
Dimas menganggukka n kepalanya. Ia mulai memahami apa yang di maksud oleh Bunga.
"Aku juga sudah mencurigainya. Sejak awal dia berlaku aneh. Tapi aku malah berpikir positif. Ternyata aku terpedaya oleh tingkah lakunya -.-,"ujar Dimas. Bunga hanya tersenyum kecil.
"Kalau begitu, hal ini malah akan mempermudah kita dalam mencari DJ ^.^,"ujar Hari. Entah mengapa ia tiba-tiba saja merasa bersemangat sekali.
"Iya, kita harus segera mencarinya dalam waktu dekat. Dia mulai bertindak nekat hingga berani membunuh orang lain -.-,"ujar Bunga. Ia menyodorkan tangannya untuk ditarik oleh Dimas.
Ketiga orang itu menunggu Bunga yang terlihat masih membereskan pakaiannya.
"Kalau aku tantang kita untuk menemukan proyek DJ dan menangkap basah dia, kalian siap ^_^?"tanya Bunga.
Ketiga pria itu saling berpandangan. Mereka tersenyum satu sama lain.
"Boleh ^o^!"
"Oke, kita mulai dari sekarang ^o^,"
22 FEBRUARI 20XX
Bunga mulai memasukkan dirinya kembali ke dalam kamar yang tiba-tiba menyeramkan itu. Begitu pun ketiga pria yang tadi ada di luar. Mereka mulai menyelidiki kejadian ini lagi.
Bunga mendekati Puri. Ia sebenarnya tak tega bila harus menggerakkan tubuh Puri. Akhirnya ia berniat untuk menggambar tubuh Puri terlebih dahulu untuk dijadikan bukti nantinya. Ia lalu merogoh kantung mantelnya, berusaha mencari kapur. Akan tetapi, tak ada di sana.
"Dim, minta kapur ^O^!"teriak Bunga.
Dimas lalu mengangguk. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku. Setelah mendapati sebuah benda yang disangka kapur, ia lalu mengeluarkannya. Sebuah kapur kini berada digenggaman Dimas. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk mencapai Bunga.
BRRUUKKK!!!
Dimas terjatuh. Suara jatuhnya sangat keras. Hari dan Hira yang awalnya sangat serius langsung menatap Dimas. Mereka tertawa sangat keras membuat Dimas emosi. Namun, Bunga yang paling sial, bukan Dimas. Kenapa? Karena ketika ia membalikkan tubuhnya, sebuah kapur berhasil menyentuh hidungnya.
Semua terkejut ketika Bunga memegang hidungnya. Tak ada yang berani mengeluarkan suara saat Bunga menatap Dimas dengan garang.
"Kalau gak ikhlas jangan dilempar dong ~O~!"teriak Bunga.
"Bukan gitu, Bunga. Aku tadi jatuh >~
"Ah, bohong Bunga! Dimas ini cuma ngeles >O
"Ngeles, ngeles! Lo pikir gua ini mau belajar tambahan ~O~?"
"Eh jangan percaya Bubel! Dimas mah pengen ngajak ribut sama Bubel ^O^!"ujar Hira.
"Apaan Bubel? Aku Bunga bukan Bubel!~O~!"
"Bubel itu Bunga Bella, aku panggil kamu kayak gitu ^O^."
"Apaan sih? Lebih mirip kata bimbel ^>^."ujar Dimas.
"Kamu pikir nama aku lucu~O~!"ujar Bunga.
"Ah, kasian, dimarahin boss ^O^!"teriak si kembar.
"Diam lo pada ~O~!"
Kalimat itu bukanlah kalimat terakhir dari pertengkaran keempat orang itu. Kali ini, bukan hanya Bunga yang marah-marah, namun Dimas dan si kembar ikut ketularan. Mereka masih belum berhenti berdebat satu sama lain. Hingga akhirnya, Pak Burhan mendengar kebisingan yang terjadi. Beliau hanya menggelengkan kepalanya.
"WOY! BERTENGKAR LAGI SAYA BAKAR RUMAHNYA SEKALIAN! DENGAN KALIAN DI DALAMNYA ~O~!"teriaknya dari luar kaca.
Dengan seketika keempat orang itu langsung membungkam mulut mereka.
Dimas mengangkat tubuhnya. Hari dan Hira kembali mencari bukti. Dan Bunga mengambil kapur yang tergeletak. Ia lalu menggambar tubuh Puri yang masih tergeletak.
__ADS_1
"Haduh, aku jatuh gara-gara ini nih -_-!"teriak Dimas.
Dengan segera si kembar menghampiri Dimas. Mereka berjongkok di dekat kaki Dimas. Bunga kembali penasaran. Ia lalu mempercepat gerak tangannya, kemudian menghampiri kaki Dimas.
"Oh, lantainya retak -.-,"ujar Hari. Ketiga pria itu pun mengangguk.
"Tapi agak aneh gak sih? Kenapa retak bentuknya kotak? Rapi pula -.-,"ujar Bunga.
Hira mengangguk mulai menyadari ucapan Bunga.
"Bubel kayaknya bener. Kalau retak gak disengaja atau karena kebakaran, kan bakal ada beberapa bagian yang retak juga. Tapi ini aneh. Cuma bagian ini aja, dan agak tenggelam -.-."
Dimas mulai penasaran. Ia lalu mendekatkan dirinya pada keramik yang membuatnya jatuh tadi. Tangannya yang belum dibalut sarung tangan langsung mengambil keramik itu. TERBUKA!! Keempat detektif itu terkejut bukan main. Kenapa bisa?
Dimas ingin memuaskan rasa penasarannya. Ia lalu kembali mengangkat keramik itu. Namun, satu hal lagi kembali mengejutkan mereka. Setelah keramik itu berhasil dilepas, sebuah tombol mirip saklar tertutupi debu. Semuanya langsung terpaku.
Dimas kembali penasaran. Ia hendak menekan tombol itu. Namun GREP! Tiba-tiba saja Bunga mencegahnya. Ia lalu mengeluakan sebuah plastik mirip solasi bening. Ia menempelkan itu pada tombol. Beberapa sidik jari terlihat menempel. Bunga lalu memasukkan plastik itu pada plastik klip dan memasukkannya pada saku. Dan Dimas langsung menekan tombol itu.
Ketika tombol itu ditekan, terdengar suara sesuatu terbuka. Dimas dan Bunga saling bertatapan. Mereka lalu mengangkat tubuh mereka dan mencari asal suara.
"Tunggu ^O^!"teriak Hari. Ia lalu mendekati saklar. Ia sempat menggeser-geser sesuatu pada saklar, setelah itu ia menunjuk sebuah lemari. "Dari arah kabelnya, menunjukkan ke arah sana -.-,"
Mereka lalu tersenyum pada Hari dan mengangkat jempol. Setelah itu, Dimas melangkahkan kakinya untuk mencari sesuatu.
Ia membuka lemari. Beberapa bagian lemari sudah terbakar. Bahkan ada baju yang terbakar juga. Akan tetapi, ada sesuatu yang ditutupi oleh besi di dalam lemari itu. Besi itu seperti terpasang pada lemari dan fungsinya sama dengan pintu. Dimas lalu menarik besi itu. Terlihat sebuah engsel mengaitkan besi dengan lemari. Dimas pun yakin, ini yang Hari maksud.
Dimas mengambil senter dari saku mantelnya. Ia lalu mulai menyinari bagian dalam dari besi itu. Sesuatu telah ia temukan sehingga ia harus mengenakan sarung tangannya.
Hari, Hira, dan Bunga nampak menunggu apa yang akan dilakukan Dimas selanjutnya. Tak lama kemudian, Dimas mengeluarkan kepalanya yang baru saja masuk ke dalam lemari. Satu hal kembali mengejutkan mereka.
Sebuah koper kecil yang terbuat dari besi masih terlihat utuh setelah kebakaran. Dimas lalu mendekati ketiga orang detektif itu. Ia menyimpan benda itu di lantai, menunjukkan kunci koper.
"Kalau kita menghancurkan kuncinya apa akan baik-baik saja -.-?"tanya Dimas. Hari dan Hira lalu berpandangan. Mereka tersenyum lalu mengangkat jempol mereka.
"Sepertinya tidak apa-apa. Aku dan Hari bahkan sering merusak barang bukti. Tapi kasus kami selalu selesai ^_^,"balas Hira membuat Dimas tertawa kecil.
Dimas dan si kembar langsung terpaku. Jantung berdegup dengan sangat cepat. Mereka melihat Bunga yang baru saja memukul kunci keras itu dengan sekali hantaman. Yang membuat mereka terkejut lagi adalah ekspresi Bunga yang biasa-biasa saja, santuy.
"Bubel o.o,"ujar HIra.
"Kenapa ^-^?"tanya Bunga mulai heran.
"Dari mana kamu punya palu dan otot hebat itu o.o?"
Bunga lalu menyipitkan matanya. Ia nampak kebingungan dengan apa yang dimaksud Hira.
"Hira, Bunga punya palu kecil itu. Dia selalu membawanya ke mana-mana dan memukul kunci apa pun dengan itu, dengan satu pukulan. Anehnya aku masih belum terbiasa walau sudah bertahun-tahun >~<."ujar Dimas. Wajahnya langsung memerah membuat si kembar penasaran.
"Kenapa Dimas malu sampai merah kayak gitu o3o?"tanya Hari.
"Haa....ha...bisnya d..ddiaa..s..seksi kalau l...lagi mukul *//.//*,"ujar Dimas membuat kedua anak menjengkelkan itu kembali tertawa terbahak-bahak.
"Ya, kali aku seksi. Emang aku sapi apa seksi -.-,"balas Bunga.
Tanpa menunggu perintah atau rundingan, Bunga langsung membuka koper itu, membiarkan Dimas menutup wajahnya untuk beberapa saat. Ia lalu mengangkat sebuah map yang cukup besar. Dari map itu keluar banyak sekali kertas. Bunga pun menghembuskan nafasnya.
"Begini. Kita bagi tugas. Aku akan membagikan kertas ini secara acak dan kita temukan sesuatu yang berhubungan dengan DJ -.-,"ujarnya. Hari dan Hira pun mengangguk lalu jongkok di hadapan Bunga.
Beberapa lembar kertas diberikan pada Hari yang kelihatan sangat tertarik.
"Bagi dua -.-,"ujar Bunga. Hari pun menurut dan membagi kertasnya dengan Hira.
Bunga lalu membagi lagi kertas yang ia genggam untuk diberikan pada Dimas. Dan Dimas menerimanya tanpa menatap Bunga sama sekali. Bunga pun tersenyum geli.
__ADS_1
Setelah Bunga melihat-lihat kertas yang ia genggam, ia menemukan banyak hal tentang DJ. Di setiap halaman terdapat logo itu. Akan tetapi, kebanyakan tulisannya hanya mengenai perekrutan anggota baru disertai dengan tanggal dan hari. Ini akan sangat berharga.
Dimas, menemukan rencana-rencana yang akan dilakukan oleh DJ. Bukan masalah pencurian, tetapi masalah barang apa yang akan mereka beli dengan hasil curian.
Hari, ia menemuka kertas dengan banyak sekali tulisan anggaran. Ia juga melihat beberapa jabatan yang ada pada DJ. Sepertinya DJ adalah sebuah organisasi.
"Aku tahu siapa saja anggota DJ 6.6,"ujar Bunga.
"Aku tahu, organigram dan harga barang yang akan digunakan untuk proyek. Ternyata, Puri adalah wakil dari DJ 6.6,"ujar Hari. Ia kembali membuka-buka kertas miliknya.
"Aku menemukan barang yang akan mereka beli untuk proyek itu. Kebanyakan di sini dituliskan barang bangunan seperti tanah, semen, kayu, dan lain sebagainya. Tapi ada juga barang elektronik, kosmetik, dan bahan kimia 6.6,"
Mereka bertiga awalnya hanya kembali fokus pada kertas-kertas yang mereka genggam. Namun mereka sadar, Hira belum melaporkan hasil temuannya. Dengan serempak, ketiga orang itu menatap Hira yang masih terpaku menatap kertas yang ia genggam.
"Apa yang kamu dapatkan Hira o.o?"tanya Hari.
Hira lalu menatap kembarannya itu. Ia nampak sedikit gemetar.
"Aku dapat kertas, tentang proyek itu 0_0,"ujarnya.
Semuanya terkejut. Akan tetapi, karena mereka sudah hidup terstruktur, mereka tidak langsung mendekati Hira. Mereka hanya bertanya dari tempat mereka sendiri. Kelihatannya Hira sangat syok.
"Apa isinya -.-?"tanya Bunga. Ia mulai penasaran, tidak sabar ingin segera mengetahuinya.
"Proyeknya, sebuah bangunan yang sangat tinggi. Sangat besar. Sepertinya sekitar tiga ribu orang masuk sini. Dari gambarnya, proyek ini terletak di pulau terkecil di dekat pulau kita. Nama proyeknya DJ Jaya. Di keterangan lain menyebutkan bahwa pembangunan sudah sepertiganya. Biaya yang dibutuhkan triliyunan. Pasti fasilitasnya bagus. Dan kalian tahu apa yang membuat aku sempat gemetar tadi 0.0?"ujar HIra.
Ketiga temannya menggelenng. Lalu, Hira mulai memperlihatkan gambar pada kertas yang ia genggam.
"Proyek DJ Jaya ini dibuat untuk menghancurkan Perusahaan V! Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi, gambar Perusahaan V telah di dicoret di sini T3T,"balas HIra.
Hari terkejut. Hanya Hari yang terkejut. Bunga dan Dimas hanya sedikit terkejut saja. Dan hal itu membuat HIra penasaran.
"Kenapa kalian tidak terkejut o.o?"
"Kami sudah tahu hal itu dari pemilik rumah makan yang dulunya bekerja pada DJ -.-,"balas Bunga.
Hari dan Hira menganggukkan kepala mereka.
"Lalu, apa yang akan kalian lakukan -_-?"tanya Hari.
"Kami mencari di mana akan dilaksanakannya proyek itu. Kita harus hati-hati karena DJ ini sangat mudah mengelabui orang -.-,"balas Bunga.
Suasana sempat hening sekejap. Keempat orang itu tengah meratapi nasib mereka yang harus bekerja menjadi detektif. Terutama semenjak DJ muncul.
"Tapi -.-,"ujar Hari memulai pembicaraan. "Kalau proyeknya hampir berhasil, berarti dia sudah lama melakukannya o.o,"
Dimas dan Bungamenganggkkan kepalanya.
"Sepertinya, menurutku, mereka kekurangan biaya sehingga mencuri berlian-berlian yang sangat mahal lalu menjualnya. Lalu, mereka akan menuduh bahwa DJ berasal dari Perusahaan V. Kalian tahu, kan, masalah DJ ini sudah menyebar di beberapa masyarakat -.-?"ujar Dimas.
Ketiga temannya langsung menundukkan kepala mereka karena tidak bisa menjaga rahasia dengan kuat.
"Kalau begitu, bagaiman kita bisa menghentikan dan menemukannya T.T?"tanya Bunga.
"Menurutku kita selesaikan saja dulu Puri. Mungkin akan ada petunjuk lain darinya. Setelah itu, kita cari siapa saja yang telah membeli berlian dari DJ. Hal itu akan memudahkan kita dalam menangkap basah dia -.-,"ujar Hira yang langsung mendapatkan anggukan dan senyuman dari teman-temannya.
Mereka pun langsung membereskan kertas-kertas itu. Setelah itu, mereka kembali ke tugas mereka masing-masing.
Bunga yang merasa paling tertekan hanya bisa menundukkan kepalanya ketika kembali mendekati mayat Puri. Ia menatap wanita itu. "Kasihan sekali T.T,"ujarnya. Setelah itu, tanpa terasa Bunga lalu mengusap pipi Puri yang mungkin sangat menggelikan bagi orang lain. Akan tetapi, ternyata itu adalah hal yang sangat benar dilakukan.
Ketika Bunga menempelkan tangannya pada tangan Puri, sesuatu yang berwarna hitam menempel pada tangan Bunga. Awalnya ia hanya berpikir bahwa itu dari abu. Akan tetapi, saat digesekkan, abu itu malah menggumpal bukan rapuh. Bunga pun mulai curiga. Ia lalu mengambil sebuah tisu. Ia mengambil air, membuat ketiga temannya terkejut lantas mendekatinya. Ia lalu melap pipi Puri, dan luka bakarnya hilang!
Sesuatu yang sangat mengejutkan!
__ADS_1
Bunga lalu menatap Dimas.
"Aku butuh, micellar water o.o!"ujar Bunga membuat Hari dan Hira kebingungan.