Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Ibu, Tolong Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

SMA 1, 12.00 WIB


Bunga baru bisa kembali menyelidiki kasus setelah mengisi perutnya dengan dua mangkuk bakso dan satu cone es krim. Dan sekarang ia masih memegang satu buah es krim lagi di tangannya. Dimas hanya bisa terus tersenyum sambil menikmati es krim miliknya yang belum habis sejak tadi.


Di gudang hantu, Bunga menyelidiki arah komplotan DJ ini pergi. Ia lalu menelan bulat-bulat es krimnya, sampai terbatuk-batuk. Dimas cemas. Ia lalu mengambil sebuah air mineral, entah milik siapa, yang untungnya belum dibuka. Ia mengambil bolpoinnya, membuka kemasan dan menyodorkannya pada Bunga. Tanpa menunggu perintah, Bunga langsung meneguk seluruh air itu. Ia pun dapat bernafas lega.


SRREEETTTTTTT!!!!! DEG! U♡U


Tiba-tiba Dimas mengusap pipi manis Bunga dengan sebuah tisu yang lembut. Ada banyak bekas es krim di sana, membuat penampilan Bunga menjadi lucu. Dimas nampak serius sekali saat melap noda itu. Ketika sebuah noda es krim yang sudah kering itu sulit untuk dibersihkan, ia rela membersihkannya dengan tangan.


Setelah melihat Bunga yang tidak berekspresi itu bersih dari noda es krim, Dimas memperhatikan keseluruhan wajah Bunga. Ia lalu menampakkan senyuman mautnya.


"Ternyata, kamu memang cantik ya ♡U♡,"ujar Dimas masih dekat dengan wajah Bunga.


Bunga tidak berekspresi, ia hanya menatap Dimas dengan dinginnya. Dan tiba-tiba saja, GREPP!!! Seseorang menarik tubuh Dimas menjauh dari Bunga. Dan memang tidak dapat dipungkiri, Dimas sungguh mengganggu.


"Jutong woy! Lepas napa ~o~!"teriak Dimas berusaha melepaskan cubitan tangan Jutong.


"Ya elahh, ni anak ternyata mau bersaing sama gua ^-^?"ujarnya. Ia melirik ke arah Bunga lalu mengedipkan sebelah matanya. Cacingan, pikir Bunga sambil tertawa kecil.


"Apaan dah Bang, ah~o~!"


"Apaan apaan, lo tu mau deketin Bunga, kan? Baru sadar kalau Bunga cantik? Baru sadar Bang Toyib ^-^?"


Dimas mengangguk.


"Tapi bodo amat kalau gua harus lawan ama lu bang. Gua suka Bunga, titik~o~!"


"Lo suka tapi gak modal. Itu air mineral punya siapa coba? Punya gua kuda lumping! Emang kalau buat Bungaku sayang mah gak apa apa. Tapi kalau lo yang ngambil gua gak rela : P,"


"Bodo bang, ah! Gua cinta Bunga, gua cinta Bungaaaaaa >♡


Kemudian mereka melanjutkan pertengkaran tidak berguna mereka dan lupa kalau Bunga sedang berdiri di sana. Memperhatikan mereka.


"Kayak anak-anak, deh, kalian. Terutama kamu Dim. Suka sama aku kok titik. Udahlah, aku mau selesaiin kasus -_-,"ujar Bunga. Ia membalikkan badannya, meninggalkan kedua orang itu yang kemudian memanggil-manggil Bunga agar kembali. Bunga pun tersenyum, tanpa mereka ketahui. Ia berbisik, Dimas memang manis ^-^.


Tidak ada jejak, maupun hal lain yang mereka tinggalkan. Hal ini membuat Bunga semakin sulit memecahkan kasus. Selain orang-orang ini cerdas, mereka juga sangat teliti. Mereka berhasil meninggalkan TKP tanpa tanda-tanda kedatangan atau kepergian sedikit pun.


Bunga mendekati sebuah kusen jendela yang tak berkaca. Ia lalu mengusap kusen itu, dan merasakan debu yang kini berpindah ke tangannya. Ia mengangguk lalu kembali berjalan ke arah pintu. Di pintu ia kembali melakukan hal yang sama. Dan setelah itu ia kembali ke jendela.


Jutong dan Dimas kini duduk berdampingan. Pak Burhan memborgol kaki mereka berdua, sebelah sebelah, karena sejak awal masuk ke gudang ini mereka ribut terus. Dan karena hal itu Bunga jadi leluasa untuk bertindak.


"Aku, dapat ^-^!"ujar Bunga. Ia berbalik ke arah orang-orang yang ada di gudang hantu dan menatap mereka dengan yakin.


"Apa yang kamu dapat^0^?"tanya Pak Burhan begitu bersemangat.


Bunga tersenyum bahagia. Ia lalu menatap Pak Burhan dengan penuh arti.


"Begini pak. Ternyata mereka itu tidak masuk ke gudang hantu ini dengan cara yang sama dengan pencuri lainnya. Mereka pasti pencuri kelas kakap. Lihat saja. Awalnya aku mengira jendela bolong itu adalah tempat mereka masuk. Ternyata aku salah besar. Jendela itu sudah lama bolong. Aku tahu karena kusen tempat kaca itu seharusnya ada sudah tumpul. Kalau baru saja dicabut pasti masih lancip, kan ^-^?"

__ADS_1


Ketiga orang yang sedang bersama Bunga terkejut. Ia tak menyangka kalau Bunga bisa tahu hal sedetail itu. Bahkan hampir tidak mungkin. Dimas dan Jutong yang bekerja sebagai detektif lebih lama dari Bunga pun tak pernah memperhatikan hal kecil seperti itu. Dan mungkin karena itulah, Bunga mudah menyelesaikan kasusnya.


"Kamu tahu dari mana-.-?"ujar Pak Burhan yang masih belum menemukan titik terang.


Bunga menghela nafas panjang.


"Mereka masuk lewat pintu -.-,"ujar Bunga berhasil mengejutkan Pak Burhan. Hanya PAK BURHAN. "Mereka sudah merencanakan hal ini. Mereka tahu, ada barang berharga di sini sehingga mereka menyiapkan berbagai kebutuhan. Mulai dari strategi untuk mengelabui kita, menyingkirkan orang-orang yang berusaha mengacau, termasuk cara masuk ke sini. Aku yakin mereka pasti menggunakan kunci gudang ini. Tapi aku belum tahu bagaimana mereka bisa pakai kuncinya-.-,"


"Kalau memang begitu, itu sangatlah sulit. Mereka harus datang langsung ke kepala sekolah. Kamu tahu, kan, kalau kunci ini hanya dipegang oleh kepala sekolah-.-?"balas Dimas.


"Wah, serakah bener tu orang -_-."bisik Jutong yang disambut gelengan kepala dari Dimas.


Mereka berpikir keras. Bagaimana cara DJ memasuki gudang hantu lewat pintu depan? Tak ada yang bisa menemukan titik terang.


Bunga menggigit bibir bawahnya. Ia resah karena sulit untuk menemukan cara itu. Ayolah cara cara cara, pikirnya dalam hati. Ia terus memutar otak agar tahu cara yang DJ ambil. Ia terus menggerakkan matanya. Melihat ke jendela, melihat ke pintu, jendela, pintu, terus saja seperti itu. Bunga membuang nafasnya lemas lalu memandang CCTV yang berada tepat di depan gudang hantu.


"CCTV^0^!"


SMA 1, RUANG CCTV 13.25 WIB


Seorang pria dengan kumis yang cukup tebal tengah menggerak-gerakkan mouse yang berada di dekat layar. Kacamatanya nampak memantulkan cahaya dari komputer. Ia nampak fokus mencari sesuatu. Tiada yang tahu bahwa keringat dinginnya tengah bercucuran karena tiga orang mengerumuninya, berdiri begitu dekat dengannya.


"I..ini >~<,"ujar pria itu sambil menampilkan sebuah video dari CCTV.


Di sana nampak ruang kepala sekolah yang sepi. Hanya ada kepala sekolah yang tengah berjalan mondar-mandir. Ia berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengambil minum. Setelah minumnya dirasa cukup, ia lalu kembali duduk di belakang meja. Ia menyalakan hp-nya, tersenyum sedikit lalu kembali menggeser layar handphone.


Beberapa menit kemudian, terlihat tiga orang dengan dandanan mirip seorang DJ. Ya, begitu. Headset yang digantung di leher, celana selutut, kacamata hitam, dan baju warna-warni. Mereka nampak memasuki ruang kepala sekolah tanpa permisi atau ketukan pintu sedikit pun. Sungguh tidak sopan.


Beberapa menit kemudian CCTV yang berada tepat di hadapan gudang hantu menampilkan sebuah rekaman.


Dengan santainya kepala sekolah mengambil sebuah kunci dari saku celananya. Ia lalu mempersilahkan ketiga pencuri itu masuk. Setelah mereka masuk, orang dengan kacamata biru melambaikan tangan ke arah CCTV. Ia mengangkat jarinya melambangkan satu kemudian empat dan diakhiri dengan dua buah tangan membulat. Setelah itu ia menepuk punggung kepala sekolah, mengatakan sesuatu, dan menutup pintu gudang hantu.


Selanjutnya sudah dapat ditebak. Hira berlari ketika mereka terlihat dari kaca tengah berusaha mengebor lantai tanpa suara, membuka keramik dengan perlahan. Sesuai dengan cerita dari Hira, ia memasuki gudang hantu, Si Kacamata Biru menepuk bahunya dan mengatakan sesuatu, mengambil beberapa alat make up, dan membuka atap. Mereka membuka atap dengan perlahan, mengambil beberapa ekor gagak yang berjatuhan dari sana, mengeluarkan pisau dan yah. Sesuai dugaan Bunga mengenai sayatan itu.


Setelah mereka beres, mereka berjalan keluar dari gudang hantu dan menepuk seseorang yang kemungkinan Hari dan berjalan keluar dengan santainya. Dan, oh, ya. Si Kacamata Biru itu lagi-lagi mendekati CCTV. Ia mengepalkan kedua tangannya dan menubrukkannya lalu tertawa.


Cerita Priska pun dimulai dari sana.


SMA 1, DEPAN RUANG CCTV, 13.45 WIB


Bunga nampak meregangkan tubuhnya. Ia sedikit menguap setelah dua puluh menit berdiam di ruang pengap itu. Ia menggaruk kepalanya, memutar bola matanya untuk beberapa saat, lalu mengangguk dengan pasti.


Sesuai dugaan, orang yang kedua keluar adalah Dimas, di mana ia hendak menyusul Bunga. Ia langsung saja berdiri di samping Bunga.


"Ada titik terang^-^?"ujar Dimas dengan senyumannya. Bunga mengangguk santai.


Pak Burhan dan Jutong baru saja datang, bersamaan. Mereka lalu mendekati Bunga dan Dimas yang tengah mengobrol. Tanpa ragu, mereka langsung memasuki obrolan.


"Aku tahu siapa DJ, tapi aku hanya harus memastikan. DJ atau Si Kacamata Biru itu bos dari pencuri yang dua itu. Aku tidak yakin mereka cuma bertiga. Dan aku juga tidak yakin kalau mereka akan berhenti di sini-_-."ujar Bunga masih dengan gerakan tubuh yang santai.

__ADS_1


Ketiga orang yang ada di hadapan Bunga langsung terkejut. Bunga sudah tahu siapa pencurinya. Dan itu dalam waktu yang singkat.


"Siapa DJ itu-.-?"ujar Jutong tak sabaran.


Bunga tersenyum licik. Ia mengusap dagunya lalu menarik nafas.


"Aku masih harus memastikan, karena kalau aku salah orang nanti aku diprotes atau bahkan dipecat. Kodenya aku belum tahu. Tapi kalau rencananya sudah aku ketahui^-^,"


Dimas tersenyum manis ke arah Bunga. Dengan penuh tanya Bunga mengerutkan alisnya dan mengangkat dagunya ke arah Dimas. Dan dengan santainya Dimas membuka mulutnya, mengatakan I love you tanpa suara. Bunga hanya mengangkat ujung bibirnya. *A*paan lagi ni orang?


Pak Burhan dan Jutong memperhatikan Dimas yang sedang menatap Bunga sejak ia bercerita. Mereka langsung menghadap ke Dimas agar ia sadar dan seolah-olah mengatakan, Hei! Di sini bukan hanya ada Bunga! Dan itu berhasil membuatnya gelagapan.


"A..aku m..mau tanya. Iya...m..mau tanya. Emang opini kamu apa tentang rencana mereka~_~?"ujar Dimas.


Bunga mengangguk kecil.


"Mereka hendak membuat proyek yang sangat besar dan membutuhkan banyak dana. Setahuku, harga berlian yang ada di museum itu mahal. Dan aku jadi teringat pada berlian milik Enoukia yang juga sangat mahal. Aku yakin mereka akan mengambil berlian atau bahan tambang lain yang juga mahal. Aku belum tahu hasil tambang apa yang akan mereka ambil selanjutnya. Yang pasti mereka akan melakukannya dalam waktu dekat. Kita harus temui pemilik rumah makan itu. Sepertinya dia ada hubungannya dengan DJ-.-,"


"Tapi, kodenya bagaimana^.^?"tanya Pak Burhan.


Bunga mengerutkan alisnya. Rasa santainya tadi seketika hilang setelah mendengar kalimat itu. Ia memutar otaknya. Sesekali ia mengangguk untuk memahami ucapannya dalam hati.


"Kereta api, tubrukan, 14. Coba apa yang berhubungan dengan hal itu-.-?"


"Jangan-jangan akan ada tabrakan kereta api di pukul dua siang. Tapi hari apa-.-?"


"Saya yakinnya hari ini. Soalnya kalau mereka itu memang sudah merencanakan, berarti mereka pasti tahu kapan Bunga akan menyelidiki CCTV. Pasti besoknya atau lusanya ^.^,"ujar Pak Burhan.


Bunga tiba-tiba memeluk Pak Burhan. Ia sempat berteriak kecil. Akhirnya bapak ikut mikir, bisiknya tepat di telinga Pak Burhan. Dan bisikannya itu mengundang gelak tawa dan dorongan kecil dari tangan Pak Burhan.


"Kayak anak kecil aja. Untung banget keluargamu datang. Kalau enggak, huh! Saya harus ribet ngurusin kamu-.-."ujar Pak Burhan. Bunga tertawa kecil ketika melepas pelukannya.


"Oh, iya. Camer aku kan kemari hari ini, ya^0^?" sambut Dimas.


Bunga memonyongkan mulutnya. Ia lalu menonjok perut Dimas. Bukan tonjokan genit, tapi benar-benar pukulan kebencian. Jutong yang paling keras tertawa. Dan Pak Burhan yang paling keras menasihati Bunga. Ia terus menceramahi Bunga mengenai tidak baiknya memukul orang apalagi orang itu suka pada kita.


Jutong langsung mengalihkan pembicaraan.


"Kapan keluarga lo ke sini^-^?"ujarnya.


Bunga langsung tersenyum lepas. Ia bahkan sedikit meloncat ketika Jutong membahas hal itu.


"Hari ini. Mereka bilang mereka mau¤~¤..."tak selesai. Ucapannya terpotong oleh mulutnya yang langsung menganga dan matanya yang menatap lurus.


"Halloween, Halloween Express, kereta yang dinaiki keluargaku. Mereka naik kereta pukul duabelas dengan perjalanan dua jam sampai sini. Labu menyeramkan, kereta api, tubrukan, 14! Tidak. DJ ini mau mencelakakan keluargaku! Dasar ba***gan~o~!" (dimohon untuk tidak ditiru jika kalian tahu huruf yang disensor** ^.^)


"Jam berapa sekarang~o~?!"teriak Bunga sambil berlari ke arah mobil.


"13.35. Bunga, dari sini ke terminal kereta butuh waktu empat puluh lima menit-.-!"teriak Dimas.

__ADS_1


"Dan itu kenapa aku harus berangkat sekarang~o~,"


Dasar orang tak berperasaan! Manusia gila! Tak ada kerjaan! Beraninya main belakang! Keluargaku, AHHH! Ibu, tolong jangan tinggalkan aku!


__ADS_2