Dimas oppa. Aku sudah tahu, aku akan menerimamu menjadi tunanganku ♡.♡,"ujar Hira.
"Aduh, tapi bukan itu yang mau aku tanyain ♡.♡,"
"Lalu apa Dimas oppa♡.♡?"
"Aku tanya mau gak kamu jadi istri selamanya buat aku ♡.♡?"
"STOPP~O~!!" ujar Dimas. Ia menutup mulut Hira dan Bunga. "Udah, aku geli tahu, gak? Lagian aku cuma mau sama Bunga ~0~,"
Bunga dan Hira pun berhenti mengoceh. Mereka menganggukkan kepala mereka dan berjalan dengan tenang.
"Dimas oppa mau jadi suami Selenah, ya ♡.♡?" ujar Hari dari belakang.
Dimas membalikkan kepalanya. Ia menatap Hari dengan sangat ganas. Dan maraton tanpa ujung pun dimulai.
08.12 WIB, Angkot
Hari masih menggenggam telinganya yang merah. Dimas yang merupakan pelaku dengan santainya menatap ketiga orang yang bersamanya dengan sinis.
"Makanya, udah dibilang. Aku gak suka sama Selena, tapi kalian maksa -.-,"ujar Dimas.
"Iya, deh. Maaf -.-,"ujar tiga orang itu.
Dimas pun bangkit dan menegakkan tubuhnya. Ia lalu menempelkan ujung jari telunjuk dengan ujung jempol sehingga terbentuk huruf o.
Dimas tersenyum dengan manis. Ia merasa menang.
Kali ini keempat orang jenius itu sengaja tidak menggunakan mantel detektif mereka karena selain tidak cocok dengan cuaca yang cukup panas mereka juga tidak mau identitas mereka diketahui. Baju mereka tidak mencolok pula. Mereka hanya menggunakan kaos dan celana oblong kali ini.
Mereka masih belum bekerja di bawah perintah sehingga mau tidak mau peralatan ditanggung sendiri. Akan tetapi tak masalah. Toh, jika mereka berhasil menyelesaikan kasus, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih tenteram. Hal itu lebih baik.
Di terminal, angkot itu berhenti secara perlahan. Barulah ketika angkot sampai di tempat yang cukup teduh, bannya berhenti berputar. Beberapa orang yang juga menaiki angkot itu turun terlebih dahulu. Keempat detektif itu ikut turun dari angkot.
Dimas keluar paling akhir. Ia hendak membayar ongkos mereka. Walaupun sudah dipaksa agar membayar masing-masing, namun Dimas tetap bersikeras. Dan akhirnya mereka hanya bisa menunggu Dimas yang tengah memberikan beberapa lembar uang pada supir angkot.
Pria yang berprofesi sebagai supir angkot itu memberikan kembalian pada Dimas. Setelah memastikan bahwa semuanya siap untuk melanjutkan perjalanan, mereka pun mulai membuka langkah mereka.
Jalanan cukup padat pagi ini. Banyak orang-orang yang membeli makanan di pinggir jalan. Hal itu membuat si kembar yang cukup cinta kuliner menghampiri seorang pedagang minuman. Mereka pun memesan dua bungkus minuman. Ya, Bunga dan Dimas merasa kurang enak minum minuman yang dingin di cuaca yang panas. Aneh? Memang.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian yakin banget kalau Selena itu bisa bantu kita -.-?"tanya Bunga tiba-tiba.
"Itu, ya. Kami sering lihat kalau Selena itu sering menjadi motivator kecantikan, mengajak teman-temannya untuk percaya diri pada diri sendiri. Dia juga sering ditanya banyak cewek tentang merek lipstick atau eyeshadow. Dan yang kami lihat adalah, dia menjawabnya dengan cepat dan tepat. Bahkan, ia hampir tahu tempat-tempat toko kecantikan yang menjual beberapa merek. Hebat! Bakat itu ^.^,"ujar Hira.
Hari mengangguk sebagai tanda bahwa ia setuju dengan ucapan Hira. Ia pun membiarkan Hira mengambil dua buah plastik dari pedagang itu.
Hari hendak membayar minuman mereka. Akan tetapi, Dimas langsung membayarnya begitu saja. Hari membiarkannya, dan setelah meninggalkan penjual ia baru memaksa Dimas untuk mengambil uangnya.
"Udah gak apa-apa. Santai aja -.-,"ujarnya. "Kalau maksa aku centang forehead-mu ^.^,"
Hari pun memasukkan kembali uangnya dengan sedikit rasa malu. Namun, setelah itu mereka kembali bersikap biasa.
Tak butuh waktu berjam-jam, Hari dan Hira telah membuang bungkus minuman mereka ke tempat sampah. Dalam keadaan kosong tentunya. Selain itu, mereka juga sudah sampai di sebuah rumah yang nampak mewah namun kecil. Cukup kecil bila digunakan oleh keluarga yang punya dua anak.
Hari dan Hira mulai menuntun sahabat mereka menuju ke dalam rumah itu. Rumah yang segala barangnya terlihat mewah. Hari membuka pagar yang tidak digembok dengan begitu santainya. Ia terlihat seolah-olah sering berkunjung ke tempat ini.
Ubin yang berkilau tengah diinjak oleh keempat anak bertekad kuat. Hari berusaha mencapai bel yang cukup tinggi. Setelah berhasil mencapainya, ia lalu menekannya beberapa kali.
Seseorang membukakan pintu dari dalam. Akan tetapi, dia mungkin bukan orang. Selain rambutnya yang berantakan, dia juga berwajah sangat putih seperti susu.
__ADS_1
Hari yang berada paling depan langsung terkejut. Bahkan mereka berempat meloncat bersamaan.
"KALIAN MAU APA LAGI SIH!! BISA GAK KALAU MAIN PAKAI WI-FI DI RUMAH ORANG LAIN AJA ~O~?" teriaknya.
Si kembar tiba-tiba menghembuskan nafas mereka.
"Ternyata Selena -.-," ujar mereka bersamaan.
"Bukan kok, kami sudah pasang Wi-fi sekarang di kamar. Tapi, ada yang mau nanya sesuatu sama kamu. Dimas, dia mau ke kamu lho ^.^,"ujar Hira.
Mendengar kata Dimas sama seperti mendengar pangeran menurut Selena. Ia langsung saja merapikan baju dan rambutnya yang cukup berantakan. Badannya bergerak-gerak mencari keberadaan Dimas.
"Kalau ada Dimas oppa pasti ada Bella. Kenapa gak kasih aja Dimas oppa sama aku Bel -.-?"ujar Selena. Bunga hanya mengangkat kedua bahunya. "Yah udah Dimas oppa, silahkan masuk ^-^,"
Dimas pun tersenyum kecut. Kalau bukan untuk tugas, dia tidak mau melakukan hal ini.
"Orang tua kamu ada, Lena 0.0?"tanya Bunga.
"Oh, aku tinggal sendiri di sini. Orang tuaku tinggal di rumah mereka ^-^." Seketika Bunga dan Dimas saling berpandangan lalu menelan ludah.
Sebuah rumah yang ternyata besar bagi satu orang remaja itu nampak rapi dan harum. Selena sempat menyemprotkan pengharum ruangan dan membersihkan maskernya. Jarang-jarang, kan, Dimas sengaja ingin bertemu dia.
"Kenapa, ya ^-^?"ujar Selena dengan wajah yang sangat manis, membuat Bunga dan si kembar berusaha menahan tawa.
Dimas lalu menarik nafas panjang. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kapas dalam plastik klip yang kini tertutupi embun dan lebih kering.
"Kalau boleh tahu ini merek apa, ya 0.0?"tanya Dimas
Selena mengerutkan alisnya. Ia mengambil kapas itu dan melihat warnanya. Setelah menganggukkan kepalanya, ia lalu mengambil serbuk coklat itu. Menggesekkannya dan tersenyum.
"Ini sih merek VV. Lumayan murah sih ^-^,"balas Selena. Dimas pun tersenyum lepas.
"Kalau boleh, bisa kamu jelaskan secara detail ^-^?" tanya Dimas. Tentu saja Selena mau.
"Merek VV ini eyehadow-nya aku kurang tahu soalnya aku gak pakai ini. Lumayan murah. Ada banyak warna. Tapi, sekarang di toko yang dekat jembatan, Toko Engkosmetik, lagi promo setengah harga untuk warna coklat^-^,"
CASSS!!! Itu dia!
Setelah mendapatkan informasi yang cukup, mereka pun langsung pamit. Selena sempat menyayangkan hal itu karena tidak bisa berlama-lama bersama Dimas. Namun, ini demi menghemat waktu.
Selena mengantar keempat anak itu menuju pagar rumahnya. Dari sana, mereka langsung berjalan menuju Toko Engkosmetik yang tak terlalu jauh itu.
Toko Engkosmetik, 09.00 WIB
"Selamat berbelanja dan mendapatkan apa yang diinginkan ^-^,"ujar seorang wanita cantik berseragam rapi.
Dimas yang menjadi pusat perhatian, langsung mendekati wanita itu.
"Ada yang bisa dibantu ^-^,"lanjutnya nampak ramah, atau modus.
"Di sini jual VV eyeshadow coklat ^-^?"
"Iya, betul. Kebetulan sedang ada diskon setengah harga. Silahkan dipilih ^-^,"
"Maaf, tapi saya mau tanya, bukan mau pilih. Apa ada orang yang beli eyeshadow VV coklat dengan jumlah yang cukup banyak^-^?"
Wanita itu lalu tersenyum manis. Namun, Bunga sudah tahu. Itu senyum bisnis.
"Mohon maaf, kami menjaga privasi pembeli ^-^,"balas wanita itu.
Dengan jawaban seperti itu saja keempat orang itu langsung tahu bahwa ada pembeli yang memborong barang itu. Jika tidak, kenapa dia susah bilang 'mohon maaf tidak ada'? Benar,kan?
Dimas pun menatap Bunga. Ia seolah-olah meminta ijin untuk suatu hal. Dan Bunga menutup matanya, lalu mengangguk.
"Yaah, padahal aku perlu info itu lho >.<,"ujar Dimas. Kali ini, wajah tampannya ia gunakan. Wajahnya dibuat seimut dan semenarik mungkin. Dan memang benar, hal itu bisa membuat wanita penjaga toko menggigit bibir bawahnya.
"Aduh >~<,"bisiknya. "Tapi mohon maaf mas, saya tidak bisa kasih tahu >~<,"
Dimas lalu menggenggam tangan wanita itu. Ia menatap wajahnya yang merah menyala.
__ADS_1
"Yah, kamu gak bisa ya U.U,"
Seperti tengah dirayu, wanita itu lalu terbawa perasaan. Ia memandang Dimas dengan penuh kebahagiaan.
"Oke saya kasih tahu tapi jangan bocor, mas-nya lucu banget >~<,"balasnya. Dimas pun mengangguk dan melepaskan tangan wanita itu. "Sudah ada tiga kali orang yang tubuhnya tinggi dan wajahnya ganteng datang ke sini borong semua merek itu. Dia juga dulu ambil kelas umum cara lukis diri di sebelah toko^-^,"
"Kalau boleh tahu, barangnya delivery? Kemana ^-^?"
"Jangan bocor, ya, mas. Barangnya di bawa ke daerah Aku Saha, deket pasar. Temen saya yang antar juga gak sampai tempatnya ^-^,"
Dimas lalu menganggukkan kepalanya. Ia memandang ketiga orang yang berada di belakangnya.
"Mas, boleh minta fotonya ^-^?"ujar wanita itu. Dimas pun tersenyum kecut.
***
Setelah keluar dari toko, Bunga terus memonyongkan mulutnya. Hari dan Hira tidak heran karena pastilah Dimas penyebabnya. Sedangkan Dimas yang bersikap datar hanya merasa kalau Bunga kelelahan. Si kembar pun memberi isyarat agar Dimas merayu Bunga.
"Bunga, kamu kenapa ^.^?"tanya Dimas.
"Kamu bisa kan gak usah genit gitu ~.~,"
Dimas pun tersenyum kecil.
"Kamu cemburu, ya ♡O♡,"
Pipi Bunga langsung memerah.
"Cieee...CIEEEEEE..."
"Tunggu o.o," ujar Bunga memotong ucapan Dimas. "Jalan Aku Saha, kan, jauh banget. Kalau naik angkot, berapa coba uang yang harus dikeluarkan? Lagi pula kalau naik angkot paling muter dulu ke arah perpustakaan kota. Baru bisa sampai kalau tambah jalan kaki. Sejam kira-kira. Atau lebihT.T,"
Ketiga temannya hanya bisa menghembuskan nafas lemas.
"Kita butuh kendaraan pribadi. Kalau pinjam punya orang tua, kita tidak bisa. Prinsip kerja di luar perintah itu harus benar-benar milik sendiri yang dikeluarkan T.T,"balas Hari.
Di sepanjang perjalanan mereka tidak banyak mengobrol. Mereka lebih fokus ke pikiran mereka masing-masing. Banyak sekali solusi yang menantang seperti pergi dengan sepeda atau jalan kaki. Tapi, itu sangat tidak mungkim untuk digunakan.
Sebuah kursi yang tak berpenghuni kini menjadi sasaran keempat detektif itu. Mereka lalu duduk di sana tanpa harus mengajak dengan kata-kata. Kursi itu cukup untuk empat anak kurus.
Masih belum ada yang membuka mulut. Mereka bungkam, bisu, mulut mereka terasa dikunci. Hembusan nafas pasrah banyak terdengar. Bukannya mendapatkan kesenangan, malah tantangan baru lebih menguras otak.
Entah inspirasi dari mana, tiba-tiba saja Bunga menegakkan tubuhnya. Ia memandang ketiga sahabatnya, membuat mereka ikut tegak.
"Gimana kalau kita minta bantuan Pak Burhan ^.^?"tanya Bunga.
Ketiga pria itu mengerutkan kening mereka untuk menimang-nimang usul Bunga.
"Kalau ke Pak Burhan, berarti kita pinjam punya perusahaan. Kalau begitu, ijin aja sama direktur -.-,"ujar Dimas.
Bunga menganggukkan kepalanya.
"Kenapa gak coba dulu aja -.-?"ujar Hari. Hira pun mengangguk.
Bunga lalu ikut mengangguk dan mengambil handphonenya. Di sana ia berusaha mencari kontak Pak Burhan. Setelah menemukannya, tanpa ragu ia langsung menelponnya.
Panggilan berdering cukup lama. Namun, tak selama menunggu Bunga sadar Dimas cinta dia -_-.
"Hallo,"terdengar suara yang melegakan.
"Pak, boleh minta tolong ^.^?"tanya Bunga.
"Boleh banget."
"Kita butuh kendaraan pak. Sama supir. Kasusnya harus diperdalam ternyata -.-,"
Setelah itu, Bunga mendengar beberapa percakapan. Ia masih merasa resah. Namun, tak lama kemudian, Pak Burhan kembali mengangkat telepon.
"Bapak usahakan dulu. Direktur itu tak ijinkan,"
__ADS_1
"Iya, pak. Terimakasih ^-^,"balas Bunga. Ia pun menutup handphone dengan sedih.
"Kita ke toko perhiasan dulu saja -.-,"ujar Bunga. Mereka pun mulai bangkit.